Kalapuna
Alarm sudah berbunyi sejak tadi, namun Jo tak lekas beranjak dari kasurnya. Kepalanya terasa sangat berat. Ia merasa sangat mual. Ketika alarm berbunyi untuk kesekian kalinya, barulah Jo membuka mata dengan enggan. Ia matikan alarm itu dan ia cek layar ponselnya. Hari ini sudah berlalu selama 10,5 jam. Jo lalu mengecek notifikasi ponselnya
From : Dito
Sudah bangun? Kau baik-baik saja?
Mata dan kepalanya masih berat. Ia terlalu malas untuk memahami pesan yang ia baca. Ia taruh ponsel itu di samping kepalanya dan ia memejamkan mata lagi. Tak lama kemudian ponselnya berdering. Masih dengan mata terpejam Jo meraba-raba letak ponselnya lalu mengangkat telfonnya.
"Sudah bangun?"
Masih separuh sadar, Jo tak menjawab suara di seberang.
"Kau kacau sekali semalam."
Kata kacau membuatnya sedikit bernyawa dan memutar kembali apa yang terjadi semalaman. Ah, dia ingat. Semalam dia mabuk berat. Jo ingat bahwa usai dari taman, ia tak lantas pulang, tapi pergi ke Pub di tengah kota. Tapi hanya sebatas itu ingatannya. Ia mengumpat dalam hati setiap kali mengingat kecerobohannya.
"Apa aku membuat masalah?"
"Tidak. Kau banyak melantur dan menangis. Tapi kau sempat mengajak bartender muda itu berkelahi. Kau berhutang padaku Jo, hahah."
"Ah shit. Sorry, Dit. Sorry for being a crap. Aku tidak menyangka dampaknya akan jadi seburuk itu."
"Hei. Itu bukan salahmu. Udah, sekarang mandi, makan dan nonton youtube. Sibukkan dirimu dengan hal-hal yang kau suka. Jangan lupa beri makan Cimo juga. Kalau udah siap, kita bertemu lagi," ujar Dito lalu menutup telfon.
Jo hanya menghela napas panjang. Masih mengingat-ingat apa saja yang ia lakukan semalam. Kesedihan dan alkohol membuatnya lepas kendali. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa? Kenapa ia bisa jadi seperti ini? Kenapa ia harus jatuh cinta pada seseorang yang takkan pernah bisa ia miliki? Kenapa ia tak bisa membuat orang yang ia cintai agar mencintainya juga? Kenapa ia harus jatuh cinta pada seorang gay?
Semangatnya punah. Ia nyaris kehilangan akal. Dua tahun menahan diri dan kini perasaannya tak lagi dibendung. Ia mendamba sebuah hubungan. Hubungan yang biasa. Sepasang kekasih. Laki-laki dan perempuan. Dito dan Jo. Hah, takkan mungkin bisa, batin Jo. Kami takkan pernah bisa jadi sepasang, pikirnya. Dan tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Tak ada yang bisa ia salahkan, kecuali dirinya sendiri.
Ia menatap langit-langit kamarnya. Matanya menerawang jauh. Tubuhnya berada di kasur, namun pikirannya berada di tempat lain. Entah ke mana, atau mungkin ke mana saja. Kepalanya riuh sekali. Begitu melelahkan. Dan tak mau berhenti.
“Bodoh. Aku tak bisa begini terus. Aku bisa mati perlahan,” ucap Jo pada dirinya sendiri.
Ia lalu bangkit dari kasurnya dan pergi mandi. Ia berniat untuk bepergian. Entah ke mana atau berapa lama. Ia tak tahu, ia tak peduli. Ia hanya berusaha untuk mengalihkan kesedihannya. Ia tak ingin dibunuh perlahan oleh perasaannya sendiri.


















