Nikmat yang banyak 🤍
Setelah 20th akhirnya punya kesempatan untuk mengurai 1-1 apa yang ruwet di dalam diri.
Selaras dengan apa yang sudah teryakini, pertemuan dengan beliau adalah gong untuk lebih yakin pada apa yang hati sudah katakan bertahun-tahun lalu.
Bahwa kelahiran setiap orang di dunia ini, baik di harapkan atau tidak, baik di tunggu ataupun tidak, tidak mempengaruhi niat Allah atau bahkan diri kita sendiri di alam ruh untuk tetap memilih hadir. Tentu Allah menghadirkan kita dengan tujuan tertentu. Maka yakinilah seyakin-yakinnya bahwa Allah tidak pernah menciptkan sesuatupun dalam kondisi yang sia-sia.
Kita hanya terus berusaha untuk mencari alasan demi alasan untuk bertahan hidup. Kebaikan demi kebaikan untuk estafet sampai pada waktu yang telah ditentukan. Untuk kembali kepadaNya.
Semoga bekal itu cukup dan hadirnya kita tidaklah menjadi sebuah kerugian yang besar terutama bagi diri kita sendiri.
Orang lain, bahkan keluarga atau yang kita sebut orang tua hanyalah bahian dari lingkungan yang Allah ciptakan. Sejatinya kita tidak pernah dimiliki dan memiliki kecuali oleh Allah SWT.
Selalu berkaca pada kisah Rasulullah SAW, dimana perjalanannya tidak pernah mudah. Seandainya ia tak beriman, rasa kesepian itu pasti akan lebih besar dari keyakinannya. Lahir tanpa ayah, ibu lalu kehilangan 1-1 orang yang ia cintai, bahkan ia harus merelakan 5 dari 6 anaknya berpulang, lalu kehilangan khadijah R.A yang menjadi pelipur laranya, pasti tidaklah mudah. Tapi saat Rasulullah kembali kepada kesadaran amanah hidup yang ia tanggung, ia pun kembali bangkit dan terus menjalani hidup.
Allah menghiburnya dengan Surah Al-Kautsar, dimana Allah menyadarkan bahwa Allah sudah memberinya nikmat yang banyak. Kesedihan itu tidaklah sebanding dengan nikmat yang Allah berikan.
Jadi, Tyas, yakinlah seyakin-yakinnya bahwa semua baik-baik saja 🤍



















