BINGUNG
Separuh nafas yang melemah, terengah mengejar cahaya yang begitu cepat lajunya.
Aku dibentak keramaian, mau apa kau di sini kata mereka, padahal semua sama-sama butuh waktu untuk berpikir.
Jangan sampai kau menjadi puing, yang menuntun jalan samar-samar.
Mataku ini rabun, tapi aku menatapmu tetap seindah itu.
Salahnya dimana?
— Purwakarta, A.














