Mereka tidak butuh buku-buku tebal dan buku-buku bergambar. Mereka hanya butuh waktu kalian untuk mengajarkan mereka satu dua kata aksara dan yakinkan bahwa mereka masih punya hak untuk mendapatkan pendidikan
Kak Amelia Sakinah
seen from United States
seen from United States

seen from Canada

seen from Moldova
seen from Australia
seen from United States
seen from Greece
seen from Yemen

seen from Russia
seen from Yemen

seen from Germany
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from Switzerland

seen from Türkiye

seen from Saudi Arabia

seen from Russia
seen from Mexico

seen from Australia
Mereka tidak butuh buku-buku tebal dan buku-buku bergambar. Mereka hanya butuh waktu kalian untuk mengajarkan mereka satu dua kata aksara dan yakinkan bahwa mereka masih punya hak untuk mendapatkan pendidikan
Kak Amelia Sakinah

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
LANGIT GELAP DAN KITA
Pada suatu malam di bulan Januari tahun 1994, gempa dengan kekuatan 6,7 Skala Richter terjadi di Los Angeles, Amerika Serikat. Gempa ini menyebabkan terputusnya aliran listrk di seluruh kota. Beberapa jam setelahnya, Observatorium Griffith menerima telepon dari banyak warga yang panik karena melihat melihat benda aneh di langit. Warga menyangka bahwa benda aneh yang dideskripsikan sebagai “awan kelabu” itulah yang mungkin menyebabkan gempa terjadi. “Benda aneh” yang mereka lihat di langit itu adalah Bima Sakti, galaksi kita sendiri.
Ketidaktahuan dari warga Los Angeles tadi bisa saja kita anggap agak menggelikan, bisa juga membuat kita miris. Namun jika kita bercermin, mungkin saja masyarakat kita akan melakukan hal yang serupa.
Sejauh mana kita mengenali langit kita sendiri?
Kapan terakhir kali kita melihat langit dan memandang dengan mata telanjang langit yang jernih berbintang tanpa polusi cahaya?
Di tempat dengan keadaan seperti di sekitar kita ini, di Indonesia ini (terutama di daerah perkotaannya), hal diatas sulit sekali untuk dilakukan. Polusi cahaya dari pemukiman, pertokoan, gedung bertingkat dan lampu jalan di mana-mana. Jujur, saya sendiri juga belum pernah melihat langit yang benar-benar jernih sampai bintang, planet, dan Bima Sakti terlihat.
Sampai di titik ini, mungkin ada yang berpikir, buat apa kita memikirkan langit dan polusi cahaya? Masih banyak hal lain yang keadaannya lebih miris di negara ini daripada kejadian di Los Angeles tadi. Buat apa sibuk melihat langit jika masih banyak kerusakan yang harus diperbaiki di muka bumi?
Di sini, saya akan berbicara tentang anak-anak.
Anak-anak berada di dalam fase di mana mereka menyerap dan mempelajari sebanyak-banyaknya hal di sekitar mereka. Apa yang mereka lihat dan pelajari di masa ini memiliki potensi yang amat besar untuk terbawa sampai mereka dewasa nanti. Untuk itulah kita mengarahkan mereka untuk melihat dan mempelajari hal di sekitar dan bagaimana seharusnya mereka bersikap atas dunia di sekeliling mereka. Salah satu contoh nyatanya adalah pengetahuan alam, di mana anak-anak diberi pengetahuan tentang bumi, tentang lingkungan, tentang makhluk hidup, dan sifat-sifat yang mendasari alam ini.
Mengapa? Karena dengan mengetahui bahwa mereka adalah bagian dari lingkunganlah kesadaran untuk menjaga lingkungan bisa muncul. Karena dengan mengetahui makhluk hidup lain yang tinggal di bumi, mereka bisa belajar untuk menjadi bijak sebagai manusia.
Lalu apa hubungannya dengan langit?
Sama seperti lingkungan di sekitar anak-anak, namun dengan jangkauan yang lebih besar. Jika anak-anak belajar tentang lingkungan di sekitar tempat mereka tinggal atau di negara mereka, melihat langit berarti melihat suatu lingkungan di sekitar semua orang di seluruh dunia. Dengan melihat langit (dan dibarengi pembekalan pengetahuan tentang bintang dan planet serta beberapa konsep kosmologi sederhana), anak-anak akan memiliki sebuah kesadaran bahwa mereka adalah bagian kecil dari semesta yang mahaluas.
Bagaimana caranya mengajak anak-anak untuk melihat langit dengan keadaan langit yang berpolusi cahaya?
Saya tidak memaksa agar semua orang di seluruh kota mematikan lampu secara total setiap malam. Perkotaan butuh cahaya lampu, kita semua butuh cahaya lampu. Namun, penggunaan lampu saat ini masih belum efisien sehingga energi yang kita miliki terhamburkan percuma, tidak hanya menerangi hal-hal yang kita butuhkan, tapi juga memancarkan cahaya ke langit malam sehingga polusi cahaya terjadi. Polusi cahaya ini tidak hanya menyebabkan kita tidak bisa melihat langit malam yang bersih, namun juga mempengaruhi makhluk hidup yang menggantungkan beberapa aktivitas biologisnya pada cahaya. Namun itu perkara lain. Polusi cahaya bisa kita kurangi sedikit semi sedikit dengan penggunaan lampu yang efisien di malam hari.
Itu tadi adalah usaha yang bisa dilakukan dari dalam perkotaan. Tentu prosesnya tidak akan sebentar. Alternatif yang bisa dilakukan dari sekarang untk melihat langit malam adalah mengajak anak-anak ke tempat dengan langit yang masih bersih (biasanya di pedesaan), atau ke observatorium.
Dengan semakin banyak anak yang melihat langit gelap, semakin banyak pula anak yang memiliki kesadaran semesta, sehingga masa depan nanti kejadian seperti di Los Angeles tadi tidak perlu terjadi. Selain itu, semakin banyak juga orang yang akan sadar bahwa langit gelap yang bersih tanpa polusi cahaya juga merupakan kekayaan alam yang harus dijaga, agar generasi mendatang akan tetap bisa melihatnya.
Dan perspektif ini bukan hanya untuk anak-anak, tapi untuk kita semua. Karena semua orang di seluruh dunia mewarisi langit yang sama.
Tengoklah ke bumi, kamu akan tahu betapa luasnya ia. Tengoklah ke langit, maka kamu akan tahu betapa kecilnya kita.
Sumber:
http://physics.fau.edu/observatory/lightpol-astro.html
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2627884/
oleh : Kinanti - Skhole 2013
Jangan Takut Bermimpi Tinggi
Mimpi.
Hidup ini takkan jauh dari yang namanya mimpi, karena segala hal bisa berawal dari mimpi. Mimpi disini bukan hanya sekadar bunga mimpi. Tapi sesuatu yang diinginkan beserta dengan usaha untuk mewujudkannya.
“Mimpi itu tidak hanya sekadar kata, tapi juga bagaimana kita mewujudkannya.”.
Setiap orang memiliki hak untuk bermimpi. Mimpi setiap orang pasti akan berbeda-beda. Mimpi tidak sama dengan khayalan, mimpi timbul dari hati dan keinginan untuk mewujudkannya. Dengan mimpi bisa memberikan motivasi yang kuat. Motivasi untuk terus berusaha mewujudkan mimpi kita.
Berimpi tinggilah kawan, karena tak ada yang melarang seseorang untuk bermimpi tinggi. Jangan pernah takut untuk bermimpi. Jangan pernah takut mimpi kita tak terwujud. Karena disaat kita memiliki kesulitan untuk mencapai mimpi kita, bisa jadi itulah rencana lain yang Allah berikan untuk mewujudkan mimpi kita. Realisasi mimpi itu tak harus sesuai dengan yang kita impikan.
Kawan, apakah engkau punya mimpi? Beruntunglah kita jika kita punya mimpi. Karena tak semua orang memiliki mimpi. Terlebih mimpi yang tinggi. Masih banyak saudara-saudara kita, adik-adik kita, yang takut untuk bermimpi, atau bahkan belum tau apa mimpi mereka.
Berdasarkan penelitian, tingkat pendidikan sangat berpengaruh pada mimpi seseorang. Bahkan mimpi bisa dijadikan parameter pendidikan di suatu daerah. Kita bisa bertanya tentang mimpi kepada anak-anak pada tingkat SD.
Begitu juga anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan. Pernah suatu waktu kami (skhole) berkunjung ke rumah belajar Sahaja di atap Pasar Ciroyom. Saat itu, kakak-kakak disana membahas tenang mimpi. Saat ditanya apa mimpi-mimpi mereka, mereka menjawab dengan mimpi yang begitu realistis. Seperti menjual baju, menjadi artis, menjadi guru. Mereka hanya bermimpi sebatas apa yang biasa mereka dengar dan mereka lihat. Tak ada yang bermimpi menjadi presiden, menteri atau dokter.
Maka tanamlah mimpi kita sejak awal kawan. Agar mimpi itu terus tumbuh, dan berbuah manis. Kita siram mimpi kita setiap saat dengan usaha serta senantiasa kita beri pupuk dengan do’a.
oleh : Latifah N. Juhara