A Girl and Her Revenge
Pagi itu terasa sangat indah sekali. Aku yang biasanya tak semangat untuk bangun mendadak semangat sekali siap-siap dari pagi buta. “ Ah, kampus idamanku .. hari ini aku akan mengunjungimu “ ucapku sambil bersolek di depan cermin. Yaps, hari itu pertama kalinya aku akan mengunjungi Universitas Pendidikan Indonesia .. kampus yang aku idam-idamkan sejak aku masih berbentuk janin~ Ngoahahaha.
Sebelum hari itu, calon mahasiswa Pendidikan Matematika 2015 sudah ramai di grup Line.
“ Ayo kumpul yuk “
“ Ayo ketemu nanti pas daftar ulang “
“ Maukah kamu jadi suamiku “
Yaaa kira-kira seperti itulah keramaian yang terjadi disana. Aku terbilang cukup aktif di grup, biasa lah Alpha Male Caper. Aku sering menyapa teman-temanku, melemparkan jokes-jokes level rendahku dulu dan berusaha mengenali semua calon teman-temanku. Disana aku menemukannya, gadis yang sama antusiasnya denganku alias gabut banget maneh Mia terus-terusan mantengin grup whwhwhwh.
Sebelum pertemuan pertama kami, kami sudah lumayan dekat via chat line. Semua karena salah satu kakak tingkat berdisplay name “ Nz “. Ini si Nz misterius banget asli, ada di grup dan berlagak seakan-akan dia adalah mahasiswa baru seperti kami fufufufufufu tapi tidak semudah itu wahai Elementary Sampling Theory~ Aku dan teman-temanku adalah pecinta teori konspirasi dan film detektif ngoahahaha melihat kejanggalan yang anda lakukan, kami semua berdiskusi untuk membongkar kedok anda. Berawal dari kesalahan anda mengganti foto sampul line anda dengan foto asli anda, kecurigaanku muncul .. “ Loh anak iki muka-mukanya bukan mahasiswa baru “ ucapku. “ Terlihat beban-beban mahasiswa di wajahnya “ lanjut mulut lancangku. Kecurigaan kami semakin menjadi-jadi karena dia sering bertanya di grup dan pertanyaannya seperti ngetes kami tentang pengetahuan kami terkait jurusan dan kaderisasi departemen, sampai akhirnya Jurgen entah betapa gabutnya dia saat itu .. Ia mencari orang itu dengan bermodal data seadanya dan mendapatkan sebuah nama. Iya, nama itu adalah “ Fachnaz Aulia Andara “. Benar saja setelah kita cari tahu, list mahasiswa Depdikmat 2015 tak tercantum namanya. Yaaa fix dia adalah kakak tingkat yang menyusup. Hahahaha asli seru banget, terimakasih Teh Naz .. dirimu telah mempersatukan angkatan kami. Berkatmu juga aku jadi kenal wanita itu, Mia Rahmi .. yang sampai sekarang perkenalan dengannya selalu aku syukuri. Dia adalah sahabat, penasehat, inspirator, pemberi pekerjaan dan tukang ngajajanan abi. Hahahaha.
My First Meeting
Aku sampai di kampus UPI, diantar oleh seorang kakek yang bahagia melihat cucu tertuanya bisa berkuliah. Aku pamit masuk ke dalam kampus, mencium tangannya lalu melambaikan tangan dan segera berlari kecil ke dalam kampus. Aku berjalan melewati Gate 1, melihat betapa megahnya Masjid Al-Furqon. Aku tak langsung pergi ke BAAK, ku sempatkan diriku melihat keindahan Villa Isola tegak lurus dari arah bawah. Terlihat bangunan yang indah nan megah dengan arsitektur yang pastinya dibuat tak asal-asalan. Ornamen-ornamen dan taman yang simetris menambah keindahan Villa Isola. Ku hirup oksigen di kampus ini dengan nafas panjang .. Ah! Kucium aroma susah lulus perkuliahan yang menyenangkan di sini. Sebenarnya aku belum puas untuk explore area kampus tapi mengingat waktu sudah mau jam 8, aku bergegas ke BAAK.
Sampailah aku di BAAK, terlihat orang-orang sudah mengantri. Banyak sekali manusia yang mengantri. Kulihat banyak orang-orang yang berasal dari luar bandung juga, mereka diantar oleh orang tuanya yang kulihat sangat bahagia melihat anaknya bisa berkuliah di kampus pendidikan ini. Pakaian calon mahasiswa UPI saat itu masih terlihat belum mahasiswa banget alias yaiyalah wong disuruhnya pake seragam putih-abu lengkap dengan pita berwarna di lengan kanan bajunya. Aku menggunakan pita berwarna biru, menandakan aku berasal dari FPMIPA. Aku langsung turun ke bawah dan ikut mengantri. Aku membuka gawaiku dan masuk ke aplikasi Line. Terlihat ada notifikasi pesan di grup chat Depdikmat 2015.
“ Pada dimana? Aku udah ngantri di BAAK “ - Mia Rahmi
“ Dimananya mi? Aku juga udah ngantri “ – Icad
Tunggu tunggu tunggu … Setelah aku mengirimkan pesannya, aku segera memasukkan gawaiku ke dalam saku lalu mencari Mia bermodal display picture-nya. Bermodal tubuh tinggi 186 x 0.00001 km ku aku mencari ke tiap sudut antrian tapi aku tak berhasil menemukannya. Kenapa? Ya karena tubuh tinggiku ini :p fufufufufu ternyata selama tadi, Mia Rahmi berada di depanku. Mia mengirim pap dan ternyata lokasi dia mengambil pap itu di depanku. Langsung saja tak pakai lama aku memanggil dia.
“ Mia .. Mia “
“ Eh, kamu Icad kan? “
“ Bukan, aku Aji Iya, aku Icad mi “
Dia mendekat ke arahku. Kami berdua pun mengobrol sambil menunggu giliran masuk ke dalam BAAK untuk melakukan registrasi ulang. Kami mengobrol banyak disana, kami pun akhirnya saling tahu kalau kami berdua adalah pejuang STIS yang sama-sama gagal whwhwh namun akhirnya sekarang kita bersyukur ya mi tetap berada di UPI, dapet Statmat 2 aja aduuuuh geus adug-adugan teu kabayang di STIS dapet Statamat 99 fufufufufufufufufufu. Begitulah pertemuan pertama kami, di tempat registrasi ulang, sama-sama berkeinginan untuk menjadi pendidik yang hebat. Ternyata aku tak sendiri, banyak orang baik yang mau memajukan Indonesia .. salah satunya dirimu, Mia Rahmi.
My Human Diary
Mia Rahmi adalah Diary berjalanku, sebagai teman pertamaku di masa kuliah ternyata aku merasa cocok dan nyaman untuk bersahabat dengannya .. lagian dia juga tak masalah bersahabat denganku yang suka heureuy ini. Otomatis, sebagai sahabat pertama di kehidupan kampus .. dia langsung menyandang predikat “ Icad’s Human Diary “. Rasa-rasanya semua cerita tentangku dia akan tahu .. tentang bahagiaku, tentang sedihku, tentang nilai D ku. Ehe. Kalau nanti ada orang yang mau menjadikan kehidupan perkuliahanku menjadi sebuah film silahkan hubungi Mia Rahmi saja. Dia tahu betul detail ceritaku, tentang berapa kali aku gagal menjalin cinta lengkap beserta nama lengkap wanitanya dan alasan gagalnya ngoahahahahahaha~ Begitulah persahabatan kami, ada suatu kejadian yang menimpa salah satu dari kami langsung cus segera bertemu dan bercerita.
My Inspiration
Inspirasi katanya bisa datang darimana saja, termasuk darinya. Rasanya tak terhitung aku mendapatkan insprasi darinya. Inspirasi menjadi pendidik yang hebat, inspirasi menjadi manusia yang tangguh, inspirasi ditinggal nikah, inspirasi studi ke luar negeri termasuk hal ini .. inspirasi menulis. Bagiku, Mia adalah salah satu makhluk yang Allah turunkan untuk memberikan banyak pelajaran kepadaku. Aku selalu menyukai pelajaran yang Allah berikan kepadaku lewat Mia karena pelajaran lewat Mia selalu menyenangkan.
Dia mengajarkan kepadaku bahwa dengan baik kepada orang maka orang akan menjadi baik juga kepada kita. Dia tak pernah bosan untuk bilang “ Cad, right now is my treat “ ketika sedang hangout denganku. Dia tak pernah memaksaku untuk baik kepadanya tapi dengan perlakuannya yang memuliakan aku yaaa aku pun merasa harus selalu membalasnya meskipun tak harus dengan cara yang sama. Yups, thanks for the lesson Mia.
Dia mengajarkan kepadaku menjadi manusia yang tegar. Aku selalu kagum dengan seorang yang sudah ditinggal oleh Ayahnya. I couldn’t imagine if that thing happened to me, maybe I’ll cry in the rest of my life hahaha. Sepeninggal ayahnya aku tak pernah melihatnya menangis atau bercerita kepadaku tentang betapa tak adilnya dunia memperlakukannya. Dia selalu tegar dan tak sedikitpun benci dengan takdir yang ia harus terima. Again, she taught me the other lesson. Thank you, Mia.
Dia mengajarkan kepadaku untuk Move On. Waduuuuduuuu kalau dibandingkan mah rasanya rasa patah hatiku tak ada apa-apanya dibandingkan rasa patah hatinya. Hahahaha. Terlalu remeh rasanya kalau mau bilang punyaku adalah patah hati. Aku kagum dengan caranya untuk Move On, dia tidak kabur dari masalah itu .. dia malah masuk ke dalam masalah itu menyelam jauh ke dalam, meresapi rasa luka yang ia dapatkan dan lalu dia rubah menjadi sebuah tulisan. Akhirnya, aku tau rahasia penulis-penulis hebat .. mereka merasakan patah hati yang hebat juga. Mia told me “ You have to write, convert your sadness into writing .. it can heal your heart, just try it “ and then I followed her words. Now, I’m here .. with my healed heart. Thankyou again, Mia.
Sebenarnya masih banyak pelajaran-pelajaran yang telah aku dapatkan dari Mia .. tapi biarlah kusimpan itu sendiri, takutnya nanti Mia jadi riya gara-gara baca tulisan ini :p whwhwhwh
Perempuan itu membalaskan dendamnya
Masalah rasanya tak akan pernah habis bagi manusia, masalah adalah hidup dan menjadi hidup berarti siap dirundung banyak masalah. Sebagai seorang sahabat dari Mia, sedikit banyaknya aku tahu apa masalah-masalah yang terjadi padanya. Tapi lagi-lagi kalau aku membandingkan masalah-masalahku dengannya rasanya aku tak layak untuk menyebut hal-hal yang terjadi kepadaku sebagai sebuah masalah. Haha. Masalah-masalah yang menimpanya aku rasa sangat berat, sepertinya aku akan menyerah saja kalau dapat masalah-masalahnya Mia. Tapi disini bukan masalahnya yang akan aku tulis but how she deal with it. Dia membayar tuntas dendamnya dengan cara yang elegan.
Berhulu dari kepergian orang yang ia sayangi lalu bermuara di kepergian orang yang (sempat) ia sayangi tapi dia tidak terpuruk, tidak.. tidak pernah. Dia seakan mengumpulkan power untuk berlari dengan sangat kencang and she did it. Dia berlari jauh hingga ke negeri Gajah Putih, Thailand. Dia membalaskan dendamnya kepada hal-hal menyedihkan yang terjadi ke dalam hidupnya, she show them who’s the boss! Lagi, aku kagum kepadanya bagaimana dia menghadapi masalah-masalah itu. Masalah yang datang kepadanya dia rubah menjadi batu loncatan dia untuk menjadi lebih sukses lagi.
Terakhir, doaku untuk Mia .. Semoga cita-cita Mia untuk menjadi pendidik hebat bisa tercapai, semoga Mia bisa lanjut studi ke luar negeri tapi bareng aku ya hahaha aku juga mau, semoga rezekinya semakin berkah dan semoga Mia bisa segera menemukan orang yang layak bersanding dengan Mia nanti. Aamiin!











