#1
Semburat cahaya menerobos jendela kayu di sudut ruang seluas lapangan volly. Tembok pelindung dari marabahaya alam milenial semakin sempurna dengan adanya pintu berdaun gelap yang sedikit berlumut sedang terbuka. Dedaunan lebat dari pohon mangga nampak berdesakan menunjukkan rona hijau wajahnya. Batang-batang kokoh menjulang menusuk langit yang semakin merindukan senja. Ranting-ranting yang bergandengan kuat menumbuhkan jutaan daun dan sebagian meramunya menjadi buah. Aku duduk tenang diatas karpet gelap di sudut lain ruangan tersebut. Kupegang pena ditangan kananku, kukencangkan kertas yang kuletakkan diatas lutut dengan tangan kiriku. Angin senja yang diantarkan surga membuai pipi hingga membuat gelombang kain dikepalaku. Sejuk, teduh, kacau, sendu. Kutarik lututku hingga mendekati dagu, kertas yang semula kupegang turun jatuh disamping jemari kakiku. Pena yang semula kupegang dengan tangan kananku, regang dan perlahan luruh sebab getar tanganku tak dapat menahan gempa dihatiku. Tangan kiriku menjuntai diatas karpet yang dingin seperti akalku. Wajahku lelah. Hatiku lemah. Sinema masa lalu pelan-pelan hadir memasuki ruangan itu. Penyesalan dan berjuta tanya menyerbu. Apakah ini yang terbaik? Tak bisakah semua menjadi lebih baik? Apa yang bisa kubantu untuk memperbaikinya? Atau memang harus kubiarkan semua berjalan apa adanya? Berhari-hari kutatap kosong kertas itu. Ia seakan berteriak meminta penjelasan dariku atas pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung kutemukan jawabnya. Kalian tau apa isi kertas itu? Surat perceraian orang tuaku, dengan puluhan bahasa hukum yang tak kutahu.








