MULUTMU HARIMAUMU.
Banyak orang mengira luka hanya datang dari tindakan. Dari perbuatan yang jelas terlihat salah, dari sikap yang nyata menyakiti. Padahal ada luka yang jauh lebih halus dan sering diabaikan yaitu luka yang lahir dari ucapan.
"Mulutmu harimaumu". Kalimat ini bukan sekadar peribahasa lama, melainkan pengingat bahwa apa yang diucapkan bisa menjadi sumber masalah bagi diri sendiri. Kata-kata yang keluar tanpa pertimbangan, terutama saat emosi menguasai, sering kali membawa konsekuensi yang tidak kecil.
Seperti harimau yang bisa menerkam, kata-kata juga mampu menerkam. Ia bisa merusak hubungan yang sudah lama dibangun, menimbulkan konflik yang sebenarnya tidak perlu, bahkan melukai hati tanpa meninggalkan bekas yang terlihat. Luka dari ucapan sering kali tidak berdarah, tetapi terasa lebih lama dan lebih dalam.
Yang lebih menyakitkan adalah ketika ucapan itu tidak pernah diakui. Mengingkari perkataan sendiri bukan sekadar soal lupa, melainkan tentang keberanian yang belum tumbuh. Mengakui berarti merendahkan ego, dan tidak semua orang siap melakukannya.
Karena itu, berhati-hati dalam berbicara adalah bentuk kedewasaan. Jangan membiarkan emosi mengendalikan lidah. Sekali terucap, kata-kata sulit ditarik kembali. Permintaan maaf mungkin bisa diucapkan, tetapi bekasnya belum tentu hilang sepenuhnya.
Ucapan mencerminkan karakter. Dari cara seseorang berbicara, terlihat bagaimana ia menghargai orang lain dan dirinya sendiri. Orang mungkin lupa pada detail peristiwa, tetapi tidak mudah lupa pada perasaan yang timbul akibat sebuah ucapan.
Mengakui kesalahan tidak membuat seseorang menjadi kecil. Justru di sanalah kebesaran jiwa terlihat. Keberanian untuk berkata, "Ya, itu pernah diucapkan" adalah tanda kedewasaan yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, harimau itu selalu ada dalam setiap mulut. Tinggal bagaimana memilih untuk menjinakkannya dengan kesadaran, atau membiarkannya lepas dan menerkam siapa saja termasuk diri sendiri.
Maka dari itu cara kita berbicara mencerminkan siapa diri kita. Mengakui kesalahan membesarkan jiwa, menyangkal hanya memperlihatkan kedewasaan yang belum selesai.
itulah konsekuensi sebuah dari ucapan yang dilontarkan. Berhati-hatilah dengan lidah kita.
ππΌπ
---TAKALAR KOTA || KAMIS, 19 FEBRUARI 2026 ||PUKUL: 20.13 PM---












