Aku pernah mendengar seseorang berkata bahwa, "merasa cukup hanya untuk orang-orang lemah yang selalu mudah merasa puas." Seakan-akan manusia diciptakan untuk terus berambisi dalam hidupnya.
Tapi bagiku, cukup adalah sebuah titik tengah, ketika aku berada diantara penatnya dunia. Bagiku, cukup adalah ketika aku merasa tenang, diantara bisingnya kepalaku.
Ketika manusia terlalu banyak berambisi untuk banyak hal, tak jarang Ia jadi lupa bahwasannya dunia hanyalah tempat persinggahan. Seringkali aku juga diingatkan bahwa, merasa cukup bukan berarti kita tidak berusaha semaksimal mungkin. Tapi merasa cukup karena manusia ada ambang batasnya.
Manusia selalu punya porsi untuk menjadi yang terbaik dalam hidupnya. Tetapi jangan lupa untuk mengingat bahwa menjadi baik tidak hanya untuk manusia lain, tapi juga untuk Sang Pencipta.
Ini jadi pengingat untuk aku, agar tidak terlalu sibuk berlomba-lomba mencari validasi dari manusia lain. Tapi aku juga harus sadar bahwa hidupku berputar atas izin-Nya, maka apa yang terjadi pada hari ini, detik ini, dan menit ini semua adalah kehendak-Nya.
Berusaha dan berikhtiar adalah perintah-Nya, tapi memaksakan kehendak-Nya sama dengan menjadi manusia yang kufur dan tidak tahu terima kasih. Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang terus sabar dan bertawakkal atas setiap ujian dalam hidup. Tidak lupa senantiasa mengucap syukur dan merasa cukup atas nikmat yang tidak pernah habis diberikan.
"Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya." â Q.S. Yasin (36:40)