#2 Dilematis Room
Terkadang kita terjebak dalam ruangan penuh kedilematisan.
Bagaimana tidak, saat sebagian diri kita yang lain ingin mengarah ke kanan, tapi kenyataannya kita berjalan ke kiri bagian.
Aku tahu bahwa hidup dalam pergulatan semacam itu sungguh menyesakkan. Terlebih tatkala kita terlalu lemah untuk mengendalikan dua sisi dalam diri yang saling bertentangan.
Pun sama tatkala kita berupaya dalam proses penempaaan diri dari hari ke hari. Kadang ujian bukan menyoal tantangan dipersimpangan jalan yang kelihatan, tapi adalah perkara terjebak dalam ruang dilematis yang menyesakkan dan penuh pergolakan.
Sesederhana raga kita yang ingin senantiasa mendekat pada-Nya, namun apa daya kita malah sibuk dengan perkara sia-sia yang hanya membuat diri sendiri kecewa.
Ya... sadar atau tidak, kekecewaan itu nyata adanya. Dalam balutan dilema, meski kita berusaha menyangkalnya.
Sungguh tiap raga yang kita miliki sesungguhnya ingin selalu taat pada-Nya, tapi nafsu diri melebihi ekspetasi, hingga terbuai arah dengan gempita maksiat yang teramat menggoda hari ini.
Kita tak bisa berlama-lama terjebak dalam ruang itu terus-terusan, kawan. Kita harus mengerahkam segenap kekuatan untuk keluar, membebaskan diri kita sendiri. Sebelum semuanya tak lagi berarti, hingga kita terjebak bahkan terkunci hingga tak bisa lagi lari... selama-lamanya.
Ya... kita butuh kekuatan, butuh petolongan untuk segera keluar.
Pilih terkunci selamanya didalam ruang menyesakkan itu atau berjuang keluar meski rasa payah dan lelah bakal membawa pada titik terlemah kita?
Mintalah tolong, minta tuk dikuatkan. . .
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kamiā¦ā. (QS. Ali Imron: 8)
Karena tak sebatas upaya kita seorang, kita tetap butuh pertolongan-Nya untuk bisa keluar dan bebas.
"Keluarlah wahai diri, kau berhak untuk bebas, kau berhak untuk menjadi hamba-Nya yang baik, kau berhak untuk bahagia. Karena aku tak ingin kau terus-terusan terjebak dan tersiksa, karena aku peduli, karena aku menyayangimu...."
Ditulis di malam ke empat Syawal 1441 H
Cilacap, 26 Mei 2020 (22.13)















