Yaudah
Benar kata banyak orang, untuk beranjak menuju masa depan kita harus berdamai dulu dengan masa lalu. Ku kira makna berdamai dengan masa lalu itu sama dengan "yaudahlah, emang begitu kondisinya". Tapi ternyata "yaudahlah" itu bentuk berdamai yang gak ikhlas wkwk.
Semakin ke sini ketika saya berusaha menuju masa depan, saya menyadari bahwa ada hal-hal yang belum selesai di masa lalu dan memang harus diselesaikan, bukan hanya di-yaudah-in. Kenapa saya menyadari ini saat terjebak pada masa lalu pekerjaan wkwk.
Sudah merasakan punya manager baru, punya rencana-rencana fresh dan strategis, tapi ternyata kaki-kaki ini belum leluasa melangkah karena masih dibebani masa lalu pekerjaan yang belum selesai. Jadi berat melangkahnya. Nyatanya di masa kini, ada dampak yang disebabkan oleh masa lalu yang tak terselesaikan tadi.
Seseorang pernah berkata, "Kunci dari menghadapi masa lalu adalah mengikhlaskan, bukan hanya memaafkan atau melepaskan." "Kalau kamu masih merasa kesal, benci, sedih, berarti kamu belum sepenuhnya mengikhlaskan.” Saya memaknai konteks mengikhlaskan pekerjaan masa lalu ini ya dengan mencoba memperbaikinya, merapikan apa yang dulu belum rapi, mencari data yang sebelumnya tidak diarsipkan dengan baik, membuat catatan-catatan untuk solusi perbaikan kedepannya.
Walaupun bisa saja saya memilih untuk terus mengeluh dan kesal dengan kondisi ini, tapi buat apa? Toh, itu gak akan membuat pekerjaan jadi lebih mudah, malah memperberat beban pekerjaan. Jadi bukan di-yaudah-in, tapi diperbaiki.
Potret Memori | Jakarta, 13 Juli 2020






















