Kemarin bersama seorang guru dan teman-teman membahas hadits arbain yang ke-40. Kembali diingatkan soal "dunia tipu-tipu". Kembali memperpendek angan dunia, menyegerakan kebaikan.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, โDunia bagi seorang mukmin bukanlah negeri untuk menetap, bukan sebagai tempat tinggal.
Hendaklah seorang mukmin berada dalam salah satu keadaan:
(1) menjadi seorang gharib (orang asing), tinggal di negeri asing, ia semangat mempersiapkan bekal untuk kembali ke negeri tempat tinggal sebenarnya;
(2) menjadi seorang musafir, tidak tinggal sama sekali, bahkan malam dan siangnya ia terus berjalan ke negeri tempat tinggalnya.
Nabi shallallahu โalaihi wa sallam mewasiatkan Ibnu โUmar radhiyallahu โanhuma agar hidup di dunia dengan salah satu dari dua keadaan ini.โ (Jaamiโ Al-โUlum wa Al-Hikam, 2:378)
Jum'at kemarin, Koh Stevenโseorang tokoh mualaf wafat. Seseorang yang semasa hidupnya membuat iri banyak orang karena kepandaiannya dalam menginfakkan hartanya.
Beliau bilang, "Kan hidup ini nunggu mati, kita kerja untuk nunggu waktu sholat. Di rumah ada kafan, saya selalu sediakan kafan, anak belum lahir sudah saya belikan kafan, semakin besar usianya diperbesar kain kafannya. Kata Nabi, di antara hamba-hambaku yang cerdas adalah yang mempersiapkan kematiannya dengan cara yang baik.."
Teringat pada apa yang ibuku juga jalani, beliau telah menyiapkan kain kafan untuk kematiannya kelak. Namun, qodarullah beliau membawa kain tersebut pada saat eyang uti menuju wafat, sengaja tidak diturunkan dari mobil karena takut dianggap mendahului takdir, esoknya eyang uti wafat dan mengenakan kain kafan yang dibawa oleh ibuku.
Ibuku adalah seseorang yang kutahu amat sangat berhati-hati dalam setiap langkahnya, menyiapkan kain kafan untuk kematiannya, membuat banyak acara guna membagikan ilmu pada masyarakat tentang tatacara memandikan dan mengafankan jenazah. Sejak aku kecil, ibuku sudah menjadi relawan dalam tim pemandi jenazah, termasuk eyang uti menjadi salah satu jenazah yang dimandikan olehnya. ๐ฅ๐ค
Tidak ada yang lebih bersyukur dari menjadi anak yang lahir dari rahim seorang ibu yang mengajarkannya tentang arti dunia yang fana dan cara menghadapinya, serta cara menyiapkan kematian terbaik kelak nantinya. ๐
Semoga kita senantiasa hidup dalam motto, "Isy Kariman Au Mut Syahidan.."
Semoga Allah ijabah doa yang selalu kita ulang-ulang, "Allahumma inni as'aluka husnul khotimah.."
Aamiin, aamiin, yaa Robbal'alamin.. โจ