Mendewasa, Selamat Tinggal Medsos!
Di usia 22 tahun yang akan segera berakhir ini, rasanya saya masih saja dihantui dengan sifat kekanak-kanakan. Bukan kekanak-kanakan yang dekat dengan bermanja-manja, sok imut, atau menggandrungi Oppa-oppa Korea―yang mukanya Masyaa Allah lebih cantik daripada perempuan. Saya selalu mengartikan sifat kekanak-kanakan sebagai sifat yang jauh dari kata bertanggung-jawab. Bahwa sifat tersebut selalu saja membuat saya lalai pada banyak hal yang harus segera saya selesaikan tanpa ada lagi kata ‘nanti’.
Quarter life crisis yang sering jadi bahasan diantara teman-teman seangkatan, postingan di tumblr, dan sumber lainnya membuat saya berkali-kali melakukan evaluasi pada segala macam pencapaian yang saya targetkan. Gemas sekali rasanya, menyadari banyak hal yang saya lewatkan begitu saja hanya karena sering bilang ‘nanti’. Hal tersebut juga menyadarkan saya bahwa kata ’nanti’ dekat sekali dengan kata ‘tidak pernah’ bahkan seringkali berubah menjadi ‘tidak pernah’.
Kegemasan saya itu pun mencapai puncaknya, ketika saya merasa benar-benar jenuh dengan ketergantungan akan media sosial. Setiap saya punya kuota internet atau terhubungan dengan wifi saya pasti langsung mengecek media sosial yang saya miliki. Awalnya hanya sekadar mengecek notifikasi milik saya, tapi kemudian malah scroling beranda yang akhirnya tertarik untuk membaca status teman yang bermacam-macam―dan tanpa terasa membuang waktu sia-sia karena tidak dapat apa-apa.
Kejenuhan saya tak cuma itu, kebisingan yang dihadirkan dari aktivitas para pengguna media sosial membuat saya jengah. Tingginya minat masyarakat akan media sosial nyatanya tak dibarengi dangan kecerdasan bermedia. Berita-berita hoax di-share berkali-kali sampai menjadi viral, video-video senonoh tersebar seperti virus yang mengganggu pengguna lain, siapa saja bisa tetiba menjadi kritikus paling handal di sana, semua orang bisa bicara apa saja tanpa ada batasan, dari cuaca yang tidak menentu, hingga presiden yang dirasa merepotkan karena seringnya blusukan.
Syukur-syukur kalau akses berpendapat ini juga diikuti dengan akses untuk informasi yang lebih luas, sayangnya hanya segelintir saja yang memanfaatkan era keterbukaan informasi ini dengan baik. Terlalu banyak propaganda, terlalu banyak berita bohong, terlalu banyak pertengkaran yang tercipta, terlalu banyak yang dipamerkan, terlalu banyak yang membuat mual di sana, dan terlalu banyak godaan untuk menjadi salah satu pengguna yang semacam itu.
Maka, malam ini saya memutuskan untuk ‘bunuh diri sosial’―meminjam istilah milik Eka Kurniawan. Saya secara impulsif akan menutup semua akun media sosial yang saya miliki―bisa selamanya, bisa juga bertempo, bergantung pada kebutuhan nantinya. Sebetulnya, saya sudah beberapa kali menutup akun Facebook saya sebagai usaha agar bisa lebih fokus pada apa-apa yang sedang saya coba selesaikan, sayangnya paling lama hanya bertahan dua bulan. Beberapa bulan lalu saya juga sudah menutup akun Path saya dan tak coba untuk membukanya lagi. Saya juga sempat menghapus aplikasi Line dari gawai dan saya pasang lagi setelah dua bulan karena keperluan kuliah yang mengharuskan saya punya Line.
Kemarin, saya juga menghapus aplikasi IG dari gawai, karena saya rasa saya tak terlalu membutuhkannya saat ini, untuk waktu yang tak ditentukan saya tidak akan membuka IG. Saya tak berniat untuk menghapus akun saya di IG, karena username yang sama ternyata tak bisa dipakai lagi jika sudah delete akun. Akun ask.fm juga sudah saya tutup karena saya anggap tidak berguna. Sedangkan twitter akan saya biarkan berlumut dan ditumbuhi tanaman paku.
Mulai saat ini saya akan menahan diri untuk banyak hal, dan mundur sedikit ke belakang, untuk lebih banyak membaca buku, berpikir, memerhatikan orang-orang di sekitar dengan lebih seksama, mengingat nama jalan dengan baik, meniru orang-orang hebat, menulis lebih rutin di Tumblr, menulis lebih rutin di komputer, belajar penulisan kreatif, menyelesaikan skripsi, menulis banyak jenis tulisan (artikel, esai, opini, cerpen, resensi, puisi, prosa, sajak, dan jenis tulisan lainnya), juga tidur dan makan lebih teratur.
Saya meniru beberapa penulis yang sudah melakukan hal ini sejak jauh hari, seperti Eka Kurniawan yang terbilang ekstrem, juga penulis novel tetrologi empat musim Ilana Tan yang benar-benar tak pernah muncul di mana pun bahkan di novelnya sendiri
Menjadi sedikit terasing dari hiruk pikuk untuk lebih fokus pada hidup yang lebih rapi dan terarah. Menjadi dewasa dengan cara yang konvensional. Saya tetap bisa dihubungi lewat BBM, WA, atau telepon juga SMS ke nomor yang dulu.
Selamat tinggal, Media Sosial!