Indahnya Menjadi Diri Sendiri
Sulit memang nampak kendalikan rindu. Ia terlalu curam untuk ditapaki. Terlalu bahaya untuk didaki. Tapi tak akan tahu lah dirimu sampai kau memutuskan untuk mengenalnya.
Hari dimana sebuah impian terwujud. Wisuda menjadi babak terhebat sepanjang masa. Tidak, nyatanya ia masih torehkan luka. Luka rindu ini berbekas jauh sejah aku diwisuda kala itu.
Haflah, begitu kami menyebutnya. Persiapan nya bukan sehari dua hari. Bertahun-tahun sudah disiapkan. Bahkan sejak pertama kaki ini berpijak di rumah suci. Saat itu usaha dan perjuangan dimulai.
Menabung nilai akademik agar kelak tak mengecewakan saat dibacakan yudisium dihadapan orangtua. Mencoba bersabar diri menghadapi ujian akhir tiada henti yang menyesakkan pikiran. Mengukur baju tiada henti. Hari itu tiba. Hari dimana tangis antara sedih dan bahagia. Tak tergambarkan. Haru aku dibuatnya.
Haflah kami sangat sakral. Rangkaian acara penuh khidmat. Dan yang paling menegangkan adalah ketika nama dipanggil satu-satu untuk diberi ijazah oleh kiai dengan urutan yudisium/tingkatan tertentu. Saat itu, ujian diri selama hidup di pondok membuktikan. Terhormatkah dirimu atau justru terhinakan?? Naudzubillah...
Tangis pecah ketika lagu perpisahan yang kami siapkan mulai mengalun. Bibir-bibie yang seminggu ini terus berlatih menyanyi bersama nampaknya membeku dikekang rasa tak ingin pisah. Perjuangan demu perjuangan yang dilalui bersama menjadi saksi ukhuwah tiada tara. Enam tahun sudah kami memandang langit yang sama.
Haflah itu tak bisa diulang. Dia tersimpan dalam hati riuh-riuhnya. Tapi hidup menjadi santri selamanya adalah amanah. Nilai-nilai kehidupan berpondoklah yang akan menuntun kaki mu melangkah di dunia nyata, bukan miniatur.
"Ketika senang dan sedih menjadi satu. Membuat kenangan akan kisah indah terus terpaut. Ini bukan langkah akhir. Ini langkah awal. Terus maju, sampaikan salam hangat untuk cita-cita yang terus menunggu untuk dijemput."