In the train to London ... damn.

seen from Denmark
seen from Russia
seen from China
seen from Türkiye
seen from China
seen from China

seen from Malaysia

seen from Kosovo

seen from Malaysia
seen from China
seen from China
seen from Australia

seen from Malaysia
seen from Ireland
seen from Kenya

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Malaysia
seen from Russia
In the train to London ... damn.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Thank You April
April 30, 2017. D-10. Cannot believe April will leave us for this year. Thank you for being an amazing month as always! So much happened. Sad and happy. Everything was going thru. Like today, someone called me to tell me that I won a meet and greet session w/ The Word Alive!!! How happy I am! Finally able to meet Telle, Zack, Tony, and Dani in person. Can't wait for May 5, 2017! And 10 days to go! 行くぜ!
I CANT WITH ALL THE TEASER I WANNA SCREAM
MENGKHUSUSKAN MALAM 27 RAMADHAN DENGAN ‘UMRAH ADALAH PERBUATAN BID’AH
○ http://bit.ly/nisaaassunnah Al-imam al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Pada kesempatan ini saya sangat ingin memperingatkan terhadap sebuah kesalahan yang banyak dilakukan oleh kebanyakan manusia pada hari-hari ini. Dimana mereka mencari dan mengkhususkan malam 27 (di bulan Ramadhan) untuk melaksanakan ibadah ’Umrah. Engkau akan melihat dan menyaksikan pada malam ke 27 Ramadhan di Masjidil Haram penuh sesak dengan manusia yang sangat banyak. Mengkhususkan malam ke 27 Ramadhan dengan ibadah ‘Umrah termasuk dari perbuatan bid’ah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengkhususkannya dengan ibadah ‘umrah baik dalam perbuatan beliau atau ucapan beliau. Beliau tidak menunaikan ibadah ‘umrah pada malam 27 Ramadhan, padahal beliau saat itu sedang berada di Makkah pasca penaklukkan kota Makkah, di malam 27 Ramadhan, dan beliau tidak menunaikan ibadah ‘umrah sama sekali. Beliau juga tidak memerintahkan para ummatnya untuk mencari malam 27 Ramadhan untuk ibadah ‘umrah! Tetapi yang beliau perintahkan adalah agar supaya kita mencari malam 27 Ramadhan untuk mengerjakan ibadah shalat malam padanya, bukan untuk menunaikan ibadah ‘umrah! Dengan ini, maka sangatlah jelas kesalahan dari apa yang dilakukan oleh mayoritas manusia.. Dari sini juga sangat tampak jelas, bahwa manusia terkadang mereka mengambil ilmu agama ini dari para tokoh dan pembesar mereka, tanpa membangunnya di atas pondasi syari’at (agama). Maka berhati-hatilah, janganlah engkau beribadah kepada Allah kecuali di atas bimbingan ilmu, dengan berdasarkan dalil dari kitab Allah (Al-Quran) atau sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau penerapan dari para _khulafa’ ar-raasyidin_ (pemimpin yang terbimbing) yang kita diperintakan untuk mengikuti mereka..” Sumber: “Tafsir surah al-Qadr” Unduh versi suara di sini: http://safeshare.tv/w/xOHdH6kTyG8 【تخصيص ليلة سبع وعشرين بالعمرة من البدع 】 قَالَ الإمام العلاَّمة : محمد بن صالح العثيميــن رحمـهُ اللهُ تعالى : (( .... وبهذه المناسبة أود أن أنبه إلى غلط كثير من الناس في الوقت الحاضر حيث يتحرون ليلة سبع وعشرين في أداء العمرة، فإنك في ليلة سبع وعشرين تجد المسجد الحرام قد غص بالناس وكثروا ، وتخصيص ليلة سبع وعشرين بالعمرة من البدع ، لأن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلّم لم يخصصها بعمرة في فعله ، ولم يخصصها أي : ليلة سبع وعشرين بعمرة في قوله ، فلم يعتمر ليلة سبع وعشرين من رمضان مع أنه كان في عام الفتح ليلة سبع وعشرين من رمضان كان في مكة ولم يعتمر ، ولم يقل للأمة تحروا ليلة سبع وعشرين بالعمرة ، وإنما أمر أن نتحرى ليلة سبع وعشرين بالقيام فيها لابالعمرة ، وبه يتبين خطأ كثير من الناس ، وبه أيضًا يتبين أن الناس ربما يأخذون دينهم كابرًا عن كابر ، على غير أساس من الشرع ، فاحذر أن تعبد الله إلا على بصيرة ، بدليل من كتاب الله ، أو سُنّة رسوله صلى الله عليه وآله وسلّم أو عمل الخلفاء الراشدين الذين أُمِرنا باتباع سُنتهم ...)) . [ تفسير سورة القدر ] . ______________________ الرابــط الصــوتـــــي : http://safeshare.tv/w/xOHdH6kTyG8. ••••••••••••••••••••• Majmu'ah Manhajul Anbiya ▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net ~~~~~~~~~~~~~~~~~ Diposting ulang hari Jum'at, 26 Ramadhan 1437 H / 1 Juli 2016 M http://annisaa.salafymalangraya.or.id http://bit.ly/nisaaassunnah Nisaa` As-Sunnah
KEGIATAN APA SAJA YANG BOLEH DILAKUKAN OLEH WANITA HAID UNTUK MENGISI RAMADHAN (TERUTAMA JIKA HAID TERJADI PADA 10 HARI TERAKHIR)
○ http://bit.ly/nisaaassunnah Seorang wanita haid bisa melakukan semua kegiatan ibadah apa saja kecuali sholat, puasa, thowaf di ka’bah dan i’tikaf di masjid. Dan telah disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih bahwa Rasulullah -sholallahu‘alaihi wa sallam- jika masuk sepuluh hari terakhir ramadhan beliau menghidupkan malam-malamnya dan membangunkan anggota keluarganya. Dan menghidupkan malam itu tidak hanya terbatas dengan sholat lail, bahkan termasuk di dalamnya melakukan berbagai bentuk amalan ketaatan, inilah yang dijelaskan oleh para ulama: Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Menghidupkan malam, yaitu dengan mengisi malam itu dengan ketaatan.” An Nawawi mengatakan: “Yaitu mengisinya dengan sholat dan selainnya.” Dan disebutkan dalam Aunul Ma’bud: “Yaitu mengisinya dengan sholat, dzikir dan membaca Alqur’an.” Dan memang sholat merupakan bentuk ketaatan yang paling afdhol untuk dilakukan untuk mengisi sepuluh malam terakhir ramadhan. Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ((مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ)) “Barangsiapa yang menegakkan sholat pada malam lailatul qodar dengan keimanan dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR.Bukhori dan Muslim] ------ Dan karena wanita haid tercegah dari melaksanakan sholat, maka mungkin baginya untuk menghidupkan malam-malam tersebut dengan berbagai bentuk amalan ketaatan yang lain, seperti: 1. Membaca Al Qur’an Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini, apakah wanita haid diperbolehkan untuk membaca Al Qur’an atau tidak? Dan yang kuat dalam masalah ini adalah tidak mengapa bagi wanita haid membaca Al Qur’an karena tidak ada hadits yang shahih dan terang yang melarang wanita membaca Al Qur’an ketika haid, sebagaimana tidak ada larangan bagi mereka dari berdzikir dan berdoa ketika haid. Adapun hadits: ((لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن)) “Wanita haid dan orang junub tidak boleh membaca sesuatupun dari Al Qur’an” [HR.Tirmidzi] Hadits ini dho’if, berkata Ibnu Hajar -rahimahullah-: “Hadits ini dho’if dari seluruh jalur periwayatannya.” [Fathul Bari no.305]. Dan berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-: “Hadits dhoif berdasarkan kesepakatan para ahli hadits.” [Majmu’ Alfatawa: 21/460]. Berkata Syaikh Al Albani -rahimahullah-: “Ini adalah hadits mungkar.” [Al Irwa’: 193] Pendapat inilah yang dirajihkan oleh Syaikh Al Albani, Syaikh Muqbil Al Wadi’i, dan Syaikh bin Baz -rahimahumullah- Selain itu terdapat hadits -hadits yang menguatkan pendapat ini, diantaranya sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada Aisyah yang mengalami haid ketika berhaji: ((افْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَلاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطَّهَّرِي )) “ Lakukan apa-apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji kecuali jangan engkau thowaf di ka’bah sampai engkau suci.” [HR.Muslim] Dan merupakan perkara yang telah diketahui bahwa orang yang melaksanakan haji itu bertahlil, bertasbih, beristighfar, dan membaca alqur’an. Akan tetapi perlu diketahui bahwa membaca Al Qur’an itu ada dua: - Membacanya dari hafalan tanpa melihat dan menyentuh mushaf - Dan membacanya dengan melihat dan menyentuh mushaf. Untuk yang pertama maka diperbolehkan sebagaimana yang tampak dalam pembahasan kita ini. Adapun yang kedua maka para ulama pun berbeda pendapat dan mayoritas ulama bahkan sebagian dari para ulama menukil ijma’ (kesepakatan) bahwa wanita haid dilarang menyentuh mushaf. Dan penulis pribadi lebih cenderung kepada pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh bin Baz -rahimahullah-, beliau mengatakan: “Adapun jika seorang wanita membutuhkan untuk membaca Al Qur’an dari mushaf maka tidak mengapa baginya dengan syarat menggunakan penghalang (pelapis) seperti kaus tangan dan yang semisalnya.” [Majmu’ Fatawa bin Baz 6/360]. Wallahu a’lam. 2. Memperbanyak dzikir Memperbanyak bertasbih (bacaan subhanallah, bertahmid (alhamdulillah), bertakbir (Allahu Akbar), dan bertahlil (laa ilaha ilallah). Atau lafadz-lafadz dzikir yang lain yang dituntunkan oleh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. 3. Memperbanyak istighfar dan permohonan ampun kepada Allah Azza wa Jalla. 4. Memperbanyak doa Memperbanyak doa dan permohonan kepada Allah Azza wa Jalla baik yang berkaitan dengan kebaikan dunia maupun akhirat. Dan doa merupakan salah satu dari bentuk ibadah yang afdhol, bahkan disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih: ((الدعاء هو العبادة)) “Doa itu adalah ibadah.” [HR.Tirmidzi dan Abu Dawud] Inilah di antara beberapa kegiatan yang bisa dilakukan oleh wanita untuk mengisi hari/malam ramadhan yang dilalui dalam keadaan haid. Dan perlu diketahui disana masih banyak berbagai amal ketaatan yang lain yang bisa dilakukan seperti memperbanyak sedekah dan berbuat baik kepada sesama terutama kerabat terdekat. Mempersiapkan sahur dan buka untuk mereka dengan tulus dan tanpa mengeluh, membangunkan, dan mendorong mereka untuk sholat lail dan membaca Al Qur’an. Yang disayangkan adalah jika mereka para wanita menghabiskan hari dan malam mereka dengan berbagai kegiatan yang tidak bermanfaat bahkan justru maksiat dengan menghabiskan waktu mereka di depan televisi atau radio dan pergi ke pusat-pusat perbelanjaan dan merasa bahwa tidak ada kegiatan ibadah yang bisa mereka lakukan karena sedang haid. Wallahul musta’an. Semoga tulisan ini bisa memberikan manfaat kepada penulis pribadi dan para pembaca sekalian dan menumbuhkan semangat untuk lebih memaknai ramadhan. Amiin… Ummu Hudzaifah As Samarindiyyah –ghofarallahu laha wa li waalidaiha- Akhir Sya’ban 1434 H, Ma’had Daarus Salaf Al Islamiy Bontang. Sumber: http://www.darussalaf.or.id/fiqih/permasalahan-seputar-haid-dan-puasa-ramadhan/ •┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈• Whatsapp: 🌹syarhus sunnah lin nisaa` Channel Telegram: http://bit.ly/syarhussunnahlinnisa Website: http://catatanmms.wordpress.com •┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈• Diposting ulang hari Senin, 22 Ramadhan 1437 H / 27 Juni 2016 M http://annisaa.salafymalangraya.or.id http://bit.ly/nisaaassunnah Nisaa` As-Sunnah

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
MEMULAI MENGHIDUPKAN 10 MALAM TERAKHIR
○ http://bit.ly/nisaaassunnah *Pertanyaan* : "Kalau saya ingin menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan, kapan saya harus mulai?" *Jawab* : "Memulai menghidupkan 10 malam terakhir dimulai sejak setelah shalat Isya. Dahulu Nabi _shallallahu alaihi wa sallam_ menghidupkan sepuluh terakhir Ramadhan. 'Aisyah radhiallahu 'anha berkata : كان النبي صلى الله عليه و سلم إذا دخلت العشر أحيا ليله و أيقظ أهله و شد مئزره "Dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila telah masuk sepuluh hari akhir, beliau *menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya*, dan mengencangkan ikat pinggangnya" *Inilah yang afdhol (lebih utama), jika hal itu mudah baginya.* Jika dia tidur pada sebagiannya untuk memperkuat fisiknya, maka tidak mengapa. Adapun orang yang Allah beri kemampuan untuk menghidupkannya maka yang demikian itu adalah yang sunnah dan taqarrub (pendekatan diri kepada Allah). Yaitu dengan shalat, membaca al Quran, doa dan istigfar. Penanya mengatakan : "Bisakah Anda sebutkan tanggalnya wahai Syaikh yang mulia? Mungkin si penanya memaksudkan itu Asy Syaikh Abdul Aziz ibn Baz rahimahullah menjawab: *Disunnahkan menghidupkan sepuluh malam akhir seluruhnya, ini yang sunnah.* Jika seorang menghidupkan malam-malam ganjilnya (saja), malam 21, malam 23, malam 25, malam 27, malam 29, maka tidak mengapa. Akan tetapi yang lebih utama menghidupkan seluruhnya. Malam-malam ganjil memang utama untuk dihidupkan, lebih ditekankan karena *pada malam-malam ganjil paling diharapkan bertepatan dengan Lailatul Qadr.* Nabi _shallallahu alaihi wa sallam_ bersabda : التمسوها في كل وتر *"Carilah lailatul qadr di setiap malam ganjil"* Dalam riwayat yang lain Nabi _shallallahu alaihi wa sallam_bersabda : التمسوها في العشر الأواخير *"Carilah dia (lailatul qadr) di sepuluh malam terakhir"* ✔ *Akan tetapi malam-malam ganjil adalah yang paling diharapkan*, malam 21,malam 23,malam 25,malam 27,malam 29, dan yang paling diharapkan adalah malam 27. *Jadi, sepuluh malam terakhir itu dimulai dari malam 21* Sumber : http://www.binbaz.org.sa/noor/4905 إذا أردت أن أحيي ليالي العشر الأواخر من رمضان، متى أبدأ؟ إحياء العشر الأواخر من رمضان بعد صلاة العشاء، كان النبي صلى الله عليه وسلم يحيي العشر الأواخر من رمضان، قالت عائشة رضي الله عنها: (كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخلت العشر أحيا ليله وأيقظ أهله وشد مئزره). هذا هو الأفضل إذا تيسر له ذلك، وإن نام بعض الشيء ليتقوى فلا بأس، أما من قدره الله على إحيائها فذلك سنة وقربى. يعني بالصلاة والقراءة والدعاء والاستغفار. يقول المعلق: هل تتفضلون بذكر التاريخ لعلها تقصد هذا سماحة الشيخ؟ ج/ السنة إحياء ليالي العشر كلها، هذا السنة، وإذا أحيا الإنسان منها الأوتار إحدى وعشرين وثلاث وعشرين وخمس عشرين وسبع وعشرين وتسع وعشرين فلا بأس، لكن الأفضل أن يحييها كلها، لكن هذه الأوتار أولى بالإحياء، وهي متأكدة لأنها أرجى لليلة القدر، النبي صلى الله عليه وسلم قال: (التمسوها في كل وتر) وفي بعض الروايات: (التمسوها في العشر الأواخر)، لكن الأوتار أرجى الليالي إحدى وعشرون، ثلاث وعشرون، وخمس وعشرون، سبع وعشرون، تسع وعشرون، وأرجاها الليلة السابعة والعشرون. إذا العشر الأواخر تبدأ من إحدى وعشرين http://www.binbaz.org.sa/noor/4905 ••••••••••••••••••••• Majmu'ah Manhajul Anbiya ▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net ~~~~~~~~~~~~~~~~~ Diposting ulang hari Senin, 22 Ramadhan 1437 H / 27 Juni 2016 M http://annisaa.salafymalangraya.or.id http://bit.ly/nisaaassunnah Nisaa` As-Sunnah
FATWA ITIKAF SYAIKH SHALIH BIN MUHAMMAD AL LUHAIDAN HAFIZHAHULLAH
○ http://bit.ly/nisaaassunnah الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده وآله وصحبه وبعد : Berikut beberapa masalah seputar hukum-hukum itikaf yang saya pilihkan dari kumpulan pertanyaan-pertanyaanku kepada Syaikh kami Al-Allamah Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan hafizhahullah. Dan saya telah meminta ijin kepada Syaikh kami untuk menyebarkannya, kemudian beliau mengijinkanku pada hari Ahad 10 Ramadhan 1435 H. Saya memohon kepada Allah agar menjadikannya bermanfaat dan agar memberikan balasan kepada Syaikh kami dengan sebaik-baik balasan. 1. Pertanyaan : Kapan dimulainya waktu itikaf? Syaikh kami menjawab: Waktu itikaf dimulai dari subuh hari ke 21 Ramadhan. 2. Pertanyaan : Berapa waktu paling sedikitnya itikaf? Syaikh kami menjawab: Di sana tidak ada dalil akan paling sedikitnya waktu itikaf, akan tetapi yang afdhal (utama) bagi seorang muslim jika ingin beritikaf, hendaknya menjadikan paling sedikitnya itikafnya adalah sehari semalam. Dan suatu kali beliau mengatakan kepadaku : Yang saya lihat, kalau itikaf itu paling sedikitnya sehari semalam, karena itikaf itu adalah berdiam diri di masjid untuk menaati Allah Ta'ala. Maka jika seorang insan menginginkan hal itu maka ia mesti memperbanyak berdiam diri di masjid. 3. Pertanyaan : Apa hukum safar untuk melakukan itikaf di suatu masjid selain dari tiga masjid? Syaikh kami menjawab: Tidak boleh mempersiapkan kendaraan (untuk Safar) selain kepada Masjid al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid al-Aqsha. Dan tidak boleh mempersiapkan kendaraan (Safar) selain dari tiga masjid. 4. Pertanyaan : Apa hukum itikaf di masjid yang tidak dilaksanakan di sana shalat jumat? Syaikh kami berkata: Yang afdhal bagi seorang muslim untuk beritikaf di masjid Jami' yang dilaksanakan di sana shalat jumat dan tidak beritikaf di selain masjid jami'. 5. Pertanyaan : Apakah sah beritikaf di sebuah kamar yang terletak di dalam masjid ? Syaikh kami menjawab: Jika kondisi kamarnya memang di dalam masjid, yang mana jika ia membuka pintu kamar ia langsung berada di dalam masjid, maka kamar ini bagian dari masjid. Maka boleh beritikaf di sana. Adapun jika kamarnya di luar masjid, tidak masuk di area dalamnya, maka ini bukan bagian dari masjid dan tidak sah itikaf di sana. 6. Pertanyaan : Apakah bagi orang yang beritikaf boleh keluar ke halaman masjid? Syaikh kami berkata: Jika halamannya bagian dari mesjid dan bukan luarnya masjid, maka tidak mengapa seorang yang beritikaf untuk keluar ke sana. 7. Pertanyaan : Apakah bisa batal itikaf dengan niat? Syaikh kami menjawab: Barang siapa berniat memutuskan itikaf maka sungguh telah batal itikafnya, seperti seorang berniat memutuskan shalat, maka batallah shalatnya. 8. Pertanyaan : Apakah boleh keluar dari tempat itikafnya karena perkara yang harus ditunaikan ? Syaikh kami menjawab: Bagi orang yang beritikaf boleh keluar dari tempat itikafnya dan pergi ke rumahnya karena perkara yang mesti dikerjakan seperti makan, minum dan selainnya. 9. Pertanyaan : Bolehkah membuat syarat dalam beritikaf? Syaikh kami berkata: Yang wajib bagi seorang insan adalah meneladani Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam beritikaf dan perkara-perkara selainnya. Maka hendaknya ia beritikaf seperti itikafnya Nabi alaihishshalatu wassalam. 10. Pertanyaan : Apakah boleh berbincang-bincang bersama teman-teman di dalam tempat itikaf? Syaikh kami menjawab: Perkataan itu, semuanya akan dihisab dari orang yang mengucapkannya. Dan sebaik-baik perkataan adalah selama ada dalam dzikrullah. Maka bagi orang yang sedang beritikaf mesti menyibukkan diri dengan berdzikir kepada Allah. Dan tidak terlarang perkataan yang mubah jika hal itu diperlukan, akan tetapi menyedikitkan perkataan itu lebih afdhal. 11. Pertanyaan : Apakah dipersyaratkan puasa dalam itikaf? Syaikh kami berkata: Tidak dipersyaratkan puasa bagi orang yang ingin beritikaf jika dilakukan di selain Ramadhan. 12. Pertanyaan : Bagaimana tingkat kesahihan hadits ini: "Tidak ada itikaf kecuali di masjid yang tiga. Syaikh kami berkata: Hadits: "Tidak ada itikaf kecuali di tiga masjid." adalah hadits yang tidak sahih. Aku bertanya kepada beliau: Kalau seandainya haditsnya sahih maknanya dibawa ke mana? Beliau menjawab: Kalau shahih niscaya kita lihat kepada maknanya. 13. Pertanyaan : Kapan berakhir waktu itikaf? Syaikh kami berkata: Berakhir waktu itikaf dengan tenggelamnya matahari hari terakhir ramadhan. Jika telah tenggelam matahari hari terakhir Ramadhan boleh bagi orang yg beritikaf untuk keluar dari tempat itikafnya. 14. Pertanyaan: Apakah boleh mengqadha itikaf bagi orang yang tidak sempat beritikaf? Syaikh kami menjawab: Itikaf itu tidak perlu diqadha, kecuali jika itikafnya berupa nadzar. 15. Pertanyaan : Apakah bagi orang yang beritikaf keluar di halaman masjid? Syaikh kami berkata: Jika halamannya bagian dari mesjid dan bukan luarnya masjid, maka tidak mengapa seorang yang beritikaf untuk keluar ke sana. Ditulis oleh : (Syaikh) Badr bin Muhammad Al-Badr hafizhahullah Sumber : http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=145472 WhatsApp Salafy Indonesia Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy Diposting ulang hari Ahad, 21 Ramadhan 1437 H / 26 Juni 2016 M http://annisaa.salafymalangraya.or.id http://bit.ly/nisaaassunnah Nisaa` As-Sunnah
FAEDAH : MAKSUD DARI LAILATUL QADR BUKANLAH AGAR MEMPERBANYAK SHALAT, KARENA SESUNGGUHNYA AR RASUL shallallahu 'alaihi wa sallam PADA BULAN RAMADHAN MAUPUN SELAINNYA SHALAT MALAM BELIAU TIDAKLAH MELEBIHI 11 RAKAAT
Bukanlah yang dimaksud daripada Ar Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam apabila memasuki sepuluh malam terakhir beliau mengencangkan ikat pinggangnya adalah untuk memperbanyak shalat, namun tujuannya adalah untuk beri'tikaf sebagaimana keadaan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dalam perjalanan hidupnya. Bukanlah dimaksudkan untuk melakukan ritual tertentu pada malam tersebut. Bukan, bukan itu yang dimaksud. Maksud dan tujuannya adalah agar seorang hamba menyiapkan diri dengan doa dan dzikir. Tidakkah engkau lihat dalam hadits yang dikeluarkan oleh At Tirmidzi no.3513 عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي». وقال الترمذي: "هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ" اﻫ Dari 'Aisyah -radhiyallahu 'anha-berkata : "Saya bertanya : "Wahai Rasulullah, bagaimana menurut engkau bila saya mengetahui di malam yang mana Lailatul Qadr itu, apa yang hendaknya saya ucapkan ketika itu ?". Beliau menjawab : _"Ucapkanlah :_ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي _"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai pemberian maaf, maka maafkanlah aku"_ At Tirmidzi mengatakan : _"Ini hadits hasan shahih."_ -selesai ucapan beliau.- Sesungguhnya Ar Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah membimbingnya agar banyak shalat, tidak pula banyak doa, tidak pula ritual ibadah tertentu, beliau hanyalah membimbingnya dengan doa ini. Dan dalam Al Muwaththa' kitab; Al I'tikaf, bab; tentang Lailatul Qadr, dari Malik, sampai kepada beliau berita bahwa Sa'id bin Al Musayyib mengatakan : _"Barangsiapa menyaksikan shalat isya (secara berjamaah) di malam Lailatul Qadr maka ia telah mengambil bagian pahala daripadanya"_. Ini, dan taufik hanyalah milik Allah". Faedah dari : _Asy Syaikh Ad Duktur Muhammad bin 'Umar Bazmul hafizhahullah wa ra'ah_ _______________ Sumber || http://mohammadbazmool.blogspot.com/2015/07/blog-post_59.html ***** Arsip WALIS » http://walis-net.blogspot.com/2016/06/faedah-maksud-dari-lailatul-qadr.html Kritik dan saran » http://goo.gl/d0M01P Faedah Lain » http://walis.salafymedia.com/ ---------------------- [فائدة] ليس المقصود بليلة القدر كثرة الصلاة فإن الرسول ما زاد في رمضان ولا في غيره عن 11 ركعة. _\للشيــخ الــدكتور/_ محمد بن عمر بازمول -حَفِظَهُ اللهُ وَرَعَاهُ- "ليس المقصود بليلة القدر كثرة الصلاة فإن الرسول ﷺ ما زاد في رمضان ولا في غيره عن ١١ ركعة! وليس المقصود بأن الرسول ﷺ إذا دخلت العشر شد المئزر كثرة الصلاة، بل المقصود الاعتكاف كما هو حاله ﷺ في سيرته. وليس المقصود طقوس معينة تقام في هذه الليلة! لا... ليس ذلك المقصود... إنما المقصود أن يتهيأ العبد في هذه الليلة بالدعاء والذكر، ألا ترى في الحديث الذي أخرجه الترمذي تحت رقم (٣٥١٣) «عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي». وقال الترمذي: "هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ" اﻫ. فإن الرسول لم يرشدها إلى كثير صلاة. ولا إلى كثير دعاء ولا إلى طقس عبادة معينة، إنما أرشدها إلى هذا الدعاء. وفي الموطأ في كتاب الاعتكاف باب ما جاء في ليلة القدر: عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ كَانَ يَقُولُ: «مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا». هذا وبالله التوفيق. http://mohammadbazmool.blogspot.com/2015/07/blog-post_59.html ✍ قنــ↡كُنُوزُ ـ الفَوَائِد↡ـاة 📮ا➣ @salafyat ↓↓ 📮ا bit.ly/1q6dbjA ـــــــــ ❁✿❁ ـــــــــ ••••••• Majmu'ah AL ISTIFADAH http://bit.ly/tentangwalis Telegram http://bit.ly/alistifadah JOIN مجموعة الاستفادة