Allah SWT berfirman: "dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 42) #dzikir #dzikirpagi #dzikirpetang #doa https://www.instagram.com/p/B_Z3sucjs3d/?igshid=dzxk9r35xblv
seen from Colombia
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from South Korea

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from India

seen from Canada

seen from Australia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from Jamaica

seen from Malaysia
seen from China
Allah SWT berfirman: "dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 42) #dzikir #dzikirpagi #dzikirpetang #doa https://www.instagram.com/p/B_Z3sucjs3d/?igshid=dzxk9r35xblv

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Manfaat Do'a dan Dzikir
Manfaat do'a dan dzikir sangat amat banyak, berikut beberapa faedah mengingat Allah dalam do'a dan dzikir :
1. Mendatangkan keridhaan Allah.
2. Mengusir syaitan, menundukkan dan mengenyahkannya.
3. Menghilangkan kesedihan hati dan kemuramannya.
4. Mendatangkan kegembiraan serta ketentraman dalam jiwa.
5. Menguatkan jasmani dan rohani.
6. Membuat hati dan wajah berseri-seri.
7. Melapangkan rezeki.
8. Menimbulkan rasa percaya diri dan menunjukkan kharisma.
9. Menumbuhkan cinta kepada Allah yang merupakan ruh Islam, inti agama, poros kebahagiaan dan keselamatan.
10. Menumbuhkan perasaan selalu diawasi oleh Allah, sehingga memasukkan seorang hamba ke dalam Ihsan.
11. Membuahkan ketundukan berupa kepasrahan diri kepada Allah dan niat kembali kepada-Nya. Selagi dia banyak bertaubat dengan menyebut asma-Nya, maka hatinya selalu ingat kepada Allah, sehingga Allah menjadi tempat mengadu serta tempat kembali baginya, juga sumber kebahagiaan dan kesenangannya, tempat bergantung pada saat senang ataupun ketika mendapat bencana atau musibah.
12. Mendekatkan diri kepada Allah.
13. Membuka berbagai pintu ma'rifat selebar-lebarnya, semakin dia berdzikir, semakin lebar pintu tersebut terbuka baginya.
14. Memupuk rasa takut kepada Allah dan menggugah hati untuk senantiasa memuliakan-Nya.
15. Membuat diri selalu diingat Allah, sebagaimana firman Allah :
فَاذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِى وَلَا تَكْفُرُونِ
"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152)
16. Menghidupakan hati. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : "Dzikir bagi hati sama dengan air bagi ikan, maka apa yang akan terjadi pada ikan seandainya ia berpisah dengan air?"
17. Dzikir merupakan santapan hati dan ruh. Jika hati dan ruh kehilangan santapannya, maka sama dengan badan yang tidak mendapatkan santapannya.
18. Membersihkan hari dari karatnya. Segala sesuatu memiliki karat, adapun karat hati adalah lali dan hawa nafsu. Sedangkan cara memberaihkan karat ini seorang hamba harus bertaubat dan beristighfar.
19. Menghapuskan dan menghilangkan kesalahan. Dzikir merupakan kebaikan yang paling agung, sementara kebaikan dapat menyingkirkan keburukan.
20. Menghilangkan kerisauan dalam hubungan antara dirinya dengan Allah. Orang yang lalai terus dihantui oleh kerisauan atau kegelisahan, yang tidak bisa sihilangkan kecuali dengan dzikir.
21. Takbir Allahu-akbar (الله أكبر ), tasbih subhanallah (سبحان الله), tahmid alhamdulillah (الحمد لله) dan tahlil ( لا إله إلا الله ) seorang hamba tatkala berdzikir akan mengingatkannya saat ditimpa kesulitan.
22. Seseorang yang mengenal Allah dengan cara berdzikir pada saat lapang menjadikan hamba tetap mengenalNya di saat mebghadapi kesulitan, maka Allah mebgenalnya saat ia ditimpa kesulitan.
23. Berdizikir kepada Allah merupakan benteng yang kokoh dari berbagai keburukan di dunia dan di akhiray, serta sebagai penyelamat dari adzab Allah, seperti dikatakan Mu'adz bin Jabal :
" Tidak ada amal anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari adzab Allah selain daripada dzikir kepada Allah".
24. Dzikir kepada Allah menyebabkan turunnya ketenangan serta datangnya rahmat. Bahkan ditegaskan bahwasanya para Malaikat mengelilingi orang-orang yang berdzikir, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah dalam HR. Muslim no 2699.
25. Dzikir menyibukkan lisan hingga ia tidak melakukan ghibah, mengadu domba, berdusta, kekejian dan kebathilan. Siapapun membiasakan lidahnya untuk selalu berdzikir, maka lidahnha lebih terjaga (selamat) dari kebathilan serta perkataan yang sia-sia.
26. Majelis Dzikir adalah majelis para Malaikat, sedangkan majelis kelalaian dan permainan adalah majelis syaitan.
27. Para Malaikat selalu memohonkan ampunan bagi orang yng berdzikir. Banyak berdzikir akan menghindarkan diri kita dari sifat nifaq (munafik).
28. Orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah akan merasa bahagia dan mendapat keberkahan, begitu pula bagi orang yang dekat dengannya.
29. Dzikir memberikan rasa aman dari penyesalan pada hari Kiamat, karena setiap majelis yang tidak terdaoat dzikir kepada Allah akan menjadi penyesalan kelak (pada hari Kiamat).
30. Berdzikir kepada Allah sendirian sambil meneteskan air mata akan melindungi dirinya dari panas matahari di padang Mahsyar pada hari Kiamat, karena dia dilindungi oleh Arsy Allah. Adapun orang lain yang tidak berdzikir kepada Allah akan tersengat panasnya matahari pada saat itu.
31. Dzikir itu ibadah yang paling mudah, namun paling agung dan paling utama. Sebab, gerakan lidah adalah gerakan anggota badan yang paling ringan dan paling mudah dilakukan manusia.
32. Dzikir merupakan tanaman Surga. Ini sebagaimana riwayat at-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas'ud, bahwa Rasulullah bersabda :
" Pada malam tatkala diisra'kan, aku bertemu Ibrahim al-Khalil, lantas dia berkata kepadaku : 'Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu dan beri tahukan kepada mereka bahwa Surga itu bagus tanahnya, segar airnya, dan bahwa Surga itu berupa tanah yang kosong sedangkan tanamannya adalah lafadz dzikir :
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ الله، وَاللهُ أَكْبَرُ
Mahasuci Allah, segala puji milikNya, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan Allah Mahabesar.
Menurut at-Tarmidzi, sanad hadits tersebut hasan gharib.
33. Pemberian dan karunia Allah yang dilimpahkan karena dzikir tidak pernah dilimpahkanNya karena amal yang lain.
34. Terus-menerus berdzikir membuat hati seseorang tidak melalaikan Allah. Siapa yang melalaikan Allah akan lalai terhadap kemaslahatan dirinya sehingga dia pun binasa.
35. Dzikir selalu menyertai hamba meskipun dia berada di tempat tidur, di pasar, tatkala sehat, sewaktu sakit, pada saat mendapatkan kenikmatan dan kesenangan, ketika menderita dan mendapat cobaan. Bahkan dzikir itu bersama hamba di setiap kondisi.
36. Dzikir merupakan cahaya bagi orang yang sering mengucapkannya di dunia, di kuburan, dan di tempat kembalinya, yang meneranginya pada saat melaluo Shirath. Sungguh, tidak ada yang dapat menyinari kubur dan hari melainkan hanya dengan berdzikir kepada Allah.
37. Dzikir merupakan pangkal landasan jalan manusia secara umum dan bentuk kecintaan yang ditebarkan. Siapa yang dibukakan jalan untuk berdzikir berarti telah dibukakan baginya jalan untuk menuju kepada Allah.
38. Di dalam hati ada suatu celah yang hanya dapat disumbat dengan dzikir. Jika dzikir sudah menjadi semboyan hati, di mana hati inilah yang pada asalnya berdzikir, kemudian lisan mengikutinya, maka dzikir yang bisa menutupi celah tersebut. Maka manusia akan menjadi kaya bukan karena harta, terpandang bukan karena keturunan, dan disegani bukan karena kekuasaan.
39. Dzikir dapat menghimpun yang tercerai berai dan menceraiberaikan yang terhimpun, serta mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.
40. Dzikir akan membangunkan hati dari tidur panjangnya, dan menjaga dari kantuk (kelalaian). Manusia yang hatinya terjaga dari kelalaian akan menyadari berbagai kebaikan yang terluput darinya. Lalu dia berusaha menghidupkan sisa umurnya untuk meraih kebaikan-kebaikan tersebut.
41. Dzikir yang intinga tauhid ibarat sebatang pohon yang membuahkan pengetahuan dan keadaan yang dituju oleh hamba yang berjalan menuju Allah. Buahnya hanya bisa dipetik dari pohon dzikir. Jika pohon itu semakin besar dan akarnya kokoh, niscaya ia akan banyak menghasilkan buah.
42. Orang yang berdzikir senantiasa merasakan ma'iyyah (kebersamaan) Allah, bahkan Dia selalu bersamanya. Kebersamaan ini bersifat khusus, bukan kebersamaan yang hanya bersifat pengetahuan Allah terhadap hambaNya, tetapi kebersamaan karena kedekatan, cinta, pertolongan dan taufikNya.
43. Sesungguhnya di dalam hati ada kekerasan yang tidak bisa dicairkan kecuali dengan berdzikir kepada Allah.
44. Dzikir merupakan penyembuh dan obat penyakit hati.
Imam Mak-hul berkata : "Mengingat Allah adalah kesembuhan, sedangkan mengingat manusia adalah penyakit".
45. Dzikir mendatangkan shalawat Allah dan para Malaikat bagi pelakunya.
46. Berdzikir kepada Allah dapat memudahkan kesulitan sera dapat meringankan beban yang ebrat.
47. Dzikir kepada Allah menyingkirkan segala ketakutan di dalam hati sehingga menghadirkan perasaan aman.
48. Dzikir kepada Allah memberikan kekuatan bagi pelakunya hingga mampu menyelesaikan suatu pekerjaan berat tanpa disangka-sangkanya.
49. Dzikir adalah pangkal syikur. Orang yang tidak berdzikir adalah orang yang tidak berayukur kepada Allah. Dzikir dan syukur adalah paduan kebahagiaan dan kejayaan.
50. Termasuk dzikir kepada Allah adalah melaksanakan perintahNya, menjauhi segala laranganNya, serta menunaikan hukum-hukumNya.
--Dalam buku Dzikir Pagi Petang--
Karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Menurut Al-Qur'an dan as-Sunnah yang Shahih
DOA MEMPERLANCAR REJEKI LUNAS HUTANG HIDUP CUKUP KARIR MEROKET MANDIRI S...
DZIKIR PAGI #dzikirpagi #dzikirpagipembukarezeki #dzikirpembukapinturezeki
Alhamdulillah Cukup Alloh Maha Penolong Ajak Umat Untuk Dzikir Tiap Pagi Dan Sore. #Dakwah #Islam
AT TAUBAH : 121 وَلاَ يُنفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلاَ كَبِيرَةً وَلاَ يَقْطَعُونَ وَادِيًا إِلاَّ كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللّهُ أَحْسَنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ Terjemah : dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Alhamdulillah Cukup Alloh Maha Penolong Ajak Umat Untuk Dzikir Tiap Pagi Dan Sore. #Dakwah #Islam Tafsir : Dan tidaklah mereka mengeluarkan nafkah, baik sedikit maupun banyak di jalan Allah, dan tidaklah mereka melewati lembah bersama Rasulullah صلی الله عليه وسلم untuk berjihad, kecuali Allah telah menetapkan pahala amal shalih bagi mereka. Allah akan membalas mereka dengan sebaik-baik balasan atas amal shalih yang mereka kerjakan. AT TAUBAH : 122 وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ Terjemah : Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. Tafsir : Tidaklah pantas bagi orang-orang Mukmin untuk pergi semuanya berperang melawan musuh-musuh mereka, sebagaimana tidak pantas untuk berdiam diri semuanya. Mengapa tidak pergi berperang dan berjihad dari tiap-tiap golongan itu beberapa orang yang mencukupi dan tercapai maksud untuk itu, agar orang-orang yang tidak ikut berperang dapat memperdalam agama dan mempelajari hukum-hukum tentang agama Allah dan apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya, juga agar mereka dapat memperingatkan kaumnya dengan apa yang diketahuinya sekembalinya mereka dari medan perang, agar mereka menjaga diri dari adzab Allah dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Asbabun Nuzul : Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Ikrimah berkata : telah turun ayat 39. Padahal beberapa orang tidak berangkat karena mereka sibuk mengajar kaum mereka yang ada di pedalaman, orang-orang munafik berkata : Ada orang-orang yang tertinggal di pedalaman, maka orang-orang pedalaman telah celaka. Maka turun ayat 122 ini. AT TAUBAH : 123 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ قَاتِلُواْ الَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ الْكُفَّارِ وَلِيَجِدُواْ فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ Terjemah : Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa. Tafsir : Hai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan menjalankan syariat-Nya, mulailah dengan memerangi orang-orang kafir yang berada dekat dengan negeri Islam agar mereka tahu bahwa kalian itu memiliki sikap keras terhadap mereka. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa, melindungi dan menolong mereka. AT TAUBAH : 124 وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَـذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ Terjemah : Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Tafsir : Apabila turun satu surat al-Qur an kepada Rasulullah, di antara orang-orang munafik ada yang berkata (sebagai pengingkaran dan ejekan) : Apakah keimanan kalian kepada Allah dan ayat-ayat-Nya akan bertambah dengan turunnya surat ini?? Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka bertambah keimanannya dengan
turunnya surat tersebut dengan mempelajarinya, mentadabburinya, meyakininya dan mengamalkannya. Mereka merasa gembira dengan keimanan dan keyakinan yang telah Allah berikan kepada mereka. AT TAUBAH : 125 وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُواْ وَهُمْ كَافِرُونَ Terjemah : Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit [666], maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. ________________________________________ [666] Maksudnya penyakin bathiniyah seperti kekafiran, kemunafikan, keragua-raguan dan sebagainya. Tafsir : Adapun orang-orang yang di dalam hatinya terdapat kemunafikan dan keraguan terhadap agama Allah, maka dengan turunnya surat al-Qur an, semakin menambah bertambah kemunafikan dan keraguan mereka daripada sebelumnya. Celakalah orang-orang itu dalam kondisi mereka mengingkari Allah dan ayat-ayat-Nya. AT TAUBAH : 126 أَوَلاَ يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لاَ يَتُوبُونَ وَلاَ هُمْ يَذَّكَّرُونَ Terjemah : Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji [667] sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? ________________________________________ [667] Yang dimaksud dengan ujian disini ialah: musibah-musibah yang menimpa mereka seperti terbukanya rahasia tipu daya mereka, pengkhianatan mereka dan sifat mereka menyalahi janji. Tafsir : Apabila orang-orang munafik itu tidak memperhatikan bahwa Allah menguji mereka dengan musim kemarau yang panjang dan dengan ditampakkannya kemunafikan mereka sekali atau dua kali tiap tahun? Kemudian mereka tetap tidak juga bertaubat dari kekufuran dan kemunafikan mereka setelah itu, dan mereka tidak mengambil pelajaran atas ayat-ayat Allah yang telah diperlihatkan kepada mereka. AT TAUBAH : 127 وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ نَّظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ هَلْ يَرَاكُم مِّنْ أَحَدٍ ثُمَّ انصَرَفُواْ صَرَفَ اللّهُ قُلُوبَهُم بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَّ يَفْقَهُون Terjemah : Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada yang lain (sambil berkata): “Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?” Sesudah itu merekapun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti. Tafsir : Dan apabila turun satu surat, orang-orang munafik itu memberi isyarat dengan mata mereka satu sama lain sebagai bentuk pengingkaran, ejekan dan juga kebencian mereka atas turunnya surat itu. Itu karena ayat yang diturunkan menyebutkan aib-aib dan perbuatan mereka. Kemudian mereka berkata : Apakah ada orang yang melihat kalian jika kalian bangun dari sisi Rasulullah? Apabila tidak ada seorang pun yang melihat, mereka bangkit dan berpaling dari Rasulullah صلی الله عليه وسلم karena takut kejelekan mereka akan terbuka. Allah telah memalingkan hati mereka dari keimanan karena mereka tidak memahami dan merenungkannya. AT TAUBAH : 128 لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ Terjemah : Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Tafsir : Sesungguhnya telah datang kepada kalian (hai orang-orang mukmin) seorang Rasul dari kaum kalian sendiri. Dia merasakan susah dan berat atas penderitaan dan siksaan yang kalian terima. Dia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan kalian. Dia pun amat berbelas kasihan dan penyayang terhadap orang-orang Mukmin. AT TAUBAH : 129 فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُلْ حَسْبِيَ اللّهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ Terjemah : Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arsy yang agung”.
Tafsir : Apabila orang-orang musyrik dan munafik itu berpaling dari beriman kepadamu wahai Rasul, maka katakanlah : Cukuplah Allah bagiku yang menghilangkan segala kesusahanku. Tidak ada yang patut disembah dengan sebenarnya kecuali Dia. Kepada-Nyalah aku bersandar dan kepada-Nyalah aku menyerahkan segala urusanku. Sesungguhnya Dia-lah penolong dan pelindungku, dan Dialah Rabb yang memiliki Arsy yang agung, yang merupakan ciptaan Allah yang paling besar. Sumber : https://ibnuumar.sch.id/tafsir-al-muyasar-surat-at-taubah-121-130/ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم – قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ – اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ – لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ – وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ Allohumma solli ‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad, kamaa sollaita ‘alaa aali ibroohim, wa baarik ‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad, kamaa baarokta ‘alaa aali ibroohim, fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiid. Allâhumma-ghfir liummati sayyidinâ muhammadin, allâhumma-rham ummata sayyidinâ muhammadin, allâhumma-stur ummata sayyidinâ muhammadin. Allahumma maghfiratuka awsa’u min dzunubi wa rahmatuka arja ‘indi min ‘amali. Alhamdulillah Cukup Alloh Maha Penolong Ajak Umat Untuk Dzikir Tiap Pagi Dan Sore. #Dakwah #Islam

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Alhamdulillah Hanya Alloh Tempat Meminta Ajak Umat Untuk Dzikir Tiap Pagi Dan Sore. #Dakwah #Islam
Inilah surat yang dikatakan dalam beberapa hadits seperti sepertiga Al Qur’an yaitu surat Al Ikhlash. Pada kesempatan kali dan beberapa posting selanjutnya, kita akan sedikit mengupas mengenai surat ini. Pada awalnya kita akan melihat dahulu tafsiran ayat-ayat yang ada pada surat tersebut. Setelah itu kita akan melihat keutamaan surat ini. Terakhir, kita akan mengkaji waktu kapan saja surat Al Ikhlash dibaca. Semoga bermanfaat.Allah Ta’ala berfirman, Alhamdulillah Hanya Alloh Tempat Meminta Ajak Umat Untuk Dzikir Tiap Pagi Dan Sore. قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4 (yang artinya) : 1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. Pengenalan Surat ini dinamakan Al Ikhlas karena di dalamnya berisi pengajaran tentang tauhid. Oleh karena itu, surat ini dinamakan juga Surat Al Asas, Qul Huwallahu Ahad, At Tauhid, Al Iman, dan masih banyak nama lainnya. Surat ini merupakan surat Makiyyah dan termasuk surat Mufashol. Surat Al Ikhlas ini terdiri dari 4 ayat, surat ke 112, diturunkan setelah surat An Naas. (At Ta’rif bi Suratil Qur’anil Karim) Ada dua sebab kenapa surat ini dinamakan Al Ikhlash.Yang pertama, dinamakan Al Ikhlash karena surat ini berbicara tentang ikhlash. Yang kedua, dinamakan Al Ikhlash karena surat ini murni membicarakan tentang Allah. Perhatikan penjelasan berikut ini. Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan bahwa Surat Al Ikhlas ini berasal dari ’mengikhlaskan sesuatu’ yaitu membersihkannya/memurnikannya. Dinamakan demikian karena di dalam surat ini berisi pembahasan mengenai ikhlas kepada Allah ’Azza wa Jalla. Oleh karena itu, barangsiapa mengimaninya, dia termasuk orang yang ikhlas kepada Allah. Ada pula yang mengatakan bahwa surat ini dinamakan Al Ikhlash (di mana ikhlash berarti murni) karena surat ini murni membicarakan tentang Allah. Allah hanya mengkhususkan membicarakan diri-Nya, tidak membicarakan tentang hukum ataupun yang lainnya. Dua tafsiran ini sama-sama benar, tidak bertolak belakang satu dan lainnya. (Lihat Syarh Al Aqidah Al Wasithiyyah, 97) Asbabun Nuzul Surat ini turun sebagai jawaban kepada orang musyrik yang menanyakan pada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ’Sebutkan nasab atau sifat Rabbmu pada kami?’. Maka Allah berfirman kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam, ’Katakanlah kepada yang menanyakan tadi, … [lalu disebutkanlah surat ini]’(Aysarut Tafasir, 1502). Juga ada yang mengatakan bahwa surat ini turun sebagai jawaban pertanyaan dari orang-orang Yahudi (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, At Ta’rif bi Suratil Qur’anil Karim, Tafsir Juz ‘Amma 292). Namun, Syaikh Muqbil mengatakan bahwa asbabun nuzul yang disebutkan di atas berasal dari riwayat yang dho’if (lemah) sebagaimana disebutkan dalam Shohih Al Musnad min Asbab An Nuzul.Saatnya memahami tafsiran tiap ayat. Tafsir Ayat Pertama قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) 1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Kata (قُلْ) –artinya katakanlah-. Perintah ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan juga umatnya. Al Qurtubhi mengatakan bahwa (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) maknanya adalah : الوَاحِدُ الوِتْرُ، الَّذِي لَا شَبِيْهَ لَهُ، وَلَا نَظِيْرَ وَلَا صَاحَبَةَ، وَلَا وَلَد وَلَا شَرِيْكَ Al Wahid Al Witr (Maha Esa), tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya, tidak memiliki istri ataupun anak, dan tidak ada sekutu baginya. Asal kata dari (أَحَدٌ) adalah (وَحْدٌ), sebelumnya diawali dengan huruf ‘waw’ kemudian diganti ‘hamzah’. (Al Jaami’ liahkamil Qur’an, Adhwaul Bayan) Syaikh Al Utsaimin mengatakan bahwa kalimat (اللَّهُ أَحَدٌ) –artinya Allah Maha Esa-, maknanya bahwa Allah itu Esa dalam keagungan dan kebesarannya, tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. (Tafsir
Juz ‘Amma 292) Tafsir Ayat Kedua اللَّهُ الصَّمَدُ (2) 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Ibnul Jauziy dalam Zaadul Masiir mengatakan bahwa makna Ash Shomad ada empat pendapat: Pertama, Ash Shomad bermakna: أنه السيِّد الذي يُصْمَدُ إليه في الحوائج Allah adalah As Sayid (penghulu), tempat makhluk menyandarkan segala hajat pada-Nya. Kedua, Ash Shomad bermakna: أنه الذي لا جوف له Allah tidak memiliki rongga (perut). Ketiga, Ash Shomad bermakna: أنه الدائم Allah itu Maha Kekal. Keempat, Ash Shomad bermakna: الباقي بعد فناء الخلق Allah itu tetap kekal setelah para makhluk binasa. Dalam Tafsir Al Qur’an Al Azhim (Tafsir Ibnu Katsir) disebutkan beberapa perkataan ahli tafsir yakni sebagai berikut. Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah : الَّذِي يَصْمُدُ الخَلَائِقُ إِلَيْهِ فِي حَوَائِجِهِمْ وَمَسَائِلِهِمْ Seluruh makhluk bersandar/bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan maupun permasalahan. Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu Abbas mengatakan mengenai (اللَّهُ الصَّمَدُ) :هو السيد الذي قد كمل في سؤدده، والشريف الذي قد كمل في شرفه، والعظيم الذي قد كمل في عظمته، والحليم الذي قد كمل في حلمه، والعليم الذي قد كمل في علمه، والحكيم الذي قد كمل في حكمته وهو الذي قد كمل في أنواع الشرف والسؤدد، وهو الله سبحانه، هذه صفته لا تنبغي إلا له، ليس له كفء، وليس كمثله شيء، سبحان الله الواحد القهار. Dia-lah As Sayyid (Pemimpin) yang kekuasaan-Nya sempurna. Dia-lah Asy Syarif (Maha Mulia) yang kemuliaan-Nya sempurna. Dia-lah Al ‘Azhim (Maha Agung) yang keagungan-Nya sempurna. Dia-lah Al Halim (Maha Pemurah) yang kemurahan-Nya itu sempurna. Dia-lah Al ‘Alim (Maha Mengetahui) yang ilmu-Nya itu sempurna. Dia-lah Al Hakim (Maha Bijaksana) yang sempurna dalam hikmah (atau hukum-Nya). Allah-lah –Yang Maha Suci- yang Maha Sempurna dalam segala kemuliaan dan kekuasaan. Sifat-Nya ini tidak pantas kecuali bagi-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak ada yang semisal dengan-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Al A’masy mengatakan dari Syaqiq dari Abi Wa’il bahwa Ash Shomad bermakna: الصَّمَدُ السيد الذي قد انتهى سؤدده ”Pemimpin yang paling tinggi kekuasaan-Nya”. Begitu juga diriwayatkan dari ’Ashim dari Abi Wa’il dari Ibnu Mas’ud semacam itu. Malik mengatakan dari Zaid bin Aslam, ”Ash Shomad adalah As Sayyid (Pemimpin).” Al Hasan dan Qotadah mengatakan bahwa Ash Shomad adalah (الباقي بعد خلقه) Yang Maha Kekal setelah makhluk-Nya (binasa). Al Hasan juga mengatakan bahwa Ash Shomad adalah الحي القيوم الذي لا زوال له Yang Maha Hidup dan Quyyum (mengurusi dirinya dan makhlukNya) dan tidak mungkin binasa. ’Ikrimah mengatakan bahwa Ash Shomad adalah yang tidak mengeluarkan sesuatupun dari-Nya (semisal anak) dan tidak makan. Ar Robi’ bin Anas mengatakan bahwa Ash Shomad adalah (الذي لم يلد ولم يولد) yaitu tidak beranak dan tidak diperanakkan. Beliau menafsirkan ayat ini dengan ayat sesudahnya dan ini tafsiran yang sangat bagus. Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Sa’id bin Al Musayyib, Mujahid, Abdullah bin Buraidah, ’Ikrimah, Sa’id bin Jubair, ’Atho’ bin Abi Robbah, ’Athiyyah Al ’Awfiy, Adh Dhohak dan As Sudi mengatakan bahwa Ash Shomad adalah (لا جوف له) yaitu tidak memiliki rongga (perut). Al Hafizh Abul Qosim Ath Thobroni dalam kitab Sunnahnya -setelah menyebut berbagai pendapat di atas tentang tafsir Ash Shomad- berkata, ”Semua makna ini adalah shohih (benar). Sifat tersebut merupakan sifat Rabb kita ’Azza wa Jalla. Dia-lah tempat bersandar dan bergantung dalam segala kebutuhan. Dia-lah yang paling tinggi kekuasaan-Nya. Dia-lah Ash Shomad tidak ada yang berasal dari-Nya. Allah tidak butuh makan dan minum. Dia tetap kekal setelah para makhluk-Nya binasa. Baihaqi juga menjelaskan yang demikian.” (Diringkas dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim) Tafsir Ayat Ketiga لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Kalimat (لَمْ يَلِدْ) se
bagaimana dikatakan Maqotil, ”Tidak beranak kemudian mendapat warisan.” Kalimat (وَلَمْ يُولَدْ) maksudnya adalah tidak disekutui. Demikian karena orang-orang musyrik Arab mengatakan bahwa Malaikat adalah anak perempuan Allah . Kaum Yahudi mengatakan bahwa ’Uzair adalah anak Allah. Sedangkan Nashoro mengatakan bahwa Al Masih (Isa, pen) adalah anak Allah. Dalam ayat ini, Allah meniadakan itu semua.” (Zadul Masiir) Tafsir Ayat Keempat وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4 4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. Maksudnya adalah tidak ada seorang pun sama dalam setiap sifat-sifat Allah. Jadi Allah meniadakan dari diri-Nya memiliki anak atau dilahirkan sehingga memiliki orang tua. Juga Allah meniadakan adanya yang semisal dengan-Nya. (Tafsir Juz ‘Amma 293) Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan makna ayat: ”dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” yaitu tidak ada yang serupa (setara) dengan Allah dalam nama, sifat, dan perbuatan. Ringkasnya, surat Al Ikhlash ini berisi penjelasan mengenai keesaan Allah serta kesempurnaan nama dan sifat-Nya. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Sumber https://rumaysho.com/907-memahami-surat-al-ikhlas-sepertiga-al-quran.html بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم – قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ – اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ – لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ – وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ Allohumma solli ‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad, kamaa sollaita ‘alaa aali ibroohim, wa baarik ‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad, kamaa baarokta ‘alaa aali ibroohim, fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiid. Allâhumma-ghfir liummati sayyidinâ muhammadin, allâhumma-rham ummata sayyidinâ muhammadin, allâhumma-stur ummata sayyidinâ muhammadin. Allahumma maghfiratuka awsa’u min dzunubi wa rahmatuka arja ‘indi min ‘amali. Alhamdulillah Hanya Alloh Tempat Meminta Ajak Umat Untuk Dzikir Tiap Pagi Dan Sore.
Alhamdulillah Alloh Maha Pengatur Makhluk Ajak Umat Untuk Dzikir Tiap Pagi Dan Sore #Dakwah #Islam
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلََهِ النَّاسِ مِنْ شَرِّ الوَسْوَاسِ الخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ مِنَ الجِنَّةِ وَالنَّاسِ “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (Rob/yang memelihara) manusia, Raja manusia, Sembahan (Ilaah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam manusia, dari golongan jin dan manusia.” Alhamdulillah Alloh Maha Pengatur Makhluk Ajak Umat Untuk Dzikir Tiap Pagi Dan Sore Surat ini beserta surat Al Falaq merupakan sebab sembuhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sihir seorang penyihir Yahudi bernama Labid bin A’shom. Dalam sihir tersebut Rasulullah dikhayalkan seakan-akan melakukan suatu hal yang beliau tidak melakukannya. Kisah tersebut disebutkan dalam hadits yang shohih, sehingga kita harus mempercayainya. Jika syaitan membisiki Anda dengan mengatakan bahwa seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa terkena sihir berarti ada kemungkinan bahwa bisa saja syaitan mewahyukan kepada Rasulullah sebagian dari Al Quran? Maka bantahlah bahwa Allah Maha Kuasa terhadap seluruh makhluknya, jika Allah telah berjanji memelihara kemurnian Al Quran (QS. Al-Hijr: 9) maka tidak ada yang dapat mengubahnya. Jika setan tersebut kembali membisikkan agar kita menolak hadits tersebut dan menanamkan keraguan di hati kita tentang validitas hadits shohih sebagai sumber hukum islam dengan alasan bahwa kisah itu tidak masuk akal karena Allah subhanahu wa ta’ala selalu melindungi rasul-Nya. Maka katakanlah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak mungkin memelihara lafal Al Quran tanpa memelihara penjelasannya berupa perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dalam hadits. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan dilahirkannya di tengah umat ini para imam ahli hadits yang hafalannya sangat mengagumkan. Di antaranya adalah imam Ahmad yang menghafal hingga 1 juta hadits beserta sanadnya. Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan terjadinya hal tersebut sebagai ujian bagi manusia, apakah mereka beriman ataukah kafir. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala meng-isra dan mi’raj-kan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu malam, ada sebagian kaum muslimin ketika itu yang murtad. Sedangkan pengaruh perlindungan setelah membaca kedua surat tersebut akan lebih kuat jika disertai dengan pemahaman dan perenungan akan maknanya. Memohon Perlindungan Melalui Perantara Nama-Nya Dalam surat ini terkandung permohonan perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan bertawasul (menggunakan perantara) dengan tiga nam-Nya yang mencakup tiga makna keyakinan tauhid kepada Allah secara sempurna. Yaitu tauhid rububiyah, asma wa sifat dan uluhiyah. Ketiga jenis tauhid ini diwakili oleh asma-asma Allah subhanahu wa ta’ala sebagai berikut: Ar-Rabb, Al-Malik dan Al-Ilaah Ar-Rabb dalam kata ِرَبِّ النَّاسِ (Tuhan Manusia) bermakna bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta, pengatur dan pemberi rezeki seluruh umat manusia. Tentunya Allah subhanahu wa ta’ala bukan hanya Rabb atau Tuhannya manusia, namun juga seluruh Alam semesta ini beserta isinya. Pengkhususan penyebutan Rabb manusia di sini adalah untuk menyesuaikan dengan pembicaraan. Menauhidkan Allah pada hal tersebutlah yang dimaksud dengan tauhid rububiyah. Seseorang yang memiliki keyakinan bahwa wali-wali tertentu dapat mengabulkan permohonan berupa harta, jodoh atau anak maka dia telah menyekutukan Allah dalam rububiyah-Nya. Al-Malik adalah salah satu dari asmaul husna yang bermakna pemilik kerajaan yang sempurna dan kekuasaan yang mutlak. Sedangkan penyebutan kata Ilahinnaas (sembahan manusia) di sini adalah untuk menegaskan Allah adalah yang seharusnya disembah oleh manusia dengan berbagai macam peribadatan. Sedangkan ibadah itu ada dua jenis yaitu zhohir dan batin. Yang zhohir misalnya adalah sholat, do’a, zakat, puasa,
haji, nazar, menyembelih qurban dan lain sebaginya. Sedangkan yang batin letaknya di dalam hati, seperti khusyu’, roja’ (pengharapan terhadap terpenuhinya kebutuhan), khouf (takut yang disertai pengagungan), cinta dan lain sebagainya. Barang siapa yang meniatkan salah satu dari ibadah-badah tersebut kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik. Siapa yang sujud kepada kuburan Nabi dan para wali atau yang lainnya, maka dia telah berbuat kesyirikan, siapa yang tawakalnya kepada jimat maka dia telah syirik. Bisikan Syaitan Pada Hati Manusia Pada surat Al-Falaq permohonan perlindungan hanya bertawasul menggunakan nama Allah Ar-Rabb saja. Sedangkan pada surat An-Naas ini digunakan 3 nama sekaligus yang mewakili 3 jenis tauhid. Hal ini mengindikasikan bahwa ancaman pada surat An Naas lebih besar dari pada ancaman yang disebutkan pada surat Al-Falaq. Ancaman yang disebutkan dalam surat Al-Falaq hanya mencelakakan manusia di dunia dan bersifat lahiriah, sehingga dapat atau mudah dideteksi. Sedangkan pada surat An-Naas ini ancamannya dapat mencelakakan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Ancaman yang sangat halus, bukan merupakan kata-kata yang dapat didengar, sehingga sulit untuk di deteksi. Kemudian yang dijadikan sasarannya adalah hati, di mana hati manusia merupakan raja dari seluruh anggota tubuh. Tentang hal tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ “Sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging, jika baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, jika rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari & Muslim) Hati sebagai raja adalah yang memerintah seluruh anggota tubuh. Jika hatinya cenderung kepada ketaatan, maka anggota tubuhnya akan melaksanakan kebaikan tersebut. Dan begitu pula sebaliknya. Syaitan menjadikan hati sebagai target utama karena hati adalah ‘tiket’ keselamatan seorang hamba di akhirat, di mana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُوْنَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ “(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih/selamat (saliim).” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89) Orang yang selamat di akhirat adalah orang datang menjumpai Allah dengan hati yang bersih (Qolbun Saliim). Bersih dan selamat dari penyakit syubhat dan syahwat. Syubhat adalah bisikan-bisikan syaitan terhadap seorang hamba sehingga dia meyakini kebenaran sebagai kebatilan, yang sunah sebagai bid’ah dan sebaliknya. Sedangkan syahwat adalah bisikan syaitan untuk mengikuti segala yang diinginkan oleh jiwa, meskipun harus menentang aturan Allah subhanahu wa ta’ala. Jika seorang hamba selalu memperturutkan syahwatnya dan melanggar aturan Allah, maka lama-kelamaan hatinya akan menganggap kemaksiatannya itu adalah suatu hal yang biasa, sehingga menjerumuskannya kepada penghalalan suatu yang diharamkan Allah. Jika hati diumpamakan sebagai sebuah benteng, maka syaitan adalah musuh yang hendak masuk dan menguasai benteng tersebut. Setiap benteng memiliki pintu-pintu yang jika tidak dijaga maka syaitan akan dapat memasukinya dengan leluasa. Pintu-pintu itu adalah sifat-sifat manusia yang banyak sekali bilangannya. Di antaranya seperti; cinta dunia, syahwat dan lain sebagainya. Jika dalam hati masih bersemayam sifat-sifat tersebut, maka syaitan akan mudah berlalu lalang dan memasukan bisikannya, sehingga mencegahnya dari mengingat Allah dan mengisi hati dengan takwa. Syaitan Jin dan Manusia Di kalangan masyarakat ada yang menganggap bahwa syaitan, jin dan iblis adalah jenis makhluk tersendiri. Maka ayat terakhir dari surat ini membantah anggapan yang salah tersebut. Sesungguhnya makhluk yang mendapatkan beban syariat ada dua; yaitu jin dan manusia. Iblis merupakan bangsa jin berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang maknanya: وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوْ
ا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيْسَ كَانَ مِنَ الجِنِّ “Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin…” (QS. Al-Kahfi: 50) Sedangkan syaitan adalah sejahat-jahat makhluk dari kalangan jin dan manusia yang mengasung sebagian kepada yang lain ke neraka. وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيِّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ الإِنْسِ وَالجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ القَوْلِ غُرُورًا “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu…” (QS. Al-An’am: 112) Wallahu a’lam. Rujukan: Taisir Karimirrahman fii Tafiiril Kalamil Mannaan (Syaikh Abdurrahaman bin Nashir As-Sa’dy). Terjemahan Mukhtashor Minhajul Qashidin (Ibnu Qudamah). Tafsiir ‘Usyril Akhiir Minal Qur’anil Kariim (DR. Sulaiman Al-Asyqor). Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/90-tafsir-surat-an-naas.html بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم – قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ – اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ – لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ – وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ Allohumma solli ‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad, kamaa sollaita ‘alaa aali ibroohim, wa baarik ‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad, kamaa baarokta ‘alaa aali ibroohim, fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiid. Allâhumma-ghfir liummati sayyidinâ muhammadin, allâhumma-rham ummata sayyidinâ muhammadin, allâhumma-stur ummata sayyidinâ muhammadin. Allahumma maghfiratuka awsa’u min dzunubi wa rahmatuka arja ‘indi min ‘amali. Alhamdulillah Alloh Maha Pengatur Makhluk Ajak Umat Untuk Dzikir Tiap Pagi Dan Sore
Alhamdulillah Alloh Maha Serba Kuasa Ajak Umat Untuk Dzikir Tiap Pagi Dan Sore. #Dakwah #Islam
Syariat Dzikir Pagi dan Sore Perlu diketahui bahwa di antara dzikir dan doa yang disyariatkan bagi seorang muslim dalam sehari semalam adalah dzikir pagi dan sore, bahkan dzikir jenis ini merupakan dzikir yang terikat dengan waktu yang paling banyak disebutkan dalam dalil-dalil, baik konteks dalil tersebut adalah mendorong seorang muslim mengucapkannya maupun konteksnya menyebutkan macam-macam dzikir yang diucapkan pada dua waktu yang utama ini (pagi dan sore). Alhamdulillah Alloh Maha Serba Kuasa Ajak Umat Untuk Dzikir Tiap Pagi Dan Sore. Allah Ta’ala berfirman, وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا “Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan sore.” هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا “Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (QS. Al-Ahzab: 42-43). Makna Al-Ashiil dalam ayat yang agung ini adalah waktu antara ashar sampai sebelum tenggelamnya matahari. فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ “Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu sore dan pagi” (QS. Ghafir: 55). Makna Al-Ibkaar dalam ayat yang agung ini adalah awal hari (pagi), sedangkan makna Al-‘Asiyiyy adalah akhir hari (sore). فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ “Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya)” (QS. Qaf: 39). فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di sore hari dan waktu kamu berada di waktu pagi hari” (QS. Ar-Rum:17). Waktu Dzikir Pagi dan Sore Kapankah dzikir pagi dan sore dilaksanakan? Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ : أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ ، وَلَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ : أَحَبُّ إِلَيَّ مَنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً “Aku duduk bersama orang-orang yang berdzikrullah Ta’ala mulai dari (waktu) sholat shubuh hingga terbit matahari lebih aku cintai daripada memerdekakan empat orang budak dari putra Nabi Isma’il. Dan aku duduk bersama orang-orang yang berdzikrullah mulai dari (waktu) sholat Ashar sampai terbenam matahari lebih aku cintai daripada memerdekakan empat orang budak” (HR. Abu Dawud: 3667, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani). Dari hadits yang agung di atas menunjukkan keutamaan orang yang duduk bersama orang-orang yang berdzikrullah Ta’ala dari shalat shubuh hingga terbit matahari lebih dicintai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam daripada memerdekakan empat orang budak dari putra Nabi Isma’il alaihis salam, demikian pula disebutkan keutamaan orang yang duduk bersama orang-orang yang berdzikrullah Ta’ala dari shalat Ashar sampai terbenam matahari. Dalam hadits di atas, nampak petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terkait dengan waktu dzikir pagi dan sore, yaitu pagi hari dimulai dari shalat shubuh hingga terbit matahari, sedangkan sore hari dimulai dari shalat Ashar sampai terbenam matahari. Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/29658-keutamaan-dzikir-pagi-dan-sore-1.html بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم – قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ – اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ – لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ – وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ Allohumma solli
‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad, kamaa sollaita ‘alaa aali ibroohim, wa baarik ‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad, kamaa baarokta ‘alaa aali ibroohim, fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiid. Allâhumma-ghfir liummati sayyidinâ muhammadin, allâhumma-rham ummata sayyidinâ muhammadin, allâhumma-stur ummata sayyidinâ muhammadin. Allahumma maghfiratuka awsa’u min dzunubi wa rahmatuka arja ‘indi min ‘amali. Alhamdulillah Alloh Maha Serba Kuasa Ajak Umat Untuk Dzikir Tiap Pagi Dan Sore.