pada waktunya
orang menikah muda, ada yang ribut. orang menikah terlambat, ada yang ribut. orang nggak menikah-menikah, ada yang ribut. orang nggak mau menikah, ada yang ribut juga.
yang sini mengajak orang untuk menikah muda. yang sana mengajak orang untuk jangan menikah muda. yang sini bingung ada orang yang nggak menjadikan menikah yang utama. yang sana bingung ada orang yang menjadikan menikah yang utama.
kita mah nggak usah. kalau kita berada di kutub “sini”, kita nggak usah bertanya-tanya kenapa ada yang di kutub “sana”, apalagi meributkannya. dan sebaliknya juga begitu. itu keyakinan masing-masing orang. datangnya juga dari Allah.
kalau sudah waktunya, setiap hati pasti akan terpanggil untuk menikah. cepat atau lambat kan ukuran yang dibuat manusia karena kita mengenal konsep umur. kalau kata Allah, semuanya selalu pada waktunya.
nggak ada yang tergesa-gesa kok. lagian, memang nggak bisa tergesa-gesa. menikah kan bukan keinginan dua manusia yang mau menikah saja, tetapi dua keluarganya juga. dan keinginan Allah tentu. kalau Allah nggak ingin, ya nggak jadi.
tapi kalau sepertinya jodohnya sudah datang, sebaiknya memang disegerakan. lebih banyak baiknya jika disegerakan. sepertinya loh, kan jodoh nggak ada yang tau. yang sudah menikah saja belum tentu sejodoh.
yang penting, kita mah nggak usah ngeributin orang lain dan bersyukur dengan jodoh masing-masing. belum ketemu pun harus bersyukur, apalagi sudah ketemu. kalau kata urang Sunda mah, “jodoh bagja pati cilaka–Allah yang atur.”
percaya saja kalau semuanya memang pada waktunya. karena memang begitu.
















