OPIA
aku jatuh pada matamu. seperti dunia tiba-tiba terbalik dan aku jatuh ke langit. tanpa dasar, tanpa sadar.
aku melihat matamu dan aku terpaku. seakan ada ribuan anak panah melesat dari sana, menginvasi; melewati jendela—menembus hati.
aku melihat matamu dan aku tenggelam. seolah ada laut yang dalam di sana, yang menarik dan menggulung seluruh aku tanpa sempat bersiap.
aku melihat matamu dan menemukan selamanya di sana. menatapmu, aku menemukan segala cukup. aku menemukan pulang.
dan oleh karena itu, aku cukup mengerti bahwa mataku ingin menemui matamu sekali lagi—atau selamanya. bolehkah?
Jakarta, 140721













