Pengalaman Seleksi Beasiswa LPDP 2019
Halo teman-teman scholarship hunters, kalo kalian lagi persiapan buat apply beasiswa LPDP kalian mampir ke tempat yang tepat. Lewat tulisan ini saya akanĀ share pengalaman jadi pelamar beasiswa LPDP di tahun 2019. Oya, tulisan ini akan panjang, diharap kesabarannya dalam membaca š Ā
Tentunya teman-teman sudah mengetahui bahwa Beasiswa LPDP adalah beasiswa pendidikan untuk jenjang Magister (S2) maupun Doktor (S3) dengan tujuan perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri. Pelamar jenjang magister dapat memilih 3 perguruan tinggi tujuan yang berbeda sesuai dengan tujuan Dalam Negeri atau Luar Negeri dengan program studi yang sama/sejenis/serumpun. Ā Di tahun 2019 lalu saya melamar untuk beasiswa magister tujuan dalam negeri. Proses seleksi beasiswa LPDP di tahun 2019 terdiri dari tiga tahapan, yakni seleksi administrasi, seleksi berbasis computer (SBK), dan seleksi wawancara. Yuk kita bahas satu-satu proses seleksinya.
Di tahapan ini teman-teman perlu untuk membuat akun terlebih dahulu di website LPDP, mengisi data diri dan mengunggah berkas yang diperlukan. Apa saja yang harus disiapkan?
Selain berkas umum seperti ijazah dan transkrip nilai, seleksi beasiswa LPDP juga mensyaratkan beberapa surat, yaitu:
Surat keterangan sehat jasmani yang dikeluarkan oleh dokter dari rumah sakit/puskesmas/klinik
Surat keterangan bebas dari narkoba yang dikeluarkan oleh dokter rumah sakit/puskesmas/klinik/badan/lembaga yang diberikan kewenangan untuk pengujian zat narkoba
Surat keterangan bebas dari TBC yang dikeluarkan oleh dokter dari rumah sakit/puskesmas/klinik, khusus untuk pendaftar dengan tujuan perguruan tinggi luar negeri
Surat rekomendasi dari pimpinan, tokoh atau pakar di bidangnya (format tersedia)
Melampirkan surat izin mengikuti seleksi dari unit yang membidangi sumber daya manusia bagi yang sedang bekerja (format tersedia)
Itu dia, sesuai persyaratan di booklet tahun 2019. Selain itu, LPDP juga punya persyaratan khusus terkait umur, IPK dan kompetensi bahasa. LPDP mensyaratkan batas usia pendaftar untuk jenjang magister adalah 35 tahun dan untuk jenjang doktoral maksimal 40 tahun. Syarat IPK bagi pendaftar jenjang magister adalah 3,00 dan untuk jenjang doktoral adalah 3,25. Selain itu, sertifikat kemampuan bahasa asing juga salah satu syarat yang diminta, baik untuk tujuan dalam negeri maupun luar negeri. Detailnya saya lampirkan foto di bawah ini ya.
Jadi, yang belum punya sertifikat bahasa asing bisa diurus dari sekarang nih, biar ga buru-buru saat pendaftaran nanti. Jangan lupa, sertifikatnya harus dari lembaga terpercaya dan masih berlaku ya.
Hal lain yang ga boleh ketinggalan adalah melampirkan rencana studi, proposal studi dan proposal penelitian (khusus untuk jenjang doktoral). Dari pengalaman saya, dalam rencana studi saya memaparkan rencana akademis yang akan saya jalani selama 2 tahun menjalani studi. Di sini teman-teman bisa mencari informasi terlebih dahulu mengenai silabus dari program studi yang akan teman-teman ambil. Secara detail saya menjabarkan mata kuliah apa saja yang saya rencanakan untuk saya ikuti di setiap semesternya, serta alasan saya memilih berbagai mata kuliah tersebut. Saya juga melampirkan kegiatan di luar aktivitas akademis yang akan saya ikuti (biar ga belajar aja guys ^^,). Selain itu, dalam rencana studi saya juga menuliskan secara singkat rencana tugas akhir saya, seperti topik penelitian, alasan memilih topik tersebut, dan saya juga melampirkan metode penelitian yang akan saya gunakan.
Di proposal studi saya menuliskan alasan saya memilih universitas dan program studi yang dituju serta penjabaran mengenai permasalahan yang terkait dengan tugas akhir saya dan alasan mengapa permasalahan tersebut penting untuk dibahas. Oya, ini bukan format baku yang ditetapkan oleh LPDP. Teman-teman bisa juga googling untuk mencari referensi soal rencana studi dan proposal studi, karena banyak pelamar sebelumnya yang juga share tulisan mereka.
Proses menyiapkan berkas yang diperlukan cukup memakan waktu, jadi lebih cepat diurus lebih bagus. Jangan lupa dipastikan berkas lengkap dan sesuai ketentuan. Sayang kan kalo ga lolos seleksi administrasi karena kurang teliti masalah berkas. Saat itu saya menggunakan surat keterangan sehat dari klinik di dekat rumah. Untuk surat bebas narkoba, saya mengurusnya di Labkesda Kabupaten Bogor yang ada di depan RSUD Cibinong. Biayanya 120ribu aja, lebih murah dari rumah sakit. Sementara, untuk surat rekomendasi saya meminta rekomendasi dari dosen pembimbing skripsi saya. Bagi teman-teman yang sudah mendapatkan LOA (Letter of Acceptance) juga bisa ikut disertakan pada saat melakukan pendaftaran. LOA ini tidak wajib dimiliki pelamar. Saya pun melamar tanpa memiliki LOA. Jika teman-teman tidak lolos seleksi administrasi teman-teman masih bisa mendaftar di periode berikutnya.
Seleksi Berbasis Komputer (SBK)
SBK ini dikhususkan untuk pelamar di jenjang magister, sementara bagi pelamar jenjang doktoral yang dinyatakan lulus seleksi administrasi akan langsung ditetapkan sebagai peserta wawancara. Materi yang diujikan dalam SBK meliputi Tes Potensi Akademik (TPA) atau Tes Intelijensi Umum, Tes Karakter Kepribadian, dan on the spot essay writing. Tipe soalnya mirip-mirip lah sama soal tes CPNS. Nah, untuk essay writing, kalo teman-teman memilih perguruan tinggi luar negeri maka essay-nya juga akan dalam bahasa Inggris, be ready guys. Soal essay-nya juga berbeda-beda. Soal yang saya dapatkan waktu itu terkait dengan tenaga pendidik di Kawasan 3T. Kalo saya tidak salah ingat, skor tes SBK (kecuali essay) bisa langsung teman-teman ketahui. Setelah lolos tahap SBK lanjut lah kita ke tahap wawancara.
Alhamdulillah saya bisa lolos sampai ke tahap ini, jadi bisa sharing lengkap soal proses seleksi LPDP. Pada saat proses seleksi wawancara teman-teman akan diminta membawa semua berkas yang telah diunggah saat seleksi administrasi. Sebelum proses wawancara dimulai akan ada tim yang memeriksa satu per satu berkas milik teman-teman, untuk memastikan kesesuaian dengan data yang diunggah sebelumya. Proses wawancara dilakukan dalam 2 sesi. Wawancara sesi pertama terkait dengan aspek akademis. Di sesi pertama ini teman-teman akan berhadapan dengan 3 orang pewawancara. Di awal wawancara saya sempat diminta melakukan perkenalan diri dengan menggunakan Bahasa Inggris, tapi setelahnya wawancara dilakukan dengan Bahasa Indonesia. Pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan bidang studi yang teman-teman pilih, aktivitas perkuliahan teman-teman sebelumnya (saat itu saya belum bekerja), rencana tugas akhir, dan hal-hal lain yang terkait dengan informasi yang teman-teman cantumkan pada saat seleksi administrasi. Sementara wawancara sesi kedua lebih terkait dengan kebangsaan dan hanya ada satu pewawancara. Pertanyaannya terkait dengan isu-isu kebangsaan yang sedang hangat menjadi pembahasan pada saat itu. Buat saya wawancara sesi 2 tidak lebih menegangkan dari sesi 1, tapi ini bisa bergatung pada seperti apa pewawancara yang teman-teman hadapi nanti. Selesai proses wawancara teman-teman bisa langsung pulang dan menunggu pengumuman akhir dengan (tidak) tenang di rumah.
Jadi bagaimana? Apakah saya berhasil menjadi awardee?
Tentu sajaā¦.tidakā¦hehehe
Rejeki saya hanya sampai seleksi wawancara. Ga nyangka juga sebenernya bisa sampe tahap seleksi akhir. Apa akan mencoba lagi (ini juga ditanyakan oleh pewawancara di sesi 2 dong)? Mungkinā¦.nantiā¦
Begitu lah teman-teman pengalaman yang bisa saya ingat dari proses seleksi beasiswa LPDP. Semoga cukup memberikan informasi yang dibutuhkan. Sedikit tips dari saya, teman-teman harus aktif mencari informasi. Dari pengalaman sebelumnya, biasanya akan ada group online untuk tempat pertukaran informasi, seperti di Telegram atau WA. Teman-teman bisa join di group tersebut karena akan banyak informasi yang berguna. Pastikan juga teman-teman membaca detail ketentuan yang dibuat pihak LPDP, siapa tahu ada perbedaan dengan yang saya ceritakan di atas.
Well, thanks for reading. Shall you have any questions, please donāt hesitate to leave a comment. Good luck to any one of you whoās willing to apply for LPDP Scholarship!!Ā