TANDA TANYA DI JATINANGOR
Malamku panjang
dan lengang.
Mendikte satu per satu tunggu
yang dimaki setiap insan
juga para Tuan yang berdiri–jongkok
memikul beban umatnya.
Kau pernah singgah
di tempat paling megah
yang kususun rapih dan bersih
tapi semakin lama, kau meresah
rautmu risih, erangmu perih.
Semesta pernah tunjukkan
pada kita tentang ruang-ruang
hampa; menuntun air mata ke muaranya.
Bibirmu yang asin itu
gemetar hebat, meminta ampun
padaku yang akan pergi
sedang kakiku tertegun
malu padamu yang begitu.
Aku baik-baik saja sekarang ini
kau pun.
Lantas, perihal apalagi yang menjauhkan kita?
— Jatinangor, A.















