Menumpang, Sebuah Pertanyaan
Kita tinggal di dunia bukan milik kita, namun milik Sang Maha Pencipta, Alloh subhanahuwa ta'ala. Meskipun demikian, kita diberikan kekuasaan penuh untuk mengelola dan memanfaatkan apa yang ada di sini. Kita ini menumpang. Semua dari kita yang berbeda wilayah, suku, adat, ras, warna kulit, dan perbedaan lainnya adalah penumpang.
Lalu, bagaimana cara mainnya?
Apa aturannya?
Jika dalam hubungan manusia berlaku aturan ‘no free lunch’, lantas bagaimana hubungan kita dengan Sang Maha Pencipta?
Pantaskah kita berlaku menerima ‘free lunch’ dari-Nya sementara kepada hanya-manusia saja tidak demikian?
Apa yang sudah diberikan manusia?
Sebandingkah dengan apa yang dilimpahkan-Nya?
Aturan menumpang di dunia sudah Yang Maha Kuasa jelaskan dalam kitab yang dibawa para utusan-Nya, para Nabi-Nya yang mulia. Dari Taurat, kemudian dilengkapi dalam Zabur, kemudian dalam Injil dan terakhir keseluruhannya disempurnakan dalam Al Qur'an.
Mana yang paling mutakhir?
Kita tahu betul dunia milik Yang Maha Kuasa, aturan hidupnya sudah jelas ada. Lantas mengapa kita ini masih harus berjibaku memeras keringat dan pikiran untuk membuat peraturan perundang-undangan, konstitusi, peraturan pemerintahan, dengan pemikiran sendiri?
Mengapa tidak berlandaskan aturan yang sudah pasti dari Yang Maha Kuasa?
Mengapa tidak mengaji kitab-Nya saja untuk kehidupan di dunia?
Mengapa harus bersusah payah mencari untuk satu hal yang sudah ada?
Siapa kita lantas mengatakan dibohongi oleh ayat dalam kitab-Nya?
Lantas, ayat siapa yang tidak membohongi?
Ayat ciptaan kita sementara kita pun kerap berbohong?