‘Mahasiswa sekarang cuman tap n go aja, tapi pada sok mengkritik perilaku korupsi.’
‘Saya lakukan 2x presensi karena ini cara saya memantau teman-teman (mahasiswa) untuk kehadiran’
‘Banyak mahasiswa cuman naruh tas atau barang di kelas biar dikira masuk, padahal sebenernya itu cuman barang nya aja. Orangnya udah entah dimana.’
D A N M A S I H B A N Y A K L A G I.
Aku pernah mendapat pengalaman kurang menyenangkan semester lalu perihal keterlambatan (sebenarnya aku nggak terlambat dude, tapi mari baca cerita ku dulu). Aku mengikuti salah satu kelas pagi yang dimulai sekitar pukul 07.30; jumlah mahasiswa yang mengikuti kelas itu seharusnya lebih dari 20 orang (menurut daftar presensi) tapi yang hadir biasanya tak lebih dari 15 orang dalam setiap pertemuan. Pagi itu, aku terlambat masuk kelas selama satu menit (jadi aku baru masuk kelas pukul 07.31 -aku tau karena presensi kami adalah finger print, jadi ada waktunya). Sesampainya dikelas, ternyata baru ada lima mahasiswa termasuk aku, dan belum ada dosen pengampu (oke berarti aku nggak terlambat, kan?). Selama menunggu kehadiran dosen dan mahasiswa lain aku mengobrol sejenak dengan teman ku dan membaca buku. Sekitar sepuluh menit berselang, perut ku sakit, rasanya seperti ingin buang air. Ku lihat jam 07.41 dan dosen belum masuk. Ku putuskan untuk keluar ke kamar kecil tanpa membawa barang penting (seluler, dompet, dsb) hanya mukenah kecil karena ku pikir aku mau sholat dhuha sejenak. Singkatnya aku masuk kembali ke kelas pukul 07.47 dan dikelas ternyata sudah ada dosen pengampu. Dan aku diminta keluar dari kelas karena menurutnya aku terlambat datang .
‘Maaf, Mbak..silahkan tutup pintu dari luar. Mbak datangnya terlambat. Sekarang sudah pukul 07.47 . Keterlambatan hanya 15 menit.’
‘Mbak, tas saya di dalam.’ begitu jawab ku. Dalam hati aku merutuki dosen ini.
‘Tapi saya datang lebih dulu ketimbang, Mbak.’ dosen ini tetap merasa ia menang.
‘Tas saya di dalam, saya datang sejak tadi.’ ucap ku sambil menunjuk tas ku di tengah kelas. Jujur saja, aku tahu menggunakan jari telunjuk amatlah tidak sopan, tapi bagiku tak perlu lagi sopan santun jika lawan bicara ku bahkan merendahkan ku,
‘Saya hadir di kelas lebih dulu, saya datang lebih dulu.’ Ia tetap tak mau kalah.
-ini nggak akan selesai kalau aku nggak mengalah, begitu pikir ku- ‘baik, Mbak. Apakah saya bisa mengambil tas saya?’
‘Oh silahkan, Mbak’
Ku lihat sekilas, ia tersenyum. Bagi ku, itu senyum terbodoh yang pernah ku temui di semester itu. ‘Sekarang mahasiswa banyak cuman naruh tas tapi nggak kelas, saya sebenernya nggak rugi kalau nggak ngajar kalian, atau nggak ada mahasiswa di kelas. Saya juga masih di gaji, harusnya yang rugi kan kalian, orang tua sudah susah payah membiayai kuliah tapi masih sering bolos.’ -dia berkhotbah seolah ia benar, tak tau jika aku menahan tawa hingga perut ku sakit lagi. Ia begitu congkak atas status dosen nya. Aku memilih meninggalkan kelas itu dan membaca buku di tempat lain, jujur saja tidak ada penyesalan dalam benak ku saat itu hingga kini.
(Kurang lebih begitulah percakapan pagi menyebalkan sekaligus menggelikan itu. -fyi, ternyata dosen nya baru masuk 7.44; yang artinya satu menit sebelum 7.45)
Dosen seperti itu tidak hanya satu atau dua saja melainkan ada cukup banyak oknum. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengkritisi hal-hal non substansial tentang mahasiswa seperti keterlambatan, aksesoris mahasiswa, pakaian, dsb. Mereka adalah orang-orang yang ketika di kritik oleh mahasiswa nya, langsung memberi label negatif pada mahasiswa nya. Mereka adalah orang-orang yang menggunakan relasi kuasa untuk menekan mahasiswa nya. Mereka adalah dosen pengampu yang memaksa mahasiswa nya untuk lulus cepat, tanpa peduli keilmuan mahasiswa karena bagi mereka mahasiswa banyak protes tentu menyebalkan.
Maka dari itu, bapak/ibu dosen terhormat..aku ingin menyatakan bahwa sebenarnya kita ini sama. Saat ini, kita sama-sama tengah melakukan korupsi; hanya saja bentuk nya berbeda. Jika mahasiswa memilih untuk skip kelas tapi tetap presensi; bapak/ibu dosen sekalian memilih mempertegas sekat-sekat pengetahuan yang seharusnya kami terima utuh, kami dipaksa untuk lulus cepat alasannya untuk memenuhi pasar kerja. Padahal jika diibaratkan bayi, kami masih prematur dalam keilmuan, masih lemah dalam berpikir; keahlian kami pada akhirnya hanya bermulut manis dan pandangan mata yang menunduk. Bapak/ibu dosen; pernah kah bapak-ibu berpikir atau bertanya tentang kenapa mahasiswa memilih untuk tidak mengikuti kelas yang diampu oleh bapak/ibu? Apakah bapak/ibu sudah melakukan refleksi atas diri bapak/ibu sendiri?
Dear bapak/ibu dosen sekalian, ini cerita dari orang tua dulu; yakni tentang guru dan keberkahan ilmu nya; guru dan kehebatan doa nya. Aku sering berpikir dan bertanya, jika hari ini para dosen (yg notabene nya adalah guru juga) justru sering berkata buruk tentang mahasiswa nya, jangan-jangan banyak nya orang-orang buruk nan jahat di negeri ini karena ucapan para guru atau dosen nya dulu, termasuk para dosen yang dengan mudahnya memberi label ‘koruptor’ ‘korupsi kecil-kecilan’ pada mahasiswa nya.