Dimana Aku Berjalan di Sampingmu, Dimana
Musim kemarau belum habis diperaduan. Masih setengah bulan lagi sampai hujan benar-benar mengguyur semua permukaan tandus di bumi manusia. Dedaunan kering hanya sepenggal cerita kusam tanpa pernah ditengok oleh sang ranting. Jatuh, luruh, berguguran seperti tak berjiwa yang mengikat pada empunya. Ya, begitulah aku sekarang. Seorang perempuan tandus di musim kemarau.
Baru setengah jam lalu aku melongok luar jendela, menanti si punya hati pulang. Aku, perempuan domestik yang menemani semua langkah suami menuju puncak kejayaan. Dia belum pulang, padahal makan malam sudah tersaji rapi di atas meja makan. Enggan aku untuk menyantapnya lebih dulu, masih tetap setia ku nanti dia kembali.
Tak mudah memang menjalani hidupku ini. Jika kubandingkan dengan masa mudaku, dimana dulu begitu bahagia, cemerlang, cerah dan banyak warna. Kini hanya asap dapur, setrikaan menumpuk, hingga bahan-bahan masakan yang siap diolah saja yang dihadapanku.
Aku terjebak pada janjiku sendiri dulu.
Sepuluh tahun yang lalu, aku adalah perempuan lajang dengan setumpuk pekerjaan di sekolah. Sebagai seorang guru, begitu banyak yang aku kerjakan mulai dari mengajar, membina murid-murid, membuat bahan pelajaran, kurikulum hingga administrasi sekolah. Duniaku ada di sekolah, di hadapan murid-murid, di tengah teman-teman sesama guru yang menunjukkan bahwa aku perempuan terpelajar. Menikmati gaji hasil jerih payah sendiri, makan enak, jalan-jalan, dan menulis menjadi aktivitas yang sangat membahagiakan.
Berbalik dengan keadaan saat ini, ketika teman-temanku tengah menikmati musim penghujan dengan bahagia, aku masih berserakan di musim kemarau sebagai daun kering.
“Untuk menjadi perempuan seutuhnya ibarat kamu mencari jiwa keduamu Laras. Menikah, mengandung dan melahirkan. Itu baru namanya perempuan sesungguhnya. Itu sudah takdir kita” begitulah ibuku berpesan dulu.
Bukannya aku membantah ibu, di usiaku yang masih seperempat abad ketika itu bukan pernikahan yang kuimpikan. Aku memimpikan sebuah kehidupan perempuan yang bebas, ingin terbang melambung tinggi untuk mencari apa yang sebaiknya aku cari. Aku ingin mengikuti keinginan hatiku.
Desakan ibulah yang kemudian membuatku menerima pinangan seorang pria. Sebenarnya aku yang meminangnya, entah, tanpa disengaja.
Pria itu bernama Bagus yang kukenal dulu dari sebuah acara seminar pendidikan. Ia adalah seorang wartawan peliput acara yang memiliki kepribadian cakap, jenjang karier sukses dan satu suku denganku, yakni Jawa. Badannya berperawakan tinggi tegap dengan potongan rambut yang selalu cepak. Matanya tajam seolah menyiratkan ambisi terdalam dalam hidupnya.
Dia mendekatiku dengan kecerdasannya, sementara aku bisa dikatakan memiliki ketertarikan dengan pria cerdas. Munafiknya, ketika dihadapannya aku bak benteng kokoh yang tak mudah takluk dengan karismanya. Aku tergila-gila memang, idealisme yang menuntutku juga harus menunjukkan dominasi kuat sebagai perempuan modern.
Sebulan, dua bulan kemudian, apa yang aku akhirnya tunggu tiba. Pria itu menyatakan ketertarikannya kepadaku dan mengajakku menjalin hubungan berpacaran. Di samping perasaan yang melambung karena ungkapan perasaannya, tuntutan ibu untuk segera menikah membuntuti drama percintaanku kali ini.
“Usiamu. Sudah saatnya kau memiliki pendamping hidup. Sudah saatnya kau menyerah pada kehidupan bebasmu itu.” Sentak ibu sedikit kaku karena keenggananku menikah lebih cepat dari yang kubayangkan.
Aku termangu kala itu, ibu yang lembut dalam bahasanya ternyata bisa bernada tinggi hanya untuk menyuruh putrinya mencari pendamping hidup. Dosa apa aku kepada beliau hingga kemudian kebebasanku berkarya terampas begitu saja. Aku? Menikah?
Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengutarakan keinginan pada pria yang baru saja menyatakan perasaannya tersebut. Dengan manis dan berani semua kalimat yang sudah dirangkai dan latihan dua hari akhirnya keluar dari mulutku.
“Mas, kau berani menikahiku sekarang?” tanyaku kepadanya saat kami menghabiskan jam makan siang bersama.
“Loh, kenapa dik Laras bicarakan hal itu?” Ku tatap wajahnya yang menyiratkan keheranan, terkejut dengan pertanyaanku barusan.
Wajar dia terkejut, sebab hubungan asmara kami baru berjalan dua minggu, belum terasa gregetnya, begitu kata orang. Masih mencari dan meraba benang merah kisah cinta yang seharusnya tidak diganggu gugat dengan obrolah tentang pernikahan. Akan tetapi pikirku sekali lagi kalau tidak sekarang aku menanyakannya, kapan lagi? Dari dulu aku terbiasa membuat keputusan dengan cepat begitu kesempatan datang sehingga tak perlu dua kali aku menunggu kesempatan itu hadir.
“Ayo menikah mas, ibuku ingin aku cepat menikah. Aku benar-benar bingung sekarang.”
“Menikah itu perkara gampang Laras, tapi apakah kamu siap menjalani kehidupan sebagai seorang istri? Dalam persepsi Mas seorang istri itu harus berada di belakang suaminya.” Mas Bagus mengatakan hal itu dengan mimik wajah yang serius.
Itu tandanya aku harus melepaskan semua yang ada di depanku sekarang. Pekerjaan, kenyamanan sebagai wanita bebas, keinginan untuk terus mandiri dan semua yang melekat pada diriku. Apakah begini nasib perempuan yang akan menikah?
“Siapkah kamu Laras? Mas Bagus anak sulung, jadi harus tunduk sama aturan keluarga; mencari perempuan yang mau di rumah, ngurus rumah tangga, ngurus orangtua Mas Bagus yang sudah mulai menua.” Ucapnya meski bernada halus namun itu menandakan sebuah tuntutan kepadaku.
“Tapi aku punya pekerjaan mas, mengapa aku harus melepasnya setelah aku menikah?” tanyaku pasrah.
Salah memang jika aku mengutarakan keinginanku untuk menikah segera. Antara aku dan mas Bagus belum ada penyatuan pemikiran. Prinsipnya dan prinsipku belum menyatu dalam satu kesepahaman dan kesalingpengertian. Bahkan, belum ada kesepakatan bahwa inilah keinginanku dan inilah keinginannya. Tiba-tiba saja aku menjadi pihak yang lemah di hadapannya, yang tak bisa menuntut banyak keinginanku untuk dikabulkan setelah kami menikah.
“Satu hal jika kita menikah Dik, meskipun kamu tinggal di dalam rumah, Mas Bagus tetap akan menghargaimu sebagai istri. Mas Bagus membutuhkan seorang istri yang mau mendukungku dari belakang, menyemangatiku untuk tetap melangkah ke depan.” Itulah alasan yang dikemukakan oleh mas Bagus saat obrolan kami di siang hari tersebut menjadi mulai serius.
“Tidak bisakah kau biarkan aku bekerja sambil mengurus rumah tangga? Tidak bisakah?” Tuntutku.
“Bisakah kau membagi waktumu antara bekerja dengan mengurus rumah tangga dengan seimbang? Bisakah? Karena aku tahu bagaimana pekerjaanmu sekarang, sangatlah berat” Jelas Mas Bagus dengan sorot matanya yang tajam dan tegas.
Akhirnya aku mengalah demi sebuah status pernikahan yang kuharap bisa membuat ibu ku bahagia melihat putrinya bisa menikah. Aku terima semua konsekuensinya menjadi Nyonya Bagus. Aku lepaskan pekerjaannku dan masuk ke ruang domestik di mana menuntutku menjadi wanita yang terampil mengerjakan urusan rumah tangga.
Kami menikah pada akhirnya walau bukan pada kondisi keterpaksaan sebab akupun juga mencintai mas Bagus. Kukagumi sosoknya yang penuh ambisi menuju puncak karier, ku temani ia dari belakang seperti kesediaanku dulu saat meminangnya.
Menjalani pernikahan rupanya tidak semudah yang aku bayangkan. Ada saja beberapa hal yang menguji peranku di dalam rumah tangga kami. Aku mulai tak memahami apa arti dan fungsi seorang istri sebenarnya. Apakah hanya sebatas memasak, menyiapkan pakaian kerja suami, menunggu setiap suami pulang hingga larut malam, hanya sekedar membuatkan kopi dan pisang goreng ketika suami dan kawan sejawatnya berkumpul, hanya mendengarkan obrolan mereka dari belakang gorden, dan hanya menahan antusiasme betapa menarik obrolan mereka dan betapa seorang istri ingin turut serta mengobrol sore itu
Apakah hanya sebatas itu saja? Apakah aku sudah merasa bahagia dengan begini saja?
Aku teringat mimpiku di suatu malam. Aku berjalan jauh sendiri melewati jalanan ramai. Tak ada apapun yang bisa kulihat sebab semua terasa asing. Di jalanan tersebut aku ingin dikenal, aku ingin orang melihat seberapa hebatnya aku. Perjalanan yang tak henti-henti tersebut lantas menyadarkanku bahwa aku hanya wanita biasa. Tidak ada yang spesial di dalam hidupku yang pantas dibanggakan.
Kakiku terhenti di balik ruangan dengan kedua tangan masih membawa baki berisi empat gelas kopi hitam dan panganan untuk teman-teman mas Bagus yang bertandang ke rumah sore itu. Punggung mas Bagus kulihat dari sela-sela gorden yang tersingkap tampak bergetar. Di ruang itu hawa amarah bisa kurasakan sedemikian kuat. Ada apakah gerangan, pikirku makin penasaran.
“Gus, kau kira menerbitkan suatu berita saja tak cukup hanya sebuah idealisme semata? Kita tahu Gus, kau juga menginginkan kebebasan, kebebasan menulis berita. Tapi kebenaran Gus? Kebenaran yang berakhir dengan kehilangan nyawa kita pada akhirnya. Udin, Andi, Tobing, Lukluk, mereka Gus, mereka sudah meregang nyawa dan entah dimana rimbanya karena menulis berita itu.”
Aku mendengar suara salah satu kolega mas Bagus di kantor berita tempatnya bekerja yang aku masih ingat namanya mas Iman. Dari semua percakapan yang kudengar memang tampak seperti sebuah perdebatan pendapat.
“Iman, kebebasan itu mutlak. Kita sebagai wartawan akankah diam saja tanpa memberitakan apa-apa. Kupikir segepok uang di dalam amplop itu cukup kuat untuk mengunci mata, telinga, mulut dan tangan kalian untuk menulis sebuah kebenaran.”
Wartawan bukanlah profesi yang selalu menguntungkan. Terkadang wartawan menjadi kambing hitam ketika mereka menulis berita yang bertolak belakang dengan kebenaran. Terkadang pula ia dipuja karena berhasil mengungkap keberanan. Antara tuntutan dan kewajiban sangat beda tipis sehingga tidak mudah untuk menjalaninya.
Cepat-cepat aku masuk ke dalam ruangan itu menyuguhkan minuman dan panganan di atas meja.
“Monggo, ini minuman sama makannya dicicipi dulu sebelum dingin. Mari mas Iman, mas Cahyo, mbak Nanik, Mas…”.
Memasuki ruangan itu aku memang sedikit bisa merasakan ada hawa sengit diantara ketiganya. Aku hendak ikut berbicara jika sekiranya boleh, namun hakku hanyalah diam. Aku menepuk bahu mas Bagus untuk menyuruh teman-temannya minum dan makan hidanganku. Aku tak mau mereka melupakan apa yang telah kusajikan sore itu. Aku juga berharap hidanganku menjadi pereda amarah mereka sore itu.
Jangan lanjutkan. Berhentilah disini saja Mas…….Itu hanya suara batinku saja.
Mas Bagus adalah seseorang yang idealis dan aku menyadarinya sejak awal. Ketika  perdebatan sore itu berujung pada keputusan mas Bagus untuk tetap mencari dan mewartakan kebenaran. Tak ada yang mendukung keputusannya sampai semua teman-temannya berpamitan pulang.
Ya, aku dihadapkan pada keputusan apakah aku hendak mendukung ambisi suami ataukah menolaknya. Jika aku mendukungnya maka aku harus siap kehilangannya, jika aku menolak apakah aku sudah dianggap istri yang sempurna.
Mas Bagus kulihat masih duduk termangu tidak bergeming dari tempatnya duduk di ruang tamu. Ia bahkan belum tidak menyadari kehadiranku yang mendekat untuk menarik semua bekas gelas dan piring ke belakang. Aku ingin berucap namun bingung apa yang akan kukatakan, hingga akhirnya ia angkat suara.
“Dik, kebenaran itu mutlak harus diungkapkan. Namun, untuk melakukannya harus banyak halangan.” Itu bukan kalimat pertanyaan sebab yang ku dengar Mas Bagus hanya mengeluh.
Sebenarnya aku ingin sekali ia bertanya bagaimana pendapatku. Selama ini suaraku tak pernah ia dengar. Hanya keberadaanku saja yang membuat ia merasa utuh menjadi laki-laki. Aku pun kembali ke belakang tanpa menanggapi keluhannya tersebut. Lama kubiarkan ia duduk diam di ruang tengah, entah apa yang ada dalam pikirannya.
Dulu menjadi guru, adalah saat terbahagiaku. Punya ilmu, punya uang, punya murid yang bisa kuajarkan ilmu. Sekarang apakah suamiku bisa menjadi muridku, yang bisa kuajarkan untuk mendengarkan kata “jangan” dari seorang istrinya?
Aku menghela napas. Berat rasanya jika aku membiarkan mas Bagus harus memberitakan kebenaran di tengah-tengah kondisi negeri yang kisruh ini. Dimana penguasa bak Tuhan yang boleh menghukum siapa saja yang dianggap berdosa, termasuk wartawan.
Aku tak ingin kehilangan mas Bagus hanya karena ambisinya. Aku ingin menolak  keinginannya sekali saja, aku ingin mengatakan tidak, jangan, jangan lakukan hal ini mas. Berdiam dirilah dulu. Aku ingin mengatakan hal itu.
Aku memberanikan diri untuk mengatakan kegundahanku selama ini sama seperti ketika aku memintanya untuk menikahku dulu. Aku ingin menunjukkan kekuatan kata “tidak” kepada pendampingku. Bahwa tidak ada salahnya mas Bagus mendengarkan pendapatku dan kekhawatiranku.
“Mas, bisakah mulai saat ini kau dengarkan suaraku. Jika aku berkata jangan maka jangan kau lakukan?” aku menatap matanya dengan harap-harap cemas.
“Dik, jika kau berkata jangan itu artinya kau tidak mendukungku lagi. Bukankah begitu?”
“Tidak mas, aku tetap akan selalu dibelakangmu, menyemangatimu. Namun aku akan berkata tidak ketika kau salah melangkah.”
“Apanya yang salah, selama ini aku bekerja berdasarkan kebenaran.”
Dia akhirnya tidak akan pernah mau mendengarkan aku. Itulah yang sudah beberapa kali kulakukan dan akhirnya hari ini adalah titik habis perjuanganku mengutarakan pendapat. Aku pasrah.
Hingga musim kemaran yang belum berakhir masanya ini, di jam makan malam yang kian mundur, suara jangkrik yang semakin keras, dan udara dingin yang semakin menyayat kulit, belum ada tanda kepulangan mas Bagus.
Dengan semakin menunggu mas Bagus pulang, aku semakin terjebak keadaan semakin dalam. Kesempatan-kesempatan yang selalu kulewatkan untuk menjadi sosok perempuan dan istri yang kuinginkan sudah terlewat banyak. Termasuk mengatakan “jangan” kepada mas Bagus, jangan lakukan demi kebaikan kita tak pernah lolos dari sebuah perdebatan.
Bisakah aku kembali pada nalar kesadaranku untuk bebas? Kembali pada yang fana bukan hanya ilusi semata. Kini, meski aku serapuh daun kering aku masih punya sisi ranting yang belum bisa dipatahkan. Aku tak mau menunggu kemarau berakhir dengan sendirinya, akulah yang akan mengakhirnya.
Yogyakarta, 20 November 2016