bukan apa-apa, hanya sedang mencari jalan di persimpangan
sudah sekitar 2,5 bulan wisuda dan saya masih gini-gini aja. bukannya ngga bersyukur, cuma bertanya-tanya jalan semacam apa yang akan aku tempuh ke depan.
tentu saja sebagai seorang fresh graduate aku sedang cari kerja yang stabil, pun begitu pula aku berdoa, “ya Allah ridhai hamba untuk segera mendapatkan pekerjaan tetap yg Engkau ridhai bagi dunia akhirat hamba, sedang orang tua hamba ridha dalam perkara tersebut.” sebenernya aku cuma pengen segera mandiri, punya penghasilan sendiri, dan berhenti meminta sangu sama ayah. halo, umur sudah dua puluh sekian, tapi masih juga dalam tanggungan orang tua. pun mama juga inginnya aku di pns, jogja pula. padahal dulu oke oke saja katanya kalau pns luar jogja. jadi bertanya-tanya, ini bagian dari proteksi atau semacam kompleksitas ortu pada anak? tapi satu sisi aku percaya ini masih dalam ranah takdir yang baik. toh sekarang walau tak bisa dibilang aku puas dengan nominalnya, aku masih diberi kesempatan untuk bekerja (sebenarnya lebih banyak belajarnya) dengan mantan dosen awesome nya tphp, bu murdijati gardjito. jadi asisten beliau, bantu nulis bahan untuk proyek buku. sebenernya ini amazing, food dan travelling, dua hal yg aku suka jadi satu pekerjaan. dimana aku bisa survey ke berbagai tempat, interaksi dengan orang, mencari asal-usul makanan. menarique!
bagaimanapun bersyukur kok dengan nominalnya, walaupun belum memenuhi target aku. hmm sebenernya aku pengen punya gaji gede, well ada beberapa hal yg pengen aku capai soalnya. so i have to bersabar baik dari segi waktu dan harta, Allah ingin aku bersyukur dan belajar sama beliau.
yang kedua yang sukak jadi pikiran sekarang, gimana dan kapan mau nikah. hmm tentu saja ini bahasan yg pedas-pedas manis kalau dipikir. sebenernya kenapa sudah ada keinginan menikah karena akan lebih baik bagi akunya, dari segi iman dan hati, jika akunya segera nikah. biar ngga baperan dan ngga mikir macem-macem yg buang -buang waktu. olala apalagi sekarang sobatan sama beberapa temen cowok, lebih aman emang kalau gek nikah. walau dipikir-pikir masih takut juga kalau nikah. takut kalau ngga sesuai yg dibayangin selama ini. takut kecewa (?) sama juga, perkara ini juga aku berdoa, “ya Allah ridhai hamba untuk segera menikah dengan laki-laki yang baik bagi dunia akhrat hamba, sedang orang tua hamba pun ridha dalam perkara tersebut.”
dua doa yg akhir-akhir ini senantiasa diikhtiarkan untuk dipanjatkan diwaktu-waktu mustajab ini, aku percaya kalau Allah akan memberi yang baik, karena aku percaya jawaban doa ada tiga: ya, sekarang; ya, nanti; ya, yang lebih baik. insya Allah :)