Udara pinggiran Depok yang menantang Tangsel memang punya nuansa berbeda. Jika seseorang sudi untuk membuang waktunya secara sia-sia dan menaiki angkot 106 dari parung menuju lebak bulus, kemudian angkot itu ngetem di pertigaan Cinangka, sensasi itu muncul: ujung Jawa Barat yang akan segera habis dilahap perbatasan. "Selamat datang di Provinsi Banten," begitulah, gapura selamat datang menjalankan tugasnya. Jalan raya Parung-Ciputat yang memanjang-mengiris pinggiran Depok menegaskan betapa kecilnya kota Depok. Hanya sekitar dua puluh kilometer. Jika tidak macet, seseorang bisa menuntaskan perjalanan numpang-lewat di Depok kurang dari satu jam setengah. Setelahnya, ia bebas: mau ke Jakarta, Tangerang, atau Surga. Tapi Botol punya banyak ingatan disana. Ingatan yang paling spiritualistik adalah saat bulan puasa. Botol bangun jam lima pagi, bersiap-siap untuk sekolah dan berangkat jam setengah enam. Dari sebuah gang di samping pool taksi T Bluebird, ia menunggu angkot. Dan naik, sebagai penumpang ketiga, sebelum pelan-pelan angkot jadi sesak oleh banyak orang-orang yang dicekik rutinitas. Setelah turun di Bojongsari, mengakhiri sajian dari wajah penumpang-penumpang angkot yang telah bersekutu dengan rutinitas, Botol merogoh-rogoh sakunya. Sial, uangnya kurang. Botol memang membayar angkot 29 yang ia tumpangi, namun untuk naik angkot 03 menuju Depok, uangnya kurang. Iblis dalam kepalanya langsung menyuruh Botol untuk menyelesaikan puasanya sesegera mungkin di sebuah mushalla, lalu meminum air keran, dan mengumpulkan energi untuk menghentikan mobil pick-up, kemudian: berkelana. Botol malas. Hari cerah. Matahari, agaknya jadi pemeran antagonis. Ia tidak mau kulitnya jadi hitam dan dianggap sebagai anak-jalanan dan manusia yang tidak merawat tubuh. Hape Nokia 6300 milik Botol memang memainkan peran sebagai malaikat, sebab ada kenalan yang bisa dihubungi. Sayangnya tidak. Botol memilih untuk membuka hapenya dan menjelajah internet. Pada tahun itu, internet memang belum banyak disesaki oleh banyak orang-orang dungu. Jantungnya seperti berada dalam setiap papan ketik hape. Google masih jadi anak baik yang tidak tahu teknik mengintip seorang anak gadis di kamar mandi. Masih wajar, saat itu, ia menggantung seluruh nyawanya di sana. Dan dari internet, ia mencoba mengintip wujud dari ujung alam semesta. Apakah rokok di balik Sabuk Kuiper sama rasanya dengan rokok di kedai-kedai dekat Bundaran Pamulang, apakah The Jak memiliki cabang di Amalthea, atau ongkos angkot Sedna memiliki kesamaan dengan ongkos angkot Lebak Bulus - Pamulang. Juga, sesekali ia menghubungi seseorang, yang sangat jauh. Terpisah milyaran kilometer, barangkali. Terpisah milyaran generasi, barangkali. Terpisah milyaran peperangan, barangkali. Namun, badannya masih di trotoar Sawangan. Tepatnya: penghujung sawangan. Kendaraan-kendaraan lalu-lalang, matahari semakin brengsek panasnya, dan iblis semakin cerewet untuk membuat puasanya batal. Botol tidak peduli. Ia hanya memikirkan, seseorang. Jauh. Barangkali di Ujung Superklaster Laniakea, tertutup gumpal-gumpal awan kosmik, dan berada di balik pecahan-pecahan bintang yang sudah meledak, mementaskan supernova luar biasa terang sehingga ada dua matahari pada siang hari di Bumi. Botol memikirkan, apakah ia akan ditangkap polisi apabila membuat sebuah hulu ledak nuklir dari biji ganja. Atau, apakah ia akan dianggap pahlawan nasional karena sudah menggenosida seluruh kecoak di Indonesia. Banyak pikiran-pikiran yang kadar-kebergunaan rendah melintas di kepala botol. Dan ia tidak peduli, dan ia hanya memikirkan seseorang. Jauh, dan memang sangat jauh, barangkali menyelip di antara awan-awan pekat Jupiter atau tenggelam dalam lautan-gas metana di Uranus. Botol tidak peduli, karena ia hanya Botol, dan ia tidak pernah membenci nama itu: sebab orangtuanya adalah pemabuk berat yang sembarangan memberi anaknya sebuah nama. Selalu, tidak mau peduli Botol. Ia, hanya memikirkan mata seseorang. Jauh, dan barangkali ikut bersama komet-komet yang berumah di Awan Oort.














