Ilusi Ilmu, Jalan Hakikat
https://www.hariansinggalang.co.id/opini/2849/ilusi-ilmu-jalan-hakikat
Ilusi Ilmu, Jalan Hakikat
Shofwan KarimMinggu, 02 Agustus 2026, 21:02 WIB
https://www.rumpuntekno.com/assets/mitra/9/2026/08/ilustrasi-opini-ilusi-ilmu-jalan-hakikat--020826090248.webp
Ilmu adalah cahaya, tetapi cahaya itu bisa redup bila tertutup kabut ilusi. Daniel J. Boorstin bergumam, “The greatest enemy of knowledge is not ignorance, it is the illusion of knowledge.” Musuh terbesar ilmu bukanlah ketidaktahuan, melainkan merasa sudah tahu padahal sebenarnya belum.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebutkan bahwa manusia paling buruk adalah mereka yang merasa mengerti padahal tidak tahu apa-apa, sehingga tertutup dari kebenaran. Abu Bakar ash-Shiddiq menegaskan, “Ketidaktahuan adalah kematian, dan merasa tahu padahal bodoh adalah penyakit terbesar akal.” Ibnu Hazm menambahkan, ujub atas pengetahuan yang sedikit adalah awal dari kehancuran jiwa.
Al-Qur’an sendiri menyinggung bahaya ilusi pengetahuan. Allah berfirman:“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36)
Ayat ini menegaskan bahwa klaim pengetahuan tanpa dasar adalah bentuk kesombongan intelektual. Rasulullah saw pun bersabda: “Barangsiapa berkata tentang al-Qur’an tanpa ilmu, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Tirmidzi).
Baca juga: Membaca Logika Spasial Tol: Perlukah Trase Tetap Menuju Agam Darek?
Sejarah sains Barat menunjukkan bagaimana ilusi pengetahuan menghambat kemajuan. Selama berabad-abad, manusia meyakini matahari berputar mengelilingi bumi. Keyakinan itu tampak benar secara kasat mata, tetapi sesungguhnya keliru. Baru setelah Copernicus dan Galileo menantang ilusi tersebut, lahirlah revolusi ilmu pengetahuan.Demikian pula dalam Islam, banyak orang merasa tahu Islam hanya dari potongan berita, media sosial, atau opini publik. Padahal Islam adalah agama yang bersanad, yang harus dipelajari melalui bahasa Arab, ulumul Qur’an, ulumul Hadis, fikih, akidah, dan tasawuf.
Fenomena “Islam yang salah” muncul ketika orang hanya mengenal Islam dari fragmen yang terputus. Mereka mengira Islam identik dengan konflik, padahal al-Qur’an berulang kali menekankan rahmat:“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107)
Mereka menganggap Islam mengekang perempuan, padahal sejarah mencatat peran besar perempuan Muslim sebagai ulama, pemimpin, dan pendidik. Mereka menuduh Islam anti-rasional, padahal wahyu pertama adalah perintah membaca: “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1)
Baca juga: Menghidupkan Warisan, Menata Masa Depan
Ilusi pengetahuan tentang Islam membuat orang berhenti mencari kebenaran. Mereka puas dengan gambaran parsial, lalu menutup diri dari sumber otentik: al-Qur’an, Hadis sahih, dan penjelasan ulama. Padahal Islam menuntut pencarian ilmu yang terus-menerus. Nabi bersabda: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).
Para sufi menekankan bahwa ilmu sejati lahir dari kerendahan hati. Jalaluddin Rumi berkata, “Ilmu tanpa cinta adalah beban, cinta tanpa ilmu adalah kesesatan.” Tasawuf mengajarkan bahwa merasa tahu adalah hijab yang menutup jalan menuju Allah. Ibn ‘Ataillah dalam al-Hikam menulis: “Tidak ada hijab yang lebih tebal antara hamba dan Allah daripada merasa cukup dengan ilmu.”
https://www.rumpuntekno.com/assets/mitra/9/2026/08/ilustrasi-opini-ilusi-ilmu-jalan-hakikat--020826090248.webp
Ilmu harus selalu disertai kesadaran akan keterbatasan diri. Kesombongan intelektual adalah racun yang membunuh jiwa. Sufi modern menegaskan bahwa ilmu sejati bukan hanya rasional dan empiris, tetapi juga harus berakar pada kesadaran qalb (hati) dan ma‘rifah (pengetahuan intuitif).
Kiai Achmad Asrori al-Ishaqi mengembangkan konsep “dihliz” sebagai ambang epistemik antara syariat normatif dan pengalaman sufistik. Ilmu sejati lahir dari perpaduan teks, rasio, dan intuisi ruhani. Ilusi pengetahuan muncul ketika seseorang berhenti di satu sisi saja—misalnya hanya rasional tanpa pengalaman spiritual, atau klaim sufistik tanpa dasar syariat.
Baca juga: Sang Pembuka Jendela Islam
Epistemologi integratif merumuskan penyatuan rasionalisme, empirisme, realisme, dan tasawuf. Rasionalisme memberi kerangka logis, empirisme memberi verifikasi, realisme menjaga hubungan dengan realitas objektif, sementara tasawuf menyempurnakan dengan qalb dan ma‘rifah sebagai dimensi transendental. Ilusi pengetahuan terjadi bila ilmu modern hanya berhenti pada data empiris tanpa nilai spiritual.
Dengan demikian, kesinambungan antara ulama klasik dan sufi modern memperlihatkan bahwa bahaya ilusi pengetahuan bukan hanya masalah masa lalu, tetapi juga tantangan ilmu kontemporer yang sering kehilangan dimensi ruhani.
Maka belajar Islam tidak bisa instan seperti makanan cepat saji. Harus ada sanad, guru, dan lembaga yang menjaga otentisitas ilmu. Madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi Islam adalah benteng agar umat tidak terjebak dalam “Islam yang salah.” Imam Malik pernah berkata: “Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kamu mengambil agamamu.” Pesan ini menegaskan bahwa sumber ilmu menentukan kualitas iman.Ketidaktahuan bukanlah musuh, melainkan awal dari pencarian. Orang yang sadar dirinya tidak tahu akan terus belajar. Tetapi orang yang merasa tahu padahal salah, berhenti belajar. Inilah yang disebut Boorstin sebagai illusion of knowledge.
Dalam perspektif Islam, ilusi pengetahuan adalah bentuk kesombongan yang menutup pintu hidayah. Al-Qur’an mengingatkan: “Dan janganlah kamu menyombongkan diri di muka bumi, karena sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’ [17]: 37)
Ilusi pengetahuan adalah penyakit yang menghambat kemajuan sains dan agama. Islam menuntut umatnya untuk selalu rendah hati, mencari ilmu dari sumber otentik, dan menghindari klaim tanpa dasar. Dengan integrasi rasio, empiris, teks, dan qalb, kita terhindar dari “Islam yang salah” dan menuju Islam yang benar: Islam yang rahmatan lil-‘alamin, Islam yang menekankan ilmu, akhlak, dan cinta. (***)


















