Rinduku untukmu-Calon Imamku.
Seakan tak ingin mengakhiri perbincanganku dengan sang pemilik hatimu. Berulang-ulang ku sebut namamu-di Sepertiga malamku. Semoga Tuhan tak keberatan atas pintaku. Dan lekas mempersatukan kita di ruang temu. -Dita KD
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from Malaysia
seen from T1

seen from Malaysia
seen from China

seen from Chile

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Iraq
seen from Canada

seen from Switzerland
seen from China
Rinduku untukmu-Calon Imamku.
Seakan tak ingin mengakhiri perbincanganku dengan sang pemilik hatimu. Berulang-ulang ku sebut namamu-di Sepertiga malamku. Semoga Tuhan tak keberatan atas pintaku. Dan lekas mempersatukan kita di ruang temu. -Dita KD

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Satu waktu, saya dapat pesan dari seseorang yang bertanya tentang, "Apa sih kriteria pasangannya kakak?"
Nah, pertanyaan ini seperti jebakan yah. Memicu diri mengutarakan apa yang di mau, bukan apa yang di butuhkan. Terlebih dari percakapan ini, bisa jadi jalan chat berulang, tanpa sadar bisa menimbulkan efek kenyamanan kalau keterusan. #tepokjidat sambil istighfar...
Ketika dalam situasi ini, yang saya lakukan, tegas saja bilang sama dia, hubungi wali atau guruku. Dia tahu apa kriteria lelaki idaman. Kalau dia tetep maksa buat tanya langsung, cakap saja.
"Tengoklah Boy tulisanku di IG. Kubahas soal kriteria lelaki idamanku. Masih tak paham juga, mundur saja boy. Biarkan lelaki yang berhak dan pantas untuk bisa maju." #tegas
Oke, next... back to our topic...
Berbicara kriteria, dulu sebelum belajar pranikah itu, berharap dapat yang lebih dari kita. Baik sisi jabatan, kepintaran, gajinya, dan hal lainnya lebih dari kita. Wajar dan manusiawi banget yah kalau kita memilih yang lebih baik dari kita. Hidup realistis saja... Hehe
Namun, setelah belajar pranikah semua itu berubah. Memang perihal materi itu jadi salah satunya. Sayangnya, itu bukan hal utama yang harusnya ada.
Ada hal lain, yang lebih utama. Apa itu? Yes, AGAMA, AKHLAK dan ETOS KERJANYA BAIK, itu yang jadi prioritas memilih seorang lelaki untuk menjadi imam kita.
Kenapa harus yang seperti itu kak? Emang gak ada kriteria lain ya? Kita bongkar satu per satu alasannya, agar temen-temen mantap dalam menentukan pilihan.
Yang pertama, agama. Kenapa ini penting? Karena ini menjadi pondasi utama, the way of life seseorang. Ketika pemahaman akan agamanya kuat, dia mampu mengenal Tuhannya, jati dirinya, dari mana dia berasal, untuk apa hidupnya, sampai pada akhirnya dia memiliki tujuan kembali ke hadapan Allah dengan cara terbaik. Lelaki yang baik, akan memegang teguh agamanya, taat pada perintah Allah, dan menjauhi larangannya. Dia akan mengajarkan kita pentingnya landasan agama yang kuat, memastikan semua komponen keluarga di bawah kekuasaannya taat pada Sang Pencipta.
Kedua, karena akhlaknya. Kita tahu betul, kebaikan akhlak yang paling sempurna itu nampak dari pribadi Nabi Agung, Rasulullah SAW. Rasulullah hadir, sebagai penyempurna akhlak.
Lalu, apa kaitannya dengan kita memilih lelaki yang memiliki akhlak yang baik? Jika dia orang yang soleh, dia akan mengidolakan Rasulullah dan meniru aklaknya. Dia akan memperlakukan istri dan anaknya dengan baik, karena dia menyadari istri dan anak adalah titipan dari Allah yang patut dijaga.
Selain itu, dia akan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan dan sesamanya. Bisa menjadi figure terbaik, sehingga orang-orang yang dibawah kekuasaannya tidak merasa tertekan. Bahkan merasa bahagia karena memiliki sosok leader yang mampu jadi teladan.
Ketiga memiliki etos kerja yang baik. Kita tahu betul, wanita merasa senang jika menikah dengan lelaki yang mampu memberi kecukupan. Dalam istilah lain, mapan. Ternyata, standar ukuran mapan itu relatif. Tergantung bagaimana orang memandangnya.
Supaya tidak bingung, maka yang jadi ukuran bukan hal itu. Tapi, kita lihat bagaimana etos kerjanya. Lihat dari Tanggung jawab, konsistensi, serta semangatnya dalam bekerja. Nampak jelas, yang berkualitas akan memiliki etos kerja yang baik. Karena dia menyadari, hakikatnya kerja itu ibadah.
So, penting memilih yang etos kerjanya baik. Walaupun saat ini, ternyata dia masih merintis usaha, dan berjuang untuk bisa mapan. Siapa tahu saat berjuang sama kita, dibantu maksimal, maka dia akan jauh lebih sukses dan mapan.
Ada satu renungan yang di dapat dari gurunda, ustad lukmanul hakim dalam kajian SMK. "Wanita yang baik, yang bisa diajak susah dan senang. Sedangkan lelaki yang baik, dia tidak akan pernah membuat wanitanya susah."
Oke, itu tiga hal yang menjadi kriteria saya dalam memilih calon imam idaman. Kalau tiga hal di rangkum, intinya pilih yang soleh. Bukan namanya aja yang soleh yah, tapi orangnya juga. Hehehe...
Nah, temen-temen sendiri, apa kriteria calon idamannya? Yuk sharing di komentar...
#sumber tulisan ini didapat dari online class intensife pranikah bersama ustad Yosi Al-Muzanni.
Notes :
_Pilihlah calon imam yang soleh. Meskipun dia tidak mencintaimu, tapi dia akan tetap memperlakukanmu dengan baik._
Yok kaum muda yang berminat menjadi imam Jesuit gabung di sini #prompang #jesuit #calonimam #SJ https://www.instagram.com/p/CoRlCc_LkPp/?igshid=NGJjMDIxMWI=
Untuk Calon Imamku
Buat calon imamku dimasa depan, whoever or wherever you are, this letter is for you.
Aku yakin akan ada saatnya dimana aku juga merasakan rasa sukacita yang selama ini hanya bisa kusaksikan dari undangan pernikahan yang kuhadiri. Rasa bahagia bercampur haru karena akhirnya aku berhasil menemukan “teman hidup” yang kelak akan jadi imamku, rasa sedih yang sudah pasti akan aku rasakan karena harus meninggalkan ibu serta adik-adikku.
Aku cuma mau bilang, “kemana aja kamu selama ini? kenapa lama sekali kamu menuju pelabuhan terakhirmu? tahukah kamu sudah berapa kali aku terjatuh, menangis karena menaruh hati pada orang yang salah? berkali-kali aku dipatahkan denga kenyataan dia bukan jodohku.Tak henti-hentinya aku berdoa dan berharap agar laki-laki yang Tuhan pilihkan untukku segera didekatkan dan bisa bertemu.” Aku tidak marah atau kesal hanya saja begitu banyak pengalaman pahit soal asmara yang aku lalui. Banyak jurang curam, batu terjal yang harus kuhadapi hanya untuk bisa menemukanmu.
Sudah tak teringat betapa sering aku menangis di sepertiga malam hanya meminta untuk dikuatkan dan diberikan keikhlasan apapun kehendak dan rencana Tuhan nanti. Kamu tahu, tumbuh besar tanpa seorang ayah bukan hal yang mudah. Terlalu mudah percaya dengan laki-laki, selalu memilih orang yang salah, begitulah aku kata teman-temanku. Aku penasaran, apakah kamu juga melalui jalan curam dan terjal untuk akhirnya menemuiku? Apakah kamu juga mengalami puluhan kali patah hati dan kecewa seperti aku? Apakah kamu juga sempat putus asa dan berpikir mungkin jodohku tidak di dunia? Jika iya, maka aku paham betul apa yang kamu rasakan.
Percayalah, rasa sakit dan kecewa yang membuatmu jadi pribadi yang lebih kuat. Dan mungkin untuk itu, Tuhan mempertemukan kita pada akhirnya. Karena Tuhan tahu kita dua orang terkuat yang bisa melalui rasa kecewa itu, sehingga kita pun akan kuat untuk mengarungi ujian rumah tangga bersama nantinya. Aku yakin pilihan Tuhan tidak pernah salah, pasti selalu yang terbaik. Jika kamu memang yang Tuhan pilihkan untuk jadi calon imamku, artinya hanya kamu yang bisa menyembuhkan kekecewaanku atau mungkin kita sama-sama saling menyembuhkan luka satu sama lain, saling berproses dan mencintai lebih dalam karena kita tahu betul bagaimana dikecewakan.
Dear calon imamku, aku akan setia menunggumu datang di pelabuhan terakhirmu. Doaku semoga kamu tetap kuat dan terus berjuang ya, jangan patah semangat, terus berdoa supaya Tuhan memudahkan jalanmu untuk menemuiku. Yakinlah disaat yang tepat, ditempat yang tak terduga kelak kamu akan menemuiku, calon ibu dari anak-anakmu.
Pesanku aku yakin kamu pria kuat yang berhati lembut dan bijaksana, teruslah berproses menjadi individu yang lebih baik. Akupun sama. Sampaikan semua pesan dan rindumu hanya kepada Tuhan, kelak Tuhan yang akan menyampaikannya padaku.
Bekasi, 12 Desember 2021.
Dari calon istrimu.
#rekoleksipanggilan #calonsj #calonjesuit #calonimam Ayo rekan muda yang ingin jadi imam atau Jesuit bergabung dalam rekoleksi panggilan 24-26 Januari 2020 https://www.instagram.com/p/B6Dap9oB6SI/?igshid=1gasb5odwismr

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Laki-laki yang terlalu bergantung pada manusia, terlalu berharap lebih pada manusia. Tidak pantas untuk dijadikan imam.
She says 1/3 2018
[Surat Masa Depan] Untukmu Wahai Imamku
Ramadhan 1443 Hijriah
MasyaAllah, waktu terus bergulir menikmati ritme ruang kehidupan. Ialah dimensi keempat, ketika rentetan detik telah terlewati, maka terciptalah kenangan dalam hati. Tak terasa Sayang, di tahun ini kita telah memasuki usia lima tahun pernikahan kita. Alhamdulillah, Ramadhan 1443 Hijriah. Bersamamu, aku masih diberi nikmat oleh Allah untuk merasakan Ramadhan lagi, bulan penuh kemuliaan.
Sayang, lima tahun lalu, kita hanyalah sosok dua manusia yang masih sibuk dengan urusan kita masing-masing. Sibuk saling mendoakan, sibuk saling mempersiapkan diri, sibuk saling mengusahakan pertemuan kala itu, dan masih banyak agenda sibuk-sibuk lainnya. Namun, aku percaya, pertemuan kita kala itu merupakan takdir terbaik dari Allah SWT.
Aku tak mengenal kamu, dan kamu pun tak mengenal aku. Ialah Maha Pembuat Skenario Terbaik untuk kehidupan kita. Sungguh, aku bersyukur kepada-Nya, telah dipertemukan denganmu, wahai imamku.
Ketika itu, 5 tahun lalu....
Aku sibuk berdoa. Tak pernah terlewat sekalipun usai shalat fardhu untuk mendoakan kehadiranmu. Begini isi doaku:
“Ya Allah, mudahkanlah calon imamku untuk mencari rezeki, kuatkanlah jiwa raganya, ringankanlah langkah kakinya.”
“Jatuh cintakanlah hamba kepada ia yang menjatuhkan cintanya kepada-Mu, ya Allah.”
“Ya Allah, Engkau Maha Baik. Engkau tentu sangat mampu menundukkan ini dan itu. Tundukkanlah untukku satu laki-laki soleh nan baik, yang amanah dan bertangguh jawab, yang meneduhkan hati jika aku memandangnya, yang paham sekali agama mulia Mu, ya Allah. Jadikahlah ia imamku yang mampu menyelamatkanku di dunia dan akhirat, serta mampu membersamaiku masuk ke Jannah-Mu, ya Allah.”
Sungguh aku sangat mengimani bahwa kehadiranmu adalah jodoh terbaik yang telah Allah persiapkan untukku.
“….Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu Tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah 2: 216)
Sayangku, tentu tak mudah bagiku menunggu kedatangan dirimu ke rumah untuk mengkhibahku. Hari itu sungguh sangat istimewa. Hatiku berdegup sangat kencang pertanda bahwa aku yakin kamulah calon “jelas” jodohku.
Ketika ku menunggu kehadiranmu, tentu aku tak hanya sekadar menunggu. Tentu aku menunggu, sama seperti akhwat lainnya yang menungguh masing-masing jodohnya, tapi caraku menunggu kehadiranmu sangatlah produktif. Aku benar-benar mempersiapkan diriku agar pantas mendapatkan imam seistimewa dirimu, Alhamdulillah.
Jauh sebelum waktu khitbah dan akad, aku berusaha untuk membiasakan diriku pada hal-hal kebaikan. Aku buang kebiasan buruk, dan aku terus melatih semua kebiasaan-kebiasaan baik berdasarkan tuntunan Al-Quran dan sunnah Rasulullah saw. Misalnya, berwudhu sebelum tidur, bagun lebih awal untuk Qiyamul lail, shalat fardhu tepat waktu, merutinkan shalat dhuha, dan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya.
Tak hanya persiapan ruhiyah, tapi tentu aku pun berlatih untuk persiapan lainnya, seperti persiapan maaliyah, jasadiyah, dan juga fikriyah. InsyaAllah, Allah Maha Tahu, persiapan diriku untuk memantaskan diri menajdi istri shalihahmu, wahai imamku.
Aku sungguh ingin sekali, kelak anak-anak kita menjadi hafidz dan hafidzah. Aku ingin, kita dipakaikan mahkota dan jubah kemuliaan di surga nanti. Akulah ibu dari anak-anakku, para penghafal Quran.Tentu, akulah yang akan mendidik anak-anakku untuk menjadi penjaga Al-Qur’an. Akulah yang akan terus mengingatkan anak-anakku untuk mengamalkan setiap ayat-ayat Al-Qur’an yang ia hafalkan. Oleh karena itu, aku lah yang terlebih dahulu harus mampu menjadi teladan bagi mereka. Sayang, aku pun menghafal Al-Qur’an sama seperti dirimu. Aku akan terus berusaha untuk menghafal Al-Qur’an sampai tutup usiaku. Jangan lupa bantu aku untuk me-muraja’ah hafalan-hafalanku ya, Sayang.
Ah, aku jadi teringat ketika dulu membeli banyak buku tentang pernikahan. Satu per satu aku baca dan berusaha untuk memahami teori-teori pernikahan dari buku-buku tersebut. Yang paling aku ingat, “Surga seorang istri ada pada suaminya. Berikanlah palayanan ikhlas paling berkualitas untuk suamimu nanti.” Sayang, aku takut jika pelayananku untukmu kurang maksimal. Tegurlah aku dengan penuh kasih sayangmu agar aku bisa menjadi lebih baik hari demi hari.
Tak hanya buku, aku pun berusaha untuk ikut beberapa majelis ilmu demi menjadi istri dan ibu shalihah nan profesional. Bersama beberapa temanku, aku menginisiasi “Sekolah Bidadari Surga”, sebuah wadah pembelajaran berbasis komunitas kepada para calon istri sebagai bentuk persiapan untuk menghadapi kehidupan berumah tangga agar mendapatkan keridhoan dan keberkahan dari Allah SWT. Sayang, berdirinya Sekolah Bdadari Surga sebagai bentuk ikhtiarku untuk memantaskan diri menajdi seorang istri shalihah nan profesional.
Selain Sekolah Bidadari Surga, aku pun berusaha untuk menimba ilmu di Institut Ibu Profesional. Disana, aku belajar banyak hal untuk menjadi seorang ibu profesional. Aku akan selalu bangga dengan profesiku sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anakku. Aku pun senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh-sungguh mengelola keluarga dan mendidik anak dengan kualitas yang sangat baik.
Menjadi kebanggaan keluarga merupakan salah satu indikator utama keberhasilan seorang ibu profesional. Karena anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka. -Institut Ibu Profesional-
Wahai imamku, semua usahaku ini untuk memantaskan diri bertemu denganmu adalah sebuah perjuanganku untuk menjadi istri dan ibu shalihah nan profesional. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mendampingimu menuju Jannah-Nya.
“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik.” (QS. An Nur: 26)
Tulisan ini dipersembahkan untuk NHW #3, yaitu membuat surat dengan tema “Untukmu Calon Imamku”
P.S. Surat ini dibuat sebagai cerminan lima tahun ke depan.