Harus Patah Hati Dulu Ya?
Jika kamu pikir aku menulis sebab aku patah hati. Kamu salah. Patah hati memang pendorong yang baik—tapi ia juga menyakiti.
Sebab tulisan yang aku isyaratkan dengan diksi-diksi itu malah menyayat hati, bukan hanya kamu, tapi pembacaku juga.
Saat aku menulis dalam keadaan patah hati. Yang aku pikirkan hanyalah: Kapan patah hati ini akan sirna? Sementara derai air mata terus saja mengundang lara. Tak henti-hentinya pikiranku meronta dan mengumpat buruk kepada semua tentangmu.
Jadi kesimpulannya apakah harus patah hati dulu ya agar produktif menulis? Jawabannya tidak.
Perlu kamu tau, aku menulis, bukan karena patah hati. Aku menulis, karena aku ingin menghempaskan luka akibat patah hati; karenamu.
Seperti yang para penyair bilang: Menulislah. Karena hanya itu satu-satunya penenang tangis, saat luka hati meradang dan semakin meringis.
















