Semenjak WFH, ada - ada saja proyek yang ditanyakan malam - malam. Meskipun seringnya aku baru menjawab pada keesokan paginya.
Tapi sore ini tidak. Aku masih sibuk mencocokkan garis di denah ruangan, dengan konsep layoutku.
"Tumben abangmu belum sampai," kata Ibu yang sedang duduk di sofa dan menonton televisi. Sedangkan aku, duduk di lantai dan bersender pada sofa yang diduduki Ibu.
Aku masih dengan seksama memperhatikan garis - garis di layar laptopku, tak acuh pada Ibu.
"Lagi berantem, ya?" Ibu mencoba sekali lagi.
Aku melirik film Harry Potter yang sedang di tayangkan di televisi.
"Udah makan belum, ya?" Tanya Ibu.
Aku refleks menjawab, "udah."
"Syukur lah. Anak - anak ibu masih akur."
Aku meraih ponsel yang berdering pelan sejak tadi. Bunyinya pendek - pendek saja, sebagai tanda ada pesan yang masuk.
"Tuh kan, mau balas kan sebenarnya," ledek ibu.
Aku segera menekan tombol off pada ponselku, "Ibu kepo," kataku merajuk. Ibu hanya terkekeh.
Kali ini, dering ponsel ibu yang terdengar.
Ibu mencolek pundakku. "Al, tolong ibu nak. Ibu pesan makanan daring. Sudah sampai di depan, " jelas ibu.
Aku bangkit malas - malasan, "ibu tumben pesan makanan online," aku masih memandangi ibu yang senyum - senyum sendiri menatap layar ponselnya, entah apa yang ibu lihat.
Aku segera membuka pintu. Namun lihatlah siapa yang berdiri di depan pintu rumahku.
Laki - laki dengan postur tubuh berisi (tidak gendut), sedang tersenyum lebar - lebar sembari mengeggam tas kertas dengan logo merah muda di depannya. Mata coklat yang dibingkai kacamata hitam itu menyipit.
"Aku menyerah," suaramu serak. "Baikan, ya?"
Dari dalam terdengar suara tertawa pelan.
"Pasti ibu," jawabku gerutu, namun tetap meraih tas coklat dari genggamanmu.
"Mujarab, kan?" Senyummu semakin melebar.













