Mengadu dan Mintalah (hanya) kepada Allah
Terkadang, kehidupan orang lain terlihat seperti lebih baik daripada kehidupan kita, padahal bisa saja ujian hidup yang dihadapinya jauh lebih berat, hanya saja ia memilih untuk tidak mengeluh.
Maka, berhentilah membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Syukuri apa yang dimiliki. Itulah kunci bahagia.
Mari meneladani Nabi ya’qub 'alaihissalam. Di tengah ujian hidup yang bertubi-tubi, tak terdengar keluhannya ke sana kemari. Kalimat yang keluar dari lisannya indah sekali, sehingga Allah abadikan dalam kitab suci.
“Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku...” [QS. 12 (Yusuf):86].
Pun juga sebaliknya, terkadang kehidupan orang lain terlihat seperti lebih buruk daripada kehidupan kita, padahal bisa saja ia justru bahagia menjalani kehidupannya yang penuh ujian dan lika liku itu, sebab dengan itu ia selalu merasa butuh kepada Allah, ia selalu dekat dengan Allah.
Jadi berhati-hatilah, jangan pernah mengukur kebahagiaan orang lain bahkan dengan sesuatu yang membuat engkau merasa berbahagia.
Mari belajar dari Salim bin Abdullah, cucunya sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, yang kisahnya diceritakan di kitab Anisul Mu’minin karya Syaikh Shafwak Sa’dallah al-Mukhtar.
Suatu hari, Salim bin Abdullah sedang tawaf di Masjidil Haram. Di tengah-tengah tawafnya tanpa sengaja ia bertemu dengan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, Khalifah Bani Umayyah yang tengah berkuasa saat itu. Melihat penampilan Salim yang terlihat memprihatinkan, sang Khalifah pun merasa kasihan. Lalu berkatalah sang Khalifah,
“Wahai Salim, izinkanlah aku membantumu, utarakanlah kepadaku segala keperluanmu”.
“Wahai Khalifah Hisyam, aku malu meminta kepada selain Allah, sedang saat ini aku berada di Baitullah.” Jawab Salim dengan santun.
Mendengar jawaban Salim, Khalifah Hisyam hanya bisa terdiam. Namun sang Khalifah tak mau menyerah, usai tawaf dilakukan dan keduanya telah berada di luar Masjidil Haram, sang Khalifah kembali menghampiri Salim bin Abdullah.
“Wahai Salim, tadi engkau menolak tawaranku karena sedang berada di dalam Masjidil Haram. Nah, sekarang kita sudah berada di luar area Masjidil Haram, maka sebutkanlah segala keinginanmu, niscaya aku akan memenuhinya,”
“Kau ingin aku meminta apa kepadamu, wahai Khalifah. Perkara dunia atau perkara akhirat?” tanya Salim bin Abdullah kemudian.
“Tentu perkara dunia, wahai Salim. Ada pun perkara akhirat sedikit pun aku tak punya kuasa atasnya.” Jawab Sang Khalifah.
Salim bin Abdullah pun tersenyum, lalu dengan santun ia berkata,
“Wahai Khalifah Hisyam, aku saja malu meminta perkara dunia kepada Allah sang pemilik dunia dan seisinya. Lalu bagaimana bisa aku meminta perkara dunia kepada engkau sedang engkau bukan pemiliknya?.”
Kalimat terakhir yang diucapkan Salim bin Abdullah membuat Khalifah Hisyam seketika menangis. “Ya Allah, karuniakan aku cara memandang dunia sebagaimana Salim bin Abdullah memandangnya..” gumamnya lirih.
Begitulah perangai orang-orang yang bertakwa. Mereka mengadu dan meminta hanya kepada Allah semata. Semoga Allah jadikan kita bagian dari mereka. Aamiin yaa Rabb. Mari dawamkan dzikir ini,
Hasbunallaah wa ni’mal wakiil, ni’mal maulaa wa ni’man naashiir.
“Cukuplah Allah sebagai tempat kami berharap dan bergantung, Allah sebaik-baik pelindung, sebaik-baik penolong”.
Allahu a’lam bisshawab.
@rizqan-kareema












