High-Quality Wedding #5Paragraf
Tulisan kedelapanbelas, Tantangan menulis 30 hari
Aku mengidamkan suatu generasi yang sistem sosial budayanya mengedepankan pernikahan yang berfokus pada kualitas, bukan kuantitas.
Bukan mengundang ratusan orang bahkan yang tidak dikenal sama sekali, tetapi mengundang relasi yang betul-betul relasi.
Dana habis ratusan juta untuk sehari, hingga masa setelah menikah terlilit hutang setiap hari. Padahal bisa memilih yang lebih murah, namun lebih barokah.
Terbayang seperti pesta teh di halaman belakang rumah ala-ala. Kita berbincang tentang perjalanan si empunya acara dari awal hingga menikah.
Aku membuat tulisan ini beberapa bulan sebelum pandemi. Sebuat tulisan dari ide yang sebetulnya sudah agak lama. Dengan memperhatikan banyak sekali hal yang janggal dalam pelaksanaan pesta pernikahan di mana-mana. Mengundang orang-orang entah siapa, dengan menghabiskan dana entah berapa, dengan bentuk acara yang entah bagaimana. (nanyak mulu dah lu *plak) Meskipun tulisan itu akhirnya hanya bersarang di draf, karena hanya terpikir segitu saja.
Memang sejauh yang aku ketahui pernikahan harus dirayakan, meski hanya dengan memotong seekor kambing. Tapi mengundang sekian ratus orang tanpa melihat kemampuan masih terasa tidak masuk akal buatku. Terlebih budaya-budaya lainnya seperti mengupayakan pejabat tertinggi dari relasi yang kita punya untuk hadir. Di saat aku menemukan sebaliknya dalam hadis. Ya, bahkan sedetail itu junjungan kita mengajarkan untuk tidak lupa mengundang fakir-miskin dalam perayaan hari bahagia kita. Dan jangan hanya mengutamakan pejabat-pejabat tinggi maupun orang-orang terpandang untuk diundang.
Tetapi perubahan itu tidaklah mudah. SemakinĀ āanehā sebuah ide dari sudut pandang masyarakat, semakin banyak cibiran yang didapat. Entah dari keluarga besar, dari teman-teman, atau bahkan dari keluarga sendiri. Tentu sudah banyak yang menyadari bahwa uang ratusan juta yang dihabiskan untuk beberapa hari bisa dimanfaatkan untuk kehidupan pernikahan hingga bertahun-tahun selanjutnya, tetapi kembali lagi kita dapati bahwa perubahan itu tidaklah mudah.
Belum lagi kalau kita bicara sebetulnya tidak ada yang ingat juga orang-orang itu sudah pernah datang ke acara siapa, makanannya enak atau tidak, latarnya megah atau tidak, yang penting datang ikut nyumbang kemudian pulang. disaat Penyelenggara acapkali berpikir bagaimana sebisa mungkin membuat kagum para tamu undangan, yang logika sederhananya: semakin mahal = semakin berkesan. Padahal urusan seperti itu ya tentu saja tidak sederhana, yang berkesan adalah yang berbeda bukan yang berbiaya. Sekarang-sekarang ini pun kita sudah bisa menemukan banyak contohnya.
Aku ingat betul acara pernikahan Mark Z, si pendiri muka buku. Hanya menyelenggarakan pesta teh di belakang rumahnya dengan mengundang beberapa rekanan tidak lebih dari seratus orang. Atau salah seorang teman yang membuat konsep serupa, tidak membuat undangan kepada kami-kami ini, namun hanya berupa pemberitahuan. Atau inisiatif keren dari teman-temanku dulu untuk mewawancara pengantin, dan memaksa keduanya bercerita tentang kisahnya, di saat orang-orang sudah pada pulang. Terdengar seperti kisah-kisah yang tidak mungkin terjadi di sini.
Hingga kemudian Allah menunjukkan kepadaku salah satuĀ āskemaā agar sesuatu yang aku maksud itu bisa terjadi. Pandemi. tentu cerita utamanya adalah tentang musibah besar yang melanda dunia. Namun ada juga cerita-cerita lain yang menunjukkan kepada kita hikmah berbeda dibaliknya. Tentang bagaimana orang-orang jadi punya alasan untuk membatalkan undangan, memotong anggaran, dan menyelenggarakan acara yang lebih berkesan. Mungkin sesuatu seperti ini tetap tidak jadi norma bagi orang-orang, tetapi setidaknya kita jadi tahu bahwa kita masih punya beberapa pilihan.