Kebenaran yang Memabukkan
Benar. Aku ingin mengatakan kebenaran tentang perasaanku. Sebelumnya aku telah berbohong kepadamu. Telah berbohong untuk alasan mengapa aku menyukaimu. Benar, ketika kemudian ada ada perasaan lain disamping suka, yakni rasa penasaran.
Siapa kamu, adalah satu pertanyaan mengapa kau harus hadir di bumi. Mungkin ketika lahir, ibumu sudah membisikkan satu nafas doa agar kau bertemu denganku. Kemudian saat sebelum tidur, ibumu membacakan dongeng tentang seorang ksatria pemanah yang akan menembak jantungku.
Jadi, jawab saja sejujurnya. Aku perlu kebenaranmu, memverifikasi seseorang ternyata tak semudah membalik tangan. Tidak dari sudut pandang ketika aku bertanya, hingga kemudian kutanya satu persatu temanmu, siapa kamu sebenarnya.
Aku penasaran dengan rupamu saat remaja. Rupamu yang sekarang menyiratkan gurat kesedihan. Tak pernah aku tahu apa artinya, kau pun tak pernah menceritakannya. Apakah dulu saat remaja kau juga sering bersedih ataukah selalu bahagia sampai satu peristiwa yang mengantarkanmu pada wajah kesedihan.
Katanya mabuk itu adalah kunci menuju kebenaran. Dengan begitu apakah aku harus membuatmu mabuk, mabuk kebenaran. Sebab telah ribuan kali aku bertanya, dan ribuan kali pula kau terdiam.
Kemudian kau akan mulai menceritakan asal muasal manusia diciptakan. Sepasang Adam-Hawa yang terusir dari surga karena memakan buah terlarang. Kau berkilah, manusia juga perlu berbuat salah sehingga ia akan terusir dari rasa kebenaran. Itu artinya manusia juga perlu berbohong.
Jika kemudian aku utarakan maksudku, apakah kau mau mengerti?
Perasaanku sudah benar namun tidak akan kukatakan jujur. Seperti yang kau bilang, manusia butuh berbohong. Maka kudiamkan saja perasaan ini mengendap sampai mabuk di dalam diri. Tak perlu lagi pertanyaan dan jawaban berlarian ke sana sini, sebab kebenaran hanya akan keluar jika kita menginginkannya.