Dari Dongeng Jadi Nyata
Ternyata, cerita ibuk semalam tentang raksasa Kolo-Kolo yang pemarah, cukup berkesan buat kakak. Hari ini terlewati tanpa drama emosional yang berarti.
Setiap kali nada suara kakak mulai meninggi, ibuk tinggal ingatkan pada Kolo-Kolo. Kakak pun segera memperbaiki intonasinya atau menjelaskan kalau dia bukan marah. Hanya memberi tahu, hihihi. Atau jika ibuk mulai mengomel, ibuk pun jadi teringat tidak mau jadi Kolo-Kolo.
Saya mengenal diri saya. Jika tidak ada tekanan yang berarti (terutama pekerjaan, baik pekerjaan pribadi maupun pekerjaan sosial), saya bisa stay cool saat seharusnya marah. Ini PR saya. Saya harus bisa melepaskan diri dari pekerjaan saat bersama dengan anak-anak. Terutama memikirkan pekerjaan tersebut.
Buat saya ini tantangan yang lumayan berat karena saya tipikal pemikir dan perfeksionis. Namun demi anak-anak, saya haruslah yang lebih dulu memperbaiki diri. Buktinya saat saya tidak kemrungsung, anak-anak juga tidak banyak drama. Kalaupun ada, respon saya masih wajar.
Terima kasih ya, Kak. Bersamamu ibuk belajar lagi mengenali emosi dan mengaturnya. Jangan biarkan diri dikuasai emosi karena seaungguhnya dirilah pengatur emosi. Kita bisa memilih menjadi marah atau tidak marah, bahagia atau sedih, takut atau berani pada setiap situasi yang kita hadapi.











