Seberapa terampil kita berdialog? #5paragraf
Hari Keempat, Tantangan Menulis 30 hari
Di tanganku ada sebuah buku tipis yang jadi bahan utama bagiku untuk menulis. Di saat pikiran sedang berkecamuk oleh banyak hal, kelelahan yang teramat sangat, banyaknya pilihan topik untuk dituliskan beserta pasangan keraguan untuk membatalkannya, dan banyak hal lagi yang membuat tantangan menulis hari ini menjadi betul-betul menantang.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membagikan apa yang aku dapat dari sebuah buku tipis karangan DR ‘Aidh al-Qarni berjudul ‘Terampil Berdialog’. Buku ini aku pilih karena memiliki judul paling menarik di antara buku tipis lainnya yang terpajang di rak buku. Memang akhir-akhir ini keinginan untuk menamatkan banyak buku sedemikian membuncah, meski di saat yang sama aku merasa punya gangguan konsentrasi akut sehingga sulit untuk menamatkan sebuah buku pun.
Namun kebiasaan baik tetap harus dimulai, wacana-wacana di kepala tetap harus dirintis. Setidaknya sebuah buku tipis masihlah sebuah buku, daripada mencerna informasi menarik di internet yang tidak ada habisnya. Aku pun merasa terbantu setelah membaca buku ini untuk lebih bijak dalam berinteraksi di media sosial, meski tak ada di buku ini menyinggung perihal dunia digital barang sedikit.
Berikut poin-poin ini dari buku ini tentang bagaimana agar kita bisa terampil berdialog dengan tetap mengedepankan etika Islami:
Ikhlas (meniatkan berlangsungnya dialog karena Allah);
Mengetengahkan dalil yang kuat;
Menghindari kontradiksi dalam argumen;
Menghindari dugaan sebagai dalil;
Menyepakati hal-hal yang sudah jelas dan pasti;
Mencari lawan dialog yang sebanding;
Meyakini bahwa kebenaran sebuah pendapat adalah nisbi;
Mengakui dan menerima hasil-hasil dialog;
Mengedepankan adab;
Berbagi waktu bicara dengan adil;
Mendengar dan menyimak pendapat lawan dengan baik;
Menghormati lawan bicara;
Menentukan tempat yang layak untuk berdialog.
Ada poin-poin yang menarik ketika kita coba kaitkan dalam konteks dialog di media sosial. Banyaknya ruang diskusi yang kita peroleh mungkin akan membuat kita kebingungan dalam menentukan prioritas melakukan dialog. Apalagi ada sekelompok orang yang menjadikan provokasi sebagai bagian dari bisnis, yang membuat dialog di media sosial jadi lebih sulit terbentuk. Yang ada hanya balas-membalas caci maki yang tidak ada ujungnya, tidak ada tujuan yang jelas, hanya merobek keharmonisan sebagai sesama manusia.
Tangerang Selatan, 4 Juni 2020
Musfiq












