Steorotype Psikolog
Beberapa hari yang lalu ketemu teman lama
She : Lin kamu terlihat lebih fresh ya sekarang
Me : Iya sekarang lebih chill sama masalah & perubahan kondisi gegara habis dari psikolog
She : Haa? Kok ke psikolog sih
Me : Gak harus jadi orang super problematik juga lah kalau mau ke psikolog
Setiap berbicara tentang psikolog, aku paham kalau masih ada steorotype yang mengakar if we decide to ask a psychologist for help about our problems. It's like we have a severe mental illness. Jadi gak heran kalau cerita ke beberapa orang, dari 10 orang nih ya. Yang memberi respon positif tanpa embel-embel wah nih orang ternyata otw gila ya palingan 1 atau 2 dari 10 orang.
Jelas berbeda jalan cerita kalau 10 orang tersebut adalah mahasiswa psikologi yang lagi ambil profesi atau malah psikolog beneran. Meskipun sama-sama psikolog, cara penanganan masalahnya pun tiap psikolog pasti beda. Sama halnya kalau punya keluhan sakit kepala, datang ke beberapa dokter ya bisa jadi diagnosisnya berbeda. Tapi intinya meski beda ya punya muara tujuan yang sama, gimana caranya masalahnya kelar tanpa berimbas ke yang lain.
Buat aku ke psikolog itu jalan yang aman dan bijak kalau lagi ada masalah yang beneran bikin burnout & stuck. Yang kalau tetep diam-diam bae, merembet ke how I decide something.
Waktu itu sebelum ke psikolog, aku minta izin ke ortu. Karena memang aku terbiasa saying anything ke ortu tentang keputusan besarku. Aku jelasin persamaan psikolog dan dokter sebagai analogi yang mudah dipahami siapapun. Akhirnya ya paham.
Analoginya, kalau ke psikolog itu sama halnya sakit diobatin sendiri tetep gak ada progress kesembuhan. Maka jalan terbaik adalah harus konsultasi ke dokter ini gimana bisa gini, sudah ikhtiar apa aja, dll. Nah ke psikolog tuh sama. Emang di era ortu, nenek-kakek ke atas taunya perubahan kondisi yang menyebabkan sakit fisik yang terlihat di luar. Bukan perubahan kondisi di dalam pikiran yang hanya diri sendiri dan Tuhan yang tau.
Entah ya setiap ada orang yang cerita punya masalah abcde, ketika aku beri suggestion minta bantuan profesional (re: psikolog) jawabannya selalu menampik dengan senyuman, “Aku gakpapa kok, ini masalah biasa bukan yang berat. Gak perlu ke psikolog juga”











