Serahkan KTA, Marhadi Effendi : Muhammadiyah Organisasi Terbesar di Indonesia
Wakil Ketua DPW Muhammadiyah Sumatera Barat, Marhadi Effendi bersama pengurus Ki Jal Atri Tanjung berbicara santai seusai menyerahkan KTA. (foto; ist)
PADANG, FOKUSSUMBAR.COM – Muhammadiyah berdiri pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau bertepatan pada tanggal 18 November 1912 di Kauman, kota Yogyakarta. Pendirian Muhammadiyah diawali oleh keberadaan Sekolah Rakyat bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah yang didirikan KH. Ahmad Dahlan pada awal tahun 1912.
Wakil Ketua DPW Mumammadiah Sumbar, Marhadi Effendi dalam bincang santainya dengan fokussumbar.com mengatakan, muhammadiyah adalah salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia “Gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid bersumber pada Alqur’an dan Sunnah”.
Dijelaskan oleh mantan anggota DPRD Sumbar ini ketika memberikan Kartu Tanda Anggota (KTA) Muhammadiyah kepada wartawan, Zulkifli Rahman, Rabu (21/5/2025), pada masa awal pendirian Muhammadiyah, aturan yang ditetapkan oleh Pemerintah Hindia-Belanda membatasi ruang dan gerak Muhammadiyah.
Namun dalam Kongres Boedi Oetomo yang diselenggarakan di rumah KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1917, pendiri Muhammadiyah ini menyatakan bahwa organisasi ini perlu berdiri tidak saja di Yogyakarta, tapi juga di seluruh Jawa, dan bahkan di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, serta berbagai tempat di Nusantara.
Meskipun gagasan dan usulan untuk mendirikan Muhammadiyah banyak didorong oleh beberapa orang santri dan muridnya, namun atas dasar aturan yang berlaku hanya nama-nama yang telah cukup usia yang dapat dimasukkan sebagai pendiri. Dalam statuten atau Anggaran Dasar Muhammadiyah yang diajukan kepada Pemerintah Hindia-Belanda disebutkan bahwa tanggal berdiri organisasi ini adalah 18 November 1912.
Setelah melewati proses pengajuan yang sulit dan memakan waktu lama, maka dengan terbitnya Besluit pada 22 Agustus 1914 No.81, akhirnya Muhammadiyah sebagai Badan Hukum diakui oleh Pemerintah Hindia-Belanda.
Setelah mendapat persetujuan dari Pemerintah Hindia-Belanda, KH. Ahmad Dahlan menjadi leluasa dalam memperluas misi dakwahnya. KH. Ahmad Dahlan pergi berceramah ke berbagai tempat dan mengajak kaum muslimin untuk mengamalkan Islam yang membebaskan umatnya dari kejumudan, kebodohan, dan berorientasi pada amal saleh.
KH Ahmad Dahlan memimpin Muhammadiyah sejak tahun 1912 dan berakhir ketika wafat pada 1923. Dari awal hingga setengah abad berikutnya, kepemimpinan di Muhammadiyah dilanjutkan oleh Kyai Haji Ibrahim pada tahun 1923 hingga 1931. Kemudian Kyai Haji Hisyam pada 1931 hingga 1936, Kyai Haji Mas Mansyur pada 1936 hingga 1942, dan Ki Bagus Hadikusuma pada tahun 1942 hingga 1953.
“Seiring berjalannya waktu Muhammadiyah berkembang pesat, baik di bidang pendidikan Islam, rumah sakit, universitas di seluruh nusantara, dan satu satunya organisasi Islam terkaya dunia,” pungkas Marhadi Effendi. (Zul)
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sosok Rashda Diana Istri Din Syamsuddin Ketum Muhammadiyah, Keturunan Akademisi Pendiri Pesantren
Hilda Rubiah
Tayang: Minggu, 3 Januari 2021 15:56 WIB
Asal-usul Rashda Diana Istri Din Syamsuddin Ketum Muhammadiyah, Keturunan Akademisi Pendiri Pesantren
Asal-usul Rashda Diana Istri Din Syamsuddin Ketum Muhammadiyah, Keturunan Akademisi Pendiri Pesantren
Ia pernah menerima beasiswa dari Kementerian Agama pada 2015.
Pada tahun 2019, Rasdha juga berhasil mempertahankan disertasinya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Rashda berhasil mempertahankan disertasinya berjudul "Pelembagaan Politik Negara Modern Al Mawardi".
Kini cucu pendiri Pondok Pesantren Gontor kelahiran Ponorogo, 5 Mei 1973 resmi menjadi istri Din Syamsuddin.
Profil Din Syamsuddin
Sosok Din Syamsuddin tak asing bagi masyarakat Indonesia. Ia merupakan Ketua Umum Muhammadiyah.
Din Syamsuddin yang memiliki nama panjang Muhammad Sirajuddin Syamsuddin lahir di Sumbawa, 31 Agustus 1958.
Berita Terkait
Ia menempuh pendidikan sekolah dasar hingga menengah di madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah Nahdhatul Ulama Sumbawa.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Din Syamsuddin hijrah ke Jawa Timur.
Ia tinggal di Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Jawa Timur, hingga usianya menginjak 17 tahun.
Baca juga: Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin Menikahi Cucu Pendiri Gontor
Baca juga: Gatot Nurmantyo dan Din Syamsudin Pastikan Tidak Gabung Partai Masyumi
Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah Fakultas Ushuluddin, Jurusan Perbandingan Agama.
Din Syamsuddin berhasil meraih gelar sarjananya pada 1982.
Lalu Pak din melanjutkan pendidikan master dan doktornya di University of California, Los Angeles (UCLA), Interdepartmental Programme in Islamic Studies.
Ia sempat terjun ke dunia politik sekitar 7 tahun sejak 1993.
Din Syamsuddin (Tribun Jambi/Agus Susanto)
Din Syamsuddin menikah dengan Rashda Diana. Istri barunya itu bukan orang sembarangan, keturunan tokoh dan pemuka agama dan akademisi
5 Fakta Sosok Rashda Diana, Istri Din Syamsuddin yang Bergelar Doktor Ilmu Politik
Din Syamsuddin resmi menikah dengan Rashda Diana, cucu dari pendiri Ponpes Gontor pada Minggu (3/1/2021).
Fakta Sosok Rashda Diana, Istri Din Syamsuddin yang Bergelar Doktor Ilmu Politik. (Sumber: Twitter/TofaTofa_id)
Liputan6.com, Jakarta Ketua Umum Pimpinan Pusat atau PP Muhammadiyah periode 2010-2015 Din Syamsuddin resmi menikahi Rashda Diana hari ini, Minggu (3/1/2021). Rashda Diana merupakan cucu dari pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Gontor yakni KH. Imam Zaskasyi.
Din Syamsuddin melangsungkan akad nikah dengan Rashda Diana pada pukul 09.00 WIB di Gontor. Pernikahan ini pun hanya dihadiri oleh segelintir orang yang merupakan sahabat dan kerabat dekat karena adanya pandemi Covid-19.
Kabar bahagia ini diketahui dari akun Twitter Mustofa Nahrawardaya, "Selamat untuk Prof. Din Syamsuddin, MA yang hari ini melangsungkan akad nikah dengan Ustadzah Dr. Rashda Diana Subakir, di Ponpes Modern Gontor Darussalam hari ini Ahad, 3 Januari 2021 pagi. Semoga Sakinah Mawadah Warahmah."
Selain pernikahannya dengan Din Syamsuddin yang menarik perhatian, fakta sosok dari Rashda Diana pun turut jadi sorotan. Seperti apakah ulasannya? Berikut selengkapnya dirangkum dari berbagai sumber oleh Liputan6.com, Minggu (3/1/2021).
Sosok Rashda Diana Istri Din Syamsuddin Ketum Muhammadiyah, Keturunan Akademisi Pendiri Pesantren
Hilda Rubiah
Tayang: Minggu, 3 Januari 2021 15:56 WIB
Asal-usul Rashda Diana Istri Din Syamsuddin Ketum Muhammadiyah, Keturunan Akademisi Pendiri Pesantren
Asal-usul Rashda Diana Istri Din Syamsuddin Ketum Muhammadiyah, Keturunan Akademisi Pendiri Pesantren
Lalu pada 2000, Din Syamsuddin aktif di dunia akademisi dan organisas keagamaan dan sosial.
Ia menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi, seperti UMJ, UHAMKA, UI, dan UIN.
Tak hanya itu, ia juga mendapat gelar kehormatan Guru Besar dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Rekam Jejak
PENDIDIKAN
Ibtidaiyah, Sumbawa Besar, NTB
Tsanawiyah, Sumbawa Besar, NTB
Berita Terkait
Pondok Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur, 1975
S1, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Fakultas Ushuluddin Jurusan Perbandingan Agama, 1980
S2, University of California, Los Angeles (UCLA) di Amerika Serikat, Interdepartmental Programme in Islamic Studies, 1988
S3, University of California, Los Angeles (UCLA) di Amerika Serikat, Interdepartmental Programme in Islamic Studies, 1991
KARIER
Ketua IPNU Cabang Sumbawa, 1970 - 1972
Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, IAIN Jakarta,1980-1982
Sosok Rashda Diana Istri Din Syamsuddin Ketum Muhammadiyah, Keturunan Akademisi Pendiri Pesantren
Hilda Rubiah
Tayang: Minggu, 3 Januari 2021 15:56 WIB
Asal-usul Rashda Diana Istri Din Syamsuddin Ketum Muhammadiyah, Keturunan Akademisi Pendiri Pesantren
Asal-usul Rashda Diana Istri Din Syamsuddin Ketum Muhammadiyah, Keturunan Akademisi Pendiri Pesantren
Dosen di berbagai Perguruan Tinggi (UMJ, UHAMKA, UI), 1982 - 2000
Dosen dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,1982
Ketua DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), 1985
Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, 1989-1993
Wakil Ketua Mejelis Pemuda Indonesia, 1990-1993
Baca juga: Jokowi Sebut Belum Terima Surat Pengunduruan Diri Din Syamsuddin Sebagai Utusan Khusus Presiden
Wakil Ketua Mejelis Pemuda Indonesia, 1990-1993
Berita Terkait
Sekretaris Dewan Penasihat ICMI Pusat, 1990-1995
Anggota Dewan Riset Nasional, 1993–1998
Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan DPP Golkar, 1993-1998
Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja, DEPNAKER RI, 1998-2000
Wakil Sekretaris Fraksi Karya Pembangunan MPR-RI, 1998
Wakil Sekjen DPP Golkar, 1998-2000
Wakil Ketua Fraksi Karya Pembangunan MPR-RI,1999
Wakil Ketua PP Muhammadiyah, 2000-2005
Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), 2000-2005
Ketua, Indonesian Committee on Religions for Peace (IComRP), 2000
Baca juga: Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin Menikahi Cucu Pendiri Gontor
President, Asian Committee on Religions for Peace (ACRP), 2004
Member, World Council of World Islamic Call Society, 2005
Vice Secretary General, World Islamic People's Leadership, 2005
Wakil Ketua Dewan Penasihat ICMI Pusat, 2005-2010
Wakil Ketua Umum MUI Pusat, 2005-2010
Honorary President, World Conference on Religions for Peace (WCRP), 2006
Chairman, World Peace Forum (WPF), 2006
Chairman of Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) (2007 - sekarang)
Anggota Strategic Alliance Russia based Islamic World, 2006
Anggota UK-Indonesia Islamic Advisory Group, 2006
Ketua Umum Muhammadiyah, 2005-2010, 2010-215
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, 2014-2015
Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat, 2015-2020
Din Syamsuddin menikah
Sebelumnya, kabar pernikahan Din Syamsuddin dengan cucu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, KH Imam Zarkasyi yaitu Rashda Diana, diungkapkan aktivis Angkatan Muda Muhammadiyah, Ma’mun Murod. dalam cuitan di akun Twitternya @mamunmurod_ seperti berikut:
1. Maaf, ada ralat. Krn terbawa suasana libur, kemarin seharian di rumah, sy pikir Ahad, ternyata Sabtu haha. Info yg benar, Prof. Din Syamsuddin menikah pagi ini, Ahad, 3 Januari 2021, jam 09.00 di Pesantren Gontor dg Dr. Rashda Diana, Lc. MA., cucu pendiri Pesantren Gontor.
Dalam kesempatan itu Ma'mun Murod juga mendoakan keluarga Din Syamsuddin menjadi keluarga yang Sakinah Mawadah Wa Rahmah.
2. Saya tentu turut berbahagia. Tidak mudah menjadi istri tokoh yang super sibuk. Semoga istrinya dapat menjadi pendamping dalam kehidupan dan perjuangannya. Dan tentunya semoga SAMARA. Aamiin yra.
Pernikahan Presidiun KAMI (Koalisi Aksi Menyelematkan Indonesia) dengan Rashda merupakan pernikahan yang ketiga kalinya.
Istri pertama Din Syamsuddin yaitu Fira Beranata meninggal dunia pada 29 Juli 2010 lalu.
Din Syamsuddin yang juga Anggota Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor ini lalu menikahi sepupu Fira Beranata yaitu Novalinda Jonafrianty pada tahun 2011.
Namun pernikahan tersebut dikabarkan kandas, dan keduanya bercerai pada tahun 2020. (*)
arrow_back Halaman sebelumnya
Halaman selanjutnya arrow_forward
Din Syamsuddin resmi menikah dengan Rashda Diana, cucu dari pendiri Ponpes Gontor pada Minggu (3/1/2021).
Pekerjaan: staf di pemerintahan nagari simpang timbo abu Kajai
Kenalan di tahun 2022 akhir Desember.
Di kantor nagari , dalam rangka program pendistribusian bantuan rumah rusak berat akibat gempa besar melanda Pasaman Barat.
[18/12/24, 09.23.35] Fahrul Rizal IGC Sekretaris: Tagline nya : sengsara membawa nikmat, sebab di pertemukan dalam rangka misi kemanusiaan
[18/12/24, 09.25.22] Fahrul Rizal IGC Sekretaris: Ririn Wahyuni tamatan RIC ( Riau internasional College) konsentrasi pramugari
(Kutipan WA 18/12/2024 atas permintaan SK)
Jakarta, 18 Des 2024.
Fahrul Rizal, S.E, dan Ririn Wahyuni mulai berangkat dari hanggar kesendirian. Keduanya kini berada di satu kapal layar. Bertolak membelah ombak dan mungkin melawan badai dalam mengharungi samudra luas kehidupan.
Saya mengenal Rizal sejak dia mahasiswa di FE UM Sumbar. Aktivis dan Komandan Resimen Mahasiswa Indonesia Satuan 109 Mahadharma Universitas Miuhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) pada zamnannya itu, adalah kader Muhammadiyah multi fungsi.
Sarjana Manajemen FE ini ligat hampir dalam segala hal yang berkaitan dengan gerakan Muhammadiyah di Sumbar.
Giat di MDMC (Muhammadiyah Disasters Management Center) Pusat Kelola Solusi Bencana Muhammadiyah bersama Portito dan Hafizd, mereka merupakan core-inti MDMC Sumbar.
Rizal juga Komandan KOKAM PWPM SUMBAR 2018-2022 Adinda Fahrul Rizal Lubis beserta istri adinda Ririn, kita semua berdoa semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa Rohmah
Triple aktivis gerakan yang yang tersebut tadi lincah dan cepat dalam semua aktivitas penanggulanan kebencanaan yang turun secara mandiri maupun bersama lainnya.
Ketika dibentuk Irman Gusman Center (IGC) untuk Pemilu 2024, Rizal ditunjuk oleh elit Muhammadiyah menjadi Sekretais IGC dengan Ketua IGC Drs. Marhadi Efendi, M.Si.
Marhadi adalah Wakil Ketua PWM membidangi MDC dan Majelis Lingkungan Hidup (MLH).
Bersama relawan IGC lainnya, Rizal menjadi ujung tombak. Dengan alm Ir Dedi Harun, Ismail Gusman, Marhadi dan Firdaus, Rizal bolak balik ke KPU Sumbar untuk semua kepentingan IGC.
Rizal dan semua tim relawan IGC menjadi motor gerakan lapangan dan pengaturan strategi pemenangan di IGC yang berkantor di salah satu gedung-rumah kerabat Senator Irman Gusman di Purus Dalam Kota Padang. (SK)
Silaturahim PWM Sumbar dengan Wakil Konsulat Amerika Serikat (lst)
Padang – Wakil Konsulat Amerika Serikat, Suraj S. Mungara, melakukan kunjungan resmi ke Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Barat. Pertemuan berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Sumbar pada, Senin (9/12/2024).
Suraj S. Mungara disambut hangat oleh Ketua PWM Sumbar, Bakhtiar, bersama sejumlah anggota pimpinan lainnya, termasuk Sekretaris Apris, Wakil Sekretaris Jon Misfar, serta Wakil Ketua Ki Jal Atri Tanjung, Zaitul Ikhlas Saad, Hendri Novigator, dan Emilzon Taslim.
Scroll ke bawah
Teruskan Membaca
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membahas peluang untuk mempererat hubungan dan membangun kerjasama di berbagai sektor, termasuk pendidikan, sosial, dan budaya.
Suraj menyampaikan apresiasinya terhadap peran Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang berkontribusi dalam pembangunan masyarakat.
Baca juga: Calon Wakil Gubernur Sumbar Vasko Rusaimy, Melepas 150 Jamaah Umrah di Asrama Haji Embarkasi Padang
“Kami berharap kunjungan ini menjadi awal yang baik untuk memperkuat hubungan antara Amerika Serikat dan Muhammadiyah, khususnya di Sumatera Barat, demi mendukung kemajuan bersama,” ujar Suraj.
Ketua PWM Sumbar, Bakhtiar, menyambut baik inisiatif ini dan menyampaikan kesiapan Muhammadiyah untuk berkolaborasi dalam berbagai program yang dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
“Pertemuan ini adalah langkah penting untuk membuka peluang kerjasama strategis yang tidak hanya bermanfaat bagi Muhammadiyah, tetapi juga bagi masyarakat Sumatera Barat dan hubungan bilateral Indonesia-Amerika Serikat,” ungkap Bakhtiar. (EN)
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Tokoh Muhammadiyah yang Bergelar Pahlawan Nasional
KOMPAS.com - Muhammadiyah merupakan organisasi Islam yang memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar, Muhammadiyah berperan dalam membangun tatanan sosial dan pendidikan dalam masyarakat Indonesia sejak masa penjajahan.
Beberapa nama tokoh Muhammadiyah yang tercatat sebagai pejuang kemerdekaan seperti, Presiden Soekarno, KH Ahmad Dahlan, Jenderal Soedirman, dan Mas Mansur.
Selain itu, berikut ini tokoh-tokoh organisasi Muhammadiyah yang telah bergelar pahlawan nasional.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KH Ahmad Dahlan
KH Ahmad Dahlan merupakan tokoh pendiri Muhammadiyah pada 1912, yang berperan dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum pribumi.
Selain itu, ia juga mendorong kemurnian ajaran agama Islam di Indonesia, terutama di lingkungan sekitarnya, di Yogyakarta.
KH Ahmad Dahlan diangkat menjadi pahlawan nasional melalui SK Presiden No 657 tahun 1961 oleh Presiden Soekarno.
Baca juga: Ubi Jalar Bisa Mencegah Penyakit Apa? Berikut 6 Daftarnya
Soekarno
Presiden Soekarno merupakan salah satu pahlawan nasional yang juga berasal dari Muhammadiyah.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ia menjadi kader Muhammadiyah sejak 1930 dan pernah menjadi pengurus Majelis Pendidikan dan Menengah di Bengkulu.
Presiden Soekarno tertarik dengan Muhammadiyah berkat KH Ahmad Dahlan, yang dianggapnya revolusioner.
Pemikiran KH Ahmad Dahlan yang mengedepankan pendidikan umat tanpa melupakan modernisasi sebagai arah gerak zaman merupakan ide yang sangat dikagumi oleh Soekarno.
Soekarno ditetapkan sebagai pahlawan nasional melalui SK Nomor 081/TK/1986.
Baca juga: De-Soekarnoisasi, Upaya Soeharto Melemahkan Pengaruh Soekarno
Siti Walidah
Siti Walidah merupakan istri dari KH Ahmad Dahlan, yang juga sebagai tokoh pahlawan nasional dari Muhammadiyah.
Ia merupakan tokoh yang mendirikan Aisyiyah, anak organisasi Muhammadiyah yang bergerak pada pemberdayaan perempuan.
Siti Walidah, yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 10 November 1971 melalui SK No 42/TK, memiliki permikiran bahwa kaum perempuan berhak mendapatkan pendidikan yang layak.
Baca juga: Panglima TNI Hadiahi Serda Wahyu Umrah Usai Aksi Heroik Selamatkan Anak yang Disandera
Buya Hamka
Buya Hamka adalah sosok ulama terkenal dari Sumatera Barat, gigih berjuang pada awal kemerdekaan Indonesia atau masa revolusi.
Ia berperan dalam pendirian cabang Muhammadiyah di Padang pada 1925, sebagai salah satu usaha untuk mempersiapkan para kaum muda agar siap menjadi seorang mubaligh dan guru.
Buya Hamka tertular oleh semangat dari Sutan Mansur dalam menggerakan umat Islam melalui Muhammadiyah.
Buya Hamka dikukuhkan sebagai pahlawan nasional dengan SK nomor 113/TK/ Tahun 2011.
Baca juga: Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka): Peran dan Kiprahnya
Mas Mansyur
Tokoh nasional dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia yang berlatar belakang Muhammadiyah adalah Mas Mansyur.
Mas Mansyur merupakan tokoh Muhammadiyah yang menjadi salah satu anggota Badan Pengurus Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Ia bertemu dengan KH Ahmad Dahlan pada 1915, setelah pulang pendidikan dari Mesir.
Baca juga: Polri Tangkap Pejabat Komdigi yang Terlibat Judi Online, Ini Respons Meutya Hafid
Mas Mansyur sangat mengagumi pemikiran dan pergerakan KH Ahmad Dahlan, yang berani melawan arus dan merevolusi pendidikan bagi kaum pribumi.
Selama di Muhammadiyah, Mas Mansyur mendapatkan peran sebagai ketua Cabang Muhammadiyah Surabaya, Konsul Muhammadiyah wilayah Jawa Timur, hingga Ketua Umum Muhammadiyah pada kongres Yogyakarta tahun 1937.
Selain itu, ia juga berperan sebagai tokoh pergerakan nasional dalam menyongsong kemerdekaan Indonesia.
Mas Mansyur dinobatkan sebagai pahlawan nasional dengan SK Nomor 162 Tahun 1964.
Baca juga: KH Mas Mansyur: Keluarga, Pendidikan, Kiprah, dan Akhir Hidup
Jenderal Soedirman
Jenderal Soedirman merupakan seorang jenderal TNI pertama yang aktif dalam organisasi Muhammadiyah.
Sebelum menjadi Panglima TNI, Jenderal Soedirman merupakan ketua Pemuda Muhammadiyah dan Kepanduan Hizbul Wathan di Karesidenan Banyumas.
Berkat kepemimpinannya di Pemuda Muhammadiyah, ia terpilih menjadi komandan Pembela Tanah Air (PETA) daerah Banyumas. Dari situ, kiprahnya dalam kemerdekaan Indonesia semakin besar.
Jenderal Soedirman ditetapkan sebagai pahlawan nasional melalui SK Nomor 314 Tahun 1964.
Baca juga: Jenderal Soedirman: Masa Kecil, Pendidikan, dan Perjuangannya
Selain tokoh-tokoh tersebut, berikut ini nama pahlawan nasional yang juga berasal dari Muhammadiyah.
Agus Salim, melalui SK Nomor 657 Tahun 1961
Soetomo, melalui SK Nomor 657 Tahun 1961
Djuanda Kartawijaya, melalui SK Nomor 244 Tahun 1963
Fakhrudin, melalui SK Nomor 162 Tahun 1964
Otto Iskandardinata, melalui Sk Nomor 88 Tahun 1973
Adam Malik, melalui SK Nomor 107 Tahun 1998
Fatmawati, melalui SK Nomor 118 Tahun 2000
Nani Wartabone, melalui SK Nomor 085 Tahun 2003
Gatot Mangkupraja, melalui SK Nomor 089 Tahun 2004
Andi Sulthan Daeng Radja, melalui SK Nomor 085 Tahun 2006
Teuku H. Moehammad Hasan, melalui SK Nomor 085 tahun 2006
Ki Bagus Hadikusumo, melalui SK Nomor 116 Tahun 2015
Lafran Pane, melalui SK Nomor 115 Tahun 2017
Abdurahman Baswedan, melalui SK Nomor 123 Tahun 2018
Kasman Singodimejo, melalui SK Nomor 123 Tahun 2018
Abdul Kahar Mudzakkir, melalui SK Nomor 120 Tahun 2019
Referensi:
Aidah, Siti Nur. (2020). Mengenal Tokoh-tokoh Muhammadiyah. Yogyakarta: KBM Indonesia.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.