Salahsatu amal yang paling menguntungkan untuk investasi kehidupan kita di dunia dan akherat karena akan terus menghasilkan limpahan pahala meski usia kita sudah tiada adalah amal jariah. perbuatan baik dan bermanfaat yang akan terus menerus tercatat. amal jariyah tidak sesempit kita menganggap hanya uang kencleng yang kita masukkan ke kotak yang sedang bergerak di masjid ketika jumatan. amal jariyah, yang saya pahami, adalah bentuk apapun dari karya atau produktifitas kita yang mempunyai nilai manfaat yang berkelanjutan untuk umat manusia.
Untuk lebih jelasnya, kita ambil contoh sederhana berupa lampu bohlam. kalau kita cermati dan maknai dalam-dalam, betapa sebuah lampu bohlam itu telah merevolusi cara kita hidup di waktu malam. kita dapati bahwa pengaruhnyadalam mengubah cara orang hidup sangatlah luar biasa. jika dibandingkan, cara hidup orang sebelum dan setelah ditemukannya bohlam berubah luar biasa. bohlam memungkinkan orang beraktivitas bebas di malam hari, setelah sebelumnya terkendala oleh kegelapan. produktivitas manusia meningkat, orang tidur lebih malam, keluarga dan komunitas bisa punya waktu bercengkrama lebih banyak, dengan segala implikasinya.
Siapa yang mengira lampu bohlam bisa sedahsyat itu merubah cara hidup kita, yang bisa jadi penemunya sekalipun tidak memaksudkan atau memikirkan bahwa bohlam akan seperti itu. mungkin penemunya hanya tertarik dengan bohlam. tetapi lihat pengaruh yang ditimbulkan oleh penemuannya itu. inilah yang saya maksud dengan amal jariah, amal yang tak terputus-putus itu, sebuah amal atau kerja yang bernilai manfaat lebih untuk kehidupan. amal jariyah bisa berupa apapun, penemuan, karya tulis, riset ilmiah, resep makanan (kita tau tahu dan tempe, bala-bala, gehu dan gorengan lainnya? berapa juta orang yang hidup dari jualan gorengan. *Hehe, #lebay), dlsb.
Jadi, buat lah diri kita berguna dengan terus berkarya, karena tidak ada yang tahu, karya kita yang mana yang akan menyelamatkan kita dan menjadi hujah di akhirat kelak ketika Allah bertanya, untuk apa kau gunakan usiamu itu? setidaknya, dengan berkarya, kita merasa hidup kita lebih berarti. bukankah manusia sangat menyukai perasaan semacam itu?
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Biasa disebut “fundamental research” atau “basic science”, penelitian ilmu murni sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat awam dan pemerintah (tapi lihat dana DIPI buat apa yeah). Ketika aku bilang aku belajar Evolusi, Ekologi, dan Sistematik, biasanya rawan cecaran kerabat dan handai taulan “itu duitnya darimana” atau “apa itu bisa buat beli lombok”, #garukpaper
Jadi, setelah usai depresi, tak lama aku menemukan rekan sejawat yang mengungkapkan betapa pentingnya penelitian ilmu murni. Penelitian ilmu murni memungkinkan kita ketemu WiFi, AIDS ada obatnya, dan kulit manggis ada ekstraknya. Penemuan baru tentang konsep dasar memungkinkan solusi baru untuk masalah lama. Ada proyek menarik tentang mengumpulkan penelitian ilmu murni yang berujung kepada terapan di sini.
Walau tidak langsung, ilmu sains murni juga membantu kita melihat masalah dari sudut pandang baru, atau menyiapkan otak kita untuk menjawab tantangan baru. Terlalu lama berpikir ke arah sains terapan, biasanya orang akan bingung ketika masalah baru muncul karena tidak biasa berpikir mengenai konsep dasar dari ilmu terapan yang selama ini dia pakai. Bisa kukatakan contoh umumnya adalah pelajar yang terlalu sering pakai rumus cepat dari bimbel. Begitu ketemu masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan rumus cepat langsung bingung, padahal itu bisa diselesaikan kalau saja pelajar itu tahu bagaimana rumus cepat itu bisa terjadi.
Penelitian ilmu murni jarang terencana dan rencana penelitian kadang timbul ketika sedang melakukan penelitian atau mendapat hasil sementara. Sayangnya, masyarakat umumnya tidak mengerti pentingnya proses yang lama untuk memahami sesuatu. Di dunia yang makin serba cepat ini, penting untuk sesekali melambatkan jalan, berpikir, dan mengerti sesuatu secara utuh alih setengah.
Ada sensasi aneh ketika aku melihat seorang temanku, sebut saja Satya, berdiri untuk yang kesekian kalinya caturwulan itu di depan barisan upacara. Dia dan beberapa anak lain di SDku sedang menyerahkan piala kepada kepala sekolah hasil mereka memenangi lomba. Juara Bahasa Inggris, Melukis, Menari, semua ada. Namun, yang paling sering menampakkan wajahnya di sana adalah Satya, si juara tenis. Mulai saat itu, aku mempertanyakan makna nilai-nilai rapotku yang di atas rata-rata. Aku merasa, selain kemampuan akademikku, aku tidak berbakat di hal lain.
Sensasi ini terulang terus hingga aku duduk di bangku kuliah. Aku merasa tidak memiliki kelebihan selain nilai-nilaiku. Bahkan kecemerlangan akademikku adalah upayaku mengompensasi ketiadaan bakat ekstra dalam diriku. Pernah sesekali aku mencoba hal baru. Aku pernah mencoba belajar bermain gitar, menggesek biola, berenang, atau seni tari. Aku bisa melakukan semua hal tersebut pada akhirnya, tapi aku tidak mahir. Aku kemudian berhenti dan memiliki separuh dari setiap keahlian. Aku pun menyadari mengapa: aku melakukan hal-hal ini bukan karena aku menikmatinya.
Aku melakukan hal-hal itu hanya karena aku ingin membuktikan sesuatu. Aku ingin membuktikan bahwa aku punya bakat ekstra. Namun, aku tidak benar-benar menikmatinya. Lama-kelamaan aku melupakan kegelisahanku ini, tapi tidak pernah benar-benar merasa nyaman.
Aku mencoba melakukan hal-hal yang kusuka saja. Aku membaca dan menulis. Sesuatu yang menurutku bisa dilakukan semua orang. Hanya itu yang kulakukan dengan baik, namun aku menikmatinya. Buku-buku yang kubaca berkisar dari novel fantasi ringan sampai dengan buku teks kuliah. Aku suka membaca. Lalu, aku menuliskan ideku secara acak di buku catatan. Beberapa menjadi sesuatu, entah itu pendanaan kegiatan atau memenangi kompetisi menulis, sementara beberapa hanya untuk menyebar ideku ke teman-temanku.
Selain itu, aku mencoba untuk hidup mengikuti kata hatiku. Aku memilih mata kuliah, tempat jalan-jalan, unit kegiatan, semua dengan hati. Aku memilihnya bukan karena harus, tapi karena ingin. Lama-kelamaan aku melihat diriku yang sesungguhnya di lapangan. Aku senang melakukan penelitian terhadap satwa dan tumbuhan hutan, menyelami kehidupan penduduk lokal yang hidup di antara keragaman hayati, dan melakukan perjalanan jauh. Aku mungkin tidak ahli bermain musik atau jago olahraga, tapi aku menikmati melakukannya sesekali untuk hiburan ringan. Saat ini, aku menyadari bahwa aku lebih bahagia karena mampu mendengarkan diriku sendiri.
Aku memang mendengarkan diri sendiri namun kemudian menutup diri sama sekali terhadap perkataan orang lain. Aku melakukan sesuatu karena aku menyukainya. Aku tidak peduli apa kata orang. Tak jarang aku menabrak norma dan nilai umum ketika melakukannya. Aku menjadi diriku sendiri, namun hanya diriku.
Suatu saat aku dipercaya mengerjakan penelitian di salah satu hutan hujan tropis terpencil di sisi barat Indonesia. Aku melakukan inventarisasi kelelawar di Pulau Siberut. Di sana, aku bertemu dengan orang yang sama sekali berbeda. Masih Indonesia, tapi bukan Indonesia. Tempat ini seperti memiliki ruang dan waktunya sendiri. Ketika mereka mengatakan akan mencari makan, mereka benar-benar ke ladang atau menyelam dan memancing. Ketika mereka mengatakan akan membangun rumah, mereka benar-benar menyusun dan memalu kayu-kayu rumah mereka sendiri. Dengan pola hidup yang sedemikian berbeda, mereka memiliki pola pikir yang berbeda pula.
Awalnya aku tidak peduli. Aku bekerja sesuai prosedur. Aku berinteraksi seperti umumnya aku di daerah asalku. Aku melakukan segala sesuatu seperlunya, sampai seorang teman setim memanggilku dan mengajakku bicara pada suatu malam.
Dia memprotes caraku berinteraksi. Aku mendengarkan bagaimana kebiasaan burukku untuk tidak mandi lebih dari dua hari mengganggu tuan rumah. Aku mendengarkan betapa porsi makanku memberatkan persiapan logistik. Dia juga menyesalkan ketidakpekaanku terhadap kamar yang berantakan juga keluhan tak langsung dari pemanduku yang merasa pekerjaan yang kuberikan memberatkan. Saat itu adalah pertama kalinya aku mendengarkan selain diriku sendiri.
Saat itu kemudian aku menyadari bahwa aku memang nyaman menjadi diriku sendiri, namun aku tidak ingin mengecewakan orang lain. Aku memandang segala sesuatunya positif, namun ternyata hal itu menghilangkan kepekaanku terhadap sekitar. Setelah mendengarkannya, aku bertekad berubah.
Aku pun belajar banyak dari kehidupanku di Siberut selama dua bulan itu. Aku menyadari bahwa walaupun nilai-nilaiku bagus atau pemikiranku kritis, aku tidak pernah benar-benar peduli dengan orang lain. Sudut pandang mereka yang berbeda pun memperkaya diriku ketika aku mendengarkan mereka. Aku berinteraksi dan belajar. Itulah sukses terbesar dalam hidupku, ketika aku mampu menjadi diriku seutuhnya. Ketika aku mampu mendengarkan diriku sendiri dan orang lain.
Semarang, 23 Januari 2015
Sabhrina Gita Aninta
Ini adalah esai yang kutulis dalam rangka mengikuti tahap pertama seleksi beasiswa LPDP untuk topik “Sukses Terbesar Dalam Hidupku”. Tanggal penulisan sama dengan esai kedua karena penyuntingan akhir dilakukan bersama. Menakjubkan betapa membaca tulisan lama terasa seperti mesin waktu. Aku merasa berbicara dengan diriku sendiri pada masa lalu, yang mengingatkanku kepada sisi terbaik hidupku yang biasa-biasa saja ini dan bagaimana membuatnya tampak luar biasa. I love you, my old self.
Ketika aku mengatakan bahwa aku lahir di Indonesia, aku tidak hanya bicara tentang fisikku yang pertama kali mewujud di Pulau Jawa. Aku juga membicarakan setiap elemen kepribadianku saat ini yang ikut dibentuk oleh keadaan di Indonesia. Hal ini berlaku mulai dari perilaku mengomel ibuku karena harga barang yang terus naik, sampai kemudahan mendapatkan gelar sarjana dari salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia.
Pribadi ini, tidak hanya kudapatkan dari interaksi dengan sesama manusia, tapi juga bentuk kehidupan yang lain. Pengalaman aku selama empat tahun sebagai mahasiswi Biologi yang memusatkan minat di ekologi mulai membuka mataku. Aku pun menyadari peranan yang mau kuambil bagi Indonesia. Peranan yang menurutku tidak hanya penting bagi Indonesia, melainkan Bumi.
Sebagai negara kepulauan terbesar yang memiliki iklim tropis, Indonesia memliki kekayaan hayati yang unik. Spesies endemik dapat ditemukan di setiap pulau dan setiap area memiliki karakteristik ekosistem masing-masing. Indonesia juga terletak di pertemuan lempeng-lempeng benua sehingga rawan bencana alam. Kondisi ini kemudian menambah dinamika yang dialami oleh spesies-spesies di Indonesia. Kekayaan spesies ini adalah sumber makanan yang kita nikmati tiap hari, juga apa yang membuat air dan udara bersih di sekitar kita.
Kekayaan ini kemudian terancam karena pembangunan jangka pendek yang kurang memerhatikan aspek lingkungan. Reklamasi pantai untuk penambahan resor, pembangunan permukiman di area cekungan, dan pembukaan lahan untuk meningkatkan produksi pangan tanpa analisis lingkungan yang memadai merupakan beberapa contoh skema pembangunan yang egois. Padahal, ketika manusia gagal memerhatikan lingkungan sebagai faktor penting dalam kehidupan mereka, lingkungan pun tidak akan segan mengingatkan. Banjir, longsor, dan serangan hewan liar ke permukiman manusia pun menjadi teguran.
Punahnya harimau jawa adalah sebuah contoh. Sebagai predator utama Pulau Jawa, hewan ini bertugas mengontrol populasi herbivora besar di habitatnya. Kegiatan perburuan yang marak pun memusnahkan spesies ini dari Pulau Jawa dan akibatnya dialami para petani di Jawa saat ini: serangan babi hutan. Ketiadaan predator membuat spesies pemakan segala ini leluasa berkembang biak, mencerabut singkong dan tanaman sayur dari ladang warga.
Alasan semacam ini terjadi di luar Jawa untuk alasan yang berbeda. Orangutan di Kalimantan menyambangi perkebunan kelapa sawit sementara gajah di Sumatera menyerang permukiman warga. Mengapa? Karena habitat mereka berkurang. Sumber makanan mereka berkurang. Lalu, mereka terdesak untuk mencari tempat makan dan tempat tinggal di area manusia. Mereka tidak bisa disalahkan karena ada lebih dulu di area tersebut dibandingkan manusia. Namun, konflik tidak bisa dihindari. Penduduk yang bergantung langsung kepada sumber daya alam sebagai penghidupannya harus berhadapan dengan hal ini setiap harinya sementara negara masih sibuk dengan hal lain yang langsung berkaitan dengan kehidupan mayoritas rakyat semisal harga barang dan kriminalitas.
Ini hanyalah satu contoh dari sekian banyak contoh permasalahan hayati di Indonesia. Dari sini, aku melihat Indonesia membutuhkan lebih banyak generasi muda yang mau mengerjakan bagian tersebut. Bagian yang bersedia bekerja untuk pembangunan yang holistik dan memerhatikan aspek kekayaan hayati. Mereka yang dapat menjelaskan mengapa populasi ulat bulu meledak atau mengapa tangkapan nelayan berkurang.
Setiap orang memiliki perang mereka masing-masing. Kita bisa saling membantu dengan memenangkan bagian kita. Aku berniat memenangkan perangku di bidang konservasi dan membantu Indonesia mengelola sumber daya hayatinya. Itulah peranku bagi Indonesia.
Semarang, 23 Januari 2015
Sabhrina Gita Aninta
Esai ini ditulis dalam rangka mengikuti tahap pertama seleksi penerima beasiswa LPDP untuk master luar negeri untuk .tema “Peranku Bagi Indonesia”. Sangat sulit pada awalnya. Aku tidak tahu apa yang mau kulakukan dengan minat di bidang yang bukan pilihan favorit pasar dunia. Namun, setelah lama berpikir, aku bangga dengan visi dan minatku sendiri yang tidak bergantung kepada paradigma umum masyarakat Indonesia. Walau tidak banyak diperhatikan, isu ekologis merupakan masalah penting dan kita adalah satu dari sedikit negara yang dikaruniai alam yang kaya. Lalu, lahirlah tulisan ini.
Jujur, aku telah lama melupakan esai ini setelah aku lolos menjadi penerima beasiswa LPDP Maret 2015 ini. Aku bertemu dengan banyak rekan yang sudah berkontribusi langsung terhadap masyarakat dalam skala yang lebih besar dariku dan aku malu dengan diriku sendiri. Aku stres belum melakukan apa pun dengan usiaku yang sekarang. Lalu, aku menemukan kembali tulisan ini karena temanku yang meminta referensi untuk mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Aku menyadari bahwa semua orang punya prosesnya masing-masing dan tidak pernah bisa saling dibandingkan.
N.B.: Siapa pun yang mau referensi, jangan repot-repot plagiat karena LPDP punya software yang bisa deteksi plagiat dari esai sebelumnya meski hanya separagraf. Ketahuan, dan berkasmu langsung dibuang dari daftar. So, good luck!
Sebagai warga negara baik-baik, tentu aku kawatir ketika tiga sosok perempuan berseragam menghampiriku di bandara. Apa mereka menemukan barang tak wajar di bagasiku atau bagaimana? Ternyata salah satunya memintakan izin temannya yang sedang hamil agar dapat berfoto dengan pria Kaukasian yang duduk di sebelahku karena mengira aku temannya.
“Err... they want to take picture with you, if you are okay,” kataku kepadanya sambil tertunduk antara ragu dan malu.
Ketika dia tidak keberatan maka wanita yang tampaknya masih di trimester kedua itu langsung duduk dengan riang di sebelahnya sambil menyodorkan gawainya ke temannya yang tadi bicara denganku. Kupikir memang orang hamil ngidam aneh-aneh. Aku pernah dengar satu artis yang ketika hamil ngidam nonton Tora Sudiro. Temanku bahkan ada yang cerita ibunya ngidam beras. Beras, bukan nasi. Jadi, berfoto dengan bule (orang asing berkulit putih, red) semacam barusan mungkin termasuk “wajar”.
Dan bule itu? Dia Paul, mahasiswa PhD Inggris yang berangkat bersamaku ke Jayapura untuk survei awal proyek echidna di Pegunungan Cyclops. Dia memberitahuku bahwa orang tadi adalah yang keempat mengajaknya berfoto bersama selama dia di Indonesia. Padahal dia baru berkunjung ke Bogor dan Jakarta.
“Maybe it’s because I’m tall.” ujarnya sambil mengangkat bahu ketika kami sama-sama penasaran dengan kelakuan barusan.
Kupikir itu bisa satu sebab. Sebab lain, yang aku lega dia tidak merasakannya (atau mungkin dia merasakan tapi tidak mengatakan), adalah aura fanatisme orang Indonesia terhadap kehadiran orang asing, terutama yang berkulit putih.
Waktu itu, aku belum menghabiskan dua minggu berkeliling Jayapura dengan Paul sehingga aku merasa dia sangat asing, mencolok, dan “sesuatu”. Aku mengatakan kekawatiranku bahwa dia akan sangat mencolok ketika kami berpergian di tanah Papua yang berisi mayoritas orang-orang yang berkulit lebih gelap. Dia bilang dia menyadari konsekuensinya akan beragam, dan benar saja: aku menghitung kira-kira ada lebih dari setengah lusin orang yang ingin berfoto bersamanya selama dia di Jayapura, dan aku kehilangan hitungan akan berapa banyak orang yang menyapa “Hi Mister!” selama 14 hari perjalanan kami. Dari biasa saja, lama kelamaan aku jadi agak malu. Pria ini hanya selisih warna kulit dan bahasa; mengapa ia tampak begitu spesial di mata mayoritas orang di Jayapura? Mengapa orang senang mengambil foto mereka bersamanya, bahkan memberinya beberapa barang? (Dia dapat sekitar tiga batu akik Papua sepanjang perjalanan kami)
Inferiority complex. Itu jawaban Andi Ihsandi dalam tulisannya di kompasiana terkait hal ini. Apa itu inferiority complex? Karena berasal dari bahasa Inggris, aku akan memberikan pengertiannya dalam bahasa Inggris:
Inferiority complex, a psychological sense of inferiority that is wholly or partly unconscious. The term has been used by some psychiatrists and psychologists, particularly the followers of the early psychoanalyst Alfred Adler, who held that many neurotic symptoms could be traced to overcompensation for this feeling. The use of the word complex later gained acceptance to denote the group of emotionally toned ideas, partially or even wholly repressed, organized around and related to such feelings of inferiority. The term inferiority complex has lost much of its significance through imprecise popular misuse—for example, as an inappropriately facile explanation of any show of ambition by a person of less-than-average height. (Encyclopædia Britannica, 2013)
Menilik dari tulisan Andi di kompasiana, “overcompensation” itu diekspresikan dalam bentuk kebanggaan berlebihan sebagai orang Indonesia jika ada seorang warga negara yang berprestasi, atau situs alam Indonesia mendapat penghargaan, padahal orang yang sedang berbangga ini praktis tidak menyumbang apa-apa dalam hal yang dia banggakan itu. Dia bahkan menyinggung akun Twitter @GNFI (Good News for Indonesia) yang terus “menggembar-gemborkan hal apapun yang berbau Indonesia”.
Aku sepakat dengan apa yang diungkapkan penulis kompasiana itu... sampai aku membaca kekawatirannya bahwa orang Indonesia akan semakin minder jika terbiasa memiliki rasa bangga berlebih hanya karena mendompleng prestasi yang bukan miliknya. Kekawatiran ini, menurutku, adalah bukti bahwa dia sendiri tidak percaya bahwa orang Indonesia akan berhenti dari perilaku tersebut. Pada akhirnya dia pun menyatakan bahwa membanggakan orang lain boleh asal tidak berlebihan.
Alfred Adler sendiri dalam tulisannya “The Science of Living” (2013), menyatakan:
“Everyone (...) has a feeling of inferiority. But the feeling of inferiority is not a disease; it is rather a stimulant to healthy, normal striving and development. It becomes a pathological condition only when the sense of inadequacy overwhelms the individual and, far from stimulating him to useful activity, makes him depressed and incapable of development.”
Perasaan inferior itu bukan penyakit, melainkan stimulan untuk perkembangan dan perjuangan hidup yang sehat dan normal. Ia hanya berbahaya jika perasaan tidak cukup itu, alih-alih membuat individu berkembang, justru membuatnya depresi dan merasa tidak mampu berkembang. Contohnya, salah satu supir rental kami, Bang Nasir, mencoba belajar berbahasa Inggris ketika bicara dengan Paul padahal Paul ingin belajar berbahasa Indonesia. Karena masing-masing belum cukup ahli dalam bidang yang sedang mereka pelajari, keinginan berbahasa Inggris ini menjadi aktivitas yang produktif untuk Bang Nasir.
Namun, setelah Paul pulang seminggu yang lalu, tampaknya Bang Nasir pun mulai berhenti belajar bahasa Inggris. Lagipula, nyaris tak satupun orang Jayapura yang mengajak Paul berfoto bersama menanyakan namanya. Mengapa kita tidak menganggap orang Indonesia sedang mengeksploitasi Paul alih-alih mengatakan orang Indonesia inferior? :p
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Memang banyak yang bilang 1 Juni sebenarnya bukan ulang tahun Pancasila. Ini karena Pancasila yang diusulkan Ir. Soekarno tanggal 1 Juni 1945 isinya tidak persis sama dengan Pancasila yang diucapkan setiap upacara bendera di sekolah-sekolah. Namun itu tidak penting, karena toh istilah itu muncul tanggal itu. Setelah itu, Pancasila berkembang, sama seperti bayi bertumbuh jadi besar. Bentuknya berbeda, tapi jiwanya tetap sama: landasan negara dengan aspek ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan.
Sekarang aku menyadari pentingnya upacara-upacara tersebut untuk mengingatkan identitas Indonesia kepada kita. Setelah upacara-upacara itu tidak lagi kualami, perasaan khidmat setiap hari nasional itu sering hilang. Pawai mahasiswa, kajian, tidak ada yang membantu. Ada yang berbeda.
Aku tidak akan memasalahkan kapan kamu lahir, tapi kapan kamu dipakai, Pancasila. Sebagai dasar negara, pondasi semua kegiatan dalam negara. Tapi tidak, kita semua terpecah belah dalam ideologi masing-masing, menganggap pengguna Pancasila freak. Banyak yang liberal, sosialis, dan lain-lain. Ideologi memang hak setiap pribadi. Namun, penting untuk memahami Pancasila sebagai ideologi negara, sama halnya dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Pancasila adalah ideologi nasional; Pancasila berusaha menyatukan pribadi dengan ideologi yang berbeda ketika pelaksanaan kegiatan kenegaraan. Pancasila adalah jembatan.
Lucu sekali ada yang bilang ideologi Pancasila = kafir. Ideologi bukanlah agama. Memang dia memberikan arahan hidup, tapi dia hanyalah sistem konsep. Dia hanya asas berpendapat. Sama seperti Budha, yang sebenarnya bukan agama, jika menilik kepada KBBI yang memuat aspek “Tuhan” dalam agama (ini aku dengar dari teman Budhaku sendiri, jadi aku harap aku tidak terlalu sok tahu tentang ini :p). Aku tetap punya cara hidup Islam, sambil mengadaptasi Pancasila dalam kehidupan bernegara. Jiwa Pancasila adalah separuh ajaran Islam. Apakah ada yang mendapati sila Pancasila yang bertentangan dengan agama Islam?
Salah Paham
Mereka yang tidak mengerti Pancasila, akan terus mengritisi hal ini tidak sesuai dengan Indonesia. Susah memang memberi dasar hidup bagi sesuatu yang terus berubah: manusia. Namun negara berdiri dengan satu tujuan, yang sudah ditetapkan sejak berdirinya. Jika ingin tetap Indonesia, hal itulah yang harus dijaga. Jika hal tersebut tidak dijaga, waktunya negara Indonesia dibubarkan, diganti bentuk lain. Aku tidak sedang berusaha memecah belah kita semua, organisasi hadir dengan sistem seperti itu bukan?
Salah paham arti sila sering dialami pada sila pertama Pancasila: Ketuhanan yang Maha Esa… Kenapa esa? Jika ingin memaknai bahwa Tuhan yang dianut harus hanya satu, mengapa tidak memakai kata “eka”? Esa memiliki arti lebih kepada “pasti ada”. Jadi bukan Tuhannya yang harus satu, tapi sifat-sifat luhur Tuhan yang harus ada dan menjiwai sila-sila Pancasila. Tuhan milik agama mana pun dalam masyarakat Indonesia. Apakah penggusuran dan pembunuhan merupakan sifat Tuhan? Apakah jika Tuhan membiarkan semua agama ada, kita berhak berusaha menghapusnya?
Sila-sila lain bagaimana?
Yang menjadi perhatianku adalah sila ketiga: Persatuan Indonesia. Jika setiap gerakan nasional, baik dalam bentuk partai politik maupun gerakan mahasiswa, masih mengutamakan arogansi, bagaimana kita bisa bersatu? Nggak usah jauh-jauh parpol deh, arogansi divisi dalam kepanitiaan aja itu sudah contoh buruk. Bagaimana jadinya pemerintahan ketika angkatanku nanti, jika setiap individu masih suka menonjolkan golongannya masing-masing dengan arogan? Ini harus segera dikurangi, sampai batas limit mendekati tidak ada.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mengapa keadilan sosial, bukan keadilan saja? Tampaknya pendiri negara kita ingin memastikan bahwa setiap individu mendapatkan hak dan kewajiban sebagai makhluk sosial. Agar tidak hidup individualis dan saling peduli. Adil secara sosial berarti tidak ada individu yang diperlakukan lebih rendah dai individu lain, begitu? Aku tidak mengerti Bapak-Bapak BPUPKI, dan ini berbahaya karena anak-cucumu tidak mengerti apa yang kau harapkan.
Pancasila memang sudah banyak terdegradasi dalam kehidupan bernegara. Jiwa Pancasila yang mulai rontok ini bisa dilihat dalam anggota DPR yang tidur ketika sidang, kecerobohan birokrasi yang dapat menyebabkan sengketa, otak-otak tak seide yang tidak mampu memahami kebutuhan masyarakat sehingga menumpuk PR rancangan undang-undang, dan lain-lain. Sayangnya ini kadang aku temui di kemahasiswaanku sendiri. Kita harus terus introspeksi dan sadar bahwa memang tidak ada yang sempurna. Apa yang harus kita lakukan?
Memperbaharui monumen Bung Karno di Ende memang baik sebagai momentual yang mengingatkan. Tapi aku tahu di balik cara resmi itu pasti ada uang keluar yang tidak perlu. Perbaikan makna Pancasila bisa kita lakukan tidak secara simbolik saja, tapi juga secara praktek. Sederhana saja: mulai dari menghargai perbedaan, mencoba mencari titik temu yang tepat, dan berhenti arogan. Kamu, kalian semua, boleh tidak setuju dengan semua yang aku katakan, mungkin memperbaiki opiniku, tapi kita akan tetap saling menghargai. Aku mungkin belum bisa, tapi hanya “belum", bukan “tidak". Semoga aku bisa melakukannya. Semoga kita semua bisa melakukannya.
Bagaimana perasaanmu ketika kamu hendak takbir dan solat, ada seseorang di sebelahmu dengan antusias mengambil fotomu dan foto tempat solatmu? Mendadak masjid yang kamu agungkan kesuciannya menjadi tujuan wisata, lengkap dengan sampah yang dibuang sembarangan dan ributnya turis dengan berbagai perilakunya?
Kaget tentu, tapi hal ini dialami saudara-saudari kita yang menganut agama yang jumlah penganutnya minoritas setiap tahun hari besar mereka. Banyak yang sadar meski terlambat; bukan terlambat namanya kalau perilaku wisatawan di Hari Waisak mewarnai News Feed Facebook, Twitter, Tumblr, atau jejaring sosial lain tahun ini.
Di Facebookku, untungnya tidak banyak yang pasang status hendak pergi ke candi-candi tersebut menjelang Waisak. Kebanyakan temanku merutuki kelakuan kawan-kawannya yang berniat memotret ritual peribadatan umat Budha tersebut seakan itu sebuah atraksi. Senang tidak salah pilih teman. Kebanyakan berusaha menyadarkan kelakuan turis-turis yang tidak sopan tersebut. Itu baik. Sayang agak terlambat.
Wisata religi memang ada, namun dilakukan sesuai aturan. Turis mengikuti aturan di tempat tersebut, misalnya perempuan yang bawahannya tidak sampai selutut wajib mengenakan sarung yang disediakan ketika hendak masuk Keraton atau Pura. Makam-makam hanya boleh dimasuki di waktu-waktu tertentu, dan semacamnya. Namun, berdasarkan kisah tentang perayaan Waisak dari teman-temanku, umat Budha cukup sabar akan penghinaan terhadap agamanya. Mereka setiap tahun mendapatkan perlakuan seperti itu, dan beritanya tidak pernah seramai Eyang Subur. Mengenaskan sekali.
Tak lama kemudian ada status temanku yang mengabarkan seputar kondisi muslim di barat dan tempat lain di mana muslim adalah minoritas. Mereka ditakuti, sering dilecehkan, mendapatkan fitnah, dan ketidakadilan. Kondisi yang familier sekali bukan di berita-berita? Agak mengingatkan dengan suatu kondisi?
Kondisi ini dialami umat Budha yang ramai dibicarakan akhir-akhir ini beserta seluruh penganut agama minoritas lain ketika mereka hendak beribadah. Berita kerusuhan ramai menjelang natal, walau tidak terlalu diekspos media. Mereka yang beragama minoritas terkungkung dalam kegelisahan ketika menjalankan ibadahnya. Hal yang tidak asing bukan? Kisah yang sama dialami kaum muslim pertama di jaman jahiliyah akhir, ketika kaum kafir Quraisy ramai-ramai mencari penganut muslim yang lemah secara nasab untuk disiksa dipaksa kembali menyembah berhala. Yang tidak mendapat gangguan hanya mereka yang beruntung dengan posisi sosial yang sulit diganggu, misalnya pejabat atau tokoh.
Layakkah kamu, menuntut keadilan bagi saudaramu sesama muslim, jika kamu sebagai seorang muslim tidak mampu menjaga keadilan bagi agama lain?
“God gave you a gift of 86,400 seconds today. Have you used one to say “thank you?”
— William A. Ward
Apakah kalian pernah merasakan ingin mengucapkan terima kasih, tapi kata "terima kasih" itu sendiri tampak tak cukup?
Itu terjadi padaku setiap seseorang melakukan sesuatu yang aku anggap sangat manis untukku. Berbeda orang mungkin berbeda cara. Bagi mereka mungkin kata-kata tidak penting, mungkin perut lebih penting. Untuk golongan ini aku biasa memberikan traktiran. Ada beberapa orang yang sangat sensitif terhadap literasi sehingga mengucapkan "makasih" sangat berarti untuk mereka. Ada yang mungkin merasa "terima kasih" tidak cukup sehingga mereka lebih suka rasa terima kasih itu tidak dikatakan.
Untuk mereka yang menghargai literasi, aku berusaha mengucapkannya dengan benar. Aku berusaha menggali kembali struktur bahasa dan makna kata untuk menghormati bahasa itu sendiri sehingga ucapan terima kasih itu memiliki maknanya.
Satu kasus, aku berkelana di mesin pencari dalam internet untuk mengetahui bagaimana cara mengucapkan terima kasih dengan benar dalam bahasa Inggris. Aku memakai kata kunci "gratitude expression in ancient English".
Mengapa harus ancient?
Susunan kata dalam kalimat-kalimat yang digunakan orang zaman dahulu selalu tampak lebih baik daripada susunan kata sekarang. Aku tidak tahu pasti, tapi menurutku orang ketika itu sangat menghormati kontak sosial. Aku pikir semua sepakat bahwa tema-tema dan pilihan kata dalam lagu zaman dahulu lebih bagus daripada lagu zaman sekarang.
Mengapa ya?
Mungkin juga karena komunikasi ketika itu sulit dalam jarak yang jauh sehingga orang sekarang mencari cara untuk menyampaikan banyak hal dalam waktu yang singkat. Bahasa mulai kehilangan tempatnya dalam dunia yang serba instan sekarang. Banyak makna yang salah, dan mereka yang berusaha memerbaikinya dianggap melakukan kekeliruan, atau bahkan lelucon.
Bahasa kita sudah hilang sekarang.
Ucapan terima kasih, yang adalah sesuatu yang berharga, tidak lagi memiliki makna berharga itu. "Terima kasih" di beberapa komunitas perkotaan, terutama yang sangat individualis, menjadi sesuatu yang tidak umum dan asing. Tidak ada kewajiban berbahasa di dunia yang makin instan ini sehingga makna "terima kasih", mungkin semakin bergeser, atau semakin mahal, atau semakin negatif. Yang terakhir tersebut menjadi perhatian saya sekarang.
Ketika Berterima kasih itu Buruk
Kalau tidak salah media pernah ramai memuat isu tentang gratifikasi. Konteksnya tidak terlalu jauh dari kasus-kasus korupsi yang melibatkan transfer dana sebagai ucapan terima kasih. Namun, gratifikasi adalah sebuah kata yang tidak Indonesia, jelas serapan dari bahasa asing, yang ternyata memiliki makna yang berbeda.
gratifikasi /gra·ti·fi·ka·si/ n uang hadiah kpd pegawai di luar gaji yg telah ditentukan
- KBBI online
Definition of GRATIFICATION
1: reward, recompense; especially : gratuity 2: the act of gratifying : the state of being gratified 3: a source of satisfaction or pleasure
- Merriam-Webster
Di dua bahasa tersebut, gratifikasi adalah kata benda. Namun di masing-masing bahasa, artinya jauh berbeda! KBBI membatasi artiannya kepada pegawai dan masyarakat menginterpretasikan negatif kata gratifikasi sebagai sinonim dari "bentuk suap". Sementara itu di belahan dunia lain, gratifikasi murni bermakna bentuk terima kasih. Anda sekalian bisa mencoba mencarinya sendiri di Google. Seriusan, ada apa ini Balai Bahasa Indonesia?
Kata terima kasih, bentuknya, segala tindakan terima kasih, ternyata sangat jarang di kebudayaan kita. Seakan itu belum cukup, arti terima kasih dimatikan menjadi bentuk penyuapan. Terima kasih terbatas diucapkan justru kepada mereka yang berani melanggar aturan, baik konteksnya sesuai dengan norma ataupun tidak. Etika berterima kasih menjadi kacau.
Terima Kasih
Terlepas dari semua itu, aku menghimbau mereka yang mengaku masih mau berjuang untuk Indonesia yang lebih baik, memerhatikan detil-detil semacam ini ketika berbahasa dan berbudaya. Sungguh, jangan sampai ekspresi semulia "terima kasih" menjadi mati dan bermakna tidak baik. Aku yakin, kita semua senang mendengar kata terima kasih dari orang lain, yang tulus karena dia benar-benar menghargai apa yang kita lakukan. Termasuk Tuhan, jika Anda ingat dan percaya.