Tiga minggu sejak kepergianmu, aku masih berkurung di dalam kamar yang dulunya pernah kau huni semalaman bersamaku. Potretmu yang sedang memelukku di tengah musim salju itu masih terbingkai rapi meski mulai tampak sedikit berdebu. Yah, salahmu sendiri karena menyuruh pak tukang memakukannya di atas situ ketika ku putuskan untuk meletakkannya di bawah saja, sebagai penghias meja kerja. Salahmu lagi karena punya istri sependek dan sepemalas aku. Yang tak pernah mau membersihkan apapun dari dulu-kecuali jika aku memang sedang benar-benar mau- itu pun kalau imbalanmu menggoda bagiku.
Kau bilang kamar ini terlihat sempit bila semua barang kujadikan penghias meja itu. Akan lebih lapang jika foto kita digantung di dinding kamar saja. Kau lihat sekarang. Kamar ini malah semakin sempit kurasa. Bahkan ketika badanmu tinggal bayangannya saja. Aku dulu pernah bilang padamu, meski sedikit pemalas, aku ini bukan orang yang senang dimanja-manja, bahkan oleh kedua orangtuaku. Bahkan oleh kau, suamiku. Aku juga bukan orang yang mudah percaya pada gombal-gombalan cinta. Bahkan oleh penyair yang dulu baitnya selalu kupuja-puja. Tapi, kau jadi satu-satunya pengecualian. Sebab katamu, kau akan menemaniku hingga tua. Sebab kau telah berjanji, menjadikan aku pasangan sehidup sematimu. Dan aku mempercayai seluruhmu. Sebab sepengetahuanku, kau memang tak pernah pandai dalam berdusta, bukan begitu? Tapi, sekarang apa? Jangankan ubanan dan menua, diriku saja belum kau miliki sepenuhnya.
Ada basah yang bikin sumpek kepala. Baunya anyir, mengalir hingga kaki ranjang kita. Bantal kesayanganmu jadi lembap seketika. Ah, maaf, aku tak sengaja. Tapi peduli apa, toh, sebentar lagi kita akan berjumpa. Selamat tinggal, fana.
Credits to: leonardo.santamaria