Merubah Dunia: Panggilan Pemberdayaan Perempuan, Bagaimana Relasinya dengan Kemanusiaan?
#3-empowering women
Apa yang akan anda lakukan jika melihat banyak manusia diluar sana membutuhkan bantuan? Bagaimana jika hal itu terjadi bersamaan ketika anda sedang melakukan perjalanan berkeliling dunia? Akankah anda memberikan uluran tangan untuk mereka? Benarkah dengan berkontribusi dalam membantu mereka, kita juga sedang melakukan perubahan yang lebih baik untuk dunia?
The Moment of Lift: How Empowering Women Changes the World adalah salah satu buku karya Melinda Gates yang menjawab dan menceritakan secara transparan mengenai hal tersebut. Buku ini terbit pada tahun 2019 dan ditulis semasa beliau dan (mantan) suaminya, Bill Gates, bersama membangun Microsoft dan Gates Foundation. Beliau menceritakan bagaimana awal mula terbentuknya Gates Foundation, dibersamai dengan perjalanannya bertemu dengan tokoh-tokoh penting yang memberikan bantuan dan dampak bagi banyak perempuan di berbagai belahan dunia.
Melinda Gates yang mengambil peran sebagai advokat publik, menyuarakan tentang family planning pada mulanya. Namun, beliau menyadari bahwa menyuarakan hal ini saja tidaklah cukup. Beliau harus angkat bicara mengenai topik perempuan lebih dalam. Bepergian dan berbicara dengan perempuan tentang keluarga berencana dan kontrasepsi mengungkapkan lebih banyak lagi kekejaman terburuk yang dihadapi perempuan di seluruh dunia: pemotongan alat kelamin perempuan, pernikahan anak, pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, bekerja tetapi tidak dibayar, bagaimana ratusan juta perempuan yang ingin memutuskan sendiri kapan dan apakah mereka mau punya anak, tetapi mereka tidak bisa. Bagaimana hak dan fasilitas yang tidak diperoleh perempuan dan anak-anak perempuan tidak mereka rasakan secara adil.
Kisahnya tentang pertemuan dengan wanita-wanita ini tentu memilukan tetapi sangat perlu untuk dibaca, terutama bagi orang-orang di Barat yang mungkin tidak menyadari praktik umum ini sebagaimana mestinya. Kemiskinan dan keterasingan yang ekstrim sangat menghancurkan perempuan dan membuat mereka hampir tidak mungkin untuk menyediakan segala yang terbaik dan melindungi anak-anak mereka. Akibatnya, siklus penyalahgunaan dan kemiskinan tentu akan terus berlanjut. Maka melalui buku ini, Melinda berkeinginan untuk membagikan kisah orang-orang yang menyuntikkan fokus dan makna penting dalam hidupnya. Beliau ingin kita melihat cara-cara yang bisa kita lakukan untuk membantu orang lain berkembang. Kita memiliki pengetahuan, energi, dan pandangan moral untuk memutus pola sejarah. Tidak boleh ada yang tertinggal. Semua orang harus dilibatkan.
___________
"Panggilan mengangkat harkat perempuan adalah panggilan bagi siapa saja. Kita turut berkontribusi dalam menekan bias budaya sembrono yang menyiksa hak kemanusiaan milik perempuan."
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Elsewhere, Edwin Woes and Ranald appraise a new property for its book value with a mind to acquiring new assets for the DBLUNS. . #mordheim #RtheC #warhammer #aos #wargaming #tabletop #ageofsigmar #tabletopwargames #paintingminis #pirates #sartosa #paintingwarhammer #citadelminis #aos28 #darkageofsigmar #gamesworkshop #DBLUNS #assets #property #bookvalue #acquisition #scroll https://www.instagram.com/p/CPGFFStnaWd/?utm_medium=tumblr
Feminis, Feminisme dan Kebahagiaan, Bagaimana Korelasinya?
#1-empowering women
Feminis adalah orang yang mendukung teori feminisme. Feminisme adalah sebuah gerakan dan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam politik, ekonomi, budaya, ruang pribadi dan ruang publik. Di Indonesia sendiri, paham feminisme berkembang cukup pesat. Namun sayangnya paham ini seringkali disalahartikan dan sering dicap sebagai paham yang melemahkan posisi perempuan, karena orang awam menganggap bahwa penganut feminisme selalu menuntut sesuatu yang lebih dan spesial daripada pria. Padahal, gerakan feminisme hanya menuntut equal right, bukan special right.
Sejalan dengan kontroversi yang semakin berkembang di seluruh belahan dunia ini, seorang penulis, profesor, dan editor asal Amerika Serikat, Roxane Gay, menuangkan berbagai sudut pandangnya ke dalam buku berjudul "Bad Feminist" di tahun 2014. Buku ini bahkan menjadi buku best seller di New York Times.
Dalam bukunya, Roxane Gay membahas berbagai topik, baik topik budaya maupun topik pribadi. Roxane Gay menjelaskan perannya sebagai seorang feminis dan bagaimana hal itu mempengaruhi tulisannya: "Dalam setiap esai ini, saya sangat berusaha menunjukkan bagaimana feminisme memengaruhi hidup saya, apakah menjadi lebih baik atau lebih buruk. Itu hanya menunjukkan bagaimana rasanya bergerak di dunia sebagai seorang wanita. Ini bahkan bukan tentang feminisme semata, ini tentang kemanusiaan dan empati."
Didalam buku ini sebenarnya tidak hanya membahas tentang kesetaraan gender tetapi juga bagaimana cara menghargai tubuh kita. Ada banyak cara berbeda yang dapat dilakukan untuk mempermalukan tubuh, seperti contoh ketika standar kecantikan yang diciptakan oleh manusia menentukan apa yang indah dan apa yang tidak. Padahal, salah satu cara agar kita dapat menjadi manusia yang bahagia adalah dengan mensyukuri diri kita baik dari segi fisik maupun mental. Akan terasa sangat tidak adil jika satu perempuan yang dianggap sempurna oleh beberapa kalangan dijadikan sampel acuan dalam menilai keindahan diri dari luar maupun dalam. Last but not least, Roxane Gay juga berasumsi bahwa gagasan untuk dapat memiliki semuanya ini juga selalu disalahartikan sebagai feminisme, padahal sebenarnya hal ini lebih condong ke sifat manusia yang menginginkan semuanya. Roxane Gay menyimpulkan semuanya dengan mengatakan, “Menerima label feminis secara bebas tidak akan terasa adil bagi feminis yang baik."
Ladies, menjadi feminis atau tidak, bukan berarti kita tidak bisa saling mendukung satu sama lain, right?
_______
“To be a feminist, is always a choice. A free choice. Whether or not to be one.”
(cici - empowering women)
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Meretas Patriarki: Ruang Raung Keberanian Berbalut Psikologi–Feminis, Adakah?
#2-empowering women
Mengapa kita meminta perempuan untuk merasa cantik sementara kita juga yang telah menetapkan kriteria kejam untuk menilai kecantikan perempuan? Harus ini, harus itu. Sejatinya tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Rasa-rasanya banyak pembatas standar sosial yang dirancang kemudian ditujukan dan harus dipatuhi oleh semua perempuan. Adakah ruang penuh apresiasi untuk perempuan boleh bebas menentukan yang terbaik bagi diri mereka sendiri?
Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan, Psikologi Feminis Untuk Meretas Patriarki, salah satu ruang dalam bentuk buku yang menghimpun hasil penyelidikan diri, dari para perempuan Indonesia maupun Perancis yang telah mempercayakan kisah hidupnya kepada Ester Lianawati. Ester Lianawati adalah seorang Psikolog dan Peneliti (Lembaga Hypatia di Perancis, pusat penelitian psikologi dan feminisme), menetap di Perancis selama hampir 10 tahun belakangan ini. Dalam bukunya yang terbit pada tahun 2020 ini, Ester membahas dua bagian besar yang menjadi tonggak kepenulisannya yaitu mengenai psikologi feminis (bagaimana sejarah kemunculan dan perkembangannya sampai dengan penelitian-penelitian terkini) dan jiwa (psike) perempuan yang berpijak dari pengalaman-pengalaman perempuan berpadu dengan teori-teori psikologi dan feminisme.
Sang penulis, Ester –yang juga pernah menjadi perempuan naif (kompleks dan terkungkung dalam nilai-nilai patriarkis), mengajak para pembacanya untuk menyelidiki diri, menemukan keberanian dan kekuatan pembebas jiwa. Ester menerangkan bahwa upaya menjadi cantik pada perempuan harusnya adalah upaya apropriasi positif terhadap tubuhnya sendiri yang sudah sekian lama diinstrumentalisasikan dan dijadikan budak. Jauh dari membuat dirinya sebagai objek yang dibentuk oleh tatapan laki-laki, namun seharusnya justru membawa “naik ke atas” menjadi feminin.
________
“Menjadi berani sebenarnya dilakukan bukan untuk melawan ‘kodrat alamiah’ perempuan yang sudah diatur baik dalam norma dan ajaran Tuhan. Tidak seharusnya perempuan diekspoitasi dan ditekan dalam menentukan pilihannya.”
Melatih mental untuk menanggapi dengan sabar, misalnya, akan membantu otak kita berubah dan bisa menambah kemampuan kita mengendalikan diri, bahkan pada situasi paling penting.
–David J. Lieberman
Kekuatan Neuroplastisitas: Wujud Penunjang Dalam Implementasi Seni Mengendalikan Emosi
#10-sebesit bermakna
Emosi merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kita kerap kali mengalami beragam emosi seperti kesedihan, kebahagiaan, ataupun amarah dalam menjalani keseharian. Namun terkadang, emosi bernama amarah tersebut dapat membuat kita kehilangan kendali dan melakukan tindakan di luar batas, bahkan mengekspresikannya secara kurang tepat kepada orang lain. Lantas, bagaimana amarah itu dapat terbentuk? Adakah cara ampuh yang dapat dilakukan untuk mengelolanya?
The Psychology of Emotion, sebuah buku terbitan 2023, tulisan seorang ahli psikoterapis dan penulis buku terkenal di New York, David J. Lieberman, mengupas tuntas bagaimana awal mula amarah itu muncul hingga bagaimana mengimplementasikan strategi yang tepat untuk hidup bebas amarah yang terbagi menjadi 7 bagian bab, berdasarkan kacamata psikologi. Menurut beliau, amarah tercipta dari berbagai peristiwa mulai dari penyangkalan, traumatisasi, kesalahan tafsir pada sudut pandang yang kita bentuk, egosentris, rasa sakit yang terus dirasa-rasakan bahkan dipertahankan, hingga kurangnya penerimaan dan rasa kepemilikan akan diri sendiri.
Salah satu konsep menarik yang diulas dalam buku ini adalah mengenai kemampuan neuroplastisitas–kemampuan otak untuk beradaptasi, berubah, dan membentuk ulang dirinya sendiri seiring berjalannya waktu. Sebagai contoh, seorang penderita PTSD yang mendengar bunyi sesuatu dapat merasakan panik secara tiba-tiba, dikarenakan otaknya telah mengatur ulang diri berdasarkan kesimpulan yang salah. Adrenalin membajak otak dan mengalihkan ancaman yang diterima dari korteks prefrontal ke amigdala. Gangguan ini mirip dengan reaksi marah naluriah, dimana ketika ego kita mengidentifikasi adanya ancaman bagi diri emosional kita (bukan bagi diri fisik kita), kita tidak berpikir, namun hanya bereaksi.
Tentu saja konsep neuroplastisitas ini dapat membuka peluang baru dalam melakukan pengendalian emosi dengan menawarkan pandangan bahwa emosi tidak hanya sekadar respons otomatis akan apa yang sedang kita alami, tetapi emosi juga merupakan sesuatu yang dapat kita kendalikan dan modifikasi melalui latihan mental maupun pola pikir tertentu. Beliau menjabarkan agar tanggapan baru yang lebih positif dapat tersistem di dalam otak, kita dapat merangsang saraf-saraf yang terkait untuk menumbuhkan sambungan-sambungan (dendrit) sehingga mereka saling terhubung. Semakin banyak jumlah sambungan tersebut, maka semakin cepat informasi itu terintegrasi ke dalam dasar pengetahuan kita. Singkatnya, kita menjadi lebih lihai, lebih efisien dan lebih efektif di area itu.
Secara keseluruhan, buku ini membahas bagaimana cara-cara efektif yang dapat dilakukan untuk memahami daya ledak emosi dan mengubah arah sudut pandang kita terhadap pemicu rasa marah. Terdapat beberapa teknik visualisasi yang dibagikan dan dapat dicoba sebagai bentuk pengendalian diri. Seiring berjalannya waktu emosi-emosi tersebut akan menghilang bukan karena kita berjuang dalam mengendalikannya, namun karena kita berhasil memandang situasi-situasi tersebut dengan apa adanya.
Apakah anda tertarik untuk menerapkan seni mengendalikan emosi ala David J. Lieberman?
______________
Sadar akan dampak negatif dari emosi yang tak terkendali merupakan bentuk upaya dalam mengurangi penyesalan yang tak berarti dikemudian hari.