Masih ingat dengan tulisan saya yang pertama? Tentang ini, Awalnya Kikuk.
Ternyata belum clear and clarify. Sedih aku. Merasa gagal komunikasi produktif dengan Kak AF haha. Gapapa masih tetap dicoba.
Kak AF: jujur ya gi... Kaka agak susah baca kepribadian kamu... Suka bingung mau berekspresi gimana sama kamu... Kaka tu bisa lho sangat berpenampilan serius... Tapi sama kamu kaka bingung mau gimana...
Kak AF: Gini gi...Hipotesis kaka sebelum ketemu kamu, terus pas ketemu ternyata meleset...
Kak AF: Kritik... Apa ya...Soalnya gia kalau sama yg lainya biasa si... Cuma sama kaka aja kayaknya beda... Gia kayak kurang lepas... Terus waktu gia ngasih kesan muka kaka kayak orang marah... Langsung jleb... abis face ini emang turunan...
Dari percakapannya jelas bahwa percakapan yang lalu belum clear and clarify. Maka disinilah saya harus benar-benar menjelaskan kepadanya.
Berikut ini pejelasan dari saya untuknya:
Okey dijelaskan.
Kalau soal kepribadian Gia, dimaklumkan yaah kak karena hanya 5 hari saat itu. Dan bener, Gia emang gak lepas. Over waspada kalau sama kakak. Gak tahu kenapa, itu susah dijelaskan. Dan untuk tahu karakter Gia yang asli tentu semua butuh waktu yang gak sebentar. Tapi satu hal sih, Gia kok rada ngerasa mirip yah sama kakak. Kakak tuh kayak Gia versi cowok. Ini ngerasa doang. Jangan jangan kita saudara kandung yang terpisahkan hahaha *jadi kayak sinetron.
Oia soal galak dan garing. Hahaha kepikiran yaaaah. Gia juga kalau jadi kakak, kepikiran Wkwk. Maafin yah.
Itu karena pas FIM kakak jarang ngobrol sama Gia. Jarang senyum jugak. Jadi, aku langsung kepikiran jugak. Yaudah jadi malah nangkep kakak tuh kayaknya agak galak, walau sebenarnya mah nggak.
Soal yang garing, itu mah yaelah haha. Kakak lucu dan menyengkan kok. Itu maksud definisi garing.
Tuu udah yaa. Sudah dijelaskan. Jadi mohon dimaafkan.
FYI, kalau kata temen temen deket Gia, gia emang orangnya serius, tapi bisa rame dan agak tengil. Suka cari sensasi, karena emang jarang diperhatiin. Tapiiii pas FIM kemarin kan aku juga punya target komitmen, yaitu keluar dari zona nyaman, gak dominan, dan mampu meredam ego. Karena lagi dalam rangka belajar, makanya agak aneh gini kepribadiannya, sampe kakak susah baca kepribadian Gia. So sorry. Hehehe
Tapi belum mendapatkan feedback. InsyaAllah postingan besok bisa dilanjutkan.
Hati-hati berekspektasi. Salah langkah, akan membuatmu kecewa. Kecewa dan bahagia itu sebenarnya reaksi atas selisih antara ekspektasi dan realisasi. Seringkali kita anggap ekspektasi tidak bisa kita kendalikan. Padahal, tentu bisa!
Terutama berekspektasi terhadap orang lain. Menganggapnya lebih dari kapasitasnya atau berharap ia merespon sesuai dengan harapan kita. Ternyata gak semua itu berakhir bahagia, jika tak sesuai ekspektasi kita.
Ada seorang perempuan berkomentar langsung ke saya, "Wah aku gak nyangka ternyata Gia aslinya begini yah." Entah, apakah saya sesuai atau tidak dengan ekspektasinya. Tapi sesungguhnya, berhati-hatilah membuat ekspektasi.
Sebenarnya, tak ada yang salah dengan berekspektasi, tapi kita harus yakin bahwa kita siap menghadapi realisasi seminimal apapun.
Dengan adanya manajemen ekspektasi, seharusnya syukur dan sabar bisa lebih mudah kita tempatkan. Jika manajemen ekspektasi sudah kita lakukan segera setelah melakukan sesuatu hal, maka kita akan berada pada posisi selalu bersyukur dengan kondisi apapun yang diterima pada saat realisasi.
Jika manajemen ekspektasi dilakukan setelah kita menerima realisasi, maka disinilah peran sabar. Kita akan melihat lebih dalam lagi tentang keadaan hati kita ketika berekspetasi, yaitu evaluasi dan refleksi.
Dimana letak ikhlas? Yaitu, ketika kita berusaha melakukan manajemen ekspektasi itu sendiri. Betapa nikmatnya, jika kita berhasil mendapatkan hikmah/ ibrah dari berekspektasi. Pointnya adalah apapun yang akan terjadi, apapun realisasinya, bahwa sasaran yang kita tuju adalah Dia. Maka, kecewa tidak akan terjadi. Maka, syukur akan selalu menghiasi hati.
Hati-hati berekspektasi jika indikatormu adalah respon manusia, karena itu di luar kontrol kita. Semangat selalu!
Tantangan Komunikasi Produktif Hari Kedelapan,