Nasib tragis Jayanagara bergelar Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara
Terlahir sebagai putera lelaki sendiri dari semua istri dyah wijaya raja majapahit pertama, menduduki tahta majapahit dengan pergolakan karna statusnya. Ia adalah buah dari perjuangan ibunya sang indeswari seorang puteri dari tanah sabrang hingga jayanegara berhak menduduki tahta majapahit memadamkan pemberontakan menjaga negara waris ayahandanya yaitu dyah wijaya, namun meskipun tafsir sejarawan beragam ia tetap terbunuh tanpa keturunan. Memang tahta harta adalah godaan hidup di dunia membuat manusia saling jatuh menjatuhkan, tak berhak merasa berhak, dan saling gelapkan sejarah mencari pembenaran masing masing. setelah kepergian jayanegara tahta jatuh pada putri istri dyah wijaya yang lain yaitu putri dari gayatri. Sebagai ratu majapahit bergelar tribuwana wijayatunggadewi.
Menurut Pararaton, nama asli Jayanagara adalah Kalagemet putra Wijaya dan Dara Petak. Ibunya ini berasal dari Kerajaan Dharmasraya di Pulau Sumatra. Ia dibawa Kebo Anabrang ke tanah Jawa sepuluh hari setelah pengusiran pasukan Mongol oleh pihak Majapahit. Wijaya yang sebelumnya telah memiliki dua orang istri putri Kertanagara, kemudian menjadikan Dara Petak sebagai istri Tinuheng Pura, atau "istri yang dituakan di istana".
Nagarakretagama menyebutkan Jayanagara diangkat sebagai yuwaraja atau raja muda di Kadiri atau Daha pada tahun 1295. Nama Jayanagara juga muncul dalam prasasti Penanggungan tahun 1296 sebagai putra mahkota. Mengingat Raden Wijaya menikahi Dara Petak pada tahun 1293, maka Jayanagara dapat dipastikan masih sangat kecil ketika diangkat sebagai raja muda. Tentu saja pemerintahannya diwakili oleh Lembu Sora yang disebutkan dalam prasasti Pananggungan menjabat sebagai patih Daha.
Dari prasasti tersebut dapat diketahui pula bahwa Jayanagara adalah nama asli sejak kecil atau garbhopati, bukan nama gelar atau abhiseka. Sementara nama Kalagemet yang diperkenalkan Pararaton jelas bernada ejekan, karena nama tersebut bermakna "jahat" dan "lemah", hal itu dikarenakan kepribadian Jayanagara yang dipenuhi prilaku amoral namun lemah sebagai penguasa sehingga banyak pemberontakan yang timbul dalam masa pemerintahannya.
Jayanagara naik takhta menjadi raja Majapahit menggantikan ayahnya yang menurut Nagarakretagama meninggal dunia tahun 1309.
Dari Piagam Sidateka yang bertarikh 1323, Jayanagara menetapkan susunan mahamantri katrini dalam membantu pemerintahannya, yaitu sebagai berikut:
Rakryan Mahamantri Hino: Dyah Sri Rangganata
Rakryan Mahamantri Sirikan: Dyah Kameswara
Rakryan Mahamantri Halu: Dyah Wiswanata
Dalam prasasti Kertarajasa (1305), Jayanagara disebut sebagai putra Tribhuwaneswari permaisuri utama Raden Wijaya. Dari berita tersebut dapat diperkirakan Jayanagara adalah anak kandung Indreswari alias Dara Petak yang kemudian menjadi anak angkat Tribhuwaneswari, sehingga ia dapat menjadi putra mahkota sebagai calon raja selanjutnya.
Pengangkatan Dara Petak sebagai istri tertua mungkin karena hanya dirinya saja yang melahirkan anak laki-laki, yaitu Jayanagara. Sedangkan menurut Nagarakretagama, ibu Jayanagara bernama Indreswari. Nama ini dianggap sebagai gelar resmi Dara Petak.
Dara Petak pandai mengambil hati Raden Wijaya sehingga ia dijadikan sebagai Stri tinuheng pura, atau istri yang dituakan di istana. Padahal menurut Nagarakretagama, Raden Wijaya sudah memiliki empat orang istri, dan semuanya adalah putri Kertanagara
Setelah kematian jayanegara pemerintahan di teruskan oleh ibu suri gayatri...lalu tahta jatuh pada Tribhuwana Wijayatunggadewi (atau disingkat Tribhuwana) / Dyah Gitarja. Ia merupakan putri dari Raden Wijaya dengan Gayatri.











