2 Minggu bersama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada : A. Ozi, pribadi yang bertanggung jawab, sudah "matang" baik secara emosi dan juga cara bersikap, orang yang berprinsip dan berjiwa besar, lugas. Punya paling banyak pengalaman yang saya ingin dengar karena memiliki banyak pelajaran. Dari nya saya belajar tentang bagaimana mengelola emosi yang beragam dan cara menyikapinya. Jika saya diminta memilih 1 orang untuk dijadikan pemimpin, maka ozi adalah orang yang tepat. B. Randy, kesan pertama yang muncul ketika bertemu dengannya "kayaknya kita pernah ketemu deh, tapi dimana ya", wajah yang bersahabat dengan senyum lebar bersimpul menandakan bahwa ia adalah pribadi yang cocok untuk diajak ngobrol ber jam jam. Tapi sayang waktunya banyak dihabiskan untuk video call dengan orang terkasih, sehari mungkin bisa lebih dari 5 kali. Tapi darinya saya belajar, untuk tidak pernah takut dalam mencoba hal baru meski dengan video tutorial dari youtube. C. Dimas, mantan jurnalis yang punya hobi membaca, bahkan sampai ke entikong pun membawa beberapa buku bacaan, kadang nyeleneh dan membuat jokes yang absurd dengan speed bicara yang cepat. Wataknya terlihat emang rada rada mungkin karena dulu waktu semasa sekolah yang selalu badung. Sama dengan saya berharap dipindahkan ke depok atau sekitarnya, agar bisa lebih dekat dengan keluarga. Dimas mengajarkan saya tentang cara menghangatkan suasana dengan canda tawa serta permainan logika. D. Timothy, salah satu yang paling muda, berjiwa bebas dan tentunya memiliki semangat anak muda. Awalnya saya mengira akan tidak bisa berkomunikasi dengannya, lantaran sikap nya yang "sengak" dan terlihat kesannya merendahkan orang lain. Tapi itu semua hilang ketika kami berinteraksi selama 2 minggu di wasdakim, tergambar jelas seperti apa pribadi sebenarnya, saya yakin suatu hari dia akan bersinar melebihi kita semua. Saya belajar tentang rasa berani tak kenal takut dari nya. E. Ena, Orang yang telah berbaik hati memasukkan saya ke grup whatsapp "cpns kanim klas2 entikong", dengan logat yang khas dan juga memiliki nama dengan pengulangan, jelas bagi saya bahwa dia orang sunda. Pribadi yang baik dan peduli dengan rekan rekan kerja nya, dewasa bahkan bagi kita semua. Orang dengan rasa antusiasme yang tinggi. Dari nya pelajaran tentang kepedulian sesama dan mendahulukan orang lain saya dapatkan. Pun hal yang sama dengan nyonya Ena aka Dini, terima kasih untuk usaha serta kerja kerasnya menjaga perut kita semua dari rasa lapar dan banyak mau nya. F. Pandu, yang paling jangkung di antara kita, punya smartphone dengan dual kamera, youtuber penghasil rupiah, dulu pernah bekerja di stasiun tv swasta, berwawasan luas dan up to date pasti nya, serta penyuka kucing. Paling butuh ama yang nama nya internet, rela merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan kuota. Suka ngemil dan sedang berusaha nge-miliki si dia. Pelajaran berharga dari nya adalah bukan hal penting jika saat ini kita tidak tau cara melakukan sesuatu, selama kita tau cara mencari tau untuk melakukan sesuatu tersebut. G. Arief, mungkin yang paling pendiam di antara kita, hobinya bermain game baik dengan smartphone maupun dengan laptop di kamarnya, kuliah jurusan IT dan tinggal di bandung. Tidak bertanya, dan hanya menjawab jika ditanya, tidak akan membuka obrolan jika tidak dimulai oleh yang lain. Kalem, dan menyukai kesendirian. Ini sama seperti kondisi saya beberapa tahun lalu ketika akan lulus kuliah. Arief mengingatkan kembali kepada saya akan pentingnya fokus dan ketelitian dalam bekerja. H. Jae, jelas sudah kalau jae adalah yang paling polos di antara kita semua, berhati lembut tanpa ada dendam dan iri di hati nya, kadang menjadi aneh dengan tiba tiba hilang entah kemana, lalu balik seketika. Yang menyebut semua teman wanitanya yang belum menikah dengan panggilan "gadis". Pribadi yang unik dan lugu, tak pernah merasa ada beban seakan semua masalah akan berakhir dengan sendiri nya. Pun seperti saya, teman teman bisa belajar dari nya tentang arti memaafkan dan menerima kekecewaan setelah letihnya berjuang. I. Risvy, masih ada keturunan india dari ibu nya, ramah dengan aksen jawa timur nya yang khas, apalagi ketika menyebut kata "mesti". Perjalanan pontianak entikong menjadi tidak membosankan, dengan obrolan ringan dan renyah bersama keluarga nya, memiliki orang tua yang asik untuk diajak ngobrol adalah sebuah anugerah. Bagi nya, bekerja dalam senyap lebih utama tak usah berhuru hara karena hasil akan tetap muncul ke permukaan dengan sendiri nya. Itu pelajaran yang saya dapatkan dari nya. J. Donny, seseorang yang bersahaja, low profile dan easy going. Siapa sangka kalau salah 1 hobinya adalah meng cover lagu dan diunggah ke jejaring sosial, Randy sebagai guru vocal mungkin bisa mengupgrade kualitas suaranya. Yang setiap hari selalu bilang "push rank lah bang" kepada saya. Donny adalah bukti bahwa setiap perjuangan akan memiliki akhir yang bahagia, selama kita tekun dan mau menikmati setiap prosesnya. Saya masih belajar kepada Donny, tentang cara bertahan pada setiap proses yang tentu tidak mudah. K. Mishar, tak banyak kata yang keluar tapi masih cukup untuk bersosialisasi, senyum tawa tanpa pamrih, meminjamkan motor hanya dengan berpesan "cepat yak, aku mo balik jugak" dan juga sindiran untuk saya "ayolah" yang mencoba menirukan dialek melayu namun masih terdengar aneh di telinga. Terdepan jika mengumandangkan adzan, suaranya enak di dengar tak terlalu lantang tapi cukup untuk menandakan di mushola akan ada sholat berjamaah. Semua ada waktunya, lakukan sesuai tempatnya, cepat dan bersegera. Ini yang sedang saya pelajari dari nya. L. Eka, dikira paling muda karena perawakannya padahal seumuran dengan saya. Mungkin yang paling kecil dan kurus ukuran tubuhnya. Miris sebenarnya karena dengan kondisi seperti itu merokok masih menjadi bagian hidupnya. Pandai bersosialisasi meski dengan kacamata yang sudah waktu nya diganti. Menjaga hubungan pertemanan adalah hal besar dan penting baginya, juga memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Sabar menunggu adalah keunggulan diri nya yang harus kita jadikan pelajaran. M. Damiana, belum banyak kesempatan untuk dapat mengenal dirinya. Tapi dari interaksi yang ada, dia adalah wanita yang tegar, mandiri, dan baik hati tentunya. Periang dan teguh pendirian. Telah beberapa kali mengalami pengalaman merantau dan merasakan betapa beragamnya budaya indonesia, menjadikannya mampu dengan cepat beradaptasi dengan kondisi yang ada. Tanpa perlu menunjukkan jati diri sebenarnya. Ini pelajaran buat saya yang harus segera saya pahami. N. Hajizah, satu satu nya wanita yang sudah menikah diantara tiga, bersikap tenang dan sabar layaknya seorang istri pada umumnya. Terpisah jauh dengan suami padahal belum lama menikah. Tapi yakinlah, memang perlu sedikit 'jeda' agar cukup waktu untuk rindu bertumbuh. Karena tidak ada yang lebih indah bagi orang yang merindu selain perjumpaan dengan yang dirindu. Setia pada pasangan meski tepaut jarak dan waktu. Hajizah akan menjadi pengingat saya akan hal itu. O. Dbow, pribadi yang tak tahu malu untuk belajar dari kita semua tanpa mau membayar harganya, yang telah berani berani nya menilai kita tanpa adanya klarifikasi dari nya. Pelajaran yang bisa saya ambil adalah tentang semangatnya untuk bisa menerima semua perbedaan sesama kita dan bersedia membungkam mulutnya untuk tidak banyak mengeluh dengan kondisi yang ada. - Dikirim 16 Februari 2018 - - Mess Imigrasi Entikong, Sanggau, KalBar- - Bayangan -