My Taught of Woman Traveler
Pada tulisan kali ini saya ingin mengutarakan pandangan saya tentang woman traveler especially woman solo traveler. Sejak akhir 2014 lalu saya mulai memberanikin diri jalan-jalan dimulai dari dalam kota, dilanjutkan keluar kota sampai keluar negeri, alasannya simple karena saya terpengaruh oleh tulisan-tulisan di dalam bukunya Trinity, The Naked Traveler. Dalam buku tersebut di ceritakan semua trip perjalanan yang dilakukan oleh Trinity mulai dari traveling sama temen ataupun sendiri, dari dalam negeri ataupun luar negeri, dari trip baik-baik sampe trip butal ala-dia. Begitu juga ketika saya mulai melakukannya ala-Gw waktu itu. Saya memulainya dengan mengunjungi teman teman lama yang tersebar di beberapa kota di pulau jawa karena kita beda kampus. Aneh sekaligus gak nyangka, ternyata temen-temenlah yang lebih khawatir akan keselamatan saya dibandingkan saya sendiri yang bepergian sendiri. Bicara soal kekhawatiran tentang bepergian sendiri, kalian jangan tanya bagaimana orang tua saya khawatirnya kalau tahu saya pergi sendirian, if my mom had your number, she will definitely call you like more than hundreds times to get to know where am i, just kidding, maybe she will call you until you shut your phone down because it just too noisy. Can you imagine, ha? (Sorry mom)
Pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah saya seorang woman traveler?, l might say , No, I am not. Tapi saya akan mengatakan kalau saya adalah seorang perempuan, so, yes, i am women, dan saya senang traveling and i did it every time i don’t have duty in hospital. Some of friend think that i am traveler, but i will say that i am student who need to travel as much as i need to breath while alive.
Stigma yang muncul kepada diri saya karena hobi traveling ini membuat saya sedikit jengah. Mulai dari kenapa sih seneng banget jalan-jalan sendirian, gak garing apa? gak takut diapa-apain? sampai pertanyaan yang gak banget untuk dijawab adalah kenapa sih jalan-jalan keluar negeri? gak cinta Indonesia? jalan-jalan sendiri buakannya lebih mahal ya karena gak bisa share budget?
Okay, Hello people. Kalau boleh saya kasih harsh answer, begini jawaban saya: Jalan-jalan sendiri itu nggak garing, soalnya gw bukan anak garing kayak kalian yang hidupnya nggak independent. Gak takut diapa-apain karena gw bukan cewek penggoda yang berharap diapa-apain, come on girl, just behave and you’ll be fine. Jalan jalan keluar negeri dan dianggap gak cinta Indonesia, gw gak ngerti ada yang berpikiran begini, don’t be KOLOT guys, you have to see the world to build up your own country. Jalan-jalan sendiri bukannya lebih mahal?, F*ck that man, i don’t even ask you for money, why would you even care about my budget.
Lewat tulisan ini saya akan menjelaskan beberapa pendapat terkait isu women solo traveler. FYI, tulisan ini murni personal taught dari saya, some might agree or not, isn’t my business at all (Peace). Traveling merupakan suatu hobi yang dimiliki seseorang, sama seperti hobi lainnya, terkadang hobi membuat seseorang rela mengorbankan banyak hal untuk memenuhi hasrat akan hobinya tersebut.
Hobi itu tidak memandang Gender, so stop talking about gender issues!.
Beberapa hal yang sering kali dikorbankan untuk memenuhi hobi misalnya uang, untuk orang yang tidak memiliki hobi traveling akan berfikir aneh melihat orang-orang yang menghabiskan banyak uang untuk ‘sekedar’ traveling. ‘Sekedar’ ini ternyata bukan hanya sekedar kata, tapi ini merupakan sebuah bentuk teror, karena bagi yang memiliki hobi traveling, traveling itu bukan suatu pekerjaan ‘sekedar’ tapi sebuah pencapaian yang didapatkan setelah mengorbankan banyak hal, mulai dari waktu, uang bahkan pekerjaan. Seperti misalnya saya sendiri. Saya traveling selalu menggunakan uang saku sendiri karena saya belum bekerja dan keluarga hanya bisa support saya dalam bidang pendidikan. Saya mengorbankan budaya shopping ala-cewek melenial ke-kinian demi bisa nabung untuk trip-trip yang saya rencanakan, lebih dari itu karena saya mahasiswa kedokteran terkadang saya harus mengorbankan daily freetime saya untuk menyelesaikan urusan perkuliahan agar trip saya bisa terlaksana sesuai waktunya walaupun terkadang harus membawa tugas itu pada saat traveling seperti yang terjadi dengan revisi skripsi saya yang saya kerjakan di Kaohsiung, Taiwan. Bagi saya kata ‘sekedar’ yang banyak diucapkan diluar sana adalah kerja keras yang saya kumpulkan dalam waktu yang tidak sebentar.
Berbicara soal lokasi traveling, bagi saya pribadi pilihan tempat traveling merupan target pencapaian. Seperti halnya sekolah, semua anak pasti ingin naik kelas. Begitu juga dengan saya. Cerita bagaimana akhirnya saya travel abroad juga bermula dari pemikiran ingin naik kelas. Saya membaca puluhan buku tentang traveling sejak saya masih SMP, mulai dari novel berlatar belakang suatu daerah atau negara asing hingga buku-buku cerita perjalanan para traveler kelas Senior asal Indonesia. Kemudian saya berimajinasi andaikan saya berada disana. Saya teringat setting cerita di novel “Jingga untuk Senja” karya Esti Kinarsih yang saya baca saat masih SMA, diceritakan kalau Ari (Tokoh utama pria) memberikan postcard hasil fotonya bergambarkan sunset di senggigi untuk Tari (tokoh utawa perempuan) yang dibelakangnya tertulis bahwa sunset terindah itu ada disenggigi. Cerita ini akhirnya menghantarkan saya ke Senggigi pada awal 2015 lalu, dan saya masih menunggu sequel ke-3 dari novel tersebut sampai hari ini. Kemudian pada tahun pertama dibangku kuliah, saya membaca Edensor karya Andrea Hirata yang bercerita tentang perjalanan Ikal dan Arai backpaker keliling eropa hingga penemuan Ikal tentang desa yang diceritakan Aling sebagai desa hijau nan indah yang diketahui bernama Edensor, Yang membangkitkan keinginan saya untuk bisa travel keliling eropa suatu saat nanti. Bagi saya traveling dalam dan luar negri tak ada bedanya. Saya sudah punya blueprint tentang tempat -tempat yang akan saya kunjungi dimasa depan sejak saya masih awal SMA. Namun yang mengganggu pikiran saya adalah stigma yang muncul tentang traveling ke luar negri yang dianggap sebagai simbol anti-nasionalisme dan bukti hedonisme. Bagi saya traveling ke luar negri adalah bentuk pencapaian dan cara saya untuk naik kelas. Saya sendiri menyusun lokasi traveling yang akan saya kunjungi berdasarkan dengan level kesulitan yang akan di temui saat saya sampai ke lokasi tersebut. Misalnya: traveling saya mulai dari mengunjungi semua provinsi di sumatera dan jawa yang sudah saya selesaikan pada awal 2012, target ini cukup terkesan mudah karena saya punya banyak saudara dan teman yang tinggal di pulau sumatera dan jawa. Selanjutnya adalah Bali, karena pulau ini merupakan pulau yang paling tourisity di Indonesia, sehingga tidak sulit hidup sebagai wisatawan di pulau ini. Selanjutnya adalah Malaysia dan Singapore, karena dekat dengan Riau (my hometown), free Visa dan hanya perlu basic english atau bahkan bahasa melayu yang notabene adalah bahasa saya waktu kecil. Selanjutnya adalah mengunjungi Semua negara di Asia dilanjutkan mengunjungi Indonesia Timur kemudian berturut-turut Eropa, Amerika dan Afrika. Jadi buat yang selalu bertanya-tanya kenapa saya memilih travel abroad padahal belum pernah ke Indonesia Timur, jawabannya adalah Indonesia Timur lebih sulit dijangkau baik dari segi financial, transportasi dan lain-lain dibandingkan beberapa negara di Asia. It is just a matter of time guys, so be patient rather than judge me of being un-nationalist citizen.
Sekarang kita bakalan move-on ngomongin soal budget. Sama seperti lokasi, budget juga merupakan pilihan bagi setiap traveler, apakan dia akan menggunakan low budget atau high budget. Saya pribadi sebagian besar memilih menggunakan low budget karena saya memang tidak punya high budget. Sebagai penganut low budget, saya cukup picky dalam menentukan tempat tujuan traveling bahkan saya terkadang harus memutar akal agar bisa memenuhi keinginan saya mengunjungi suatu tempat. Sebagai contoh: saya tidak akan mengunjungi suatu museum kecuali gratis atau tiket masuknya less that 5$ atau saya tidak akan mengunjungi disney land kecuali dibayarin pasangan. Pernah suatu ketika saya ingin sekali naik ke pool yang ada diatas Marina Bay Sands, Singapore tapi tidak punya uang untuk menginap di Marina karena berdasarkan cerita, yang bisa naik ke rooftop hanya yang menginap disana. Kemudian saya menemukan bahwa skypark satu lantai dengan CE LA VI, dan ternyata free entry for ladies on wednesday, jadilah saya berkostum titik titk untuk bisa naik ke sky park dengan gratis tentunya. As a low budget traveler, ada banyak hal yang harus dikorbankan selama perjalanan, misalnya kalau di Indonesia kamu bisa ngopi di starbuck, selama traveling kamu harus merubah jenis kopimu menjadi kopi instant yang disediakan di hostel for free. Mengatur keuangan sangat penting selama traveling atau kamu akan kehabisan uang dan nggak bisa kemana-mana pada akhirnya. Hal lain yang saya lakukan untuk meminimalisir pengeluaran adalah share budget ke sesama traveler yang nginep bareng di hostel atau other traveler yang saya temui di couch surfing. cara yang satu ini sangat ampuh bahkan kamu bisa mendapatkan teman sesama traveler selama perjalanan.
One last thing, i never really travel solo even i when went alone, cause you will find someone along the way. Yang hobi traveling di dunia ini bukan cuma satu atau dua orang guys, ada banyak dan kamu akan temiun itu di setiap perjalanan mu. Tidak akan pernah ada traveling yang benar-benar sendiri, gak percaya? Coba aja