Sunken City 2040?
seen from Malaysia

seen from India

seen from Russia
seen from China
seen from United States
seen from Germany
seen from China
seen from Germany
seen from China
seen from Sweden

seen from Chile
seen from Ukraine
seen from China

seen from Canada
seen from Yemen
seen from United Kingdom
seen from Ukraine

seen from Malaysia
seen from T1
seen from United States
Sunken City 2040?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
--
Man(groove) Exploration
Kuinjakkan kakiku di atas jalan tapak berlapis tanah lembab ini untuk pertama kalinya bersama teman-teman. Sol sepatu berwarna putih kini terlapisi oleh coklatnya tanah yang mengiringi kita sepanjang perjalanan. Waktu menunjukkan pukul 1 siang. Panas terik menyengat pemberian sang matahari pun tak segan untuk menembus satu persatu lapis baju yang kami kenakan kala itu. Hutan Mangrove, namanya. Salah satu tempat wisata di Surabaya yang tak pernah lepas dari kunjungan wisatawan lokal. Keluarga, sekelompok sahabat maupun pasangan sejoli pun tak akan melewatkan tempat ini untuk dijadikan sebagai tempat meluangkan waktu mereka.
Hal pertama yang menyambut setelah kita melewati pintu masuk adalah sebuah pendopo. “ALAS KAKI HARAP DILEPAS” merupakan peringatan yang ditempelkan secara rapih disalah satu tiang pendopo untuk menjaga kebersihan tempat tersebut. Banyak orang yang terlihat lelah setelah menyusuri panjangnya rute tempat wisata ini.
Cotton candies-yum.
Setelah melewati pendopo yang terdapat dibagian depan, selanjutnya kita menyusuri sebuah jembatan yang terbuat dari kayu yang berada tepat di atas air. Hal selanjutnya yang disuguhkan kepada kita di sini adalah banyak pedagang jajanan kecil seperti permen kapas dengan warna menarik, es krim yang cocok dengan cuaca panas untuk mendinginkan kerongkongan dan deretan minuman segar yang terpampang untuk menghilangkan dahaga. Ada juga beberapa stan makanan yang menjual berbagai menu pengusir rasa lapar seperti mie ayam, bakso maupun nasi goreng.
Tepat di sebelah stan-stan makanan, terdapat sebuah dermaga kecil yang digunakan untuk tempat berangkat hingga kembalinya sebuah perahu perahu. Harga tiket yang ditawarkan untuk orang dewasa adalah seharga Rp 25.000,00 dan Rp 15.000,00 untuk anak-anak, sedangkan untuk menyewa keseluruhan perahu dibutuhkan biaya sebesar Rp 300.000,00 untuk kapasitas maksimal 6 orang saja.
Tak lama setelah memasuki daerah penyewaan perahu, kami memutuskan untuk berhenti sejenak disambi dengan menyantap makanan dikarenakan waktu sudah memasuki jam untuk makan siang. Makanan yang kami santap pun memiliki harga yang terbilang cukup murah dan memiliki rasa yang tidak buruk bahkan cenderung enak. Setelah puas dengan makanan yang kami santap, kami mulai melanjutkan perjalanan dan melewati jalan tanah kering yang berdebu dengan beberapa tempat yang sepertinya sedang dalam proses pembangunan.
Someone took this photo when we’re not even ready.
Tak lupa juga kami mengambil beberapa foto bersama dibeberapa tempat menarik untuk diabadikan. Banyak wisatawan lalu-lalang yang berpapasan dengan kita, hingga sampailah kami di pintu masuk Hutan Mangrove yang sebenarnya. Kami membayar hanya sebesar Rp 5.000,00 untuk dapat masuk dan menikmati pemandangan yang ada di dalamnya.
Jembatan yang mengawal kita sepanjang jalan di sana terbuat dari kayu yang hanya selebar kurang lebih 2 meter dan hanya dapat dilewati 2 orang saja. Ditambah dengan banyak wisatawan yang memutuskan untuk berhenti, mengambil foto, menyantap jajanan kecil di sisi kanan maupun sisi kiri jembatan yang terkadang menghalangi wisatawan lainnya untuk melanjutkan perjalanan.
This photo was better than the rest.
Sebanyak tiga kali kami meminta tolong kepada wisatawan lain untuk mengabadikan momen kami bersama, tak satu pun dari sekian foto yang diambil memiliki hasil yang bagus (sigh). Hingga pada akhirnya kami selalu mengambil foto sendiri dan tak lagi meminta bantuan pada orang lain. Tak terasa kami sudah sampai di ujung jembatan, lalu kami berbalik lagi dan melanjutkan perjalanan kembali ke pintu keluar yang sama dengan pintu dimana kita masuk tadi.
Sweet cotton candy in the making.
Keinginan untuk mengecap sesuatu yang manis pun keluar, saya akhirnya berhenti di tempat dijualnya permen kapas berwarna-warni dan mau tak mau pun teman-teman saya ikut berhenti menemani saya. Canda dan tawa bersama bapak pedagang pun sempat mengisi waktu bersamaan dengan dibuatnya permen kapas yang masih segar. Rp 5.000,00 saya kocek dari dalam saku untuk ditukarkan dengan permen kapas berwarna putih salju tersebut.
Hari tak terasa sudah memasuki waktu sore dan kita mengistirahatkan kaki di pendopo yang kita jumpai diawal tadi sambil menunggu kendaraan yang datang untuk menjemput kita bersama. Rasa lelah yang datang diakhir tergantikan oleh tawa kita bersama saat membicarakan banyak hal kecil yang kita jumpai di dalam Hutan Mangrove tadi. Edisi hari ini yang diisi oleh kisah perjalanan kami ke Hutan Mangrove ini merupakan hal yang sangat menyenangkan yang telah saya lalui bersama para sahabat karib saya.
Well..
Friendship isn’t a big thing – it’s a million little things.
Baju Basah
Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore terdengar suara gemuruh rintikan air yang jatuh dari langit ke tanah yang menimbulkan aroma kebebasan. Sebebas aku memilih makanan apa yang harus kumakan sore ini. Berputar-putarlah aku menelusuri ruang dapur yang tak terlalu luas ini. Namun dengan perlahan mataku tertuju di satu sudut dapur, terdapat sebuah benda berbentuk balok dengan fitur pendinginnya, kubukalah pintu balok itu namun naasnya tak ada satupun makanan yang bisa kumakan. Ku tengok keluar jendela terdapat warung di ujung seberang rumahku.
Terlintas untuk beli makanan dengan resiko baju kesayangan Surabaya beatbox ku basah oleh serbuan air hujan atau terdiam menunggu ambulan datang???
Karena perutku tak diberi asupan apapun selama beberapa hari belakangan ini. Akupun rela bajuku basah demi perut yang terus mengomel ini.
Kutata mentalku aku pun keluar rumah dan menuju warung tersebut. Serbuan air menyerangku ber irama seperti dipukul oleh selusin pendekar bak di film laga. Tak kuhiraukan aku pun berjalan dengan langkah konstan. Dipertengahan jalan, otak ku mereka ulang memoriku dan dia bilang begini:
O: Otak ku A: aku
O: “loh bukannya kamu punya payung sob?”
A: astaga, iya ya lupa aku kalau punya payung ☹
O: yah gimana sih lu, itu kan baju satu-satunya. Yang lain kan masih di laundry ??
A: astaga naga lupa lagi aku arggghhh. Besok pake baju apaan dong fakkkkk
O: overdosis beatbox sih lu, ginian aja sampe lupa. pake daun pisang noh di depan rumah
(hehehe sorry garing :*)
Akupun tetap melanjutkan ke warung depan rumah.
Sesudah sampai di warung, ibu penjual terlihat sibuk membersihkan dagangannya. Dan membalikkan papan yang bertuliskan “buka” menjadi “tutup”. Ada kejanggalan apa ini kataku dalam hati, apakah ini konspirasi yang dibuat oleh ibu-ibu tersebut?? Atau ibu-ibu tersebut adalah agen FBI yang sedang menyamar jadi penjual nasi di warung. “Ah bodolah” kataku, aku pun langsung memesan 1 bungkus nasi penyetan. Dan tiba-tiba ada suara orang tua yang berbisik di telingaku!
“nasinya sudah habis le”
Aku pun melompat dengan kagetnya, eh ternyata bapak-bapak tersebut suami dari ibu penjual yang tadi. Tersungkurlah aku ketanah ya tuhan cobaan apalagi yang engkau berikan kepadaku. Aku kembali ke rumah dengan baju basah dan raut muka yang lusuh. Perutku pun berontak dan mengeluarkan bunyi-bunyi yang berirama. wow
“tak disangka perutku bisa beatbox” kagumku.
Alangkah senangnya aku pun duduk di depan rumah sambil beradu beatbox dengannya. mungkin ini balasan dari tuhan untuk meringankan rasa lapar di perutku. hehe

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Akhir pekan terakhir bersama Bapak
Namaku Syahidah Asma amania, biasa dipanggil Ida, atau dul bagi orang-orang terdekat. Aku lahir di Mataram, 25 Januari 1997.
Semenjak kuliah, aku hidup jauh dari keluarga. Bapakku bekerja di luar kota tepatnya di Balikpapan, Kalimantan. Kakak perempuanku sedang menjalani semester akhirnya di Universitas Indonesia, Kakak pertamaku di Unair, Adik perempuanku duduk di bangku SMP di salah satu boarding school di Surakarta, Ibuku dan kedua adikku yang masih kecil menetap tinggal di rumah di Yogyakarta. Sedangkan aku sendiri sedang menjakani kuliah di ITS Surabaya. Ya, Kami sekeluarga dengan total jumlah orang berdelapan ini jarang sekali berkumpul dengan anggota lengkap. Semua punya kesibukan masing-masing dan jadwal kosong yang berbeda-beda. Hanya hari raya Idul fitri yang dapat mempertemukan kami satu sama lain.
Sedih sebenarnya, yang dulunya kami tinggal di satu atap, diantar ke sekolah oleh Bapak, pergi jalan-jalan di akhir pekan layaknya keluarga pada umumnya. Kami hanya bisa seringberjumpa via suara dan obrolan via grup.
Suatu hari, tepatnya 5 Mei 2016 ada chat masuk dari Bapak,
“Akhir pekan ini Bapak ke Jogja, semua harus pulang ya. Kita sudah lama ndak kumpul dan rekreasi sekeluarga”
Dengan ajaibnya, chat dari Bapak di obrolan grup akhirnya dapat mengumpulkan kami sekeluarga di rumah Jogja. Walaupun sebelumnya banyak yang tidak bisa terutama aku dan kakak-kakakku yang sudah kuliah dan banyak kegiatan.
“Bagaimanapun, kalian harus pulang” pinta Bapak sebelum kami semua mengosongkan jadwal.
______________________________________________________________
7 Mei 2016
Dieng, pagi itu kami sekeluarga memutuskan untuk berangkat berlibur kesana. Senang sekali rasanya aku bisa berkumpul lagi dengan keluarga. Bagaimana tidak, sudah hampir setengah tahun kami tidak berkumpul dengan notabene “Full team”.
Di Dieng, Aku sangat menikmati waktu-waktu bersama keluargaku. Kami menginap di salah satu penginapan sederhana dengan 2 kamar, yang penting cukup untuk kami berkumpul dan menghangatkan diri. Momen-momen yang paling aku ingat saat itu adalah sewaktu kami berdelapan kumpul menjadi satu dalam satu kamar, sempit sih, tapi kebersamaan dan canda tawa waktu itu benar-benar mahal harganya, jarang sekali didapatkan.
Aku dan keluargaku berkunjung ke Telaga warna Dieng. Disana kami menikmati pemandangan, memakan jagung bakar, berfoto-foto. Aku seperti biasanya memegang kamera memfoto-foto bapak yang bergaya dengan gagahnya.
Aku diminta memfoto bapak bersama ibu yang kembali seperti anak muda yang lagi kasmaran.
Dan sebaliknya Bapak yang memfoto kami enam bersaudara.
Yang disayangkan sewaktu itu aku lupa membawa tripod, alhasil kami berdelapan fullteam tidak sempat foto bersama di sana. Bahkan aku juga tidak sempat berfoto dengan bapak disana. Kalau diingat-ingat ingin sekali aku kembali ke waktu itu.
______________________________________________________________
Sangat disayangkan liburan singkat kami usai. Kami kembali ke tanah rantau masing-masing. Bapak kembali bekerja, Anak-anak kembali mencari ilmu.
Aku masih ingat terakhir kali diantar bapak ke Stasiun. Berdua di dalam mobil dengan bapak. Bercerita banyak hal seputar dunia pekerjaan. Banyak masukan yang didapat dari Bapak.
Aku berpamitan dengan bapak didepan Stasiun tugu Joga.
______________________________________________________________
25 Mei 2016
Ibuku tiba-tiba harus terbang ke Kalimantan mendampingi Bapak yang jatuh sakit dan harus di opname di rumah sakit. Mendengar kabar Bapak yang sudah sulit berjalan karena karena kata dokter mengalami kebas dan kelelahan, membuatku menangis sehabis sholat. Dari jauh, aku mendoakan bapak agar lekas sembuh dan diberi umur panjang. Sayang sekali waktu itu aku tidak sempat ikut meyusul ke Kalimantan karena aku sedang menjalani ujian akhir semester.
______________________________________________________________
29 Mei 2016 02:30 am
Jarang sekali aku bisa bangun lebih awal, begitu juga kakak-kakakku yang berada di Jakarta. Kami terbangun dengan adanya pesan masuk dari ibu via obrolan grup keluarga.
“Bapak ndak sadarkan diri. Mohon doanya ya anak-anak. Sholat, ngaji, dan bacakan doa sebanyak-banyaknya” dikirim bersamaan dengan foto Bapak yang terbaring di kasur.
Membaca dan melihatnya aku spontan menangis. segera mengambil ait wudhu, kebetulan aku belum sholat isya, kemudian aku sholat dan mengaji. Aku membaca ayat al-qur’an dengan tangis. Sedih sekali rasanya. Rasa takut yang benar-benar takut terbenak dipikiranku, takut kehilangan sosok Bapak.
10:30 am
Aku terbangun setelah ketiduran sehabis subuh, langsung kubuka ponselku dan mengecek banyaknya chat masuk via whatsapp, aku membuka grup keluarga pertama. Dan iya, hanya tangis keras yang dapat aku keluarkan waktu itu. Bapak sudah berpulang.. Tak lama setelah itu telfon masuk dari kakak perempuanku. Aku sudah tau apa yang akan dia omongkan di telfon. Kuangkat telfon darinya dan kemudian kami hanya bisa menangis bersama via telfon.
Di hari itu juga jenazah Bapak langsung dibawa ke pulau Jawa, tepatnya di Mojokerto, tempat kelahiran bapak dan juga tempat kami berkumpul setiap tahunnya sewaktu lebaran. Kami semua menuju kesana untuk bertemu Bapak, berpamitan untuk yang terakhir kalinya.
Ungkapan Hati yang Tak Terungkap
(#nge-review film YOU ARE THE APPLE OF MY EYE)
Dalam hidup tak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi hari ini maupun suatu hari nanti. Dengan begitu kita akan lebih bisa memaknai arti berbagai siklus hati: senang, sedih, marah, kecewa, dan sebagainya.
Bersyukurlah selalu karena kita memiliki orang-orang yang diciptakan sang Pencipta untuk ada di sekitar kita. Keluarga, Teman-teman yang saling membuat kita merekahkan senyuman bersama maupun orang spesial yang selalu mendukung kita.
“You Are The Apple of My Eye”
Sebuah ungkapan untuk orang yang sangat spesial ini menjadi sebuah judul film komedi romantis produksi Taiwan (2011) yang sangat membekas di pikiran dan juga hati orang yang menontonya. Film yang diadaptasi dari novel karya Giddens Ko ini berhasil membuat penonton ikut terbawa emosi karena kejutan-kejutan tak terduga dalam pembawaan ceritanya.
Film yang banyak dibumbui dengan berbagai komedi yang agak nakal ini mengisahkan cerita cinta antara Ko Ching Teng (Ko Chen Tung) dengan Shen Chia Yi (Michelle Chen), dimana cerita mereka diawali saat masa dan kepribadian mereka yang ibarat siang dan malam (berkebalikan).
Shen Chia Yi merupakan siswi teladan dengan segudang prestasi akan kecerdasanya. Selain itu kecantikanya menjadi salah satu pesona lain bagi seluruh murid laki-laki di sekolah itu. Terkecuali Ko Ching Teng, Siswa yang tak peduli dengan pelajar dan selalu usil ini pada awalnya sama sekali tidak tertarik meski semua teman-teman terdekatnya sekalipun tak ada yang luput dari pesona Shen Chia Yi.
Karena suatu kejadian mereka akhirnya saling jatuh cinta. Ya, beginilah yang dinamakan “orang beruntung bisa mengalahkan orang pintar”. Karena peristiwa tadi bisa mengubah prespektif Chia Yi terhadap Ko Teng.
Eitsss.. iya mereka saling jatuh sih, tapi mereka tak sekalipun mendeklarasikan kalau mereka pacaran. Ya walaupun sama-sama tahu kalau saling suka. Tapi tetap saja tak sekalipun terucap dari mulut masing-masing. Kalau di Indonesia bisa dibilang HTS (Hubungan Tanpa Status). Status itu pun terus berlanjut hingga kuliah yang mengharuskan mereka jarang bertemu, ditambah alat komunikasi jarak jauh kala itu masih susah digunakan yang mengharuskan Ko Teng mengantri panjang di telepon umum tiap ingin mendengar suara Chia Yi.
Suatu hari terjadi kesalahpahaman yang membuat mereka bertengkar hebat sampai membuat mereka putus komunikasi dan tidak saling berkomunikasi sama sekali. Sampai sebuah gempa yang mengguncang wilayah mereka membuat Ko Teng sangat khawatir akan Chia Yi. Setelah berlarian kesana kemari mencari sinyal handphone untuk menghubungi Chia Yi, Ko Teng dapat bernafas lega setelah mengetahui bahwa orang yang dicintainya baik-baik saja.
Setelah sepanjang film sang sutradara menyajikan beberapa kejutan yang berhasil mencapur aduk hati dan berkali-kali berhasil membuat penonton geregetan. Ia menambahkan kejutan pamungkasnya dengan menyajikan plot twist dimana Ko Teng menghadiri pernikahan Chia Yi yang berarti Chia Yi tidak menikah dengan Ko Teng. Tetapi bukan berarti mereka tak saling suka lagi Mungkin karena si wanita sudah mulai berpikir realistis untuk memilih yang pasti. :) Banyak hal yang membuat film ini menjadi menarik. Diantaranya adalah cara sutradara menyampaikan alur cerita yang asik(banyak twist, kejutan cerita) disamping ceritanya juga merupakan semi-autobiografinya.
Michelle Chen yang seharusnya sudah berumur sekitar 30 tahun masih luwes memerankan tokoh Chia Yi terutama saat masih SMA.
Selain itu film ini juga mengajarkan untuk selalu mendoakan yang terbaik untuk mantan (HEHEHE) dan masih banyak lagi
Hmm, terbukti sih film ini sukses membuat orang nggak bosen nonton berkali-kali. ya saya salah satunya. Menurut saya film ini cocok diberi 4.5 poin dari 5. 0.5 point lagi berharap ada lanjutannya lagi, hehehe
“If you really like a girl. It is impossible to see her marry to another guy and still bless them. True love means someone should sneak up and stabs the groom in the back. But I am wrong. In fact, when you really like a girl, you’d be happy for her. When you see her finding her Mr. Right. You will want them to be together. And to live happily ever after.“
-Ko Ching Teng-
(Rof)
Menikmati Musim
Bukan kisah cinta
“This is a story of boy meets girl, but you should know upfront, this is not a love story.”
(Untuk catatan agar lebih fair, saya tidak akan menggunakan kata cinta dari titik ini selama menulis review, walaupun berat.)
“An offbeat romantic comedy about a woman who doesn't believe true love exists, and the young man who falls for her.”
Intinya memanglah pertemuan, tidak ada yang bisa diharapkan dari cerita yang diangkat merupakan sesuatu yang spesial. Tapi tunggu, hingga tulisan ini dibuat, kurang lebih (jika benar) 9 kali saya menontonnya semenjak kira-kira empat tahun yang lalu dan mungkin akan terus mengitung lagi. Sebenarnya terbilang terlambat saya menonton karena film ini rilis ditahun 2009, terlambat bukan berarti tertinggal untuk waktu yang tepat. Tentu bilangan yang agaknya kurang masuk diakal mengingat film yang sama diputar berulang kali, oleh orang yang sama, dengan cerita yang tidak mungkin berubah, dan menurut saya juga inti cerita yang diangkat biasa-biasa saja.
“It's very smooth and well done; Marc Webb clearly has a solid visual eye and natural sense of pacing.”
– Laremy Legel, Film.com.
Adalah Marc Webb, sutradara yang membuat ceritanya begitu menarik untuk disaksikan. Jika boleh mengutarakan pendapat pribadi, kesederhanaan dari penuturan ceritanya yang membuat saya jatuh hati. Jenius, menonton 8 menit pertama plot yang ditampilkan sangat intens dengan berbagai permasalahan yang akan muncul selanjutnya. Tidak ada kata monoton dalam penguraian cerita selama 95 menit mata tidak berpaling. Adegan tiap segmen yang seringnya kontradiktif adalah sesuatu yang sulit untuk dikombinasikan dengan baik dan patut diapresiasi tinggi. Adegan-adegan tersebut kadang membuat tawa keluar begitu saja dan tidak luput ceritanya menjadi nyaman untuk diikuti.
lihat bagaimana Summer tersenyum
Kesederhanaan adalah kekuatan yang ditonjolkan, bukan dengan berbagai macam efek visual yang menggugah debaran jantung. Inti cerita yang semua orang normal dapat dan pernah merasakannya. Bahkan jika dibandingkan dengan cerita-cerita orang lain mungkin secara keseluruhan film ini mempunyai garis besar yang sangat standar. Tapi, standar bukan berarti buruk kan? Inilah yang membuatnya universal, tiap orang dapat menerimanya tanpa ada kata klise diliku kisahnya.
Tentang lelaki bertemu dengan perempuan
“i love the smiths” – Summer Finn ; “Holy ssss..” – Tom Hansen
Lakon yang disorot selama film adalah Tom Hansen (Joseph Gordon-Levitt), merupakan lelaki yang berkeyakinan tidak akan bahagia hingga menemukan orang yang tepat. Terjebak disituasi yang membosankan dan kehidupan yang sangat rata-rata. Berlatar belakang pendidikan arsitek dan takdirlah yang memilihkannya tempat di sebuah perusahaan kartu ucapan, sebagai karayawan tentunya, bukan seorang arsitek.
Lawan main utamanya bernama Summer Finn (Zooey Deschanel), seorang pindahan dari Kota Michigan yang akhirnya terjatuh dalam cerita sebagai seorang sekretaris kantor produksi karu ucapan. Selalu dikaitkan dengan hal-hal yang menguntungkan semasa dulu seolah terbantu tiap saat (karena kecantikannya, jelas). Summer bukanlah wanita yang hangat, cenderung seperti hmm, robot. Tidak beremosi dan kadang sulit dimengerti. Lagi-lagi hanya satu kata yang mempertemukan mereka disini, takdir.
Liku cerita
Betapa bodohnya Tom
Plot dalam cerita dimulai 8 Januari, alur cerita yang dibangun pelan selama beberapa scene awal. Dan intens dibeberapa scene selanjutnya, melompat-lompat memunculkan beberapa puncak permasalahan yang membuat saya sebagai penonton ikut terlibat mendalami masalah yang muncul. Sang sutradara ingin agar plot yang disampaikan dapat teringat betul di benak penonton dengan beberapa kali callback scene yang sudah ditampilkan. Secara gampangnya adalah beberapa cuplikan scene diawal dan penjelasan dari kejadian sebelumnya muncul di scene setelahnya.
rolling.. rolling.. rolling..
Terlalu muluk-muluk jika mengingat durasi film ini yang hanya 95 menit harus dipaksa menampilkan 500 hari penuh dari jalannya cerita. Marc Webb menampilkan adegan-adegan yang memang pantas untuk dijadikan plot yang membangun cerita. Walau beberapa scene tidaklah penting tapi sangat menghibur untuk memecahkan lapisan yang mengeras.
Penyajiannya pun sangat apik, pemilihan latar tempat dan waktu yang terasa pas, dan color grading yang memesona. Semua kesederhanaan yang ditampilkan sukses dibalut dengan sentuhan khas sinematik Hollywood. Ada konsep yang tidak biasa sebenarnya dari film ini, dibagian awal, ahir dan beberapa bagian pertengahan film akan ada narator yang membacakan kejadian suasana. Menurut saya itulah sebagian kecil dari penyajian yang membuat penonton dapat hanyut dalam pergolakan batin mereka, terlepas dari ide cerita yang dikemas dengan baik.
“Finally, a romance that understands we mark our lives by our scrapes with love, and our defeats, rather than simply white-wedding-cake success.”
– Desson Thomson, Washington Post.
“Tom, don't go! You're still my best friend!”
Pemilihan pemeran dalam film pun dieksekusi dengan baik, sebut saja Joseph Gordon-Levitt dan Zooey Deschanel. Mereka berdua berhasil membangun atmosfer cerita dari Tom dan Summer, jelas terlihat ikatan antara keduanya dari berbagai kejadian yang disajikan. Yang saya kagumi dari akting mereka adalah perwatakan dan gaya bahasa yang sangat sangat baik. Tom yang terlihat kadang putus asa, dan menerima bertolak belakang dengan Summer yang dingin, terlihat-seperti-robot, dan independen. Ya, mereka berdua berhasil memerankan tokoh dengan sangat baik. Dan gaya bahasa disampaikan dengan apa adanya tetapi diperkuat dengan pemilihan kata yang menurut saya luar biasa. Penggunaan bahasa yang jarang terdengar menurut saya adalah nilai tambah dari segi literasi.
Tidak lupa hadirnya tokoh pembantu bernama McKenzie, Rachel, dan Paul sebagai sosok teman dekat dari Tom mencairkan kakunya sandaran kursi bioskop. McKenzie (Geoffrey Arend) dan Paul (Matthew Gray Gubler) adalah sosok yang jenaka sekaligus teman setia. Yang lucu, Rachel (Chloë Grace Moretz) sebagai sosok remaja justru keluar sebagai sosok yang paling dewasa dalam film, dia sesekali memberi Tom nasehat. Scene yang paling saya ingat dari Rachel adalah saat Tom menemani Rachel bertanding dan menggambar di buku sketsanya.
LOL!
Takdirlah yang benar-benar menuntun
AKHIRNYA 500!!
Bahkan saya sampai lupa apa yang akan terjadi dihari terakhir(500) akibat terlalu menikmati ceritanya. Jika tidak muncul gambar seperti diatas mungkin saya tidak ingat kisah yang disajikan hanyalah 500 hari. Rasa penasaran apa yang akan terjadi di hari terakhir datang lagi. Sesuatu yang tidak terduga singkatnya. Hari terakhir di musim panas.
hi..
Takdir adalah mesteri paling indah yang dihadirkan oleh Sang Pencipta. Walaupun sepanjang 9/10 jalannya film terisi oleh konflik, tidak ada yang lebih indah dari penyelesaiannya. Bertemu secara tidak sengaja, membawa konklusi yang tidak terduga. Tom kini mempunyai jalannya sendiri. Musim gugur tidak datang sebelum musim panas berlalu, iya kan?
“The ending is tidy and way too cute, but (500) Days is otherwise a different kind of love story: an honest one that takes a piece out of you.”
– Peter Travers, Rolling Stone.
Secara keseluruhan saya sangat menikmati film yang rilis 2009 ini. Delapan tahun berlalu dan saya masih sangat menikmati tiap likunya. Saya bersyukur bisa menikmatinya, semua rasa yang disampaikan dapat tertangkap dengan sempurna. Maka darinya, saya secara pribadi memberikan penilaian 8.7/10 untuk film ini. Well done!
cara terbaik untuk memulai sesuatu yang baru
honorable mention
source : imdb.com, rottentomatoes.com, giphy.com, youtube.com