Tentang Menjadi Baik
Sore itu senyummu begitu melambung. Terlihat tinggi sekali harapmu untuk sebuah perubahan. Peluh dan lelah ditepismu, lebih memilih tuk hiraukan bahagianya mereka.
Sore itu kamu bangga. Telah wujudkan suatu pinta berdasar beribu harap. Memilih terus berjalan, dibawah sorot mentari yang ingin pamit. Setelah itu kamu tak berhenti. Mereka yang berdiskusi, menunggu hadirmu.
Malamnya masih menjadi malam pertemananmu di kampus perjuangan. Bukan, ialah rumah. Tempat yang selalu kamu tuju untuk kembali. Kembali berjuang.
Tak jarang mereka mengolokmu, bilang semua ini untuk apa dilakukan. Berlebihan katanya. Nyatanya hanya kamu dan Tuhan yang tau jawabnya. Biar suara mereka dibekam angin dihapus waktu. Dan kamu, masih teguh pada saka baktimu.
Lelah katamu. Dingin malam itu. Kamu sedang tidak baik-baik saja. Sering seperti itu, hingga berakhir di rumah sakit. Tak apa, ini belum seberapa dibanding perjuangan para nabi terdahulu, itu katamu. Sekuat tenaga yakinkan hati, bahwa semua akan berakhir dengan air mata yang bahagia.
Selalu ada waktu beristirahat. Mungkin ini saatnya. Kamu kembali ke rumah, yang sebenarnya. Dipeluknya kamu oleh seorang wanita hebat. Kamu bilang, aku lelah. Dia bilang jadikan lillah.
Dari sekian panjang juangmu, dari sejauh apapun langkahmu, semua itu untuk satu kata pelebur kewajiban makhluk bumi. Satu kata penebus atap langit. Satu kata penyampai bisikan hamba pada Illahi. Menjadi, baik.










