Rinas Relic by Treflyn Lloyd-Roberts
Via Flickr:
I've flown from Tirana airport a few times before, but today was the first time I've spotted this Harbin H-5 parked up beside the runway. Aircraft: Albanian Air Force Harbin H-5 (Chinese-built version of the Ilyushin Il-28) 3608 Red. Location: Tirana International Airport Nënë Tereza (TIA/LATI), Albania.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Self love, memulai rasa cinta dengan mencintai diri sendiri dengan cara memahami potensi diri, tidak ada kesempurnaan, sadar bahwa setiap orang pernah jatuh, lalu berusaha bangkit dengan tidak menyalahkan diri berlebihan dengan semangat perbaikan. Bukan dengan semangat membuktikan kepada dunia/kepada orang lain. Apalagi mantan, tapi pembuktian kepada diri sendiri.
Healthy Quarantine Journal: That Feeling When You Finally Be More Connected with Your Self
Rasanya senang bercampur haru, ternyata yang selama ini aku risaukan bukan berasal dari kekhawatiranku akan dunia luar yang kian hari kian kejam, namun ternyata: aku rindu pada diriku sendiri.
Karantina memberiku waktu untuk melakukan jeda, mengingatkanku bahwa sebanyak apapun energi yang aku serap dari orang lain, sejatinya tidak akan pernah membuat diriku cukup. Sederhananya begini, aku bisa berjalan karena aku berdiri di atas kakiku sendiri, bukan kakimu atau kakinya. Itulah kenapa ada istilah Inside Out.
Aku mempercayai apa yang pernah dikatakan oleh Dr. Adriano Rusfi, seorang psikolog dan pakar parenting yang pernah mengisi di asrama, bahwa mindfulness adalah implementasi dari rasa syukur seorang hamba kepada pencipta-Nya. Bagaimana tidak? Here and now adalah 2 kunci utama. Hadir secara utuh di sini dan saat ini, sehingga bisa bekerja secara optimal, tanpa distraksi, dan sepenuh hati.
Tidak hanya itu, mindfulness, dalam Islam disebut dengan muraqabah, artinya mendekatkan. Mendekatkan diri kita dengan ruh kita, dengan hati kita. Meditasi yang dianggap sebagai cara paling jitu untuk melatih mindfulness, juga dikenal dalam Islam dalam bentuk shalat, berzikir, dan membaca al-Qur'an.
Penjelasan lengkap mengenai 'How to be a mindful muslim' bisa dilihat di sini :
I had been so hard on myself, sometimes. I finally admitted that. And it hurt me a lot until I let my heart cried out.
Menangis. Sejadi-jadinya, sampai akhirnya, lega bukan main. Karena segala hal yang dipendam dalam hati dikeluarkan melalui air mata. Kapan terakhir begini?
Sepertinya akhir semester lalu. Kali ini, tanpa menunggu akhir semester akhirnya aku merasakan lagi hangatnya berbincang khusus dengan tenang pada diriku sendiri. Menghubungkan diriku dengan sebuah organ yang Rasulullah bilang, kalau organ itu baik maka akan baik keseluruhan tubuhnya, yaitu hati.
Memang sejatinya, dunia ini penuh senda gurau, yaa? Apresiasi dari orang lain atas karya yang belum ada apa-apanya sering menjadi standar keberhasilan untuk menjadi bermanfaat untuk orang lain.
Aduh, padahal sebenarnya apa-apa yang ada di dunia itu kan sementara. Oleh sebab itulah kebahagiaanmu juga sementara, Nun. Maka, influencer favoritku, Aida Azlin dalam podcastnya bersama Najwa Lathif mengungkapkan:
Attach your self-worth with what Allah says about you: you are a khalifah in this world, you are created with a purpose, you are loved.
Terima kasih, karantina. Hihi. Jadi ini toh yang kata orang-orang 'Karantina itu jadi sarana untuk meningkatkan iman.' Ternyata berawal dari waktu yang lebih banyak untuk berbincang dengan diri sendiri toh. Kapan terakhir kamu melakukan self-talk? Rasanya lega banget loh setelah merasakan sekian banyak emosi negatif dan memendamnya, akhirnya membludak dengan dahsyat.
Walaupun rasanya sudah sangat nyaman dengan diriku sendiri karena karantina, tapi selalu aku berharap dengan penuh: Lekas pulih, Bumi sayang..
Ditulis 18-04-2020
P. S: Consistency is such a big deal, isnt it? Sorry that i felt asleep last night, i mean i overslept.
Healthy Quarantine Journal: Yang Jadi Lebih Sering
Satu hal yang ku sadari menjadi lebih sering ku lakukan semenjak ramai-ramai swakarantina ini adalah; mikir. Bukan mikir pelajaran tapi, ehe. Bukan juga mikir kerjaan atau deadline tulisan, apalagi mikir skripsi. Ya itu semua tetap dipikir, tapi rasanya intensitasnya tetap sama, tidak menjadi bertambah sering.
Yang ini adalah berpikir tentang.. apa ya, eksistensi? Eksistensi manusia, eksistensi diri, dan sudah sampai sejauh mana sebetulnya aku dapat dengan mantap melangkahkan kaki.
Aku menjadi lebih sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan kecil pada diriku sendiri.
Tentang masa lalu; benarkah aku sudah memberikan yang terbaik yang aku bisa di masa-masaku yang lalu? Rasanya ada yang hasilnya akan menjadi lebih baik jika seandainya aku dulu seperti itu, aduh jadi ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki banyak hal, tapi.. nggak bisa ya?
Tentang masa kini; benarkah aku dan segala kondisiku saat ini adalah aku yang ku impikan di masa lalu? Benarkah semua pilihan-pilihan yang ku pilih saat ini?
Tentang masa depan; langkah-langkah apa yang selanjutnya akan aku ambil? Kemana arah layar perahuku akan ku tuju? Betulkah saat ini ia sudah berada pada arah yang tepat?
Tentang hakikat dari tujuan diciptakannya manusia itu sendiri; benarkah aku sudah menghamba dengan sebaik-baik menghamba? Shalatku, dzikirku, ngajiku, benarkah sudah mencapai penyelaman makna, atau masih sekadar ritual tanpa ruh saja?
Dan tentang eksistensiku di antara makhluk-makhluk di sekitarku; benarkah kehadiranku sudah memberi manfaat untuk mereka? Dengan langkah apa sebetulnya aku dapat memaksimalkan potensi diri dan meluaskan manfaat seluas-luasnya?
Tiba-tiba segala hal bisa menimbulkan pertanyaan dan dipertanyakan. Mungkin karena waktu luang yang relatif menjadi lebih banyak, disertai efek tambahan dari diriku yang memang pada dasarnya overthinking? entah. Yang jelas aku sadar, tidak semua pertanyaan-pertanyaan itu bisa membangun dan menjadikanku lebih baik, maka tugasku adalah pilih-pilih pertanyaan mana yang berpotensi menjadikanku lebih baik itu. Karena sepertinya salah-salah malah bisa membuat diri ini terjebak dalam lingkaran pertanyaan tak berujung yang membuat stagnan.
Aku mulai senang kembali menyusun dan memperbaiki tujuan hidup, visi misi, serta mimpi-mimpi. Aku kembali mencoba mengenali diri sendiri lebih baik lagi; menerima kekurangan diri, mencoba fokus pada potensi, dan kembali mencari, jangan-jangan selama ini ada hal tersembunyi dari diri yang belum ku sadari?
Aku juga mulai menjadi lebih selektif dalam ‘memberi izin’ bagi informasi-informasi di luar sana untuk masuk ke dalam diri. Terutama dari media tertentu. Sebutlah satu media yang dari sana kita bisa dengan sangat mudah melihat kehidupan orang lain dengan segala kelebihan dan pencapaiannya. Jujur, terlalu banyak mampir ke sana tidak jarang membuatku lelah akibat membandingkan diri dengan orang lain.
Ya kita semua tau teorinya, bahwa jangan pernah membandingkan diri dengan sesuatu yang nampak dari orang lain, karena hidup yang dijalani berbeda, tantangannya berbeda, masalahnya berbeda, dan seterusnya. Tapi tanpa disadari biasanya kondisi itu masuk begitu saja, yang tentunya jadi sangat tidak baik dampaknya apabila memang kita tidak bisa membentengi diri dengan baik. Dampaknya jadi berpikiran negatif pada diri sendiri. Padahal kekuatan pikiran pada diri itu sangat kuat sekali. Sebutlah ia sugesti.
Beberapa waktu lalu aku mencoba membaca buku Al-Qur’an the Ultimate Secret karyanya Astrid Darmawan dan Muhammad Hidayat. Buku dikasih orang -tapi lupa siapa, yang sebetulnya sudah sangat lama mengendap di lemari rumah -mungkin sejak aku SMP, dan aku baru tertarik membacanya lagi sekarang. Dulu sebetulnya pernah mencoba buka-buka, tapi ditutup lagi karena merasa tidak relate dan belum ngerti. Baru tertarik dan mengerti lagi saat ini, yang entah kenapa setelahnya aku sukses dibuat nangis bombay, padahal waktu itu belum sampai akhir bacanya.
Katanya, buku itu dibuat sedikit banyak terinsipirasi dari The Secret-nya Rhonda Byrne yang mengungkap tentang rahasia kekuatan pikiran manusia. Salah satu yang outstanding adalah tentang Law of Attraction, hukum tarik menarik antara pikiran dan manusianya itu sendiri. Bahwa apa yang kita pikirkan, itulah yang terjadi. Simpelnya, the way we are thinking. Positive thinking atau negative thingking? Ya nanti yang akan terwujud adalah seperti itu.
Di buku itu, penulisnya mencoba membuat kita terbuka bahwa yang seperti itu tuh sudah ada petunjuknya di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, bahwa Allah itu sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Maka jangan berprasangka buruk terhadap apapun, termasuk diri sendiri.
Kurang lebih begitulah, awalan bukunya. Dari situ nanti selanjutnya pembahasan berganti ke konsep keagungan Al-Qur’an; bahwa harusnya kita selalu mengingat bahwa Al-Qur’an itu bukan sekadar kitab suci, tapi ia adalah kata-katanya Allah, kalam Allah. Bayangkan Allah ngomong langsung sama kita, ya lewat Al-Qur’an itu. Lalu lanjut lagi kepada, bagaimana mengendalikan pikiran sesuai dengan apa yang udah Allah kasih petunjuk, sampai konsep kebahagiaan hidup itu sendiri. Ada dua jilid bukunya, dan aku belum selesai.
Dari situ harusnya kita semakin yakin tentang betapa powerful nya pikiran, maka dari itu ia harus dipelihara biar mikir yang baik-baik saja; husnuzhan.
Oiya, tadi, bicara tentang potensi diri, ada lagi sesuatu menarik yang ku temukan. Jadi tadi, barusan banget sebelum nulis ini, aku menemukan salah satu videonya Ustadz Nouman Ali Khan dari Bayyinah Institute tentang kenapa kita harus discover our identity (ini videonya).Salah satunya, disitu beliau bahas tentang tafsir surat Al-Isra’ ayat 84, yang potongan ayatnya bunyinya; “Qul kulluy ya'malu 'alā syākilatih..”
Artinya, “Katakanlah, ‘tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing’..”
Beliau menggarisbawahi kata syākilatih disana, yang berarti menurut keadaannya masing-masing. Ayat disitu menunjukkan bahwa manusia itu semuanya diciptakan berbeda, tergantung pada potensi apa yang Allah kasih ke kita. Kalau ada nature dan nurture, nah ini adalah nature-nya, poin potensi dan kelebihan apa yang Allah titipkan ke diri kita, nah dari situlah seharusnya kita belajar memaksimalkan hal itu untuk perintah yang disematkan di kata sebelumnya, ‘berbuat’.
Pada intinya, masa-masa ini membuatku lebih sering introspeksi diri tentang segala hal. Semoga hasilnya selalu menjadi perbaikan.
Sekian, semoga bermanfaat. Meskipun ngga jelas banget ini bahasannya kemana-mana dan tidak sistematis, maafkan. Mohon ambil baiknya buang buruknya:))
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. "
QS. Al-A'raf : 55-56
Jangan lelah berbuat baik yaa! Jangan lelah berbenah! Semoga selalu diberi kekuatan dan kelancaran serta keberkahan dalam segala hal. Semangat jiwa yang kuat! Masih ada ujian lain yang menunggumu.