Indonesia, Jangan jadi Tikus Mati di Lumbung Padi!
Dijuluki negara maritim dan negara kepulauan, Indonesia memiliki sejarah menduduki peringkat ke - 4 di dunia dengan jumlah penduduk terpadat, setelah Cina, India dan Amerika. Pada umumnya, negara dengan banyak penduduk dilabeli dengan julukan negara berkembang, kecuali Amerika Serikat. Hal ini berkaitan dengan banyaknya aspek yang harus "diurus" pemerintah negara yang bersangkutan. Karena ketimpangan dari segala aspek tersebutlah terbentuk gejala sosial yang disebut kemiskinan. Munculnya kemiskinan dirasakan menimbulkan gejala sosial lain, seperti pencurian, penculikan, sengketa tanah, dan sebagainya.
Kemiskinan adalah suatu keadaan di mana seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya. Menurut penulis, ada beberapa faktor utama penyebab kemiskinan, yaitu :
1. Penganguran
Maraknya pengangguran, terutama di kota-kota besar disebabkan oleh kegiatan urbanisasi. Dengan pindah ke kota, banyak orang yang berharap mampu bekerja dan mendapat pekerjaan yang diharapkan dengan gaji besar. Namun, tidak semua berhasil, bisa karena faktor pesaing, atau faktor internal individu yang kurang memadai kualifikasi perusahaan.
2. Wawasan yang rendah
Jika pernah mendengar bahwa pengetahuan itu mahal, pada suatu kondisi, memanglah benar. Sebab pengetahuan dapat menciptakan hal baru. Dalam hal pekerjaan, seseorang yang memiliki pengetahuan akan suatu cara, atau suatu manfaat tanaman atau hewan, akan mendapatkan penghasilan dengan menerapkan pengetahuannya dengan teliti dan konsisten. Individu tanpa wawasan yang luas tidak akan berkembang dan akan berhenti pada satu titik.
3. Kurangnya kreativitas individu
Industri kreatif tak luput dari persaingan global. Untuk itu, individu yang memiliki kreativitas tinggi harus mampu bersaing ketat untuk bertahan di dunia pekerjaan. Perlu diingat, bahwa pekerja kreatif tidaklah dibayar murah. Oleh sebab itu, orang kreatif tidak akan menemukan jalan buntu untuk terus maju. Jika seseorang kurang memiliki keterampilan atau kreativitas, maka akan sulit untuk bersaing di dunia kerja, bahkan sulit membuka lapangan pekerjaan sendiri.
Dari studi literatur yang penulis lakukan, pengangguran memang menjadi faktor utama penyebab kemiskinan. Masalah yang tampak adalah, sedikit sekali masyarakat Indonesia yang memiliki keinginan untuk menjadi pembuka lapangan pekerjaan, dibandingkan mencari kerja dan menjadi karyawan. Apa lagi faktor "sesepuh" yang mengiginkan anak cucunya yang sudah disekolahkan hingga diploma bahkan sarjana menjadi manager atau direktur suatu perusahaan, atau menjadi karyawan dari suatu bank, atau direkrut menjadi karyawan keuangan negara, mentri negara, dan sebagainya. Hal tersebut akan menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi pihak keluarga. Padahal, jika ingin dan mau berpikir terbuka, kreativitas anak sudah terlihat sejak masih kecil, sekolah dasar atau menengah, dan pekerjaan tidak hanya itu-itu saja seperti manajer proyek, keuangan, akuntan, perbankan, teknisi atau marketing.
Dari data statistik berdasarkan hasil survey, penyebaran pengusaha di Indonesia tidak merata. Pengusaha-pengusaha yang ada pun masih terpusat di Pulau Jawa. Bisa dilihat dari data Indonesia dalam angka yang menunjukkan hanya 1,65% dari penduduk total yang menjadi pengusaha. Idealnya, persentase jumlah pengusaha suatu negara adalah 2,5% dari populasi. Perbandingan tersebut masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Amerika,Jepang, bahkan Singapur, Malaysia dan Thailand.
Padahal, jika mayoritas penduduk Indonesia yang ratusan juta ini adalah pengusaha, Negara Indonesia bisa lebih maju dan terbebas hutang. Namun, pemikiran mapan setelah menjadi karyawan, mendapat tunjangan dan menadapat tunjangan pensiunan sulit untuk dilepaskan dari benak penduduk Indonesia saat ini.
Masalah lain adalah minimnya kepemilikan modal. Pada suatu kasus, seseorang yang memiliki keterampilan dan kreativitas yang tinggi, tidak memiliki cukup modal untuk menjalankan idenya. Seharusnya di sini lah peran pemerintah dalam memajukan industri kreatif Indonesia, yakni sebagai penanam modal. Banyak kasus yang pada akhirnya muncul monopoli pasar oleh perusahaan asing. Bagaimana tidak? Banyak kesempatan peran pemerintah sebagai penanam modal diambil alih oleh pihak asing. Maka tak heran, jika orang-orang kreatif Indonesia banyak yang bekerja pada pihak asing.
Sementara lain, individu-individu yang kurang memiliki keterampilan harusnya dilatih dan dibekali keterampilan lebih oleh pemerintah. Pemerintah dapat melakukan program pelatihan industri kreatif, atau berbagai bidang lainnya yang memenuhi potensi penduduk Indonesia. Program pemerintah yang dapat membantu, misal seminar, penyuluhan, pembekalan, dan sebagainya, yang dilakukan secara konsisten dan serius. Yang sering terjadi adalah program hanyalah program, tanpa evaluasi dan pengawasan lebih lanjut. Pada akhirnya, tujuan awal untuk membangun kreativitas dan mengentas kemiskinan tidak tercapai. SDM dari pemerintahan sendiri haruslah konsisten dan tegas dalam menjalankan program serupa.
Reference : http://databoks.katadata.co.id/














