BENDA MATI MENYELAMATKAN KAMI
Hari ini, dia memaksaku untuk bertemu entah apa alasannya. Aku hanya bisa mengiyakan. Saat bertemu, aku tidak menyangka itu akan menjadi pertemuan terakhir. Kami bertengkar hebat hari itu. Beradu argumen, membahas masalah yang tak akan pernah menemukan ujungnya.
Jarak memang bukan masalah bagi kami tapi waktu membuat semuanya jadi rumit. Waktu yang tega datang untuk merampas apa yang kami miliki. Ya, hati nurani. Waktu yang seakan membuat segalanya menjadi mudah. Mudah untuk diabaikan, mudah untuk dibuang, dan mudah untuk digantikan. Melupakan kami yang pernah saling menguatkan.
Hari itu di kafe kesukaannya, kami menghabiskan waktu. Membicarakan sesuatu. Sebuah masalah. Yang membuatnya gelisah dan pada akhirnya juga membuatku gelisah. Lalu, perdebatan dimulai. Ego memuncak antara rasa terpojokku dan rasa jengkelnya. Sampai pada saat aku membuang napas lelah dan hendak beranjak dari kursi. Hujan hari itu seakan membuat hari lebih buruk lagi tapi aku memutuskan untuk pulang. Pulang ke rumah masing-masing.
Sesampainya di rumah, aku hanya bisa berbaring dengan rasa takut. Semua kata dan kalimat yang kami lontarkan terus berputar di dalam kepalaku. Lelah yang ada dalam tubuhku, melemahkan semua pikiranku. Membuat aku selalu ingin menyentuhnya lagi, merasakan ketegangan dalam kaburnya asap. Berfantasi di dalam gelap sampai aku terlelap.
***
Ponsel yang berdering keras, membangunkanku dari tidur. Kukira hanya alarm bangun pagiku, ternyata banyak panggilan masuk darinya. Ego mulai menguasaiku lagi. Aku tidak mengangkatnya. Beberapa saat kemudian, ada pesan masuk darinya. Dia mengatakan bahwa dua buah bukuku tertinggal di dalam tasnya dan ingin segera mengembalikannya.
Aku selalu melemah ketika dia melakukannya. Selalu kabur dalam kata-kata dan kalimatnya. Tapi tidak, aku tidak akan mengambilnya. Jika aku mengambilnya maka dia akan pergi dan tidak pernah kembali. Setelah beberapa saat, akhirnya dia membalas pesan terakhir pada malam itu yang membuat napasku melega, untuk sementara.
“Aku tidak pergi, datanglah kemari.” ujarnya.













