Lesson From Surah At-Tiin (Part 2/4)
[Baca bagian sebelumnya: Lesson from Surah At-Tiin Part 1/4]
Sungguh sebuah contoh yang sangat realistis dari Al-Qur'an. Sekarang kalian akan lebih mengerti tentang ayat yang akan kita pelajari ini. Tapi saya ingin menyampaikan satu buah pendapat tentang kebingungan manusia modern.
Sebelum kita masuk ke ayatnya, ini sangat penting.
Para pelaku psikologi modern pada dasarnya tidak mengakui bahwa manusia punya kemauan bebas. Di psikologi modern, ada penolakan terhadap kemauan bebas. Kenapa? Mereka berkata, "Kau memperolehnya dari genmu. Kau adalah hasil genetik. Kau adalah produk turun-temurun”. Dan sisi lainnya adalah pengaruh masyarakat. Kau tau ada 2 hal yang berpengaruh. Kalau kau mahasiswa psikologi, kau pasti kenal dengan istilah ini. Ada istilah nature dan nurture, ya kan?
Dikatakan bahwa "Kau itu sudah diprogram terlebih dahulu". Dan kemudian di tambah lagi dengan "lingkungan" sehingga pada akhirnya kau tidak bisa memilih. Kau hanyalah produk dari situasi yang kau hadapi. Ini adalah apa yang digunakan pada hukum pidana defensif. Seseorang misalnya mencuri dan kemudian tertangkap. Kemudian pengacara berdalih, "Dia datang dari lingkungan yang sulit, dia tidak punya banyak pilihan. Lingkungan membuatnya tidak punya banyak pilihan”.
Atau dia punya semacam hormon di dalam tubuhnya yang bersifat genetis yang intinya lebih kepada pengaruh genetik, sehingga akan ada alasan wajar mengapa dia membunuh, ya kan? Atau menjadi alasan kenapa dia berbuat seperti itu, atau apapun itu.
Jadi mereka tidak menolak bahwa kita punya kehendak bebas. Hanya saja, mereka akan mengambil kehormatan kita, dan moral kita, bukan kehendak kita. Sehingga kita akan bersikap seperti mesin. Kau itu apa? Kau hanyalah sekumpulan kromosom dan gen yang berjalan. Itulah apa adanya dirimu, tidak lebih. Hanyalah sebuah mesin. Dirimu itu tidak ada harganya, subhanAllah.
Sekarang mari kita lihat bagaimana respon dari Al-Qur'an. Allah berkata,
"Laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim".
"Sungguh-sungguh Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya".
Kita pelajari kata per kata. Kata "la" di sini digunakan untuk menegaskan. "La" untuk menegaskan. Dan penegasan hanya digunakan ketika kamu tidak percaya sesuatu. Apa yang Allah ingin katakan adalah "kau tidak percaya, kau belum menginternalisasikannya". Maka Allah merasa perlu untuk menambahkan huruf "la", "sungguh".
"Qod", (artinya) "telah". Kata "qod" ini sangat penting. Penghormatan kepada manusia ini bukan diberikan di akhir, tapi diberikan bahkan sebelum dia ada di dunia ini. Allah bahkan sudah memberikan penghormatan kepada manusia sejak dia di kandungan Ibunya.
Allah menciptakan ruh manusia. "Walaqod karromnaa banii aadam", "Telah kami muliakan anak cucu adam". "La qod", kemudian Dia (Allah) berkata "khalaqnaa", "kami telah menciptakan manusia". Allah sendiri yang menyebutkan "Kami telah menciptakan". Dia tidak serta merta mengatakan bahwa manusia adalah ciptaan terbaik.
"Kami telah menciptakan manusia"."Al Insaan", "Manusia". Sungguh kata yang menarik, al-insaan, karena dia berasal dari kata "nasiya" yang artinya lupa. jadi, kita ini makhluk yang pelupa.
Tapi kemudian Allah berkata,"fii ahsani taqwiim". Bagaimana kami menciptakan manusia? "Fii" dalam, "ahsan". Kata "ahsan" berasal dari kata "husn", "al-hasan". "Husn" berarti indah. Dan "ahsan" berati indah baik di luar maupun di dalam, baik secara tersurat dan tersirat.
Keduanya Jadi Allah menciptakan manusia sebaik mungkin dan yang menarik juga adalah "taqwiim"."taqwiim" secara bahasa berasal dari kata "qooma" yang berarti "berdiri". "Taqwiim" berarti "untuk membuat sesuatu berdiri tegak lurus". "qowwama" juga digunakan untuk "tombak digunakan di pertarungan”. Dan kalau kau bisa membuat tombak yang sempurna, maka kau akan berkata "qowahtu hu". "aku membuatnya tegak/lurus sempurna", oke?
"Taqwiim" berarti untuk menggabungkan beberapa komponen dan menyeimbangkannya sehingga mereka benar-benar lurus. Dan bisa juga berarti untuk mendesain sesuatu secara sempurna sehingga mampu mencapai tujuan yang diinginkan. misalnya, mobil dibuat dikemudikan. Tapi ketika kau membuat mobil yang sempurna, maka itu berarti "mobil yang taqwiim". Didesain sempurna. Semuanya ditempatkan secara sempurna, oke?
Jadi kembali lagi, "fii ahsani taqwiim", "dalam bentuk yang terbaik". Di dalam kata "taqwiim" juga terkandung makna "seimbang". Sekarang kita ingat lagi bahwa saya sudah mengatakan bahwa manusia terdiri dari 2 bagian: tubuh dan jiwa. Dan Allah berkata bahwa Dia telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik. Dalam keseimbangan yang sempurna.
Ada entitas lain di dalam diri manusia, sebagaimana layaknya ada bagian lain di tubuh manusia. Secara fisik kita juga hanya satu-satunya yang berjalan tegak lurus seperti ini, dan secara moral, kita juga satu-satunya yang menegakkan moral. Secara moral pun, kita juga satu-satunya yang menegakkannya. Kita berjalan ke depan, ya kan? Kita diberikan sesuatu yang tidak diberikan kepada makhluk lain.
Jadi sekarang, "fii ahsani taqwiim". Ini adalah respon, Allah merespon terhadap penolakan kehormatan yang telah diberikan kepada manusia. Manusia tidak hanya melupakan Allah, mereka juga akhirnya melupakan dirinya sendiri. Dan itu adalah konsekuensi natural karena kau melupakan Allah.
Manusia berpikir bahwa tidak masalah melupakan Allah. tapi Allah sudah memberitahu, "faansaahum anfusahum". Allah akan buat mereka lupa dengan dirinya sendiri. Dan ini adalah kondisi rata-rata dari masyarakat modern. Mereka tidak memiliki agama, ya kan? Mereka berkata, "agama itu adalah candu bagi masyarakat", ya kan?
Akan tetapi, faktanya mereka memiliki tingkat bunuh diri tertinggi sepanjang sejarah. Jumlah kejahatan adalah yang tertinggi sepanjang sejarah. Kejahatan terhadap anak-anak adalah juga yang tertinggi sepanjang sejarah. Aneh, karena apa yang dihasilkan selalu tertinggi di dalam sejarah. Kenapa? Karena mereka menolak kehormatan yang Allah telah berikan kepada mereka.
Hal-hal ini, apa hubungannya dengan "demi buah tin", dan "demi buah zaitun", dan " demi gunung thursina", dan "demi negeri yang aman ini". Semua hal ini, saya belum mengaitkannya. Saya menjelaskan kepadamu:
"wattini wazzaituun. wathuurisiiniin. Wahaadzal baladil amiin".
dan secara terpisah kita sudah berbicara tentang,
"laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim".
tapi kita belum menghubungkan keduanya. Ngomong-ngomong ini disebut "Jawabul Qasam", jawaban terhadap sumpah. Dan sumpah-sumpah tadi pasti selalu berkaitan dengan respon tadi itu. Jadi apa hubungan keduanya?
Salah seorang 'alim memberikan pendapatnya tentang hal ini namanya Hameeduddin Firaahi rahimahullah. Dia berpendapat seperti ini:
"at-tiin" mengacu kepada Gunung Judiy, yaitu tempat mendaratnya nabi Nuh a.s.
"az-zaituun" mengacu kepada Masjidil Aqsha, yaitu tempat nabi Isa a.s.
"at-thuurisiiniin" sudah sangat jelas, Gunung Sinai, siapa? Musa a.s.
"haadzal baladil amiin", dan demi kota yang aman ini, siapa yang ada disana? Rasulullah saw.
Jadi sudah ada berapa Nabi yang disebutkan di sini? 4 orang. Ada berapa nabi 'ulul 'azmi? 5 orang. Siapa yang belum di sebutkan? Kita punya nabi Nuh a.s., Isa a.s., Musa a.s. dan Rasulullah saw. siapa yang belum? Ibrahim a.s.
Tapi kota ini. Kota yang dipercayakan ini. Siapa yang membangunnya? Siapa yang mengembangkannya? Siapa yang membangun rumah yang dipercayakan kepadanya? (Ka'bah-red). Seluruh kota Mekah yang ada saat ini, ya kan? 5 contoh manusia terbaik, lalu Allah menyebutkan bahwa Dia telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik.
Allah 'azza wa jalla memberitahu kita, Isa a.s., Musa a.s., Rasulullah saw. Bukti nyatanya adalah mereka. Dan kalau kau ingin menginterpretasikan lebih lagi bahkan Nabi Nuh a.s. Apakah orang-orang ini adalah bukti bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang terbaik?
Apakah mereka menjadi bukti? Apa motivasi yang mereka punya? Apakah untuk memenuhi perutnya? Apakah untuk kekayaan? Apakah untuk aktualisasi diri? Mereka ingin agar orang-orang mengakui mereka? Apakah itu yang mereka kejar?
Maka, pelajari kehidupan mereka, apa yang akan kau temukan? Apakah mereka bukan bukti, bahwa Allah telah menciptakan manusia lebih daripada hewan? Sesuatu yang sangat tinggi. Dan yang paling tinggi adalah Rasul-rasul 'ulul 'azmi ini. 5 orang contoh manusia terbaik ini. Dan kemudian Allah berkata kami sudah ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Dan buktinya ada dalam sejarah. Buktinya adalah kehidupan para Rasul ini.
Ini adalah jawaban atas pernyataan bahwa manusia itu bawaan sejak lahirnya begitu. Jawaban dari pernyataan ini adalah apa yang diwariskan dari para Rasul tadi. yang sudah didokumentasikan di dalam Al-Qur'an. Kau ingin tau seperti apa manusia yang benar, dan seimbang? Kau tau, seorang psikolog harus tau seperti apa kepribadian yang seimbang, ya kan? Maka, pelajari keseimbangan kepribadian yang ada di orang-orang ini. Inilah orang-orang yang seimbang. SubhanAllah. "laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim".