Itulah Cinta...
Hari ini bascamp PALAPA (Pecinta Alam Padjajaran) dibuat gaduh karena tiba-tiba ada bidadari tanpa sayap yang tanpa ragu menyerahkan formulir pendadaftaran untuk menjadi salah satu anggota disana. Menurut keterangan yang ia tulis di formulir itu, namanya Melody Rinjani, statusnya sebagai mahasiswi semester satu, dan tidak pernah memiliki pengalaman naik turun gunung. Bahkan perawakannya lebih mirip model catwalk, dengan rambutnya yang hitam panjang sepinggang, kulitnya kuning langsat terawat, dan badan tinggi nan ramping. Yang juga menarik, adalah motivasinya ingin ikut bergabung dengan PALAPA karena ingin mencari kesibukan dan memberikan sumbangan tenaganya bagi masyarakat dan alam sekitar yang membutuhkannya.
Calon anggota baru yang satu ini memang spesial. Karena sejak kedatangannya memberikan formulir saja, dia sudah berhasil mengumpulkan teman-teman MABA (mahasiswa baru) pria lainnya untuk juga ikut mendaftar sebagai anggota baru PALAPA secara sukarela. Dan harus diakui bahwa pesona dan keajaiban yang Ody bawa, juga telah mencuri perhatian sang ketua umum PALAPA, Linggar Everesto Alpen .
“Ini kak,” ujar Ody sembari memberikan formulirnya pada Kak Linggar.
“Kamu yakin?! Kamu pikir klub ini cuma tempat main-main hah!” tanya Kak Linggar dengan mata elangnya yang bisa mematikan setiap wanita itu.
“Saya yakin kak. Apa ada yang salah sama pengisian biodata di formulir saya?” tanya Ody sedikit ciut.
“Nggak ada. Tapi yang perlu kamu ingat! PALAPA bukan tempat orang-orang yang lemah!” ujar Kak Ever tegas penuh makna kemudian pergi begitu saja membawa formulir Ody dan anggota lainnya.
Benar firasat Ody, ini akan lebih sulit dari bayangannya kemarin. Tapi keputusannya sudah bulat. Bahkan semakin keras Kak Linggar mencibirnya, semakin Ody ingin membuktikan bahwa dia memang layak menjadi salah satu anggota klub pecinta alam ini. Bagi Ody, menjadi calon anggota PALAPA itu bagaikan masuk kekandang singa. Selain para kakak senior prianya yang terkenal keras dan selalu mengukur segalanya sesuatu dengan ketahanan fisik, tantangan lainnya yang harus Ody hadapi adalah para senior wanita yang selalu memandang iri dan berkomentar miring tentangnya. Yang katanya Ody sok kecantikanlah, Ody diterima karena ditaksir Kak Linggar-lah, dan masih banyak rumor tak sedap lainnya. Tapi Ody cuek saja. Ody tetap loyal, dan berusaha selalu menghadiri pelatihan maupun persami. Hingga hari pengukuhan keanggotaan tetap nanti.
Hari ini tepat tiga bulan Ody dan teman-teman seangkatannya menjadi calon anggota PALAPA. Untuk menghargai keloyalan para calon anggota baru yang tersisa tinggal puluhan kepala saja dari ratusan kepala yang mendaftar itu, maka PALAPA mengadakan persami akhir, sekaligus upacara pengukuhan anggota baru yang diadakan di bumi perkemahan Oray Tapa di Bandung Timur. Semua calon anggota wajib saling membantu temannya untuk mendirikan tenda. Termasuk Ody yang selalu excelent dalam hal mendirikan tenda, mau tidak mau dia harus berkeliling menawarkan bantuan hingga tenda teman-temannya bisa berdiri semua.
“Hei, ada yang bisa gua bantu?” tanya Ody pada seorang cowok yang sedang sibuk mendirikan tendanya.
“Oh ya, ini bisa minta tolong bantuin aku kan? Makasih sebelumnya,” ujarnya sambil sibuk sendiri dan bahkan belum sempat menatap wajah Ody.
Ody dengan cekatan membantu cowok berambut pendek rapih dan beralis tebal itu. Melihatnya, Ody jadi ingat seseorang. Entahlah lupakan, batin Ody kesal sendiri.
“Eng... Makasih ya. Eng.. kamu.. kamu.,” ujar cowok itu seketika jadi gugup dan bingung berkata ketika melihat siapa yang baru saja membantunya mendirikan tenda.
“Ya sama-sama. Oya, kenalin gua Melody. Melody Rinjani, panggil aja Ody,” ujar Ody sambil mengulurkan tangan dan tersenyum.
Butuh waktu beberapa detik untuk kemudian cowok berkulit sawo matang dan bertubuh atletis itu menyambut uluran tangan Ody.
“Kenalin namaku Sailendra Pradana Brawijaya. Panggil aja Dana,” ujar Dana sambil mengembangkan senyum yang sangat manis dan penuh karisma.
“Okay, ada yang perlu gua bantu lagi nggak nih?”
“Iya nih, tolong ya ambilin pasak disitu,”
Sambil membangun tenda, Ody dan Dana banyak saling bercerita. Mulai motivasi mereka mendaftar menjadi anggota PALAPA hingga cerita tentang musik kesukaan, warna kesukaan dan hal-hal remeh temeh lainnya. Ody merasa Dana memberikan rasa nyaman pada setiap lawan bicaranya, ditambah lagi sifat humoris Dana yang selalu bisa membuat Ody terpingkal-pingkal lucu sendiri mendengar cerita Dana. Sedangkan di mata Dana, cewek bernama Ody di depan matanya ini adalah bidadari yang sedikit jutek yang turun dari surga hanya untuknya. Ody adalah wanita ternyambung kedua di mata Dana, setelah ibunya. Ya, bagi Dana susah menemukan orang yang nyambung dengan pemikirannya yang terlalu ‘nyeni’ itu. Seringnya sih malah dia yang mencoba menyambungkan diri, terutama dengan wanita.
“Ody, kamu tahu nggak apa persamaan tenda ini dengan aku?” tanya Dana sambil senyum jahil.
“Apa coba?” tanya Ody penasaran.
“Sama-sama ingin melindungimu dengan sepenuh jiwaku. Hehe,” jawabnya sambil cengengesan.
Ody tertawa, mulutnya masih akan membuka untuk mengomentari gombalan Dana, tiba-tiba saja Kak Linggar datang dengan tatapan tajamnya dan melipat tangan.
“Heh kalian! Ini bukan waktunya ngobrol! Cepat kumpul acara api unggun dimulai lima menit lagi,” perintah Kak Linggar galak minta ampun.
Malam kali ini begitu indah. Bintang-bintang berkelap kelip, suhu yang dingin, dan hangatnya api unggun. Sebelum ada acara pengukuhan anggota baru, akan diadakan acara unjuk seni dan bakat di depan api unggun. Semua calon anggota diwajibkan menyumbangkan satu karya, entah puisi, lagu atau drama yang nantinya akan dinilai oleh kakak-kakak senior. Tiba saatnya untuk Dana tampil. Berbekal sebuah gitar dan senyumannya yang membius hampir semua anggota perempuan PALAPA.
“Ini lagu khusus saya persembahkan untuk bidadari yang jauh-jauh turun dari langit ke bumi perkemahan ini. Melody Rinjani. Judulnya ‘Menanti Cintamu’, enjoy this song,” ujar Dana sambil menunjuk ke arah Ody dengan penuh percaya diri seperti biasanya.
Tiba-tiba semua pandangan tertuju pada Ody. Ody hanya bengong. Sesekali Ody mendengar bisik-bisik sadis dari senior perempuan mengomentari dirinya. Ya, memang banyak anggota senior perempuan yang naksir pada Dana sejak pertama kali dia masuk ke PALAPA. Tapi Ody pura-pura tak mendengar itu semua. Toh Ody tahu bahwa Dana gemar bercanda, dan seorang Ody tidak boleh jatuh cinta padanya apapun alasannya. Titik.
Setelah menyanyikan sebuah lagu romantis nan merdu yang liriknya ia ciptakan sendiri, Dana melempar senyum manisnya lagi kepada setiap fansnya. Kemudian dia memilih duduk di samping Ody yang sedang memeluk lutut kedinginan. Danang tersenyum jahil menggoda Ody yang tak bisa menutupi rasa sebal padanya.
“Puas Dan? Lu tuh ya iseng banget jadi orang! Lihat tuh fansmu pada lihatin gue nyinyir kayak gitu,” bisik Ody sambil mencubit gemas tangan Dana.
“Hehe iya puas. Udahlah Odyyy, cuek ajalah. Nih kamu mau nggak?” Dana menanggapi santai sambil menawarkan snack yang disalurkan dari anggota api unggun yang duduk disebelahnya.
“Tuh kan nyebelin!” ujar Ody cemberut.
“Deuh ada yang marah niyeee,” goda Dana sambil mencubit gemas pipi Ody yang mulai kemerahan karena dingin itu.
Tepat jam setengah duabelas malam, Kak Linggar mulai mengambil alih acara. Pertanda telah masuk waktunya untuk pengukuhan anggota baru. Beberapa wejangan ia sampaikan dengan suaranya yang berat dan sorot matanya yang selalu tajam. Sesekali ia memandang ke arah Dana dan Ody yang masih asik berbicara dan senyum-senyum sendiri.
“Heh kalian! Bisa diam tidak?!”
Ody dan Dana terdiam.
“Yang perlu kalian ingat, dan tentunya ini untuk anggota lain juga. Di dalam tubuh PALAPA, dilarang ada cinta diluar persahabatan dan pertemanan. Karena ada mitos bahwa siapa saja yang melanggarnya akan dijadikan tumbal alam. Dan khusus kalian berdua! Saya sarankan untuk kalian berhenti jika tidak bisa mematuhinya, sebelum terlambat,” ujar Kak Linggar dengan nada tegas dan jelas.
Ody dan Dana saling bertatapan. Kemudian Ody tertawa duluan, disusul oleh Dana. Mereka menertawakan mitos yang mengada-ngada dan tuduhan Kak Linggar yang kelewat asal itu.
“Jangan tertawa! Ini bukan lelucon! Kalian benar-benar anggota yang tak patuh senior. Keluar dari barisan!” perintah Kak Linggar marah. Tak berapa lama mereka berdua harus menerima hukuman dari kakak-kakak senior.
Seakan takdir mengutuk mereka. Kini setelah setahun bergabung menjadi anggota PALAPA, Ody dan Dana menjadi begitu dekat. Mau nggak mau mereka selalu dekat karena Dana didaulat menjadi koordinator survei medan, dan Ody menduduki jabatan sekertarisnya Dana. Dimana ada Dana, hampir dipastikan disekitarnya pasti ada Ody. Ketika ditanya mereka hanya mengaku sebagai sahabat tak ada yang lebih. Mereka selalu menghabiskan hari-hari bersama, kecuali malam minggu ketika tamu agung datang. Tamu agung adalah sebutan untuk pacar Ody yang sedang berkuliah di Bali dan hanya sekali dalam dua bulan pulang ke Bandung. Tapi hubungan mereka sama sekali tidak pernah terganggu hanya karena Ody harus mengutamakan tamu agung ketika dia datang.
Siang ini seperti biasanya, Dana mengantar Ody pulang dengan motor CBR merah kesayangannya. Seperti biasa pula, jantung Dana tak pernah berhenti berdegup kencang ketika bersama Ody dan puncak deguban itu selalu terjadi ketika Dana melihat Ody turun dari motornya. Mungkin karena di depan halaman rumah Ody banyak bunga-bunga, atau mungkin jatuhnya cahaya matahari pada sudut itu sempurna, sehingga di mata Dana terlihat Ody begitu cantik dengan wajah yang cerah dan latar belakang yang hijau. Cantik sekali.
“Ody, jangan lupa ya nanti malem? Ku jemput habis magrib ya?”
“Kita mau kemana sih Dan? Lu tuh ya, selalu aja bikin gua penasaran. Nyebelin tau nggak!” ujar Ody sambil mencubit pipi Dana gemas.
“Ada deeeh ntar kalo aku bilang, namanya bukan surprise dong?”
“Ih nyebelin! Oke deh aku masuk dulu ya,” Ody mencubit pipi Dana, gemas.
Saling mencubit pipi adalah kebiasaan mereka jika saling sebal satu sama lain. Tak pernah ada batasan. Tak ada pernah ada hari yang tak indah. Semuanya berjalan sempurna. Indah.
“Sakit tauk! Hehe. Yaudah, bye. Jangan lupa dandan yang gelieuis ya,” teriak Dana senang, kemudian menghilang dibalik gang.
Dana sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Sebuah candle light dinner dengan pemandangan kemerlip lampu kota Bandung dari Puncak, sebuket mawar merah, beserta band akustik yang khusus disewa dari klub musik fakultas. Dana mengerti betul apa impian Ody tentang dinner romantis.
Tepat pukul tujuh Dan menjemput Ody yang tampak semakin cantik dengan balutan mini dress manis beda seperti biasanya yang selalu tampil tomboy. Dana makin dagdigdug saja dibuatnya. Tapi jauh di dalam hati Dana, sangat yakin bahwa Ody akan menerimanya menjadi pacarnya. Dana bahkan tidak terlalu memikirkan tentang bagaimana caranya nanti dia menyatakan cinta, tapi dia sudah mulai memikirkan rasa bahagia saat beberapa detik lagi dia akan resmi menjadi pacar seorang Melody Rinjani, cewek yang sudah ditaksirnya selama setahun belakangan ini.
Seusai dinner Dana meraih tangan Ody dan memegangnya dengan lembut. Permainan akustik diperintahnya untuk berhenti sejenak. Kemudian Dana memberikan buket bunga mawar untuk Ody. Ody tersenyum dengan mata bekaca-kaca bahagia. Mimpinya sejak kecil tentang dinner romantis terkabul sudah. Dana memandang mata Ody dalam-dalam, mencoba menemukan cahaya cinta di sana.
“So! Ehm Ody... Aduh aku kok jadi gugup gini ya. Hehe,” Dana mulai mencoba membuka pembicaraan.
“Yaudah kalo lu gugup, biar gua aja yang gomong duluan. Pertama, gua seneng bangeeet sama konsep candle light dinner ini, akustiknya dan bunga ini juga. Lu tau kan kalo ini semua mimpi gue sejak lama. Makasih ya. Lu tuh emang...,” ujar Ody tulus sambil tersenyum senang.
“Ody! Plis, kali ini jangan bilang kalo aku ini sahabatmu yang paling kamu sayang. Aku sayang sama kamu, dan aku mau... kamu jadi pacarku. Kamu mau kan?” kata-kata itu pun meluncur lancar dari mulut Dana tanpa bisa lagi tertahan.
Ody hanya terdiam. Wajahnya yang cantik dan dipoles tipis make up itu terlihat shock dan beberapa menit kemudian mulutnya mencoba menjawab dengan suara pelan serta bergetar.
“Dan, padahal gua mau bilang. Kedua, gua nggak bisa dan nggak akan pernah bisa menyanggupi permintaanmu itu. Dan, lu kan tahu kalo gua itu sebenernya...”
“Sebenernya nggak mau nolak aku, gitukan maksudnya? Hahaha. Sok kayak acara katakan cinta aja kamu Ody, pake diputus-putus gitu kata-katanya haha...,”
“Nggak. Kali ini aku serius! Aku nggak bisa nerima kamu jadi pacarku, Dana. Aku kira kamu kan udah tahu kalau aku punya Asgaf. Dan nggak mungkin buat aku ninggalin dia yang udah tujuh tahun barengan. Dan kamu... mungkin cuma pelarianku,” Ody mencoba menjelaskan dengan suara lirih seadanya dan mencoba tega pada Dana.
“Pacar yang LDR itu? Pacar yang bahkan nggak punya waktu untuk sekedar hubungin kamu? Pacar yang bahkan bikin kamu cari pelarian buat jadi pecinta alam kayak gini? Apa dia masih pantes kamu sebut sebagai pacar Ody?! Tujuh tahun itu dulu! Sekarang kan ada aku. Kamu ngerasa nggak sih kalau cintaku lebih dari dia? Dan kamu ngerasa nggak sih kalau kamu juga sudah jatuhin hatimu ke aku? ”
“Dana! Apapun sebutannya, aku sama dia... Dia itu tetap pacarku, dan aku nggak mungkin dan nggak boleh jatuh cinta sama pria manapun lagi selain dia, nggak juga kamu! Dan aku kira pasti aku sama kamu cuman korban cinta sesaat, cinta lokasi atau apalah itu,”
“Melody Rinjani, kamu tau nggak kalo kamu itu sedang ragu? Kamu sebenernya sayang juga kan sama aku? Kenapa kamu nggak berani bilang? Plis jangan nyiksa diri kamu sendiri kayak gitu, Ody. Harusnya kamu kasih aku kesempatan! Asal kamu tahu, aku bersedia kok jadi yang kedua selama kamu meyakinkan hatimu. Bahkan aku bersedia nunggu sampai kapan pun itu kamu yakin akan pilihanmu. Bahkan walaupun kamu akhirnya nggak memilih aku, aku bersedia. Tapi tolong kasih aku kesempatan yang sama seperti Asgaf,”
“Daaan, plis ngertiin posisiku! Aku maunya kamu tetep jadi sahabatku. Aku maunya kita tetap kayak dulu. Aku maunya nggak serumit ini. Tapi mungkin kalau kamu ngga mau, kamu bisa ninggalin aku,” ujar Ody pahit, akhirnya. Air matanya berlinang sendiri tak tertahankan lagi.
Danang berdiam sepanjang perjalanan mengantar Ody pulang. Ody pun demikian. Bagi Dana, hari ini seperti langit runtuh menimpa seluruh badannya. Sakit semua. Dan bagi Ody, hari ini seperti terjadi gempa bumi dasyat yang bahkan bisa memporak-porandakan hatinya.
Sampai di depan rumah Ody, mereka masih saling diam dan menunduk membuang pandangan. Melihat sebuah mobil sedan hitam berplat D 4564 F yang terparkir di depan pagar itu, hati Dana makin remuk bak remah-remah roti. Ya, itu pasti mobil Asgaf. Pacar Ody yang usianya lebih tua tiga tahun dari Ody, dan sudah sejak SMP mereka pacaran tanpa pernah putus.
Untuk menutupi matanya yang mulai berkaca-kaca, Dana segera mengebut pergi meninggalkan Ody yang bertelanjang kaki dan menjijing high heels-nya.
“Ody darimana aja kamu? Ini teh si Asgaf sudah nungguin kamu dari tadi,” ujar Mama Ody yang sedang menikmati pijitan Asgaf di pundaknya.
Ody terdiam. Lidahnya tercekat tak bisa berkata apapun. Perasaannya masih terpaku pada hancurnya hati Dana, dan pikirannya masih terpahat pada rasa sayangnya bila hubungan persahabatannya dengan Dana akan hancur hanya gara-gara hari ini. Dengan segala kebingungannya, akhirnya Ody memutuskan untuk lari ke dalam kamarnya. Sesaat dia menangis di kamar mandi kamarnya, namun terhenti karena abangnya meringsek masuk kamar dan mengetuk keras pintu kamar mandinya. Terpaksa Ody ganti baju dan kemudian menemui Asgaf, Mama dan para abang di meja makan.
Kali ini kedatangan Asgaf bukanlah kedatangannya seperti biasanya. Kali ini Asgaf datang dari Bali dengan kabar gembira bahwa dia telah berhasil menyelesaikan studi S1 Pariwisata-nya di Universitas Udayana selama tiga tahun saja, dengan gelar comlude. Tak hanya itu, Asgaf juga bercerita tentang sebuah perusahaan travel agent internasional terbesar di Indonesia yang bermarkas di Bandung, yang langsung merekrutnya menjadi salah satu eksekutif muda.
“Ya, walaupun saya belum wisuda, tapi setidaknya saya sudah terhitung diterima disana Mam,” ujar Asgaf pada Mama Ody disela-sela makan malam.
“Wah, syukur deh nak. Jarang loh ada kesempatan kayak gitu nyak? Kalo boleh Mama tahu berapa atuh gaji perbulannya?” goda Mama Ody seperti menggoda abang kandung Ody dulu waktu baru diterima bekerja.
“Lumayan Mam. Sekitar 1000 dollar alias sepuluh jutaan, belum termasuk mobil dinas dan cicilan rumah beserta prabotnya,” jawab Asgaf dengan santai tanpa ada maksud sombong.
“Wah eta teh uang semua Gaf? Hebatlah ini calon adek ipar abdi!” seru bang Rama senang dan sama sekali tidak merasa tersaingi.
“Hehe. Biasa saja atuh bang semua juga kehendak Allah,”
Ody memandang lelaki yang duduk berhadapan dengannya. Senyumnya begitu manis, tawanya yang renyah dan tentu kemampuan otaknya yang memang sejak pertama Ody mengenalnya selalu excelent tanpa pernah berkurang sedikit pun. Asgaf adalah pria berusia 22 tahun dengan masa depan cerah, wajah tampan, patuh dan sayang keluarga. Hampir tak ada kekurangan kecuali susahnya dia meluangkan waktu. Karena menurut Asgaf, bekerja dan belajar adalah prioritas utama. Ody mengerti itu, dan seharusnya diusia hubungan mereka yang sudah jalan tujuh tahun ini Ody sudah bisa memakluminya. Tapi Ody tetaplah wanita biasa yang butuh perhatian dari pacarnya seperti wanita lainnya. Oleh karenanya tak heran kalau Ody akhirnya berusaha menyibukkan dirinya agar tak terlalu merindukan Asgaf, salah satunya dengan mengikuti klub PALAPA. Hingga detik ini Ody menganggap bahwa munculnya kisah Dana adalah buah dari kesalahan Asgaf. Dan tentu Ody merasa bahwa Dana hanyalah pelampiasan cintanya yang tak tersampaikan karena LDR Bandung – Bali. Ody benar-benar tidak tahu harus menyalahkan siapa.
Sudah seminggu Dana tak terlihat badan hidungnya. Bahkan Dana tak pernah masuk ke kelas, padahal kampus sedang mengadakan UAS. Ody sangat cemas terjadi hal-hal yang tidak diinginkannya. Sepulangnya menyelesaikan UAS, Ody segera menuju bascamp PALAPA untuk mencari tahu. Di sana hanya ada Kak Linggar.
“Permisi kak, boleh saya masuk?”
“Ya masuk saja,”
“Kak, apa Dana pernah kesini?”
“Dana pulang kampung ke Malang, sudah seminggu ini, masa kamu nggak tahu? Bukannya kamu sahabatnya?” sindir pedas Kak Linggar.
“Eng.. itu...,” Ody bingung mencari-cari alasan.
“Ody, seperti yang saya pernah bilang, dalam tubuh PALAPA tidak boleh ada cinta. Kalau memang kalian saling mencintai, kalian boleh memundurkan diri dari sini. Tak akan jadi masalah untuk kami,”
“Tapi kak, kami memang nggak ada apa-apa,”
“Jangan bohong. Saya hanya nggak mau ada Radhia-Radhia yang lain,”
“Radhia? Siapa itu kak?”
“Pacar saya dulu. Dia punya perawakan persis seperti kamu. Sifatnya yang peragu juga sama seperti kamu,”
“Wah seriusan kak? Terus sekarang Kak Radhianya mana?” ujar Ody senang.
“Dia... dia jatuh di jurang gunung Arjuna,” ujar Kak Linggar lirih memendam kesedihan.
“Sorry kak saya nggak maksud...,”
“Nggak papa. Saya cuma mengingatkanmu dan Dana saja. Kalau kalian nggak percaya, terserah,”
“Tapi saya sama Dana itu, nggak seperti...,”
“Sudah, saya harus kuliah. Permisi,” ujar Kak Linggar kemudian berlalu pergi sebelum Ody berhasil menyelesaikan kalimatnya.
Ody memutuskan untuk melihat dan mencatat alamat Dana di Malang yang diambilnya dari buku sekertariat PALAPA. Kemudian dia simpan. Entah, dalam hati Ody ingin sekali menyusul Dana. Tapi ia tahan saja, yang penting sekarang dia telah berhasil mengkantongi alamat rumah Dana.
Ody terus mencoba mengalihkan rasa rindunya pada Dana dengan terus mencoba memperbaiki hubungannya dengan Asgaf yang sempat renggang. Komunikasi mereka bedua mulai membaik. Setiap harinya, bahkan Asgaf menyempatkan diri untuk menjemput dan mengantar Ody ke kampus, walaupun pulangnya Ody harus mandiri karena kesibukan berkantor Asgaf yang tidak memungkinkan. Dan hari ini, bermodal rayuan manja akhirnya Ody berhasil mengajak Asgaf untuk dinner. Walaupun Asgaf baru ada waktu setelah jam kantor yang sudah terhitung lumayan larut, sekitar jam sembilanan malam. Tapi Ody mencoba maklum. Restoran cepat saji selalu menjadi pilihan favorit Asgaf. Buat Asgaf, selain tempatnya yang mudah diakses, menu dan prosedurnya pun tidak ribet.
“Sayang, kamu tau nggak tadi tuh aku di kantor ada client yang baweeel banget kayak kamu. Terus blablabla...,” Asgaf bercerita panjang lebar.
“Ooooh gitu. Iya sayang bagus deh,” timpal Ody seadanya tak berkonsentrasi pada cerita Asgaf.
“Sayang, kamu sakit? Kok tumben sih nggak cerewet kayak biasanya?” tanya Asgaf cemas.
“Gaf, bisa nggak kali ini kita bicara layaknya seorang sahabat?”
Asgaf tercekat. “Oh well. Why not, so apa yang kamu mau omongin?”
Ody menghela nafas panjang. “Eng aku mau nanya. Apa pernah kamu ngerasa kangen yang dalem banget? Apa pernah kamu ngerasa kehilangan yang separuh hidupmu itu dibawa seseorang?”
“Ha? Pertanyaan macam apa itu? Haha. Menurutku itu nggak rasional, dan aku rasa itu yang dinamakan cinta sejati. Yeah thats why ada pepatah bilang cinta sejati itu butuh perjuangan karena tanpanya separuh hatimu tak akan berfungsi dengan baik. Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”
“Gitu ya. Kalau gitu, selama ini kamu nggak percaya cinta sejati? Dan aku rasa... cinta itu nggak realistis. Kita beda ya? Beda prinsip. Gaf, bolehkah aku mengejar cinta sejatiku?” tanya Ody lirih.
“Maksud kamu apa sayang?” Asgaf bingung.
“Ya karena selama kita LDR, apa pernah kamu merasa kehilangan aku? Yang ada kamu terus menerus menenggelamkan diri pada kuliah dan melupakan aku. Kemudian Dana muncul, dan aku ngerasa... Aku ngerasa lebih hidup,” jelas Ody dengan suara datar.
“Dana siapa?! Jawab aku Ody!”
“Iya. Pradana. Dia yang pernah bawa aku ketempat ini juga. Dia yang tanpanya, aku ngerasa kehilangan banget. Hidupku it’s never be the same walaupun kamu kembali kayak gini. Tapi dia, tetap ada di hatiku. I’m really sorry Gaf but...,”
“Nggak. Nggak. Kamu pasti salah ngomong kan Ody. Atau ini cuma acara surprise ulang tahunku yang tertunda? Jawab Ody! Jawab! Jangan diem aja!” Asgaf mencoba meyakinkan.
“Aku mungkin dulu pernah sayang sama kamu, tapi aku rasa... kita udah nggak ada feel. Atau kalau bukan kita mungkin aku. Tapi yang jelas, aku pengen kita baik-baik aja dan maaf aku nggak bisa nerusin semua ini,” ujar Ody lemah.
“Tapi Ody... kita sudah tujuh tahun, mungkin aja kamu cuma bosen? Atau mungkin kamu digodain sama si Dana kurang ajar itu?”
“Nggak. Aku nggak cuma bosen, tapi aku sudah lama nggak kuat sama sikap kamu yang terus menerus kayak gini. Tujuh tahun aku nunggu kamu berubah. Aku nunggu Gaf. Tapi kamu... kamu memang nggak bisa atau nggak mau berubah aku juga nggak tahu. Tapi aku nggak mau egois untuk merubah apapun. Kemudian Dana datang, dan tanpa merubah apapun darinya, aku rasakan rasa itu, walau awalnya aku menolak demi kamu. Tapi tetap aku nggak bisa membohongi diriku, apalagi kamu. Maafkan aku,”
Ody mulai tak kuat menahan tangis. Ody memeluk Asgaf erat seakan itu pelukan terakhirnya. Asgaf masih tak percaya akan kata-kata Ody, wanita yang mengisi hatinya selama tujuh tahun lamanya. Hati Ody begitu pilu. Semuanya tersakiti. Tapi Ody pikir, kapan lagi ada kesempatan untuk berkata jujur tentang perasaannya. Dan harus berapa lama lagi dia berpura-pura untuk mencintai Asgaf. Toh nantinya semua akan terungkap cepat atau lambat. Begitu juga dengan Asgaf yang masih merasa kaget dan sakit yang teramat. Bagaimana mungkin selama tujuh tahun lamanya dia telah tega menyakiti hati Ody tanpa sengaja. Asgaf jadi mempertanyakan apa sebenarnya rasa dihatinya selama ini, cinta atau hanya ingin memiliki saja. Asgaf merasa sangat bersalah.
Ody tak mau menunggu lama. Malam itu juga dia berkemas dan memesan tiket kereta menuju Kota Malang besok. Bahkan dia tak ada waktu untuk menangisi putusnya hubungan dengan Asgaf. Hatinya lebih tahu siapa yang dicintainya. Rasa rindunya pada Dana benar-benar tak terbendung lagi.
Butuh waktu sehari penuh untuk naik kereta dan sampai di kota tempat Dana lahir dan dibesarkan ini. Hanya bermodal alamat rumah Dana yang disimpannya, google map dan tanya sana-sini, akhirnya Ody sampai di depan halaman rumah kuno yang asri.
“Bu permisi, apa benar ini rumah Dana?” tanya Ody sopan pada ibu paruh baya yang sedang menyapu halaman itu.
“Iya betul. Oalah, ini pasti ndug Melody Rinjani yo? Masuk ndug masuk, monggo,” ujar Ibu itu ramah.
“Loh ibu kok tahu nama saya?”
“Iya, si Dana sudah cerita semuanya ke ibu. Dan dia bilang kalau Ody pasti ke sini untuk menjemputnya. Saya sempat memarahinya loh karena dia terlalu pede. Lhadala malah Melody-nya sudah ada di sini sekarang. Pasti si Dana seneng banget lek de’e weruh,”
“Hahaha, Dana emang selalu kayak gitu ya bu. Mungkin itu yang membuat dia mudah dicintai,” ujar Ody bingung sendiri dengan perkataannya barusan.
“Iya ndug, maafkan anak ibu nggih? Kalau dia suka ndak sopan sama kamu,”
“Nggak kok buk, Dana baik sama saya. Baik banget malah, hehe. Oya, Dana kemana bu?”
“Dia sedang pendakian ke gunung Semeru nak. Sudah seminggu belum pulang. Padahal janjinya cuma tiga hari. Yah, mungkin dia masih betah nginap disana. Biasalah anak gunung. Faktor galau juga mungkin mempengaruhinya. Hehe,”
“Ah ibu bisa aja. Hihi,” ujar Ody tersipu malu.
“Tapi... Dana sudah bilang kalau ada kamu ke sini, kamu disuruh nginap dulu, hitung-hitung menemani saya katanya. Sebelum dia pulang,”
“Oh gitu ya bu. Kebetulan, rencana saya juga ingin menginap barang sehari dua hari. Mengisi tenaga. Kalau ibu nggak keberatan sih, hehe,” pinta Ody malu-malu.
“Ya monggo, ibu senang kalo nak Ody mau nginap menemani ibu. Sampai Dana pulang kalau perlu. Hehe. Yuk monggo masuk. Ibu tunjukkan kamarmu ndug,”
Sudah dua malam Ody menginap di rumah Dana. Ibu Dana adalah seorang wanita yang memegang teguh kebudayaan Jawa. Beliau masih sangat cantik diusianya yang menginjak kepala lima. Semua pekerjaan rumah tangga dilakukan janda itu sendiri dengan sabar dan cekatan, khas wanita jawa. Ody dangat kagum pada beliau.
Tapi disisi lain, Ody mulai mencemaskan kabar Dana. Setiap ada bunyi bel rumah, Ody selalu ingin membukakan pintu, berharap kalau yang datang itu adalah Dana. Dan sore ini, bel rumah berbunyi. Buru-buru Ody merapikan diri, dan membukakan pintu dengan gembira. Di depan pintu sudah berdiri seorang cowok tinggi tegap, berkulit sawo matang dan memakai seragam abu-abu.
“Mbak, apa benar ini rumah saudara Syailendra Pradana Brawijaya alias Dana?”
“Iya, benar. Ada perlu apa ya pak?”
“Mbak siapanya?”
“Saya... saya pacarnya,”
“Maaf mbak sebelumnya, saya datang membawa kabar duka. Tadi sekitar jam sembilan pagi, kami menemukan jasad Saudara Dana diantara semak-semak ditepi jurang di kilometer 19 jalur keluar gunung Semeru. Diduga jasad sudah membusuk selama enam hari kebelakang,”
“Ha apa pak? Pasti itu Dana yang lain! Bukan Pradanaa.. aaaak bapak bohoong! Danaa.. huhu,” tangis Ody pecah seketika. Ody ambruk.
Taburan bunga mawar menghiasi makam ini. Seorang perempuan paruh baya duduk di sampingnya. Dia masih saja menangis setelah sekian tahun lamanya. Dia menangisi semua kenangan indah yang tak berujung indah. Melody tua ini yang masih menyesal akan kebodohannya, dan penyangkalan cintanya pada Dana. Di dalam hatinya, Dana tak pernah mati. Hingga puluhan tahun berlalu, separuh hatinya masih terbawa oleh Dana. Melody tua tak pernah tahu bagaimana cara meminta kembali separuh hatinya yang hilang itu. Yang ia tahu, setiap tanggal kematian Dana, dia harus datang kemari meski hujan badai, dia tetap datang. Sekedar mengulang kisah indah yang mungkin hanya setahun saja, namun butuh waktu bertahun-tahun bahkan mungkin hingga akhir hayatnya untuk melupakan dan mengikhlaskan Dana pergi lebih dahulu. Melody benar-benar jatuh cinta pada Dana.
Seorang anak lelaki berusia lima tahunan berlari kecil menghampiri Ody. Kemudian dia duduk dipangkuannya dengan manja.
“Mama, ayo kita pulang. Papa udah nungguin di mobil,” rengek bocah berambut ikal kecoklatan itu.
“Sebentar ya Dana sabar,”
“Mama lagi berdoa buat om Dana kan? Hihi iya mama Dana tau. Semoga om yang sama kayak namaku ini dibolehin Tuhan tinggal di surga ya Ma? Amiiin,” ujar Dana kecil dengan nada lucu dan mata coklatnya yang indah bercahaya.
Atas perizinan suaminya, Ody pun memberikan nama ‘Dana’ juga pada anak laki-lakinya. Walaupun wajahnya sama sekali tidak mirip dengan Dana yang dikenalnya puluhan tahun yang lalu. Dana kecil lebih mirip dengan ayahnya, wajahnya sedikit bule, matanya coklat terang dengan rambut ikal. Sifatnya juga mirip dengan ayahnya, pendiam.
“Dana, aku pulang dulu ya. Kamu baik-baik di sana. Jangan pernah bosan menungguku. Cepat atau lambat, aku pasti akan menyusulmu. Mengabadikan cinta kita. Sampai jumpa,” ujar Ody sambil menghapus air matanya yang tadi mengucur deras bersama memori.
Ody menggendong Dana kecil, kemudian perlahan pergi. Di kejauhan, sebuah mobil sedan hitam sudah menunggu. Seorang pria paruh baya, bertubuh tinggi tegap dan berkulit putih pucat duduk di balik kemudinya. Dia tersenyum ketika istri dan anaknya kembali dan duduk di sampingnya lagi.
“Gimana kabar Dana?” tanyanya dengan senyum cerah.
“Aku rasa Bang Linggar sudah tahu jawabannya,” jawab Ody tersenyum lembut sambil memangku Dana kecil.
“Ya, aku rasa dia akan selalu baik-baik saja,” ujar Linggar sambil menghidupkan mesin mobil.
Sejak meninggalnya Dana, banyak perubahan yang terjadi di kehidupan seorang Melody Rinjani. Dia jadi tak seoptimis dulu, menjadi pemurung dan suka menyendiri dalam kesedihan. Dan hanya seorang Linggar yang bisa menguatkannya, membawanya kembali pada kehidupan. Linggar dejavu dengan keadaan yang dialami Ody. Sebagai orang yang pernah merasakan hal yang sama, Linggar terus menguatkan Ody kembali. Hingga ketulusan Linggar membuat Ody memutuskan untuk menerima lamaran Linggar.
Meski mereka hanyalah pasangan yang menikah bukan karena cinta. Tapi mereka sudah cukup bahagia. Linggar selalu ada untuk menjalankan kewajiban seorang suami. Demikian pula Ody yang selalu taat melakukan tugas-tugas untuk seorang istri. Mereka tak pernah tahu sampai kapan ini akan bertahan. Yang mereka tahu mereka saling membutuhkan. Mereka saling mengetahui bahwa pasangan mereka adalah orang yang hanya punya separuh hati dan tak pernah lebih. Dana dan Radhia, dua nama yang selalu berhasil menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Orang ketiga yang tak pernah menghancurkan, tapi makin menguatkan.













