Fosil: Potongan-potongan Cerita yang Tak Selesai
Kita bisa belajar dari mana pun dan dari kapan pun. Khusus evolusi, paling bagus memang belajar di Jerman, tepatnya di Ludwig Maximilians University, hahaha. Terlepas dari judulnya yang dramatis, di sini aku sesungguhnya cuma ingin sedikit berbagi tentang catatan kuliahku selama di sini yang kuanggap menarik untuk awam. Mungkin bisa dibilang āmencicilā balas jasaku sekolah pakai uang negara. Yah, langsung saja.
Oke, jadi kita bisa belajar dari mana pun dan kapan pun. Di sini, aku ingin lebih menekankan bagian ākapan punā. Ada alasan pelajaran sejarah diciptakan. Ada alasan praktikum pakai log book. Ada alasan administrasi harus rangkap sepuluh (oke ini lebay). Ada alasan untuk rekaman-rekaman masa lalu yang diizinkan Allah untuk ada, termasuk fosil. Ya, aku ingin cerita sesuatu tentang fosil, salah satu dari rekaman-rekaman kejadian masa lalu yang diizinkan Allah ada selama ratusan juta tahun agar manusia mau belajar.
Apa itu fosil? Fosil adalah seluruh sisa atau bukti tentang keberadaan dari suatu makhluk hidup. Proses-proses geologis membuat mereka membatu dan tertanam di dalam tanah. Umumnya, fosil ditemukan dalam endapan, atau sedimen. Aku sangat suka benda satu ini karena ia adalah pertemuan antara Biologi dan Geologi. Ketika proses-proses fisika dan kimia mengambil alih proses metabolisme tubuh yang telah selesai, ketika itulah fosil terbentuk. Mineralisasi. Mungkin itu istilah kerennya. tapi aku tidak akan cerita lebih jauh tentang ini.
Mengambil bahasa awam,Ā āpercaya dengan Teori Evolusiā bisa dimulai dari fosil. Terutama jika kamu tidak percaya bahwa Bumi berusia lebih dari 4 milyar tahun. Fosil-fosil yang memiliki usia lebih dari 400 juta tahun yang lalu selalu ditemukan dalam sedimen laut. Bagaimana tahu umur fosil? Silakan japri karena itu tidak termasuk dalam tulisan ini hahaha. Intinya, berdasarkan fosil dan informasi tentang umur mereka serta lokasi mereka ditemukan, para peneliti sepakat untuk mengatakan bahwa bentuk-bentuk kehidupan pertama berasal dari laut.
Berdasarkan umurnya, tampak bahwa kehidupan mengambil bentuk yang lebih rumit seiring berjalannya waktu. Contoh, sekitar 3,5 milyar tahun yang lalu (ātidak lamaā setelah Bumi selesai dibentuk), beberapa koloni bakteri ganggang hijau biru (Cyanobacteria) berhasil diawetkan oleh alam. Beberapa bentuk hidup dengan jumlah sel yang lebih banyak dari bakteri ditemukan dalam lapisan Bumi yang berusia lebih muda beberapa ratus juta tahun.
Karena profesor yang memberikan kuliah adalah ahli paleobotani (fosil tumbuhan), maka cerita yang dia berikan lebih banyak berkisar kepada bukti-bukti ātumbuhan pertamaā. Sekitar 472 sampai 436 juta tahun yang lalu, para penggali fosil mengira mereka telah menemukan tumbuhan pertama. Fosil yang mereka temukan ini aneh. Bentuknya tabung dan memiliki pembuluh laiknya pohon, sel-selnya menebal seperti sel-sel tumbuhan, dan di sekitar fosil ini ada struktur mirip spora. Namun, seperti catatan semua fosil lainnya, mereka tidak berani mengatakan dengan yakin identitas fosil ini. Apakah ini semacam jamur? Alga? Tumbuhan paku? Mereka menamainya Nematophyta dan benda ini masih jadi enigma hingga kini.Ā
Boleh saja kalau kamu mau mengatakan ini peninggalan Transformers ketika dulu sekali mereka berkunjung ke Bumi. Kelemahan fosil adalah kita tidak pernah yakin apa yang kita temukan. Mereka sangat sulit ditemukan dan jika pun terawetkan, jarang sekali satu organisme lengkap. Fosil yang paling umum ditemukan ada dalam bentuk fragmen dan kalo udah gitu, gimana bisa tahu pasti bentuk utuhnya? Fosil satu makhluk hidup yang utuh adalah mimpi para penggali fosil. Kalau begitu, struktur yang ada di film-film itu apa? Itu rekaan manusia berdasarkan apa yang diizinkan hukum-hukum fisika. Ilmu yang khusus mempelajari hal semacam ini adalah Morfologi Fungsional.
Satu-satunya fosil yang disepakati sebagai tumbuhan berpembuluh pertama berasal dari 420 juta tahun yang lalu dan dinamai Cooksonia. Setelah itu, diduga Bumi menghijau untuk pertama kalinya. Fosil hewan pertama baru muncul di lapisan Bumi dari 360 juta tahun yang lalu. Bisa dikatakan ada ledakan kemunculan yang sangatĀ āsingkatā yang terjadi pada hewan.
Semua informasi ini berasal dari fosil. Dan tidak semua fosil bentuknya tulang belulang. Dalam dunia paleobotani, dikenal apa yang disebut dengan impresi, kompresi, mold-and-casts, dan permineralisasi. Yang terakhir ini adalah awetan utuh tumbuhan karena kebetulan calon fosil terendam dalam cairan dengan kandungan mineral tinggi yang dapat mengawetkan tumbuhan sampai ke dalam-dalamnya. Sisanya, tumbuhanĀ ātercetakā di sedimen, tanpa (impresi) atau dengan (kompresi) sedikit materi organik tertinggal dalam cetakan tersebut. Mold-and-cast adalah cetakan eksternal tumbuhan yang terisi sedimen lain seiring waktu sehingga membentuk cetakan positif dari tumbuhan tersebut.
Perjalanan belum berhenti ketika fosil ditemukan dan diketahui tanggalnya; mereka harus dinamai. Mengapa harus dinamai? Kita perlu tahu identitas mereka sehingga ketika kita membicarakan mereka, kita tahu kita sedang merujuk ke satu entitas yang sama. Di sinilah konsep spesies mulai pelik untuk para paleontolog. Karena mereka tidak punya apa pun selain fosil, spesies dibedakan hanya berdasarkan morfologinya, dan ini sangat-sangat rancu. Apa yang tampak bervariasi setelah menjadi fosil belum tentu berasal dari spesies yang berbeda semasa hidup. Contoh mudah: ada berbagai variasi anjing dan mereka hanya punya satu nama ilmiah. Bukan tidak mungkin kalo Bumi masih diberi umur sampai beberapa ratus juta tahun lagi dan umat manusia saat ini kena perang besar (Armageddon), paleontolog masa depan akan mengira ada banyak spesies anjing.
Dalam fosil, ada banyak cerita yang tak selesai, dan itu hanya karena karakteristik dari fosil itu sendiri. Kita tidak bisa menyimpulkan apa pun dengan 100% kepastian berdasarkan fosil-fosil ini. Para peneliti, dengan segala kerendahan hati mereka, menjaga agar selalu ada ruang terbuka untuk penjelasan lain, sambil pelan-pelan mengais fragmen-fragmen tambahan yang Allah izinkan mereka temukan.
Mereka ulang masa lalu tidak mudah. Kita hanya bisa menduga berbagai kemungkinan berdasarkan apa yang ada, dan fosil ada sebagai sangga-sangga kerangka cerita kita, telah atau menunggu ditemukan.